Putri si Kutubuku

1658 Words
           Hari Minggu telah tiba. Inilah hari yang sudah ditunggu-tunggu oleh Putri di mana orang tuanya akan mengajaknya jalan-jalan ke kota. Dua minggu yang lalu ayahnya sudah mengatakan bahwa di hari Minggu inilah waktu yang paling tepat, karena di hari Minggu inilah ayahnya telah memiliki rezeki yang cukup. Bagi Putri, mungkin hari ini akan menjadi liburan yang mengesankan bersama keluarga.            Jam telah menunjukkan di angka delapan pagi, sudah saatnya Putri mempersiapkan semuanya, termasuk mempersiapkan diri mulai dari baju, sepatu, tas dan tentunya juga sudah mandi. Selain itu, Putri juga membantu adiknya yang masih berusia lima tahun agar segera mandi membersihkan diri. Tak berselang lama tiba-tiba Ninin datang ke rumahnya.            “Hey Put.” Sapa Ninin.            “Ehhh Ninin.” Jawab Putri.            “Kamu mau ke mana, kok berdandan segala?” Tanya Ninin.            “Iya nih Nin, aku sekeluarga mau jalan-jalan ke kota.” Jawab Putri.            “Emmm, sayang dong padahal hari ini aku mau ngajak kamu nonton sama temen-temen.” Gumam Ninin.            “Aduh, maaf lain kali saja ya Nin, saat ini aku benar-benar nggak bisa.” Timpal Putri.            “Hmmm, ya sudah deh nggak apa-apa lain kali saja.” Jawab Ninin.            “Makasih ya Nin, kamu sudah bisa ngertiin aku.” Ucap Putri sambil memeluk Ninin.            “Iya sama-sama. Ya sudah aku pergi dulu ya Put.” Pungkas Ninin.            “He’em, salam buat temen-temen ya.” Seru Putri.            “So pasti.” Jawab Ninin kembali.            Sedikit ada wajah kecewa pada diri Ninin usai beranjak pergi meninggalkan rumah Putri, karena sebenarnya hanya dengan hadirnya Putri, suasana di saat jalan-jalan bisa terasa lebih have fun. Tak apalah, Ninin hanya bisa menikmati suasana nonton hanya bersama Nayla dan juga Hanifa.           Putri segera membantu adiknya untuk segera mandi serta bersiap diri agar segera berangkat. Usai menjalani hal itu, Putri segera masuk ke tempat tidurnya, sekedar memastikan agar kondisinya tetap rapi sebelum Putri pergi. Tak lupa pula dia juga mengecek isi dompet, tentunya juga untuk memastikan agar uangnya cukup.           Satu jam telah berlalu, kini jarum jam sudah menujukkan di angka Sembilan lebih sepuluh menit, saatnya Putri dan juga keluarga menaiki mobil untuk melakukan perjalanan menuju kota, jarang sekali Putri merasakan liburan seperti ini bersama keluarga.           Ayah dan ibu duduk di kursi depan, sementara Putri dan adiknya duduk di jok bagian belakang. Saat dalam perjalanan pun, Putri mulai menikmati perjalanan.            “Kamu udah ngecek kalau ada PR Put?” Tanya ibu.            “Iya buk, hari ini PR Putri nggak terlalu banyak kok, hanya ada satu mata pelajaran saja, dan nanti malam juga bakal Putri kerjakan.” Jawab Putri.            “Ya sudah kalau begitu, belajar terus yang semangat!” Seru ibu.            “Iya buk, bukannya dari dulu sejak Putri masih kecil selalu rajin belajar tiap malam, hehehe.” Jawab Putri kembali. ***            Kini Putri beserta keluarga telah tiba di alun-alun kota Malang. Banyak sekali segala keseruan yang bisa dinikmati di hari ini juga, tak terasa hingga berjam-jam Putri dan keluarga berkeliling-keliling menikmati kesejukan suasana yang penuh akan keramaian.           Tak lama akan hal itu, mereka mulai merasa lapar, sehingga mereka akan beralih tempat menuju warung pujasera terdekat daerah alun-alun. Ayah dan ibu mulai memesan bakso, sementara Putri memesan nasi uduk. Bisa dibilang, jika Putri bermain ke kota, dia selalu makan nasi uduk, wajarlah jika Putri di rumahnya tak pernah makan nasi uduk, karena di desa juga tidak banyak yang jual.           Usai makan siang di warung pujasera, Putri beserta keluarga kembali melanjutkan perjalanan ke tempat kesukaannya. Untuk kali ini mereka akan pergi menuju toko buku Gramedia Store, yang letaknya juga tidak jauh dari mereka, mungkin hanya dengan waktu tak sampai sepuluh menit, mereka akan tiba walau harus berjalan kaki.           Toko Gramedia merupakan tempat yang sudah ditunggu-tunggu lama oleh Putri. Sudah hampir empat bulan ini Putri tak berkunjung, maka dari itu sudah sejak lama Putri mengumpulkan banyak uang karena dia sudah merencanakan satu hal, di mana jika tiba saatnya dia berkunjung ke Gramedia, dia akan membeli buku dengan cukup banyak.            “Ayo buk cepat kita masuk!” Seru Putri saat menaiki tangga pintu masuk Gramedia.            “Iya sabar dikit kenapa sih Put.” Jawab ibu.            Dari dulu sejak duduk di bangku kelas dua SD, Putri memang selalu tidak sabaran masuk ke toko buku ini. Mungkin saja Putri benar-benar ingin membeli buku yang menurutnya sangat menarik, namun diantara jenis-jenis buku yang Putri sukai, yang pasti dia lebih suka dengan buku-buku edukasi, apalagi tentang alam. Soal urusan buku, dari dulu Putri memang tak pernah ketinggalan.            Putri mulai berjalan menyusuri banyak celah-celah rak buku yang tertata rapi.            “Kok banyak sekali buku yang kamu bawa Put, emang yakin kamu mau beli semuanya?” Tanya ibu.            “Ealah buk, mana mungkin Putri bisa membeli semuanya, ntar juga mau Putri pilih-pilih lagi.” Jawab Putri.            “Hmmm, begitu. Oh ya, memang ada berapa sisa uang tabungan yang kamu bawa sekarang Put?” Tanya ibu kembali.            “Setelah Putri hitung-hitung, sekarang tersisa tiga ratus tujuh puluh lima ribu buk, dan ini belum termasuk uang tabungan di sekolah.” Jawab Putri.            “Ya sudah pokoknya jangan dihabisin semua ya sayang.” Pinta ibu.            “Baik buk, mungkin Putri akan membelanjakan uang ini hanya sekitar dua ratus ribu saja.” Jawab Putri kembali.           Soal buku, dari dulu Putri memang tidak pernah menyayangkan uangnya. Bagi Putri, lebih baik uang itu habis jika dibelanjakan untuk sesuatu yang dapat memberi manfaat lebih yaitu ilmu, daripada digunakan untuk main-main atau belanja lainnya. Usai hampir satu setengan jam Putri berkeliling mencari buku, dia segera berjalan menuju kasir.            “Iya, total semuanya dua ratus lima belas ribu dek.” Ucap kasir itu.            “Baik mbak, ini.” jawab Putri sambil menyerahkan uangnya.            “Ini silakan barangnya dek, terima kasih selamat datang kembali.” Balas kasir itu.            “Iya sama-sama mbak.” Jawab Putri kembali.            Hari ini Putri akan pulang dengan membawa banyak bingkisan usai menikmati jalan-jalan bersama keluarga. Usai keluar dari toko buku Gramedia, Putri membawa kantong plastik agak besar yang isinya ada tujuh macam buku serta alat tulis lainnya. Kini waktu sudah mendekati waktu sore, adzan Ashar mulai berkumandang dan kini saatnya Putri beserta keluarga menjalankan shalat Ashar berjamaah di masjid Jami’ sebelum mereka pulang.           Tibalah jarum jam telah menunjukkan di angka lima sore, kini Putri beserta keluarga telah tiba di teras rumah. Putri segera mandi untuk membersihkan diri, tak ada satu rasa sedih yang ada pada wajah Putri kecuali rasa lelah yang bercampur dengan bahagia.           Hari yang sangat melelahkan, namun meski terasa sangat lelah bagi Putri ini hanyalah hal yang biasa, mungkin karena Putri terkenal sebagai sosok yang selalu semangat dan pantang menyerah sehingga apapun segala beban yang datang pada dirinya, dia sikapi dengan jiwa yang tegar seperti batu karang.           Saat tiba di rumah pun, Putri kembali mengecek semua buku yang sudah dia beli. Setelah semuanya sudah lengkap, dia segera menatanya di rak kamarnya untuk dikoleksi. Tak heran, sudah kelas lima SD Putri sudah memiliki lebih dari seribu buku yang terdiri dari macam-macam jenis. Mungkin tidak lama lagi, dalam waktu kurang dari dua minggu, pasti ketujuh buku yang baru dia beli bakal ludes terbaca, karena membaca bagi Putri adalah hobi yang paling pokok, maka sungguh sangat pantas jika Putri dijuluki si Kutubuku. ***          Tok tok tok. Suara pintu berbunyi pada rumah Putri saat waktu telah menunjukkan di angka tujuh malam.           “Assalamualaikum." Ucap salah satu teman Putri.           “Walaikum salam.” Jawab Putri lalu mulai membuka pintu rumahnya.           “Ehhh, kamu Nif. Tumben malam-malam ke sini, mari silakan masuk!" Seru Putri.           “Nggak usah Put, aku ke sini cuma sebentar kok." Jawab Hanifa lalu mengeluarkan secarik kertas dari sakunya.           “Aku dapet undangan dari sekolah SMP 3, di mana pada bulan depan ada lomba olimpiade matematika, jadi aku harap kamu bisa mengikutinya Put." pinta Hanifa.           “Oh ya, tapi aku nggak terlalu pandai soal hitung-hitungan loh Nif." Sela Putri.           “Ahhh masa'. Nilai matematikamu kan selalu bagus-bagus Put. Ayolah ikut, lumayan loh hadiahnya satu juta rupiah." Pinta Hanifa kembali.           “Hmmm, ya sudah deh. Tapi kalau misal aku kalah kamu jangan kecewa loh." Tukasnya.           “Oke Put, semangat ya." Sahut Hanifa.           Seperti menghadapi badai di tengah derasnya hujan di lautan, berharap akan hadir sebuah pelangi usai badai pergi. Itulah yang saat ini Putri lakukan, tanpa kenal putus asa, tanpa ada kata menyerah, Putri mulai berjuang memantapkan diri sebelum menghadapi perlombaan di bulan depan. Putri sadar, selama ini dia banyak mendapatkan prestasi di akademiknya, namun apakah di perlombaan nanti dia dapat meraih kembali prestasi baru? Insya Allah selama Allah masih menghendaki.           Belajar tanpa mengenal waktu, itulah sedikit pepatah yang selalu Putri camkan dalam dirinya, karena selama dia masih diberikan umur serta kesehatan, maka menyia-nyiakan waktu adalah dosa terbesar bagi dirinya.           Kita semua pasti juga harus sadar, bahwa usia yang diberikan oleh Allah SWT kepada umat Nabi Muhammad SAW tidaklah panjang, mungkin hanya berkisar antara lima puluh sampai sembilan puluh tahun, sangat jauh berbeda dengan umat-umat terdahulu yang usianya bisa mencapai ratusan tahun. Maka dari itu, sudah sewajibnya di usia yang pendek ini digunakan untuk belajar dan menuntut ilmu dengan baik, bukannya juga ada pepatah yang mengatakan bahwa belajar itu sepanjang hayat. ***        Tak terasa waktu satu bulan telah berlalu, dan kini tiba saatnya bagi Putri untuk bertarung dalam memenangkan perlombaan olimpiade Matematika.           “Semangat ya Put, kamu pasti bisa." Ucap Hanifa.           “Iya Put, pokoknya jangan pernah menyerah." Imbuh Ninin.           “Iya makasih atas supportnya temen-temen, tapi sebenarnya aku minder banget." Keluh Putri.           “Loh, kenapa begitu Put." Sahut Nayla.           “Kalian kan bisa lihat sendiri, pesaingnya ratusan kayak gitu, huffttt." Jelas Putri sambil menghela nafas.           “Yahhh Putri, perlombaan belum di mulai aja udah negative thinking." Gumam Hanifa.           “Iya nih, lagian menang atau kalah kan nggak jadi masalah buat kita, nggak mungkin kan hanya karena gara-gara Putri kalah terus persahabatan kita bakal bubar." Sahut Ninin.           “Betul. Semangat Put, kamu pasti bisa." Desak Nayla.           Saat perlombaan telah selesai dilaksanakan, Alhamdulillah Putri menang walaupun hanya juara tiga, yang penting masih tetap juara, tidak sia-sia Putri belajar dengan giat.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD