Bab 3. Curhatan Calista

1275 Words
Bab 3 Curhatan Calista Calista masih setia menemani kakeknya yang memantau para pekerja di sawah .  Sesekali gadis manis itu akan bersenandung kecil di pondok kecil tempat kakeknya berisitirahat. "Kek, Calista mau cerita nih sama kakek," ucapnya sambil melihat hamparan padi di depan sana. Tanpa menunggu persetujuan kakeknya, Calista langsung bicara. "Kek, tahu enggak, Calista kan waktu itu jalan ke mall bareng Rara dan enggak  sengaja numpahin jus ke cowok ganteng kek. Duh, sumpah Calista malu banget. Mana jas nya kelihatan mahal banget kek." "Terus cowok itu marah ke kamu nak?" Tanya kakek pada cucunya. Calista menggeleng pelan. "Enggak sih, tapi wajahnya cakep banget lho kek. Lebih cakep dia daripada kak Alex." Calista mencoba mengingat kembali wajah cowok itu dan mengulangi reka adegan di dalam kepalanya. Membayangkan hal itu membuat rona merah tercetak di kedua pipi Calista. "Siapa yang lebih cakep daripada kakak?" Tanya Alex yang baru selesai membersihkan ikan hasil pancingannya bersama Ryan. "Ish! Ganggu orang lagi curhat aja," omel Calista pada kakaknya itu.  "Ada deh, Calista ketemu cowok cakep dan lebih cakep dari kak Alex yang bosenin itu."  Alex mendengus kesal. "Anak kecil di larang jatuh cinta," ejeknya pada Calista. "Belajar yang benar, kuliah, kerja baru mikirin cinta-cintaan." "Lagian siapa juga yang jatuh cinta, Calista cuma bilang dia cakep pakai banget. Lagian urus saja deh tuh pacar kakak yang dandanan nya kayak tante-tante itu," ucap Calista ketus.  "Dia punya nama Calista," geram Alex pada Calista. "Lagi bahas apaan sih? Kalian itu adu mulut sudah kayak anak kecil tahu enggak," Ryan ikut bicara melihat pertengkaran dua saudara itu. Satu ngambekan dan satu lagi keras kepala. "Calista nabrak cowok cakep lho kak Ryan dan pastinya lebih cakep dari kak Alex," ulang Calista sambil menatap Alex mengejek. Dan Calista enggan membahas cewek berdandan menor ala tante-tante itu. Membahas cewek itu membuat dia kesal maksimal. Ryan merasa harus ikutan dalam arus pembicaraan ini dan seperti nya sangat menarik. "Memang dia siapa?" Tanya Ryan penasaran. "Gak tau namanya kak, cuma Calista enggak sengaja tumpahin jus ke jasnya tuh cowok dan Calista merasa bersalah banget. Nah, yang buat Calista gagal fokus ternyata cowok itu cakep kak," ujarnya sambil nyengir mengingat kembali pertemuan tak terduga itu. Calista rela menceritakan berulang-ulang kali. Mana tahu suatu saat mereka bisa bertemu lagi, syukur-syukur kalau cowok itu jodoh Calista. "Yaelah. Paling drama baru lagi tuh, sok-sok numpahin jus," ejek Alex pada Calista. Tatapan mata Alex seolah sedang mencemooh adiknya itu.  "Jangan-jangan kamu halu lagi," ucap Alex sambil tertawa keras. Calista mendelik kesal ke arah kakaknya. "Beneran tau kak, emang kakak yang suka bohong sama Bunda demi pacar kakak yang kayak tante-tante itu,"balas Calista tak mau kalah. Enak saja di bilang halu. Jelas-jelas terpampang nyata wajah tampannya. "Namanya Catherine, Calista. Dan dia bukan tante-tante dan mesti catat ya suatu saat nanti dia akan jadi kakak ipar mu." "Seriusan? Cath jadi kakak ipar Calista?! Yang ada tiap hari malah perang piring mereka berdua," kata Ryan sambil terkekeh. Karena seingat Ryan, tak ada satupun anggota keluarga Xavier yang menyukai Catherine, terlepas dari wajah cantiknya tapi minus dengan sikapnya. "Kak Ryan aja gak suka sama dia," celetuk Calista yakin. "Woo... kakak enggak ada bilang enggak suka sama Cath ya tapi seenggaknya body nya gak buruk juga lah, 8 untuk dia," ucap Ryan dan malah membuat Calista tambah cemberut. Cowok semua sama saja, melihat dari fisik doang. Calista beranjak dari tempat duduknya. "Kek, Calista pamit pulang duluan ya. Malas hadapi cowok-cowok resek ini. Assalamualaikum kek," ucap Calista sambil mencium tangan kakeknya. *** Calista terbangun dari mimpinya. Dia bermimpi tentang liburannya di kampung halaman mendiang Bundanya beberapa tahun silam. Sungguh dia ingin kembali ke masa itu di mana semua hanya ada satu kata yaitu bahagia. Walaupun Bunda sering mengomel tentang kebiasaan Calista tapi Bunda tetap memberikan senyum terbaiknya pada anak bandel sepert i dirinya yang kerap di panggil ke ruang BK. Calista menatap langit-langit kamarnya dan menghembuskan napasnya sejenak. Hati kecilnya berkata dia ingin memeluk Bundanya dan mengatakan kalau anak bandelnya ini sebentar lagi akan wisuda. Calista sempat terpuruk saat Bundanya meninggal karena kecelakaan lalu lintas. Calista pun tak masuk sekolah berbulan-bulan karena rasa duka yang mendalam. Begitu juga dengan Alex yang langsung berubah drastis dan di tambah lagi Catherine berulah dengan mengencani seorang pria yang sangat tampan dan jauh lebih mapan dari Alex. Dan kenyataan pahit itu membuat Alex menjadi pribadi tertutup dan dingin. Bunda pernah berkata padanya saat itu, kalau anak perempuan itu harus kuat daripada anak laki-laki walaupun secara fisik orang akan mengatakan anak laki-laki lah yang kuat tapi mereka salah, justru anak perempuan yang sangat kuat. Jadi Calista harus menjadi perempuan yang kuat dan jangan lemah dalam mengahadapi situasi apapun dan jangan pernah mau kalah dengan keadaan. "Bunda," lirih Calista sambil memejamkan kedua matanya. "Kangen sama Bunda. Kapan kita bisa berjumpa lagi Bunda." Tok... tok... tok... Pintu kamar Calista di ketuk dan membuat Calista buru-buru menghapus air matanya yang sempat turun sejenak. "Calista, bangun nak. Ayah udah menyiapkan sarapan di bawah. Jangan lupa sarapan ya dan habis itu tolong ke rumah Alex dan berikan hadiah kecil ayah untuk Felicia," ucap ayahnya dari balik pintu. "Iya, nanti Calista berikan hadiah ayah pada kak Feli. Ayah hati-hati ya berangkat kerjanya, entar siang Calista mampir ke kantor ayah," sahut Calista tanpa beranjak dari kasurnya. Lalu suasana hening. Calista pun beranjak dari kasurnya. Hari ini dia harus ke kampus karena mengurusi berkas wisuda nya kemudian ke rumah kak Felikakak iparnya itu. Calista sungguh rindu dengan celotehan kak Feli dan juga kak Clara yang cerewet itu. Itu pun kalau kak Clara berhasil menyelinap keluar dari kantor kak Ryan. *** "Oh s**t," maki Calista dalam hati saat dia baru saja turun dari mobilnya di pelataran parkir kampus, tiba-tiba ada sepeda motor yang melintas dan hampir mengenai dirinya. Belum hilang rasa terkejutnya, Calista kembali dikagetkan dengan sebuah pemandangan dengan objek yang tak asing dimatanya. Buru-buru Calista membalikkan badan agar tak bertemu dengan pria itu dan keberuntungan sepertinya sedang tak berpihak pada Calista kali ini. Bodoh banget kalau dulu Calista sempat memuja-muja cowok itu. Sungguh. "Hei, kenapa berbalik badan nona?"  Calista merutuk dalam hati. Matanya sangat awas sekali sejak terang-terangan kejadian di klinik waktu itu. Calista mengakui kalau pria itu tampan dan itu sudah lama sekali dia mengakui nya. Sekarang di kejar seperti ini bisa-bisa membuat para wanita di kampus ini menyerang dirinya. Apalagi yang mengejar dirinya adalah seorang Daniel Kusuma dan reputasinya tak usah diragukan lagi. Calista membalikkan badannya. "Aku tidak menghindar Pak Daniel," tukasnya sambil menatap mata Daniel. Daniel tampak berpikir sejenak. "Oh ya?" Daniel menatap Calista tak percaya. "Omong-omong dosen yang kamu cari sedang tidak berada di kampus jadi percuma mencarinya," seolah paham apa yang hendak Calista lakukan di kampus ini. Calista menyipitkan matanya menatap pria itu curiga. "Aku enggak yakin." Lagian bisa saja pria yang berada di depannya ini berbohong. Dan ada urusan apa seorang pebisnis seperti Daniel berada di lingkungan kampusnya? "Semua wanita memang begitu tapi kali ini percayalah, lagian aku juga bukan orang iseng dengan sengaja datang ke kampus mu dan memberitahu hal semacam itu," jelas Daniel sembari mengulum senyum. "Benarkah?! Tapi aku memang gak percaya," ujar Calista. Lalu Calista berjalan ke arah mobilnya. "Mau kemana nona?" Tanya Daniel sambil mencegat Calista membuka pintu mobil. "Bukan urusan kamu pak Daniel." Daniel menghela napas. "Baiklah," jawabnya mengalah.  Lalu Calista masuk ke dalam mobil dan segera memakai sabuk pengaman tanpa melihat Daniel yang masih setia di samping mobilnya. Rasanya dia malas berlama-lama berada di kampus jika Daniel berkeliaran di sekitarnya. Calista terkadang bingung dengan sikap Daniel. Kenapa dari sekian banyak wanita dewasa, dia malah mengejar-ngejar dirinya. Calista memandang Daniel yang tersenyum manis. Lebih baik dia segera pergi, lama-lama melihat senyum Daniel bisa berpotensi meluluhkan hatinya.  Dan hal terakhir yang Calista inginkan, jangan sampai mereka terlibat terlalu jauh. Daniel masih menatap mobil Calista yang telah mejauh. Gadis manis itu masih tetap sama. Tapi bedanya dulu sangat pemalu. Dan sekarang Calista tumbuh dengan caranya sendiri. "Hari itu akan datang nona manis," ucap Daniel dalam hati. Dan Daniel akan menunggu hingga saat itu tiba.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD