Persami

1525 Words
PERSAMI            Perkemahan Sabtu Minggu, atau yang lebih sering dikenal dengan sebutan Persami, adalah suatu kegiatan wajib yang harus dilaksanakan khususnya siswa-siswi SD. Tidak hanya dari sekolah kita yang akan mengikuti, tetapi banyak juga dari sekolahan lain yang akan mengikuti kegiatan tersebut, kurang lebih sekitar dua ratus sekolah di seluruh Malang raya.           Tibalah pada saat ini di hari Sabtu, hari yang ditunggu-tunggu oleh siswa SDN 2 Flamboyan. Sesuai dengan kesepakatan yang sudah dibuat pada hari sebelumnya, bahwa pada pukul enam pagi, khususnya kepada siswa yang akan mengikuti kegiatan Persami, harus sudah tiba di lapangan sekolah dengan tepat waktu.           Seluruh siswa mulai berdatangan, termasuk grup Empat s*****n yang akan memimpin perjalanan. Kumelihat, Putri dan Ninin mulai datang dengan berseragam pramuka lengkap, dan tak lupa membawa banyak perbekalan disertai peralatan serta perlengkapan yang juga lengkap.           Tak lama akan hal itu, Hanifa pun mulai datang, selain membawa perbekalan yang lengkap, Hanifa juga membawa gitar, karena sudah menjadi karakternya di setiap kali mengikuti acara apapun, tak terlepas dirinya dari gitar tersebut.            “Halo Nif.” Sapaku.            “Hay pak Vian.” Jawab Hanifa.            “Wah keren nih, bawa gitar segala.” Celetukku.            “Iya dong, namanya juga calon musisi.” Jawab Hanifa kembali.            “Sip, oh ya, Nayla kemana kok belum datang?” Tanyaku.            “Wahh, nggak tahu aku pak, mungkin sebentar lagi.” Terang Hanifa.            “Oh, oke deh.” Tambahku.            “Ya sudah saya ke sana dulu pak.” Pinta Hanifa.            “Ya Nif, silakan.” Imbuhku.            Jam telah menunjukkan pada pukul setengah tujuh pagi, dua buah truk akhirnya telah datang dan siap untuk mengantarkan anak-anak yang akan mengikuti kegiatan persami yang sebentar lagi akan berangkat. Aku mulai mengamati beberapa siswa yang sudah standby di sini, semuanya Sudah lengkap, hanya kurang satu orang saja, yaitu Nayla. Seperti biasanya, sebelum pemberangkatan kita harus menjalani apel dulu, karena ada beberapa hal yang perlu untuk kusampaikan.            “Selamat pagi anak-anak.” Sapaku.            “Selamat pagi pak.” Jawab mereka semua.            “Salam Pramukaaaa ….” Teriakku dengan lantang.            “Salammm.” Jawab mereka dengan kompak dan serempak sambil mengepalkan tangan.            “Baik, hari ini kita akan mengadakan kegiatan perkemahan di desa Jabung. Maka dari itu sebelum kita semua berangkat, saya minta kepada kalian semua untuk mengecek beberapa barang yang kalian bawa, mulai dari perlengkapan sampai perbekalan. Bisa di mengerti!” Seruku.            “Bisa.” Jawab mereka serempak.            “Oke, saya kasih waktu lima menit, lakukan sekarang!” Seruku kembali.            Mereka semua segera mengecek seluruh barang-barang yang mereka bawa.            “Selamat pagi pak, maaf saya terlambat.” Ucap Nayla.           Nayla dari mana saja kamu, semua temanmu sudah mau berangkat, sementara kamu baru datang!”            “Iya maaf pak, saya kesiangan.” Aku Nayla.            “Ya sudah, scott jump dulu sebanyak dua puluh kali.” Pintaku.            Nayla pun melakukan scoot jump sebanyak dua puluh kali di hadapanku, hal ini sengaja kulakukan sebagai hukuman untuk Nayla, karena tidak hanya satu atau dua kali, akan tetapi sudah seringkali Nayla selalu datang terlambat dalam kegiatan ekstrakurikuler.            Kini dua buah truk yang akan membawa mereka segera berangkat, total murid yang mengikuti ada lima puluh, yang terdiri dari dua puluh lima murid laki-laki, dan dua puluh lima murid perempuan. Mereka semua segera menaiki truk, begitupun juga denganku. Perjalanan yang akan kita lakukan kurang lebih akan memakan waktu sekitar satu setengah jam, karena jarak yang akan kita tempuh kurang lebih sekitar lima puluh kilometer.           Perjalanan yang kita lakukan cukup seru dan sangat menyenangkan. Banyak dari mereka yang selalu tertawa gembira dan bercanda ria. Sebenarnya Hanifa ingin memainkan gitarnya, akan tetapi karena kondisi kendaraannya bak terbuka, Hanifa merasa tidak bisa fokus, dikarenakan banyaknya suara-suara angin yang berdesis kencang.            “Halo Nayl.” Sapa Ninin.            “Ya Nin.” Jawab Nayla.            “Kamu tadi ngapain kok bisa telat segala?” Tanya Ninin.            “Iya Nin, tadi aku kesiangan bangunnya.” Jawab Nayla.            “Oh, hampir saja tadi truknya mau berangkat, kirain kamu nggak ikut.” Gumam Ninin.            “Nggaklah Nin, sayang banget kan kalau acara ini bisa terlewati.” Imbuh Nayla.            “Oke deh.”           Tak terasa hampir dua jam perjalanan telah kita lalui bersama, dan kini saatnya kita telah tiba di desa Jabung, di mana kita semua akan mengikuti kegiatan perkemahan yang berlangsung selama dua hari. Rasa senang serta gembira mulai terlihat pada wajah-wajah mereka, karena mereka beranggapan bahwa ini akan menjadi hari yang spesial, karena akan ada banyak petualangan yang kan mereka jalani.            “Ayo anak-anak segera turunkan barang-barang kalian!” Seruku.            “Iya pak.” Jawab serempak anak-anak.            “Ya sudah langsung menuju tempat yang akan kita bangun tenda. Laki-laki sebelah utara, dan perempuan sebelah selatan.” Pintaku.           Mereka semua segera berbondong-bondong menuju tempat lokasi tenda. Tentunya mereka juga bekerja sama dalam membangun tenda. Termasuk kelompok Putri saat ini, mereka berbagi tugas, ada yang membangun tenda, ada yang mencari kayu dan ada pula yang menyiapkan makanan. ***          Sore hari telah tiba. Cukup banyak beberapa siswa yang telah menampilkan diri di depan tendanya masing-masing. Aku mulai berjalan menuju tenda perempuan, di mana ku akan menengok mereka. Saat sampai di tenda pun, aku menyuruh mereka untuk duduk bersila dan posisi melingkar. Hal ini sengaja kulakukan karena ada beberapa hal yang akan kusampaikan. Di sisi lain, kita juga akan membuat sebuah hiburan, yaitu penampilan dari Hanifa, yaitu musik akustik solo.           Hanifa segera mengambil gitarnya. Dia pun mulai terduduk di tengah lingkaran tersebut sambil menyetem gitarnya. Hanifa mulai bernyanyi dengan suara yang sangat merdu, diiringi dengan alunan musik indah dari gitar yang dimainkannya, sehingga bukan hanya dari kita yang terhibur, melainkan juga dari murid-murid sekolah lain juga merasa sangat terhibur.           Aku masih tetap berdiri, sekedar untuk mengamati Hanifa yang begitu keren dalam memainkan gitarnya. Di saat Hanifa sedang menyanyikan lagu yang ketiga, di saat itu juga tanpa sadar diriku dihampiri oleh seorang wanita yang seusiaku, yang tiada lain dia adalah pembina pramuka dari sekolah lain, yang tendanya berdekatan dengan tenda muridku.            “Hmmm, itu muridmu?” Tanya salah seorang pembina wanita itu kepadaku.            “Iya, namanya Hanifa, kelas lima SD.” Jawabku.            “Waahh hebat ya, jago sekali dia cara bermain gitarnya, emang kamu yang ngajarin?” Tanya wanita itu kembali.            “Nggak juga sih, cuma sedikit-sedikit saja aku yang ngajarin dia di sekolah.” Jawabku kembali.            “Baguslah kalau begitu. Oh ya kita belum kenalan ya, namaku Atika.” Ucap wanita itu.            “Iya namaku Vian. Kamu dari sekolah mana?”            “Dari SD Sukoharjo 1.” Jawabnya.            “Oh gitu, berarti di Malang kota ya?” tanyaku.            “Betul, di selatannya pasar besar itu.” Terangnya.            “Emmm, kalau aku dari SD Flamboyan 2.”            “Jauh yaa?”            “Iya di kabupaten sana.” Imbuhku.            “Ohhh.”           Malam minggu telah tiba, kini tiba saatnya seluruh siswa beramai-ramai dalam menjalani kemeriahan acara. Panggung sudah disiapkan, lengkap dengan beberapa sound systemnya. Sebelum sebuah puncak acara itu berlangsung, seperti biasa seluruh peserta persami melakukan apel malam.           Api unggun mulai dinyalakan dan semangat para siswa mulai terbakar. Saat itu juga banyak siswa yang bertepuk tangan atas acara ini. Bisa jadi, mungkin di tahun depan Putri beserta teman-temannya belum tentu bisa melakukan aktifitas yang seperti ini lagi, karena di tahun depan Putri beserta yang lain sudah memasuki kelas enam, yang pasti harus lebih banyak fokus terhadap kelulusan.           Jam telah menunjukkan pukul sepuluh malam, kini sudah saatnya bagi mereka semua mengakhiri acara dengan baik. Tanpa harus menunggu waktu lama, merekapun kembali ke tenda masing-masing untuk beristirahat.           Malam ini aku tak dapat tidur, sehingga terpaksa harus berdiam diri diluar tenda. Aku mulai terduduk sendiri, hanya ditemani secangkir kopi panas sebagai penghangat suasana dingin di malam hari. Entah ada angin apa, tiba-tiba seorang wanita yang baru kukenal di sore tadi, yang tidak lain bernama Atika mulai datang menghampiriku. Mungkin saja dia mengalami hal yang sama denganku.            “Malam Vian.” Sapanya.            “Ehh, Atika. Tumben belum tidur.” Gumamku.            “Hmmm, Vian sendiri ngapain kok belum tidur?” Tanya Atika.            “Aku lagi nggak mau tidur dulu, ya sekedar jagain anak-anak saja di luar.” Terangku.            “Oh sama dah kalau begitu.” Sahutnya.            Aku kembali berbincang-bincang dengan Atika. Banyak sekali hal yang kita bicarakan bersama, tiada lain seputar tentang sekolah.            “Oh ya, aku lagi pengen nyanyi nih.” Ucap Atika.            “Ya sudah nyanyi aja, aku siap dengerin kok.” Sahutku.             “Pinjemin gitar dong ke muridmu!” Serunya.            “Oke, ntar kita nyanyi bareng ya.” Ujarku.            “Boleh.”           Aku segera memasuki tendanya Hanifa, di mana ku akan meminjam gitarnya sebentar. Selain itu aku juga mengambil sebuah Cajon, karena kujuga ingin membantu Atika dalam memainkan musiknya. Kita berdua pun mulai bernyanyi bersama. Kumerasa, mungkin anak-anak yang ada di dalam tenda merasa sangat syahdu karena telah mendengar lagu serta alunan musik yang kita nyanyikan berdua.            Jam telah menunjukkan di angka satu malam, kita berdua pun mulai mengakhiri perbincangan ini. Setidaknya, kujuga harus segera beristirahat demi bisa mendampingi kegiatan anak-anak di keesokan hari. Sepertinya semua anak-anak sudah tertidur, dan hanya diriku yang belum. Cuaca di malam ini tak begitu bersahabat, suhu yang sedikit panas membuatku terus berkeringat sejak tadi siang, lebih baik kutidur di luar saja, barangkali bisa terasa lebih nyaman.    
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD