Chapter 04

1439 Words
Esok pagi nya, Reyhan kembali jatuh sakit. Ia terkulai lemas di ranjang tempat tidur mereka. Padahal kemarin saat mengajak Sela kerumah baru, Reyhan sangat baik kondisi nya. Atau hanya berpura pura? "Aku bilang juga apa, kamu masih sakit. Nakal sih di bilangin nya, harusnya kemarin istirahat. Gausah pergi pergi. Sekarang sakit lagi kan?"omel Sela. Ia seperti mengomeli anak berusia 5 tahun yang nakal karena terlalu banyak main. Sedangkan Reyhan hanya menatap Sela dengan tatapan sayu, pagi tadi perutnya kembali bergejolak. Ia kembali memuntahkan isi perutnya. Reyhan memejamkan matanya, menikmati tangan Sela yang sedang memijat kening nya dengan minyak angin. "Kerumah sakit aja deh kak, ga tega aku lihat kamu gini."kata Sela, ia merasa tidak tega melihat Reyhan yang tidak berdaya seperti ini, Reyhan itu sangat jarang sakit. Sekalinya sakit, paling besok nya sembuh. Tapi ini, keadaan Reyhan malah semakin memburuk . "Saya gapapa." "Gapapa apa nya sih, liat kamu pucet banget." "Diam Sela, saya mual dengar suara kamu." Tentu saja Sela membelalakkan matanya. Apa kata Reyhan tadi? Mual? Sialan. Untung Reyhan sedang sakit sekarang, jika tidak, Sela akan marah. "Dih, yaudah."kesal Sela. "Aku nggak mau tau, pokok nya hari ini kita kerumah sakit. Aku nggak mau kamu sakit berkepanjangan."ujar Sela, lagi. Bodoamat, mau Reyhan mual kek. Sela ga bisa diem aja kaya patung. "Oh jadi kamu males ngurusin saya?"kata Reyhan. Sela mengernyitkan dahinya, ini Reyhan kenapa sih? "Nggak gitu kak, aku cuman ngga tega liat kamu kaya gini."ujar Sela, menghela nafasnya. Ia akan lebih bersabar untuk menghadapi Reyhan. "Kamu nggak sayang lagi sama saya, Sela?" Reyhan menatap Sela dengan sayu. Reyhan juga nggak ngerti sama diri nya yang sensitif. Mungkin karena sedang sakit. "Kamu ngomong apa sih ah! Nggak jelas banget."kesal Sela. Bisa bisa nya Reyhan ngomong gitu. "Tuh kan, sekarang saya malah di bilang nggak jelas."ujar Reyhan. Sela menutup mulut Reyhan dengan tangan nya yang satu. "Diem, lagi sakit. Gausah bawel." Sela bingung, mengapa sikap Reyhan berubah drastis. Lalu Sela melepaskan tangan nya dari mulut Reyhan. Ia menangkup wajah Reyhan yang terlihat pucat. Tanpa ragu, Sela mengecup bibir pucat suami nya. Hanya mengecup. "Cepat sembuh, sayang." "Sela, kamu bisa tertular saya."ujar Reyhan. "Nggak, udah tidur ayo." Seperti nya hari ini ia akan bermalas malasan, menemani Reyhan. Sela memilih untuk kembali berbaring di samping Reyhan. "Jangan dekat dekat saya Sela, udah saya bilang. Kamu bisa tertular." "Berisik banget, tinggal istirahat aja juga."kata Sela, ia tetap meringkuk kedalam pelukan Reyhan. Dan Reyhan menghela nafasnya, sadar bahwa Sela memang sangat keras kepala. *** Reyhan dan Sela baru saja kembali dari rumah sakit. Sesuai dengan ucapan Sela tadi pagi, hari ini mereka kerumah sakit. Dan yang membuat Sela kepikiran sampai sekarang adalah, perkataan dokter. Dokter bilang, Reyhan tidak apa apa. Lambung nya baik baik saja. Padahal jelas jelas Reyhan sakit. Reyhan hanya di beri obat pereda nyeri. Dan sekarang suaminya itu sedang istirahat setelah meminum obat. Setelah dari rumah sakit tadi, Sela langsung menelfon mama nya. Lalu mama nya bilang akan kemari. Jadi Sela menunggu nya di ruang tamu sambil menonton televisi. Sebenarnya ia tidak benar benar menonton televisi, pikiran nya masih bingung dengan perkataan dokter. "Jangan jangan dia dokter bohongan."gumam Sela pada dirinya sendiri. Lalu tak lama Bel bunyi. Sela sudah tau siapa yang datang. "Mama!" "Assalamualaikum, sayang." "Waalaikumsalam,ma. Kangen."ujar Sela memeluk sang mama. "Mama juga dong." Niranti datang sendiri, karena sang suami belum selesai bekerja. "Gimana Reyhan?"tanya Niranti. "Lagi istirahat, tadi di kasih obat. Kata dokter dia nggak sakit apa apa, lambungnya juga baik baik aja. Padahal tadi pagi dia muntah muntah terus."kata Sela. Niranti mengernyitkan dahinya. "Dari kapan?" "Kemarin pagi. Pagi nya dia sakit, tapi sorenya dia segar banget. Eh tadi pagi sakit lagi."ujar Sela, dengan tatapan khawatir. Niranti tersenyum diam diam. "Oh gitu." "Aku bingung. Kasihan banget, ga tega lihat dia pucet gitu." Tiba tiba saja Sela menangis di pelukan sang mama. "Ehm, Sela?" "Iya?" "Coba kamu cek ini." Niranti memberikan sebuah benda, yang membuat Sela melongo. "Ma, please banget. Suami aku masih normal! Masa di suruh cek gitu! Mama kenapa sih?"kata Sela. Lalu Sela merasakan kening nya di sentil. "Bukan Reyhan yang pakai ini! Tapi kamu!" Mendengar itu, Sela tercenung. "Kok— aku?"tanya Sela, gugup. "Ya iya kamu! Masa mama."kata Niranti memutar bola matanya malas. "Udah deh nurut, besok pagi kamu coba. Mama buru buru, nggak bisa lama. Papa udah jemput dibawah. Salam buat menantu kesayangan mama. Oh iya, mama tunggu kabar baik nya."kata Niranti, memeluk Sela. Lalu meninggalkan Sela yang masih terdiam di tempatnya. Jadi, mama nya kesini hanya untuk memberi benda ini? Pantas saja saat di telfon tadi, mama nya langsung semangat memberi tahu Sela, bahwa ia akan berkunjung. Sela menatap diam benda yang di tangan nya, haruskah ia mencoba nya? Jam terus berjalan, hingga pada malam tiba. Reyhan belum juga bangun, dan Sela tersenyum melihat nya. Ia senang Reyhan beristirahat dengan baik. Lalu Sela berdiam di balkon kamar apartemen, menikmati angin malam dengan pemandangan indah di depan nya. Banyak kendaraan yang berlalu lalang di bawah sana. Sela merindukan teman teman nya. Setelah kelulusan sekolah, mereka jarang bertemu. Hanya berkomunikasi. Tak lama Sela tersentak saat merasakan pelukan hangat dari belakang. Tanpa membalikkan tubuhnya, Sela sudah tau siapa pelaku nya. "Ngapain disini, hm?"Reyhan menaruh dagu nya di bahu Sela. Ia menghirup dalam dalam aroma menenangkan istri kecilnya. Sela tersenyum mendengar suara serak Reyhan. Sangat memabukkan. "Cari angin kak. Gimana?" Sela mengelus lembut tangan Reyhan yang melingkar di perutnya. "Apa nya gimana?" "Keadaan kamu." "Aku udah enakan. Nggak terlalu mual seperti tadi pagi."ujar Reyhan. Dan Sela kembali mengingat benda kecil yang diberikan sang mama. "Kak, kamu baru sembuh. Sana masuk, disini banyak angin."kata Sela. "Nggak mau, saya mau sama kamu." Sela mengernyitkan dahinya, mendengar nada Reyhan yang merengek. Padahal tadi pagi Reyhan tidak mau berdekatan dengan Sela, katanya, takut tertular. Walaupun Sela dengan keras kepala memeluk Reyhan. Tapi, lihat sekarang, Reyhan yang malah memeluk Sela. Sela menatap langit. "Bulan nya cuman setengah, kak." "Iya. Terus jadi seperti bulan ya, Sela. Tidak selalu utuh tapi selalu terlihat cantik." Sela mengernyitkan dahi nya, "Tapi kan kak, bulan sebenarnya kalau di lihat dengan dekat nggak begitu cantik, dipenuhi rongga rongga." "Iya memang, seperti kamu. Tidak sempurna dengan segala kekurangan kamu, tapi walaupun begitu kamu satu satu nya bulan yang ada di hidup saya."ujar Reyhan. Pipi Sela memerah, "Apa sih!" "Yaudah, ayo masuk." Lalu mereka masuk kedalam kamar. Kegiatan selanjutnya, Sela menyiapkan makan malam untuk Reyhan. *** Pagi ini Sela terlihat sangat gelisah, ia mondar mandir di kamar mandi sejak tadi. Reyhan masih di kamar, suami nya itu enggan untuk turun dari kasur. Walau sudah terjaga. Ini udah hari ketiga Reyhan tidak ke sekolah untuk mengajar. Sedangkan Sela, ia gelisah karena, ia mencoba benda yang di berikan sang mama kemarin. Sela menggigit kuku nya, lalu 15 menit kemudian, Sela mengambil benda tersebut dengan takut. Tangan nya keringat dingin. Jantungnya berdetak sangat cepat. Dan Sela menangis saat melihat benda kecil itu di tangan nya. Benar, Sela tidak salah lihat, Testpack itu menampilkan dua garis. Yang berarti hasilnya positif. Sela menangis bahagia, ia mengelus perutnya yang masih rata. Reyhan yang mendengar Sela menangis di dalam kamar mandi pun khawatir. "Sela?! Kamu kenapa?!"tanya Reyhan. Pintu kamar mandi di kunci, tidak biasanya. "Sela! Buka pintu nya, atau saya dobrak!"kata Reyhan. Namun Sela tidak merespon, yang ia dengar hanyalah tangisan Sela. "Selatania!? Hitungan ketiga, saya dobrak pintu ini." 1.. 2.. Belum Reyhan menghitung sampai tiga, pintu kamar mandi terbuka. Menampilkan Sela yang langsung memeluk dengan erat Reyhan. Reyhan yang bingung pun, membalas pelukan Sela tak kalah erat nya. "Kamu kenapa Sela?! Kenapa tiba tiba menangis seperti ini?"tanya Reyhan, dengan khawatir. Ia mengelus rambut Sela. "Kak—" "Iya? Kenapa? Cerita sama saya. Jangan bikin saya khawatir Sela." Lalu tak lama Sela tersenyum, menatap Reyhan. Ia menangkup wajah Reyhan. Dan mengecup bibir Reyhan, "aku nggak apa-apa, calon papa." Reyhan mengernyitkan dahinya, merasa sangat bingung. Sela yang tiba tiba berubah, mengecup nya, dan juga ucapan Sela— "Calon papa?" Sela terkekeh geli melihat wajah Reyhan yang bingung. "Iya, kamu akan jadi calon papa!"kata Sela menunjukkan testpack di tangan nya. Reyhan terkejut, dia menatap Sela dengan tatapan tak percaya. Lalu ia mengambil testpack yang di tunjukan Sela. Dua garis. Itu artinya ia dan Sela akan— "Kamu hamil sayang?!!"ucap Reyhan antusias. Ia sangat bahagia, sangat sangat sangat. Belum pernah ia merasa sebahagia ini. Sela mengangguk kan kepalanya, dan tertawa geli saat Reyhan mengecupi seluruh wajahnya. Mulai dari kening, mata, hidung, pipi, dagu dan terakhir bibirnya. "Terima kasih, Tuhan. Terima kasih."kata Reyhan tak henti hentinya mengucapkan rasa Syukur. Reyhan kembali memeluk Sela. Lalu mengusap perut rata Sela. Reyhan berjongkok, dan mengecup perut Sela. "Terima kasih telah hadir di perut bunda, sayang."ujar Reyhan. Sela kembali menangis melihatnya. Ia mengelus rambut Reyhan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD