Chapter 05

1324 Words
Malam ini cuaca di luar sedang di guyur oleh hujan. Membiarkan hujan turun membasahi bumi, menggantikan hawa panas menjadi sejuk. Menelan bulat bulat kepalan asap kendaraan yang membuat udara menjadi tercemar. Diluar sana udara menjadi dingin, karena kali ini hujan di sertai oleh angin kencang. Tapi untuk Sela, ia selalu merasa hangat jika ada Reyhan di sampingnya. Mereka sedang di ruang tamu, dengan Sela yang duduk di pangkuan Reyhan yang memeluk nya sambil mengecek data perusahaan pada laptop di depan nya. "Aku baru tau bisnis serumit itu."kata Sela, ia memperhatikan tangan Reyhan di depan nya yang sedang mengecek data di laptop. Dengan posisi seperti ini sulit untuk Reyhan bisa fokus pada data di depan nya. Selain jangkauan laptop yang menjadi jauh, fokusnya juga terbagi pada wangi Sela yang begitu memabukkan. "Memang seperti ini."balas Reyhan. Sela yang tidak mengerti pun merasa bosan. Lalu ia menelungkup kepala nya pada ceruk leher Reyhan. Menghirup dalam dalam aroma Reyhan yang sangat Sela sukai. "Kak, seneng nggak aku hamil?" Reyhan mengernyitkan dahinya, merasa heran dengan pertanyaan Sela. "Kamu dan anak kita adalah kebahagiaan terbesar saya."ujar Reyhan, tetapi ia masih fokus pada laptop di depan nya. Jika ada waktu luang, pasti Reyhan akan menyempatkan untuk mengecek data perusahaan. Bagaimana pun juga, itu tanggung jawab nya. Diam diam Sela tersenyum dalam pelukan nya. "Aku nggak nyangka bakal jadi mama muda."kekeh Sela. "Itu berarti Tuhan udah mempercayai kita untuk menjadi orang tua."ujar Reyhan. "Oh iya, berarti kuliah kamu di tunda sampai melahirkan?" Sela membelalakkan matanya, ia baru ingat kalau seminggu lagi ia akan masuk ke jenjang perkuliahan. Sela menatap Reyhan, "Nggak. Aku tetep kuliah, ya kak?" Reyhan menghentikan kegiatan nya pada laptop, ia juga menatap Sela. Seperti nya ini pembicaraan yang harus segera di rundingkan. "Nggak Sela, kamu bisa kuliah nanti saat anak kita udah berumur dua tahun." Sela menggeleng kan kepalanya, "Nggak kak, aku bakal tetep kuliah tahun ini. Nanti pas udah bulan melahirkan, aku bisa ambil cuti." "Sayang..."ujar Reyhan menatap Sela. "Kak, please. Aku mohon. Aku mau kuliah bareng Ana dan temen lain nya. Kalau nanti kuliah aku telat, aku nggak ada temen nya."lirih Sela dengan tatapan memohon pada Reyhan. "Tapi—" "Kamu nggak percaya sama aku? Aku janji, aku bakal jaga anak kita. Aku nggak mungkin diem aja di rumah." Reyhan memejamkan mata, lalu menghela nafas. "Oke." Satu kata yang Reyhan lontarkan membuat senyum Sela mengembang lebar. "Makasih kak!" "Memangnya kamu nggak malu kuliah lagi hamil? Apalagi usia kamu yang masih tergolong sangat muda."tanya Reyhan. "Malu? Ngapain malu. Aku hamil juga ada ikatan sah. Kecuali aku hamil diluar nikah, baru aku malu."ujar Sela sambil tersenyum. Reyhan mengecup pipi Sela. "Maaf, harusnya anak seusia kamu masih senang senang di luar sana." Sela mengernyitkan dahi nya, "kamu pikir aku nggak senang?" Reyhan terdiam, "Ngapain aku cari kesenangan di luar, kalau disini aja aku udah bahagia banget."lanjut Sela. Kini Reyhan tersenyum hangat. Ia mengecup puncak kepala Sela. "Btw, mungkin kalo bukan karena mama yang ngasih aku testpack, sampe sekarang aku nggak bakal tau kalo lagi hamil."ujar Sela, mengelus perut nya. "Iya, dan saya nggak tau bakal jadi calon papa." "Aku nggak ngerasa apapun, ngga ada tanda tanda kehamilan. Malah kamu yang muntah muntah. Pantes dokter bilang kamu gapapa."kata Sela sambil tertawa. "Nggak apa saya ngerasa sakit tiap pagi. Asal jangan kamu." "Aku bingung, kok kamu yang ngalamin mual mual. Jangan jangan kamu yang hamil kak?"tanya Sela, mengernyitkan dahinya. Reyhan menyentil pelan dahi Sela. "Ngaco!" "Aku jadi tau kenapa kamu tiba tiba minta makan bubur pake sayuran. Padahal kamu sebelumnya anti makan bubur pake sayuran." Reyhan tertawa, "saya juga nggak tau, kenapa tiba tiba pengen makan bubur pake sayuran. Ternyata kemauan kamu ya, Nak?"kata Reyhan mengelus perut Sela. Sela ikut tertawa. "Sabtu habis pindahan, kita check up ya?"ujar Reyhan. "Oke!" *** Pagi ini seperti biasa Sela menyiapkan sarapan untuk Reyhan. Hari ini Reyhan kembali mengajar di sekolah setelah beberapa hari tidak pergi mengajar. Keadaan Reyhan juga sudah membaik, tidak seperti kemarin kemarin pagi. Tapi mungkin, keadaan berbalik. Kini Sela yang harus bolak balik ke kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya. Padahal yang keluar hanyalah cairan. Sela jadi bisa merasakan betapa tersiksanya Reyhan kemarin? "Sela, saya izin lagi deh gausah ngajar."kata Reyhan khawatir. Sela menggeleng kan kepalanya, "nggak kak, aku gapapa. Ini biasa kok. Cuman mungkin ini pertama kali buat aku." "Saya disini ya, jagain kamu." "Nggak kak, udah deh berangkat aja. Kasihan murid murid pada kangen guru idamannya."goda Sela, sambil terkekeh. Sedangkan Reyhan menghela nafasnya, istri kecil nya ini benar benar keras kepala. Sudah terhitung pagi ini, 5 kali Sela bolak balik ke kamar mandi hanya untuk memuntahkan cairan bening dari dalam perutnya. Bagaimana bisa Reyhan mengajar dengan tenang jika keadaan Sela seperti ini? Sela menghampiri Reyhan untuk memakaikan dasi. Sela benar benar merindukan penampilan Reyhan yang begitu tampan. Padahal setiap hari Reyhan-Nya juga selalu tampan. "Tumben pake dasi, biasanya kemeja doang?" "Ada rapat sama kepala sekolah, katanya bakal ada dinas pendidikan yang hadir." Sela mengangguk kan kepalanya. "Jadi pengen sekolah lagi!"kekeh Sela. "Ayo, biar saya ngajar nya semangat." Sela tertawa, "Dih nggak jadi ah. Males." "Sela, serius saya tinggal?"tanya Reyhan masih ragu. "Dua rius!" "Sela!" "Yaampun, iya. Gapapa kak. Nanti juga mama sama bunda kesini. Gausah khawatir oke?"ujar Sela. "Yaudah, selama saya kerja kamu diem gausah ngapa-ngapain. Makan yang banyak, vitamin juga minum. Jangan ngelakuin hal hal berat." "Tiap detik aku ngelakuin hal berat."ujar Sela. Reyhan mengernyitkan dahinya. "Merindukan kamu, misalnya." Reyhan menggeleng kan kepalanya sambil terkekeh, bisa bisa Sela bercanda saat ia sedang serius. "Saya juga selalu merindukan kamu." Reyhan langsung mencium bibir Sela, melumatnya dengan lembut. Sela kaget, tapi ia tetap menyambut bibir Reyhan. Reyhan menarik pinggang Sela agar mendekat, dan juga mendorong tengkuk Sela agar memperdalam ciuman mereka. Saat sadar, Sela langsung mendorong pelan d**a Reyhan. Reyhan menatapnya tajam. "Apa?! Udah! Telat nanti, sana."ujar Sela. Padahal Reyhan sengaja memancing Sela, agar ia tidak jadi berangkat kerja. "Galak banget."kata Reyhan, terdengar seperti rengekan. Sela yang melihatnya tertawa. "Bodo! Aku emang galak. Udah sana berangkat." "Iya iya!" "Inget, jangan genit genit sama siswi sana! Awas aja! Cukup aku aja murid yang merangkap jadi istri kamu. Nggak ada Selatania ke dua!"ujar Sela dengan garang. Reyhan yang mendengarnya tertawa. Lalu mengecup singkat bibir Sela. "Nggak akan, sayang." **** Ruang tamu di apartemen Sela menjadi ramai, karena perbincangan kedua orang tua nya dan mertua nya. Mereka mengunjungi Sela dan juga calon cucu mereka. Resa yang paling terlihat antusias saat pertama Sela membuka pintu apartemen. Oh jangan lupakan Dinda yang sejak tadi hanya diam. Entah, Sela pun nggak tau dia kenapa. "Kira kira anak nya cewek atau cowok ya?cepet cepet di USG dong."kata Niranti. Sela menghela nafas nya, "Ma, aku mungkin belum ada sebulan hamil. Aku aja belum cek kandungan." Resa tertawa, "Memang nya kapan kalian akan cek kandungan?"tanya nya. "Niatnya Sabtu, habis pindah rumah."jawab Sela melirik Dinda. Namun anak itu hanya diam sama memainkan telefon genggam nya. "Ah, sedih banget mama ga bisa nganterin kamu pindahan rumah. Mama sama papa bakal ke Jerman untuk ngurus bisnis."ujar Niranti, merasa sedih. Sanjaya mengangguk kan kepalanya, "Iya sayang. Maaf ya, ini mendadak banget. Karena disana lagi darurat banget keadaan nya." "Nggak apa-apa kok pa, Sela ngerti. Ada bunda sama papa juga yang nganter."kata Sela. "Perlu aku bantu san? Apa keadaannya benar benar kacau?"tanya Nando, yang sejak tadi menyimak pembicaraan mereka. Sanjaya menggeleng kan kepalanya dan tersenyum, "Nggak usah Nan, terima kasih." "Kalo ada apa apa jangan sungkan untuk minta bantuan ku. Kita ini udah menjadi keluarga." "Siap!"Sanjaya mengacungkan jempol sambil terkekeh. "Bun, ngantuk nih. Boleh numpang tidur nggak?"kata Dinda. Semua yang sedang asik langsung menoleh ke anak itu. Mereka sampai melupakan Dinda yang sejak tadi bersama. Kacau, Dinda di lupain. "Lho, iya, ada kamar kosong kok disini. Tuh, samping kamar Sela dan Reyhan."ucap Resa tersenyum. "Oke, aku kesana ya."kata Dinda. Sela yang melihat Dinda bangkit pun ikut bangkit dari duduk nya. "Aku anterin Dinda dulu ya, Bun. Sekalian beresin kamarnya, soalnya berdebu udah lama nggak di pake."ucap Sela. Yang lain menganggukkan kepalanya, dan melanjutkan pembicaraan mereka.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD