Suasana di pagi hari ini tidak seperti biasanya, cukup terasa dingin layaknya di puncak gunung. Mungkin karena sekarang telah datang musim hujan, jadi wajar kalau banyak dari anak-anak yang menggunakan jaket saat berangkat ke sekolah. Tepat di pagi ini juga Putri dan Ninin berangkat bersama, tak biasanya mereka berdua berangkat bersama, mungkin karena kebetulan berpapasan di jalan.
“Nin, ntar siang kita belajar kelompok yuk!” Seru Putri.
“Waduh Put, sepertinya usai pulang sekolah nanti aku belum bisa pulang deh, apalagi ikutan belajar kelompok.” Terang Ninin.
“Yaelah tumben amat Nin, sibuk apaan sih?” Tanya Putri.
“Selama tiga hari ini aku sama pak Wawan disuruh fokus latihan, karena di tiga hari ke depan perlombaan sudah di mulai.” Terang Ninin kembali.
“Oh iya sih. Ya sudah semangat pokoknya. Terus apa nantinya kamu tetep mengaji untuk sorenya?” Tanya Putri kembali.
“Iya lah tetep, aku kan pulangnya jam dua.” Jawab Ninin.
“Oke deh, sukses terus ya.” Imbuh Putri.
“Oke Put, makasih.”
Memang untuk tiga hari ke depan Ninin harus ekstra sibuk, lebih-lebih sekitar jam setengah satu siang usai anak-anak pulang sekolah. Semua ini perintah dari pak Wawan selaku guru olahraga, karena perlombaan bulutangkis tingkat kabupaten akan di mulai dalam waktu dekat ini.
Grup Empat s*****n selalu mendukung atas prestasi Ninin. Tidak menyangka selama dua tahun berturut-turut Ninin telah membawa nama harum sekolah, karena selama dua tahun itu pula dia selalu memenangkan kejuaraan walau tidak harus juara satu. Bagi Ninin, menang kalah bukanlah menjadi tujuan utama, karena Ninin menganggap bahwa perlombaan ini hanyalah sebuah ujian untuk menunjukkan skill sebagai prestasi yang telah diasah olehnya sejak dini, karena soal menang atau kalah, biarlah Allah yang akan mengatur, kita sebagai manusia hanya bisa berusaha.
Ketika jam pulang sekolah telah tiba, anak-anak kelas lima termasuk Putri mulai pergi meninggalkan sekolah, kecuali hanya Ninin yang masih harus tertinggal. Di siang ini usai menjalankan shalat Dhuhur, Ninin segera mengambil seperangkat alat badminton, karena pak Wawan telah menunggunya di halaman sekolah, sekedar ingin mengamati Ninin latihan.
Dengan semangat serta kerja keras, Ninin pantang menyerah untuk terus latihan. Saking semangatnya, Ninin sampai lupa jika siang ini dia belum makan. Perlahan demi perlahan Ninin mulai mengasah skillnya dengan berlatih macam-macam pukulan.
Tibalah waktu jam dua siang lebih sepuluh menit. Anak-anak kelas enam mulai keluar kelas untuk bergegas pulang. Begitupun juga dengan Ninin, meski rasa semangat masih tetap ada dalam dirinya, Ninin harus segera beristirahat, karena besok dia harus bangun lebih pagi agar bisa latihan di waktu pagi.
“Nin.” Ucap pak Wawan.
“Iya pak.” Jawab Ninin.
“Sudah dulu ya, besok kita latihan lagi!” Seru pak Wawan.
“Baik pak, lagian sekarang saya juga belum makan, jadi harus cepet-cepet pulang sekarang.” Jawab Ninin
“Baiklah, besok kita latihannya pagi saja, jadi aku harap jam setengah enam pagi kamu harus sudah di sekolah.” Pinta pak Wawan.
“Iya pak, dengan senang hati akan saya lakukan.” Jawab Ninin kembali.
“Baik, ya sudah silakan pulang.” Serunya.
“Baik pak mari.”
***
Setelah tiga hari latihan dengan cukup keras, kini saatnya Ninin bangkit untuk siap bertempur dalam perlombaan. Syukur Alhamdulillah di hari ini juga Ninin masih diberi kesehatan sehingga dia telah memiliki stamina yang ekstra, agar tetap bersemangat sampai akhir perlombaan nanti.
Jam telah menunjukkan di angka enam. Saatnya Ninin segera berangkat ke sekolah di pagi buta. Perjalanan yang akan di tempuh untuk menuju ke gelora Ken Arok adalah satu jam, untuk itu dia harus berangkat ekstra pagi, karena pak Wawan sudah siap untuk mengantarkannya dalam perlombaan itu.
Banyak dari teman-teman yang menyemangati Ninin sebelum pada akhirnya dia harus berangkat menuju tempat perlombaan.
“Semangat untuk hari ini ya Nin, aku yakin kamu pasti bisa.” Ucap Putri.
“Iya, pokoknya kamu Jangan pernah menyerah.” Imbuh Hanifa.
“Okey, terima kasih semuanya, insya Allah aku akan bermain dengan baik.” Jawab Ninin.
“Sip, tunjukkan kalau kamu bisa.” Tambah Nayla.
“Ya sudah, mari teman-teman, aku berangkat dulu yaa.” Ucap Ninin kembali.
“Iya hati-hati di jalan.” Teriak Putri.
Setelah menempuh perjalanan yang lumayan jauh, kini akhirnya Ninin dan pak Wawan telah tiba di gelora Ken Arok. Rasa-rasanya Ninin begitu tak sabar untuk bisa segera bertanding dalam perlombaan ini.
Waktu tak berselang lama, kini saatnya Ninin bersiap untuk beradu dalam melawan musuh. Pertandingan pun di mulai, pukulan demi pukulan, serangan demi serang mulai Ninin lakukan. Ninin bermain dengan sebaik mungkin tanpa pernah memikirkan sesuatu yang membuat dirinya galau.
Demi bisa mengharumkan nama baik sekolah, Ninin terus berjuang dengan ekstra keras. Di awal-awal waktu, Ninin bisa menunjukkan permainan yang baik hingga dia bisa meraih skor tinggi dengan cepat.
Namun ketika beberapa babak penyisihan sudah dia lewati, kini stamina Ninin mulai berkurang. Tanpa terasa hari telah menjelang siang, namun tak tahu apakah nanti Ninin bisa berhasil untuk maju ke babak final. Apapun yang akan terjadi nanti, sudahlah apa kata nanti karena menang kalah bukanlah tujuan utama. Yang terpenting saat ini adalah, Ninin harus bisa menunjukkan permainan yang ekstrim disertai semangat yang tinggi.
Waktu terus berjalan, dan panas matahari mulai menyengat. Hal yang terbilang luar biasa telah terjadi, di mana setelah Ninin mampu melewati beberapa babak, kini akhirnya Ninin telah berhasil masuk ke babak final. Namun, sebelum pertandingan final berlangsung, panitia memberikan breaktime selama lima belas menit, agar peserta babak final bisa sedikit beristirahat.
“Aku mulai bimbang, gimana kondisi Ninin saat ini ya.” Ucap Hanifa dengan rasa khawatir tinggi.
“Iya nih, aku juga merasa ragu apakah dia bisa menang lagi.” Tambah Nayla.
“Sudahlah, kita nggak usah mengkhawatirkan semua itu, aku yakin Ninin pasti juara lagi kok.” Terang Putri.
“Ya sudah kita berdoa saja, semoga Ninin bisa menang lagi di tahun ini.” Sahut Hanifa.
“Aamiinn.”
Bahagia mulai terasa. Masih di hari ini juga, tepat pada pukul tiga sore, Ninin dan pak Wawan telah pulang dari perlombaan. Sungguh luar biasa, Ninin yang selalu gigih dan telaten dalam menjalani latihan yang cukup keras kini akhirnya dia telah memenangkan perlombaan itu. Tahun ini Ninin telah berhasil membawa nama harum sekolah karena telah meraih juara satu. Akan tetapi, ada sedikit kesedihan pada diri Ninin untuk saat ini, di mana dia telah mengalami cidera ringan pada tangannya, sehingga untuk tiga hari ke depan dia harus beristirahat total.
***
Keesokan paginya, sekolah telah menyampaikan berita baik kepada seluruh siswa, bahwa Ninin, selaku perwakilan sekolah dari SD Flamboyan 2 telah meraih juara satu dari perlombaan bulutangkis tingkat kabupaten. Seluruh siswa mulai bertepuk tangan dengan sangat meriah meski Ninin belum bisa masuk sekolah hari ini. Sebagaimana anggota tubuh, bila ada satu saja yang sakit, maka semuanya juga turut merasa sakit.
Seperti itulah yang kini dialami oleh grup Empat s*****n, di saat Ninin harus menikmati kebahagiaan atas prestasinya di sekolah, kini sementara dia harus absen dulu dikarenakan mengalami cidera pada tangan kanannya. Menyikapi hal tersebut, maka sudah pasti Putri, Hanifa dan juga Nayla berencana untuk menjenguknya.
“Malang banget ya nasib Ninin hari ini." Ucap Putri.
“Iya nih, andaikata hari ini Ninin masuk pasti senang, karena bakal disambut oleh seluruh guru dan temen-temen." Sahut Nayla.
“Ya sudah, nanti sepulang sekolah kita ke rumahnya yuk! kita jenguk dia lalu kita berikan hadiahnya." Pinta Hanifa.
“Oke."
Menikmati panasnya matahari pada waktu pagi itu sangat enak, karena kehangatan serta kesegaran dapat merasuk sampai ke dasar jiwa, hal itulah yang biasa dilakukan oleh murid-murid di SD Flamboyan dua sebelum memasuki jam pelajaran pertama. Sudah menjadi rutinitas jika aktivitas senam pagi selalu terlaksana di sekolah, apalagi lagu yang diputar juga berganti-ganti.
“Berjemur kayak gini memangnya nggak bikin kulit tambah item." Gumam Nayla.
“Ya nggaklah, kecuali kalau kamu berjemurnya di Afrika." Celetuk Hanifa.
“Ahhh ngeledek aja kamu Nif." Balas Nayla.
“Kalau berjemurnya pagi sebelum jam sepuluh itu sangat baik untuk kesehatan kawan karena mengandung vitamin D." Sahut Putri.
“Ohhh, tapi kalau di atas jam sepuluh sekitar jam satu gitu bagaimana?" Tanya Nayla.
“Siap-siap aja kulit kamu item Nayl, hahaha." Celetuk Putri kemudian.
Kring kring kring. Bel sekolah telah berbunyi dengan cukup nyaring pada pukul satu siang, sudah saatnya mereka bertiga akan melanjutkan perjalanan ke rumah Ninin. Putri dan Nayla membawa kotak kado sementara Hanifa membawakan piala yang tingginya setengah meter.
“Ninin pasti senang hari ini." Ucap Hanifa.
“Hmmm, dari kemarin tuh dia udah senang Nif, kan dia udah sadar kalau dia menang, juara satu lagi." Timpal Nayla.
“Iya sih, tapi kan Ninin belum terima hadiahnya." Sahut Hanifa.
“Entahlah, menang kalah tuh juga nggak terlalu penting. Yang penting sekarang Ninin harus segera pulih, biar segera berkumpul sama kita-kita." Terang Putri.
“Iya ya. Ya semoga saja dia bisa segera sembuh. Karena kita adalah ..." Teriak Nayla.
“Empat Sekawan." Jawab mereka serempak.
Alhamdulillah, setelah melakukan perjalanan selama lima belas menit, mereka pun telah sampai di rumah Ninin.
Tok tok tok.
“Assalamualaikum." Ucap Hanifa.
“Walaikum salam, ehh anak-anak. Mari silakan masuk!" Seru ibunya Ninin.
“Ninin ada kan buk ya?" Tanya Nayla.
“Iya ada, baru aja shalat." Jawab beliau.
Lalu mereka bertiga memasuki kamarnya.
“Ninin, wah selamat ya, ini hadiah buat kamu." Ucap Hanifa.
“Wahhh besar sekali hadiahnya, terima kasih loh teman-teman." Jawab Ninin.
“Gimana dengan kondisi kamu Nin?" Tanya Putri.
“Ya beginilah, sedikit bengkak tapi Alhamdulillah yang penting masih bisa gerak." Jawabnya.
“Syukurlah, yang penting tetap istirahat dan makan yang teratur." Timpal Hanifa.
Simpati dan empati, itulah yang biasa mereka lakukan jika ada salah satu diantara mereka yang mendapatkan musibah, termasuk yang saat ini Ninin alami. Mereka cukup iba melihat tangan kanan Ninin yang membengkak daritadi malam dan sakitnya juga sedikit parah, maka dapat diprediksi bisa jadi Ninin akan absen untuk lima hari kedepan.