Luar Biasa

1373 Words
LUAR BIASA           Kring kring kring. Suara bel pertanda pulang telah berbunyi. Kini saatnya grup Empat s*****n kembali pulang dengan berjalan kaki bersama. Tetapi sebelum itu, mereka sempat masuk ke kantor sejenak hanya demi bisa bersalaman denganku. Aku pun segera menyalami mereka satu persatu.            “Hati-hati kalau pulang ya!” Nasihatku pada mereka.            “Siap pak Vian.” Jawab mereka.            Saat dalam perjalanan pulang, mereka berempat sempat membicarakanku, sepertinya mereka merasa sangat terpukau atas penampilanku dalam bernyanyi di saat mengajar seni di kelas mereka tadi.            “Wahh, penampilan pak Vian hari ini mantep banget ya.” Ucap Nayla.            “Iya nih, layaknya artis Michael Jackson.” Tambah Ninin.            “Wahahaha.” Teriak mereka sambil tertawa.            “Hmmm, sepertinya aku juga dapet guru baru nih, yang bisa ngajarin aku main gitar sampai mahir.” Celetuk Hanifa.            “Ihhh sombong lu.” Sahut Ninin.            “Hmmm, sepertinya aku sudah mulai merasakan kebahagiaan baru di sekolah.” Ucap Putri.            “Hihhh apaan Put?” tanya Hanifa.            “Ciyeee, yang lagi jatuh cinta.” Celetuk Ninin.            “Enak aja kamu bilang Nin.” Bantah Putri.            “Lha terus apaan?” tanya Hanifa.            “Karena pak Vian akan jadi guru favorite gue.” Jawab Putri sambil tersenyum lebar.            “Hihhh, guru favorit kita semua kalee.” Tukas Hanifa.            “Iya-iya, ya sudah. Sampai ketemu di tempat ngaji nanti.” Seru Putri.           Aku harus segera mencari tempat tinggal di daerah sini, yaitu nge’kost yang jaraknya tidak terlalu jauh dari sekolah. Setelah berkeliling desa, ternyata ku telah mendapatkan salah satu tempat kost yang lokasinya dekat dengan stasiun kereta api. ***           Sore hari telah tiba, kini tiba saatnya grup Empat s*****n menyudahi aktifitas mereka dari tempat mengaji. Seperti biasanya, jam lima sore mereka berempat tidak langsung pulang, akan tetapi sedang menantikan kedatangan kereta di stasiun, di mana mereka akan kembali berlari sampai datang waktu senja.           Alasan mereka berlari pada sore hari ini adalah karena mereka berempat telah mendapatkan sebuah kebahagiaan baru, yaitu kehadiranku sebagai guru mata pelajaran seni untuk mereka. Sebagai wujud kebahagiaan yang telah datang pada hari ini, maka mereka akan bersiap utnuk berlari.            “Semua siap?” teriak Nayla.            “Siap.” Jawab mereka serempak.            “Hari ini, kita semua akan kembali berlari. Sebagai wujud syukur bahwa kita sudah mendapatkan guru baru pada pelajaran seni, semoga dengan adanya guru baru ini, kita semua bisa bahagia.” Ucap Nayla.            “Are you Ready?” teriak Nayla.            “Ready.” Jawab serempak.            Tut tut tut. Suara klakson kereta api telah berbunyi dengan sangat kencang, sudah menjadi tanda bahwa kereta api akan melaju ke arah utara.            “Satu, dua, tiga. Go!!” seru Nayla dengan penuh semangat.            Mereka berempat mulai berlari sekencang-kencangnya. Sekuat tenaga, mereka mencoba untuk bisa mengalahkan kereta api yang juga turut melaju di sampingnya. Tak lama akan hal itu, Nayla ada di barisan paling depan sampai ke garis finish, dan pada akhirnya Nayla yang telah memenangkan lomba ini.            “Yeee, aku yang menang.” Teriak Nayla dengan sangat gembira.             Usai mereka sudah sampai di garis finish, serempak mereka berkata.            “Karena kitaaaaa.” Teriak Nayla.            “Empat Sekawan.”           Matahari telah terbenam di ujung senja, langit biru kelabu yang terlihat sangat indah mulai redup bergantikan malam yang penuh akan pesona. Kini tiba saatnya bagi Empat s*****n kembali pulang ke rumah masing-masing dengan perasaan yang penuh akan gembira. Mereka tak sabar untuk menantikan hari esok, di mana kita akan berjumpa kembali di sekolah. Bagiku, Putri, Ninin, Nayla, dan Hanifa adalah sosok murid yang sungguh sangat luar biasa. ***           Anak-anak di sekolah ini sangat luar biasa, karena kebanyakan dari mereka telah melekat jiwa seni, ada yang suka bermusik, menari, menggambar maupun qiraah. Aku tak tahu, kenapa di saatku mengajari seni pada mereka, mereka selalu bersemangat dan tak sedikitpun yang cuek, apakah mungkin karena metode mengajarku yang unik atau karena pembelajarannya yang asyik. Aku sadar sih, bahwa selama ini kulebih sering praktek daripada mempelajari materi kecuali hanya sedikit saja, karena bagiku belajar seni di luar kelas itu jauh lebih menyenangkan.           Kebetulan saat ini diriku sedang menyendiri di kantor, karena guru-guru sedang menikmati makan siang di kantin saat jam istirahat sekolah tiba. Empat s*****n, masing-masing dari mereka mulai melakukan aktifitas rutin, seperti halnya Hanifa yang tak ada bosan-bosannya bernyanyi atau Putri yang tak pernah lelah dalam membaca buku. Secangkir teh baru saja kuseduh, begitu terasa manis seperti manisnya pekerjaan yang kujalani, karena bagiku tiada hari yang lebih indah selain berkumpul dengan anak-anak di sekolah.           Blukkk, sepertinya ku baru saja mendengar suara anak yang sedang jatuh, saat kumenatap jendela, ternyata ada salah satu murid cewek kelas dua yang jatuh di depan kantor karena terpeleset, dengan sigap aku langsung menolongnya.           “Kamu nggak apa-apa dek?" Tanyaku saat baru saja membantunya untuk berdiri.           “Iya pak nggak apa-apa, cuma lecet sedikit kok." Jawabnya.           “Lain kali hati-hati ya, nggak usah lari-lari." Tuturku.           “Iya pak sekali lagi saya ucapkan terima kasih." Pungkasnya.           Lalu murid tersebut kembali berjalan menuju kelas sementara kumasih memandanginya karena jepit warna-warni yang dia pasang di rambutnya telah mengalihkan perhatianku.           Mengingat akan hal tersebut, tanpa sadar pikiranku mulai beralih terhadap fakta pada sebuah pelangi. Banyak orang beranggapan bahwa pelangi itu memiliki tujuh warna yang diantaranya ada merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila dan ungu yang biasa disingkat mejikuhibiniu, padahal jika kita mau menggali fakta lebih dalam bahwa sebetulnya pelangi itu memiliki lebih dari sejuta warna.           Dan Allah jauh lebih indah dari ciptaan-Nya, di saat kita sedang dihadirkan oleh datangnya sebuah pelangi betapa terpukaunya diri kita, seolah-olah kita telah dibuat takjub atas peristiwa itu. Namun sayangnya, tidak sedikit dari kita yang memuji Allah, dan tidak sedikit dari kita yang mengingat Allah atas segala ciptaan yang luar biasa indahnya. Maka sudah sepantasnya bibir kita selalu basah dalam mengucap kalimat tasbih, karena salah satu kenikmatan yang paling besar adalah kita dapat melihat wajah Allah SWT di surga nanti.           “Assalamualaikum." Ucap Putri yang tiba-tiba mendatangi kantor.           “Walaikum salam Put, mari silakan masuk." Pintaku.           “Pak Vian ada waktu kosong nggak sekarang? Karena Saya mau curhat sedikit saja." Terangnya.           “Oh boleh silakan santai aja." Jawabku.           Dengan perasaan yang sedikit malu-malu, Putri mulai menceritakan akan apa yang ingin dia lontarkan.           “Begini pak, saya ini sangat hobi sekali dalam membaca buku, dan saya sangat menyukai pelaparan IPA, jadi wajar jika saya banyak membaca buku-buku tentang alam semesta." Terangnya sedikit.           “Oh ya terus." Ucapku. Saya sangat tertarik dengan dunia alam pak apalagi di luar angkasa. Saat malam tiba, saya sering keluar rumah hanya demi bisa melihat pemandangan yang indah di langit. Saya juga sering mempelajari ilmu-ilmu luar angkasa termasuk ilmu Astronomi, hal tersebut sengaja saya lakukan agar impian saya bisa tercapai untuk menjadi seorang Astronot, kira-kira menurut pak Vian bagaimana?" Curhatnya.           “Baik Put, pak Vian bantu jawab sedikit ya. Apa yang sudah kamu cita-citakan itu memang sangat baik dan tidak salah, tapi menjadi astronot itu tidak mudah Put karena di Indonesia sendiri tidak ada perusahaan NASA. Namun bukan berarti kamu harus putus asa. Untuk menjelajahi dunia sampai ke luar angkasa, kamu tidak harus jadi astronot kok Put. Cukup perkaya diri kamu dengan segala ilmu, dalami segala bidang ilmu yang kamu minati, insya Allah selama kamu yakin akan kehendak Allah, sudah pasti dirimu bisa menjelajahi dunia." Jelasku.           “Baik pak, terima kasih atas aspirasinya. Putri akan selalu berusaha untuk semangat dalam belajar, demi cita-cita Putri bisa terwujudkan." Pungkasnya.           “Welldone Put, satu hal yang harus kamu lakukan juga, jangan pernah berhenti untuk berdoa ya, karena Allah Maha Mengabulkan doa kepada setiap hamba-Nya yang mau untuk berdoa." Tuturku.           “Siap pak Vian." Jawabnya kembali.           Luar biasa sekali cita-cita Putri, yang punya keinginan serta kemauan untuk mewujudkan impiannya menjadi seorang astronot. Sejak diriku masih kecil, kujuga pernah memiliki satu impian yang persis seperti Putri, karenaku sangat mencintai alam, lebih-lebih di luar angkasa. Tak ada salahnya berharap, tak ada salahnya bermimpi, karena kuyakin bahwa Allah SWT sangat senang melihat hamba-Nya yang selalu berdoa dan hanya berharap kepada-Nya.           Aku sangat berharap agar anak-anak di sekolah ini bisa memiliki mimpi yang besar seperti Putri, ya walaupun tidak harus sama dalam menjadi seorang astronot, minimal mereka bisa bercita-cita mewujudkan impian untuk diwujudkan, apakah menjadi seorang pilot, pemain bola ataupun pekerjaan yang berjiwa seni seperti musisi, penari atau sastrawan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD