Bab 2
Liburan
Calista menggeliat malas di atas ranjangnya yang sangat empuk sampai-sampai teriakan Bunda nya tak dihiraukan. Cuaca di luar sana sungguh mendukung untuk memejamkan mata lagi setelah shalat subuh. Berbanding terbalik dengan cuaca di ibukota yang udah sangat sumpek. Jika bisa memilih, Calista sangat ingin melanjutkan sekolah di Payakumbuh daripada di Jakarta yang macet di mana-mana. Tapi apalah daya, Bunda tetap ngotot Calista harus sekolah di Jakarta.
Berdasarkan pengalaman yang sudah-sudah, anak gadisnya itu kerap kali di panggil oleh grup BK. Hampir tiap minggu ada saja kelakuan Calista yang membuat Bundanya harus tarik nafas panjang sembari mengelus d**a berucap istighfar. Mengizinkan Calista sekolah di Payakumbuh, sama saja memberikan bencana kepada orang tuanya.
"Bunda, masih dingin lho. Entar aja ya," rengek Calista di balik selimut.
"Bangun Calista! Enggak ada anak gadis yang bangunnya siang kayak gini. Matahari udah tinggi di luar," omel Bundanya sambil menarik selimut anak gadisnya itu yang membuat Calista membuka matanya sedikit lalu nyengir tanpa dosa pada Bundanya.
"Emang mau ke mana sih Bunda?" Calista bangkit dari tempat tidurnya dan berjalan ke luar kamarnya.
Bundanya yang sudah keluar dari kamar Calista menoleh ke anak gadisnya sejenak. "Tapi mau ikut kakek ke sawah, lupa?"
Calista langsung tersadar. "Iya Calista lupa bunda," sahutnya.
Lalu dia segera mencuci muka dan menyikat giginya tanpa mandi. Alasannya airnya sedingin air es, entar siang saja mandinya dan Calista selalu berkata seperti itu sejak pertama kali di ajak liburan ke kampung halaman ibunya.
"Mana kak Alex, Bun?" tanya Calista saat tak mendapati kakak nya itu di dapur, biasanya dia selalu melihat kakaknya itu membantu neneknya masak.
"Pergi mancing tadi sama Ryan."
Calista kesal karena dia ditinggalkan tapi salah dia juga karena telat bangun.
"Calista ke sawah aja ya Bunda, Assalamualaikum," teriak Calista dari luar rumah. Dan Calista segera melesat dan melancarkan protes kepada kakak nya itu.
Calista hanya mengenakan celana Jogger dan baju kaos Alex yang kedodoran ditubuhnya saat ini. Gadis manis itu berjalan menuju sawah kakeknya yang letaknya memang tak jauh dari rumah neneknya. Calista lalu berjalan sambil bersenandung kecil. Sesekali orang yang tak mengenalnya pasti menyangka dia bule kesasar. Bukan tanpa alasan karena pernah suatu kali Calista mengunjungi rumah kerabat neneknya sendirian dan masih di satu tempat yang sama, Calista malah di tanya sebagai bule atau turis yang tersesat. Parahnya yang menanyakan itu adalah anak kecil berusia sekitar delapan tahunan dengan bahasa Inggris yang terbata-bata dan sungguh membuat Calista tertawa mendengarnya.
"Uni Ema, lagi ngapain itu?" sapa Calista ramah saat melihat Uni Ema di pekarangan rumahnya.
"Uni mau ke sawah, mau ikut?" Tawar Uni Ema yang masih kerabat neneknya Calista. Mata Calista berbinar saat ditawari ajakan seperti itu.
"Mauuuu Uni," jerit Calista senang lalu berlari ke arah Uni Ema.
***
Calista turun dari atas motor Uni Ema dan berlari kecil ke arah kakeknya yang sedang duduk santai di gubuk kecil. Calista berjalan dengan hati-hati di pematang sawah dan berjalan menuju kakeknya yang tengah bercengkrama bersama beberapa orang yang membantu kakek mengolah sawah.
"Kakek, Calista mau itu dong." Tunjuk Calista pada sebuah piring berisi ubi goreng dan ada sambal yang nampak begitu menggoda mata Calista.
"Ambil saja nak," sahut kakeknya pada cucunya itu.
Calista langsung mencomot ubi itu dan memakannya dengan rakus. "Enak kek. Di Jakarta Calista gak pernah makan yang kayak gini," komentar Calista yang membuat beberapa orang di sana tertawa mendengarnya.
"Ini Calista anaknya Mira kan?"
"Iya, ini Calista anak kedua Mira yang paling cerewet dan bandel," sahut kakeknya yang membuat Calista cemberut.
"Calista enggak bandel ya kek, teman-teman Calista saja tuh yang suka kasar sama Calista," jawab Calista tak mau kalah dibilang bandel.
"Kalau enggak bandel enggak mungkin hampir tiap hari dipanggil guru BK," sindir kakeknya sambil tersenyum.
"Kakek mah gitu. Mereka itu iri sama Calista yang cantik makanya mereka jahat sama Calista. Oh ya kek, kalau Calista sekolah di sini gimana?"
"Yakin Calista mau sekolah di sini?" Itu suara Uni Ema yang baru saja ikut bergabung sambil meletakkan teko berisi kopi.
"Maunya gitu Uni, tapi Bunda enggak izinin. Gak tau deh Bunda itu payah banget," keluh Calista sambil mencomot ubi lagi.
"Makanya jangan bandel," celetuk kakeknya lagi yang membuat Calista tambah cemberut.
"Jantung kakek ini bisa copot tiap hari Bunda mu mengadu kalau kamu masuk BK tiap hari dan ada aja ulah mu nak," keluh kakeknya.
Calista mendekat ke arah kakeknya. "Calista senakal itu ya kek sampai Bunda ngadu?" Uni Ema hanya senyum-senyum saja mendengar suara memelas Calista. Dan kakek hanya mengangguk mengiyakan pertanyaan Calista.
"Kek, kami dapat ikan banyak lho," teriak Ryan sambil mengangkat ember yang berisi ikan dari kejauhan. Di belakangnya Alex mengekor Ryan yang tampak sumringah sedangkan Alex misuh-misuh karena sejak awal memancing banyak tatapan memuja yang mengarah padanya dan ada juga yang tak segan-segan langsung mengajak Alex berkenalan.
"Itu muka Alex kenapa?" Tanya kakek yang melihat wajah Alex yang masam.
Ryan meletakkan ember yang ternyata banyak ikannya. "Biasa di godain lagi sama para ABG labil," ucap Ryan tanpa dosa sedangkan Alex menatap Ryan dengan tatapan membunuh.
Alex dan Ryan hanya beda setahun dan Ryan suka sekali menggoda sepupunya itu. "Dan ada yang terang-terangan minta kenalan bahkan ada yang minta no HP lho kek, mungkin jarang liat bule nyasar kali ya kek," goda Ryan lebih lanjut.
"Sekali lagi ngomong kayak gitu awas saja makan masakan ku nanti." Ancam Alex pada Ryan yang malah tertawa keras.
"Emang kakak mau masak apa?" Calista menjadi tertarik.
"Rahasia."
"Pelit ih!" ucap Calista kesal.
"Lihat saja nanti dan jangan ganggu kakak selagi masak, yang ada dapur nenek bisa meledak kamu buat," cibir Alex pada adiknya yang memang buta tentang masak memasak.
"Iyalah tuh yang mau jadi chef," ledek Calista.
Alex hendak menjawab ledekan adiknya. "Sudah, jangan berantem," ucap kakeknya menengahi.
"Bagaimana kuliah kalian berdua?" Tanya kakek pada Ryan dan Alex.
"Sejauh ini cewek-cewek nya gak ada yang asik di kampus kek," jawab Ryan yang langsung dihadiahi toyoran oleh Alex.
"Belajar oi bukan pacaran," ucap Alex. Alex tahu banget tabiat Ryan yang seorang playboy tanggung.
"Kalau Alex bagaimana?" Tanya kakek pada Alex yang masih beradu mulut dengan Ryan.
"Bulan depan udah magang di hotel kek, moga aja bisa cepat-cepat mendirikan restoran sendiri," ucap Alex bangga.
Ryan mendengus kesal pada Alex. Terkadang Ryan iri pada sepupunya ini yang pintar, jago masak, tajir dan cakep, wajar sih cakep secara ayahnya Alex orang bule asli. Andai Tama tak sakit pasti dia dan Tama ikut mengisengi Alex.
"Makanya kak Ryan juga harus rajin-rajin kuliahnya biar cepat gantikan posisi paman di perusahaan jadi CEO," ucap Calista sambil tersenyum polos.
"Haha. Jadi CEO ya, boleh juga tuh," kata Ryan sambil nyengir.
"CEO itu apa sih?!" Tanya Calista polos yang membuat Alex menggeram kesal pada adiknya yang berumur empat belas tahun yang sungguh pintar tapi terkadang bisa bodoh juga.
"Pokoknya posisi keren di perusahaan," jawab Ryan bangga.
"Kayak gitu mau jadi CEO?" cibir Alex lagi.
"Alex, Ryan jangan berantem lagi," tegur kakek pada dua cucunya itu.
"Kali ini Tama gak ikutan ya karena sedang sakit padahal kakek rindu dengan Tama," ucap kakek sembari menatap ketiga cucunya. Kali ini Ryan ngotot ingin ikut dengan Bunda Mira pergi liburan.
"Kapan-kapan kita ajak Tama kek, kasian Tama sakit demam dan bersin-bersin."
"Adiknya sakit malah ikut liburan, saudara macam apa itu." Ledek Alex sembari tersenyum puas.
"Ish! Aku lagi lari dari hukuman ayah tahu," Ryan memalingkan wajahnya.
"Kalian ini ya sehari aja enggak berantem kayaknya ada yang kurang."
Calista tertawa puas melihat dua cowok itu diomeli. Liburannya kali ini benar-benar menyenangkan dan seminggu lagi dia akan masuk sekolah menengah atas dan dia harus manfaatkan waktu liburannya kali ini dengan sebaik-baiknya.