SENI
Mata pelajaran seni adalah mata pelajaran yang kuajarkan. Memang sejak diriku masih kecil, aku selalu menggeluti segala kegiatan di bidang seni, baik itu seni musik, tari, rupa serta seni-seni lainnya asal bukan air seni, hehehe. Bagiku, kehidupan ini takkan indah tanpa seni, karena seni adalah bagian daripada warna, yang menghiasi segala sendi kehidupan, baik jasmani maupun rohani..
Semenjak awal diriku mengajar di sini, banyak sekali pelajaran serta pengalaman yang ku dapat. Setelah kuamati lebih jauh, banyak sekali kulihat peluang pada diri siswa dalam mengembangan diri. Mengapa aku berpikir demikian, ya karena sepertinya ada banyak peluang pada minat bakat siswa, karena mayoritas siswa di sini khususnya kelas lima, banyak yang menjiwai seni. Cukup banyak macam-macam seni yang telah kuajarkan, mulai dari seni musik, seni tari, seni rupa, seni lukis dan seni lainnya.
Kebetulan hari ini diriku akan kembali mengajar di kelas lima, sudah pasti akan bertemu Putri beserta teman-temannya yang lain. Selama ini kita lebih banyak belajar di dalam kelas, tapi untuk kali ini, aku ingin membagi beberapa kelompok untuk belajar macam-macam seni, dan kuputuskan hari ini kita semua akan belajar di luar kelas.
Aku mencoba untuk menghampiri Hanifa, yang saat ini sedang memantapkan diri di bidang seni musik, kudapati ternyata Hanifa tidaklah sendiri, melainkan ada juga Krisna serta Anggun, di mana mereka bertiga sedang belajar bersama.
“Halo Nif, Anggun, Krisna.” Sapaku.
“Ehh pak Vian.” Jawab Krisna.
“Wahh sepertinya serius amat nih kalian semua.” Gumamku.
“Iya nih pak Vian, kita semua kan pecinta musik.” Jawab Hanifa.
“Bagus bagus, emang belajar lagu apa nih enaknya.” Seruku.
“Waduh masih bingung nih pak enaknya belajar lagu apa.” Gumam Krisna.
“Yaudah gini aja, kita belajar lagu yang mudah dulu ya. Hanifa kamu masih inget kan kuncinya lagu Laskar Pelangi?”
“Iya insya Allah masih inget pak.” Jawab Hanifa.
“Ya sudah coba kita nyanyi sama-sama ya. Bawa sini cajonnya Kris.” Pintaku.
Aku mulai membuat ketukan, lanjut Hanifa yang mulai memetik gitarnya sebagai intro. Kita berempat pun mulai bernyanyi, dengan lagu yang berjudul Laskar Pelangi.
Mimpi adalah kunci
Untuk kita menaklukkan dunia
Berlarilah tanpa lelah
Sampai engkau meraihnya
Laskar pelangi
Takkan terikat waktu
Bebaskan mimpimu di angkasa
Warnai bintang di jiwa
Menarilah dan terus tertawa
Walau dunia tak seindah surga
Bersyukurlah pada Yang Kuasa
Cinta kita di dunia
Selamanya
Cinta kepada hidup
Memberikan senyuman abadi
Walau hidup kadang tak adil
Tapi cinta lengkapi kita
Laskar pelangi
Takkan terikat waktu
Jangan berhenti mewarnai
Jutaan mimpi di bumi
Sungguh suasana saat ini benar-benar sangat membahagiakan. Rasa sedih maupun resah dan gelisah perlahan demi perlahan mulai hilang ketika kita semua telah menikmati alunan lagu, diiringi musik yang indah seakan tak ingin beranjak pergi dari tempat ini. Tak kusangka, Hanifa dan Krisna cukup berbakat sekali dalam bermain musik, apalagi di saat melihat Hanifa bermain gitar, sungguh indah dan harmoni dari suara yang dia bunyikan. Belajar musik itu memang tak mudah, butuh kesabaran dan juga minat yang tinggi untuk bisa mengasah ketrampilan tersebut.
Aku jadi teringat akan masa-masa dulu di saatku pernah mengajar murid di tingkat SMA, begitu semangat dan antusiasnya mereka dalam berlatih. Menyikapi hal tersebut, aku sangat senang sekali, jujur kuakui bahwa di dunia seni yang kualami selama ini bukanlah murid yang berbakat yang kubanggakan tetapi diriku lebih membanggakan seorang murid yang punya kemauan serta kerja keras untuk mau mengembangkan bakatnya.
“Oh ya pak Vian, aku boleh tanya sesuatu nggak." Pinta Krisna.
“Boleh Krisna, permenitnya sepuluh ribu." Celetukku.
“Wahhh mahal banget, nggak jadi deh." Keluhnya.
“Hehehe, bercanda kali Kris, silakan mau tanya apa." Pintaku.
“Pak Vian bisa bermain drum nggak?" Tanyanya.
“Wah gampang, kecil banget tuh." Jawabku singkat.
“Hmmm kebetulan, pak Vian bisa ajarin aku nggak." Desaknya.
“Aku juga mau dong." Sahut Hanifa.
“Aku juga." Sahut juga Anggun.
“Beresssss, semua bisa pak Vian ajarin." Jawabku.
“Asyikkkk, pak Vian baik banget deh." Timpal Krisna.
“Tapi ngomong-ngomong di sekitar sini apa ada studio musik?" Tanyaku.
“Kalau di sini jelas nggak ada pak, yang ada sih di desa sebelah perjamnya lima belas ribu." Terang Hanifa.
“Ya sudah besok hari Minggu kita ke sana ya, kalau latihan harus semangat." Pungkasku.
Belajar bermain drum itu memang sangat mudah, tak sesulit belajar main gitar atau piano. Wajar saja karena drum tidak memiliki nada, jadi ketika belajar tidak perlu banyak berpikir dalam menyesuaikan nada. Cara belajarnya hanya butuh ketelatenan serta kesabaran agar bisa lemas dalam menggerakkan kedua tangan serta kedua kaki. Sebelum belajar tentunya kita juga harus tahu terlebih dahulu nama-nama perangkat pada bagian drum agar kita dapat memahami kegunaan serta fungsinya untuk apa.
Ada yang namanya bass drum yang biasa dimainkan oleh kaki kanan, ada hi-hat dengan kaki kiri. Ada yang namanya snare yang biasa dimainkan oleh tangan kiri, ada juga tom-tom dan simbal yang bisa dimainkan oleh tangan kanan dan kiri. Dasar utama kuncinya terletak pada bass drum dan snare, karena dua komponen itulah yang menentukan cepat lambatnya tempo.
Untuk melatihnya pun cukup mudah jika hanya berfokus terhadap kaki kanan dan tangan kiri saja, namun semua drummer dituntut untuk bisa memainkan semua komponen, awal belajar memang susah dan membingungkan tetapi ingatlah bahwa belajar drum itu lebih mudah daripada belajar alat musik yang mempunyai nada.
Hmmm, berbicara soal drummer, aku jadi ingat akan kisah Tyo Nugros, seorang drummer profesional dari band Dewa 19. Yang pernah kudengar informasinya, bahwa Tyo hengkang dari grup Dewa 19 dikarenakan memiliki masalah pada pergelangan kakinya. Aku bisa memaklumi akan hal itu, karena dewa 19 sendiri juga bagian dari musik Rock, apalagi di saatku mendengar lagu yang judulnya Pangeran Cinta, nggak bisa ngebayangin betapa rumitnya permainan drumnya yang keren abiz.
Usai kita bernyanyi di sini, aku pun mulai beranjak pergi untuk mengamati aktivitas teman-teman yang lain. Sepertinya kuingin mendekati Putri, karena aku ingin tahu aktifitas apakah yang saat ini dia lakukan. Kudapati Putri beserta Ninin sedang berteduh di bawah pohon, mereka membawa sabun masing-masing, kuamati ternyata mereka sedang membuat patung dengan mengukir dan memahatnya menggunakan paku beserta pisau.
“Wahh, bikin apa sih Put?” tanyaku saat mendekat.
“Ini pak lagi bikin patung dari sabun.” Jawab Putri.
“Hmmm, berarti sedang belajar seni rupa ya, kalau kamu Nin?” Tanyaku pada Ninin.
“Sama kayak Putri, tapi bikin boneka.” Jawab Ninin.
“Itu sudah terlihat bagus sih Nin, tapi lebih bagus lagi kalau ditambahin bingkai serta pernak-pernik.” Ujarku.
“Oh iya sih, bagus juga sepertinya.” Jawab Ninin.
“Ya sudah pak Vian keliling ke sana dulu ya.” Ucapku.
“Ya pak Vian silakan.” Jawab mereka.
Aku kembali berkeliling untuk mengamati anak-anak yang sedang asyik berkarnya seni, namunku sepertinya sedikit merasa penasaran dengan apa yang dilakukan Nayla.
“Hei, lihat Nayla nggak?” Tanyaku pada salah satu siswi.
“Emm, sepertinya ada di sanggar pak.” Jawab siswa itu.
“Ya sudah, makasih ya.” Jawabku kembali.
“Sama-sama pak.”
Aku kembali melangkah menuju sanggar, kira-kira apa yang dilakukan Nayla pasti berkaitan dengan tarian, karena kumenyadari bahwa sanggar adalah satu-satunya tempat khusus untuk latihan menari bagi semua anak-anak. Aku mulai melihat dari luar jendela, ternyata benar kudapati Nayla bersama lima temannya sedang latihan menari.
***
Saat hari Minggu tiba, Aku, Hanifa, Krisna dan juga Anggun mulai tiba di studio musik Ardan, yang terletak di desa sebelah, dan satu kilometer jaraknya dari sekolah. Sebagaimana janjiku, bahwa di hari inilah aku akan mengajari mereka bertiga untuk bermain drum.
“Baik anak-anak sebelum kita belajar marilah kita berdoa dulu." Pintaku.
Kita mulai memasuki studio, Subhanallah betapa harum dan indahnya studio ini, meski tak terluas luas namun lengkap dengan segala alat musik. Sebelum diriku melatih anak-anak, tentunya kuharus memperkenalkan sedikit bagian-bagian dari drum dan mulai mengajarinya yang hanya fokus terhadap kaki kanan dan tangan kiri sebagai dasar pembelajaran awal.