Bab 1. Hari yang melelahkan

748 Words
Bab 1 Hari yang Melelahkan Mentari sangat terik sekali bersinar hari ini dan membuat beberapa orang malas beraktifitas di luar ruangan dan tak terkecuali Daniel Kusuma. Lelaki tampan itu malah dengan sengaja membuat keringat sebanyak mungkin di suatu taman tak jauh dari komplek rumahnya sore itu. Walau pun sore sudah menjelang tetap saja matahari seolah enggan meredupkan cahaya walau sejenak. Daniel sudah berlari kecil mengelilingi taman. Peluh membasahi keningnya yang membuat auranya terpancar kuat. Remaja-remaja labil sampai mendecak kagum saat Daniel melintasi mereka. Ibu-ibu muda juga tak kalah heboh sampai harus menahan teriakan histeris mereka melihat d**a bidang Daniel yang tercetak jelas di balik kaos abu-abu nya itu. Tanpa di perlu ditanya pun, semua orang tahu kalau Daniel mempunyai badan dan d**a berbentuk kotak-kotak yang sangat cocok jadi tempat peluk dan bersandar. Sempurna. "Pasti betah banget ya yang jadi istrinya, tuh lihat dadanya sandar-able banget," celetuk salah satu ibu muda yang membawa anaknya yang berusia dua tahun bermain di sekitar taman saat Daniel melintas tadi.  Walaupun sudah mempunyai satu anak, ibu muda ini tak menolak disuguhi pemandangan hot apalagi gratis yang jarang-jarang bisa terjadi seperti sekarang. Layaknya mendapatkan tiket konser K-Pop secara cuma-cuma. Sayang untuk ditolak. "Kalau gue jadi istrinya, gue peluk terus deh. Duh, dari wajahnya udah hot banget ya, say," imbuh salah satu calon ibu muda yang tengah hamil enam bulan sambil mengelus perutnya, "sayangnya gue udah punya suami, tapi moga-moga aja ntar anak gue bisa secakep cowok tadi." lanjut ibu tadi sambil mengelus perutnya. "Kayaknya orang baru bukan sih, kok enggak pernah kelihatan ya." Kali ini seorang wanita yang baru saja menikah yang mengomentari. "Bisa jadi sih, gue kan udah termasuk lama nih di komplek ini tapi belum pernah lihat cowok sebening dia." Ini ucapan ibu muda. Para wanita itu hanya manggut-manggut sambil menikmati pemandangan sore yang aduhai saat Daniel sekali lagi melintasi mereka. *** Daniel menyeka peluh di dahinya saat tiba di kediamannya. Sebuah rumah megah di salah satu komplek perumahaan elit. Pria itu baru pinah ke komplek itu beberapa minggu lalu dan baru kali ini dia sempat berkeliling sembari berolahraga kecil mengamati lingkungan sekitar rumahnya yang memang sangat asri itu.  Tak salah memang tangan kanannya mencarikan rumah saat dia berkata akan menetap di Indonesia. Dan mengenai orang tua Daniel, mereka menetap di London mengurusi bisnis keluarga mereka, sedangkan Daniel mengurusi perusahaan cabang yang ada di Indonesia.  Daniel biasanya hanya bekerja di balik layar dan kini dia benar-benar ingin melihat kinerja para karyawan nya yang berada di Indonesia. Daniel berjalan ke arah dapur dan membuka pintu kulkas, mengambil sebotol air mineral dan meneguknya sampai habis. "Tuan, pekerjaan yang anda perintah sudah saya laksanakan dengan baik." Lapor Zach pada Daniel. Daniel menyunggingkan senyumnya. Dia sungguh-sungguh menikmati saat lawan perusahaannya tumbang satu persatu. "Bagus. Sesuai yang aku prediksi sebelumnya. Hasil kerjamu selalu yang terbaik , Zach." Puji Daniel sambil menepuk pelan bahu pria itu. Zach hanya diam kemudian pamit pada tuannya itu. Daniel mengambil ponselnya dan melihat beberapa email yang masuk. Pria itu menghela napas karena tak ada hal menarik setelah apa yang dia prediksi sebelumnya hasilnya sudah dapat ia tebak. Entah mengapa rasanya dia merasa kosong, jangan bayangkan kalau Daniel adalah sosok anak yang kekurangan kasih sayang dari orang tuanya sehingga dia melarikan diri ke Indonesia karena asumsi itu tidak benar. Kedua orang tuanya sangat memanjakan Daniel meskipun Daniel anak pertama.  Terkadang orang tua Daniel memperdebatkan hadiah ulang tahun apa yang pantas diberikan pada Daniel setiap tahunnya, meskipun anaknya itu sudah memasuki usia 24 tahun saat ini. Bahkan orang tua nya juga tahu bagaimana sepak terjang Daniel selama ini, mereka juga tahu anaknya itu hacker jenius yang bisa membobol situs kepolisian dalam waktu sekejap saja. Yang pasti, tidak ada yang tidak diketahui oleh orang tua Daniel mengenai anak-anak mereka. Daniel membuka galeri ponselnya dan melihat foto seorang gadis. Gadis yang sedikit mengganggu hatinya saat ini walaupun dia sudah menepis hal itu. Kejadian itu memang sudah terjadi beberapa bulan lalu dan itulah salah satu alasan mengapa Daniel memutuskan untuk menetap di Indonesia. Katakan lah dia p*****l karena menyukai seorang gadis remaja, mungkin masih sepantaran anak SMP. Daniel pun tertawa geli ketika mengingat dia menyukai gadis itu, entahlah dia sendiri juga masih bingung dengan kata suka itu. "Calista, mungkin belum saatnya. Tapi suatu hari nanti," gumam Daniel sambil melihat foto Calista yang tengah tersenyum pada temannya yang terlihat mengenakan seragam sekolah SMP ternama di Bandung. Daniel tersenyum tipis. Inilah alasan utama kenapa seorang Daniel Kusuma masih betah melajang hingga kini. Walaupun banyak rumor di luar sana yang mengatakan kalau dia seorang pecinta sesama jenis. Biarlah, dirinya juga tak peduli karena cintanya telah ia diberikan untuk Calista.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD