Kelas Lima

1332 Words
          Putri, Ninin, Hanifa dan juga Nayla mulai terduduk bersama. Kondisi di kelas lima saat ini begitu sangat sepi meskipun semua siswanya masuk. Memang beberapa bulan ini usai kepergian pak Bima, mereka harus selalu mandiri walau harus belajar sendiri.           Meskipun terkadang pak Bima selalu marah-marah dalam mengajar di kelas lima, di sisi lain pak Bima juga ramah-ramah pada saat proses pelajaran berlangsung.            “Aduhh, aku bener-bener bosen nih.” Keluh Putri.            “Iya, aku juga, mana sepi lagi.” Tambah Nayla.            “Ini udah dua bulan, pelajaran seni nggak ada gurunya.” Tukas Hanifa.            “Sabarlah Nif, mungkin bentar lagi kita pasti akan kehadiran guru baru.” Seru Putri.            “Iya kalau gurunya enak, kalau seperti pak Bima lagi bagaimana?” Tanya Nayla.            “Ahhh, rasa khawatir kamu berlebihan Nayl, udahlah pokoknya kamu tenang aja.                            Aku yakin, guru baru kita pasti jauh lebih baik.” Imbuh Ninin.            “Ya, semoga aja sih.” Tambah Nayla.           Mungkin di hari ini akan tetap menjadi hari yang sangat membosankan, karena semenjak pak Bima meninggal, pelajaran seni Budaya pada jam pertama selalu saja kosong, pernah suatu ketika bu Indri sempat mengajar pada pelajaran tersebut, namun sayangnya, bu Indri tidaklah pandai dalam bidang itu.           Suasana di kelas hari ini memang terlihat sepi, karena gurunya saja juga tidak ada. Namun terkadang suasana kelas juga akan terlihat ramai jika anak-anak pada bermain. Lain dengan Putri, seringkali Putri selalu termenung, meratapi akan suatu keadaan pada dirinya, mungkin karena pada dasarnya Putri adalah anak yang suka akan belajar, maka jika ada jam kosong dalam pelajaran, dia selalu terlihat sedih.           Putri mulai melamun dan termenung. Tidak satu dua kali Putri terlihat seperti ini, namun di setiap waktu pada jam pelajaran seni budaya, Putri memang selalu terlihat seperti ini. Entah berapa kali dia harus bersabar menunggu, menunggu kedatangan guru baru yang siap untuk membimbingnya.           Putri tiba-tiba keluar kelas, mungkin dia sedikit merasa bosan bila di setiap pagi selalu saja suasananya seperti ini, mungkin Putri sedang membutuhkan satu hiburan, sekedar untuk menenangkan pikirannya, akan tetapi dia belum menemukan jalan yang tepat, sehingga terpaksa dia mulai berlari menuju ruangan belakang kelas. Putri mulai berdiri, dengan menaiki beberapa balok kayu sebagai pijakan kaki. Tidak ada pemandangan lain yang bisa dia lihat kecuali merenung sambil melihat pemandangan sawah.            Tak lama akan hal itu, Ninin pun datang menyusulnya.            “Putri.” Panggil Ninin.            “Kamu ngapain di situ, tidak ada gunanya jika kalau terus-terusan berdiam diri Put.” Terang Ninin.            “Aku cuma lagi bosen aja Nin.” Jawab Putri.            “Iya tahu, mungkin kamu sedang merasa gelisah kan, karena tidak ada guru yang mengajar seni budaya.” Terang kembali Ninin.            Putri masih saja terdiam.            “Ayolah Put, tak selayaknya kamu terus-terusan diam tanpa kata seperti ini.” Imbuh Ninin.           Putri masih belum juga menjawab dari apa yang Ninin katakan, sehingga Ninin mulai mencoba untuk mendekati Putri perlahan demi perlahan, barangkali Ninin bisa membuat Putri sedikit terhibur.            “Put, ada berita baru dari bu Indri, entah baik atau buruknya aku masih belum tahu.” Ucap Ninin.            “Apa memangnya Nin?” tanya Putri.            “Kemarin aku sempat diajak ngobrol sama bu Indri.” Curhat Ninin.            “Iya terus?” Tanya Putri.            “Bu Indri mengatakan, insya Allah guru pengganti dari pak Bima akan datang hari ini.” seru Ninin.            “Yang bener Nin?” Tanya Putri.            “Iya, namanya pak Vian, aku belum tahu sih beliau seperti apa dan bagaimana.” Jawab Ninin.            “Hmmm, paling-paling juga nggak ada bedanya dengan pak Bima.” Jawab Putri.            “Jangan berprasangka buruk dulu Put, mending sekarang kita pergi ke kelas.” Pinta Ninin.            “Aku bosan di kelas Nin, kamu saja yang ke kelas duluan sana!” Seru Putri.            “Sudahlah Put, sebentar lagi guru baru yang namanya pak Vian akan datang loh, siapa tahu dia lebih asyik.” Ucap Ninin kembali.            “Ya sudah, ayolah.” Jawab Putri.           Akhirnya Ninin berhasil membujuk Putri agar mau kembali ke dalam kelas, karena Ninin juga tidak ingin melihat Putri yang terus-terusan bersedih hanya karena pelajaran seni budaya tidak ada gurunya. Memang kondisi kelas saat ini agak terasa sedikit hening, Hanifa yang begitu hobi dalam bernyanyi akhirnya mencoba untuk mengambil gitarnya. Perlahan demi perlahan, Hanifa mulai menghibur Putri dan juga teman-teman di kelas dengan sebuah lantunan lagu yang dia sukai. ….. LAGU              Aku mulai tiba di depan kelas lima tanpa menampakkan diri dulu. Perlahan dengan perlahan kumulai meniup Harmonika, sejEnis alat musik tiup yang bunyinya penuh akan harmoni. Sontak seluruh siswa kelas lima terdiam dan penasaran siapakah yang bermain alat musik itu. Tak lama akan hal itu aku mulai masuk dengan penampilan super, berpakain kaos putih berjuba Doraemon, dilengkapi dengan topi dan sepatu aladin.           Ketika diriku memasuki kelas, kumulai membuat kaget pada mereka, sehingga sontak semua murid merasa kaget namun juga sambil tertawa. Musik pun mulai berderu, sebuah lagi India berjudul “Bum Bum Bolee” mulai berputar dengan cukup keras. Semua anak-anak kelas lima mulai berdiri, menyanyi dan ikut bernyanyi.           Detik demi detik suasana kelas semakin meriah, sungguh ini adalah momen yang sangat mengesankan. Aku terus bernyanyi begitu pun dengan mereka, aku terus menari begitupun juga dengan mereka. Tak lama akan hal ini, lima menit setelah lagu selesai, sontak semua teriak dan bertepuk tangan, sungguh sangat luar biasa. Ternyata keceriaan mereka bisa dibangun dengan jiwa yang penuh akan semangat. Aku mulai memperkenalkan diri, begitupun juga dengan mereka. Usai akan hal itu, aku mencoba untuk bernyanyi.           Mereka dalam satu kelas, serempak mulai bertepuk tangan, rupa-rupanya mereka merasa sangat terhibur atas penampilan yang sudah kubawakan tadi. Namun sepertinya tak cukup sampai di sini saja.            “Hey cantik, pinjem gitarmu dong.” Pintaku pada Hanifa.            “Oke.” Jawab Hanifa.           Hanifa melemparkan gitarnya dan aku mulai memainkannya. Tak hanya aku yang sendirian beraksi, karena kujuga ingin anak-anak di kelas lima ini untuk kembali bernyanyi.            “Bagaimana, lanjut kawan-kawan?” Tanyaku pada mereka.            “Lanjut dong, hahaha.” Jawab mereka serempak.            “Ok. Mari kita nyanyikan sebuah lagu, sebagai persembahan untuk pertemuan pertama kita yang luar biasa.”            “Ssssstttttt.” Desisku pada mereka agar suasana kembali hening.           Suasana kelas semakin meriah di saatku mempersembahkan lagu yang sangat menghibur, mereka semakin bersemangat seakan suasana kelas seperti panggung konser di studio televisi. Kelas-kelas sebelah mulai penasaran, lalu dengan serempak anak-anak di kelas lain mulai keluar kelas untuk menyaksikan penampilanku. Mereka mulai saling bertanya, siapakah akan sosok diriku ini, dengan berbekal talenta seperti ini bisa menghibur seluruh murid-murid yang ada di sekolah ini. Setelah tiga lagu telah kita nyanyikan bersama, mereka bertepuk tangan dengan sangat keras, dan kini tibalah saatnya diriku untuk memperkenalkan diri. ***           “Wahhh, pak Vian keren banget ya." Ucap Putri.           “Iya, pintar nyanyi pintar main gitar juga." Sahut Hanifa.           “Sangat asyik dan berbakat sekali, aduhhh jadi gemes aku." Imbuh Ninin.           “Aku yakin, semua kelas bakal semangat kalau sudah pak Vian yang mengajar." Timpal Nayla.           “Ya semoga aja Nayl, tapi kalau ke depannya pak Vian berubah jadi galak gimana." Tukas Ninin.           “Ahhh kekhawatiran kamu berlebihan sih Nin, buat santai aja kali." Tutur Nayla.           “Hmmm, ini bisa jadi momen kebahagiaan baru kita nih." Ucap Putri.           “Betul, ntar sore lari kita bakal lebih kencang juga, hahaha." Celetuk Nayla.           “Saking kencengnya, kereta apinya sampai kalah." Imbuh Hanifa.           “Karena kita, adalah ..." Teriak Putri.           “Empat Sekawannnnn." Jawab mereka serempak.           “Heiiii, bisa diem nggak sih, pagi-pagi udah main teriak aja." Tegas Krisna, lalu mereka berempat kembali terdiam.           Aku mulai keluar dari ruangan guru saat tiba jam istirahat, apa yang akan kulakukan tiada lain hanyalah ingin menikmati suasana lingkungan di halaman sekolah. Masya Allah, ini adalah sekolah yang sangat bersih, asri dan indah dari sekolah-sekolah yang pernah kusinggahi. Banyaknya pepohonan disertai halaman yang luas, ditambah dengan kicauan burung-burung gereja, yang membuatku semakin terhibur dalam keheningan jiwa. Saat diriku menengok ke arah barat, terlihat pemandangan gunung Kawi yang begitu indah, dan saat diriku menengok ke arah timur, terlihat gunung Semeru yang begitu mempesona, inilah bukti kekuasaan yang Allah yang Maha Agung.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD