Tok tok tok. Suara pintu mulai terdengar di rumah Hanifa.
“Assalamualaikum.” Ucap salah seorang kurir.
“Iya walaikum salam.” Jawab ibunya Hanifa.
“Permisi buk apa benar ini rumah atas nama Hanifa Uswatun Hasanah?” Tanya kurir itu.
“Betul itu anak saya sendiri.” Jawab ibunya Hanifa.
“Baik, silakan tanda tangan di sini, saya hanya mengantar barang.”
Ibunya Hanifa segera menandatangani surat kedatangan barang.
“Terima kasih buk saya permisi dulu, Assalamualaikum.” Ucap kurir itu.
“Walaikum salam.”
Usai kurir itu pergi, ibunya Hanifa mulai memanggilnya.
“Nif.” Panggil ibu.
“Iya buk.” Jawab Hanifa.
“Kamu habis belanja online?” Tanya ibu.
“Nggak buk sama sekali nggak pernah.” Jawab Hanifa kembali.
“Lah ini kok ada kiriman buat kamu.” Tukas ibunya.
“Hahhh, masak.” Gumam Hanifa.
Hanifa segera mengecek suratnya.
“Aneh, ini kirimin memang buat aku, tapi kok nggak ada nama pengirimnya.” Gumam Hanifa kembali.
“Ya sudah lah bawa masuk aja, mungkin ini kiriman dari temenmu.” Seru ibu.
Hanifa segera membawa barang kiriman itu yang bentuknya cukup besar membentuk segitiga. Namun tak lama akan hal itu tiba-tiba Ninin datang ke rumahnya.
“Assalamualaikum buk, Hanifa ada?” tanya Ninin.
“Iya ada, silakan masuk!” Seru ibu.
Ninin kemudian masuk ke kamar Hanifa.
“Hey Nif.” Sapa Ninin.
“Ehh, kamu Nin.” Jawab Hanifa.
“Wahhh kamu dapet kiriman apa tuh Nif?” Tanya Ninin.
“Nggak tau ini dari siapa, barang ini sih memang buat aku tapi nggak jelas ini dari siapa.” Gumam Hanifa.
“Hmmm, ya sudah kamu buka aja isinya apa.” Pinta Ninin.
Hanifa segera merobek bingkisan itu, namun sebelum dia membukanya dengan lebar, dia menemukan sepucuk surat, dan Ninin yang akan membacakannya.
Dear Hanifa …
Assalamualaikum Hanifa, bagaimana kabarmu, semoga Allah masih memberikanmu kesehatan. Sebelumnya pak Vian minta maaf karena telah meninggalkan kamu serta kalian semua termasuk Ninin, Putri, Nayla.
Hanifa,
Tak ada yang bisa pak Vian berikan selain gitar ini untuk kamu, karena sepenuhnya pak Vian telah menyadari bahwa gitarmu yang telah rusak kemarin, bukanlah sepenuhnya kesalahan Putri maupun Nayla, namun itu semua karena salahku yang telah membuat mereka berdua bertengkar, disebabkan adanya kesenjangan pada diri mereka yang semua itu karena kehadiranku di sekolah.
Akan tetapi aku tak ingin, karena gitarmu rusak sehingga kamu tak mau lagi untuk bernyanyi dan mengembangkan diri. Maka dari itu, kepersembahkan gitar ini untukmu agar kamu bisa terus berkarya, dan terus mengembangkan bakatmu.
Salam,
Pak Vian.
“Nif, berarti isi dari bingkisan ini adalah sebuah gitar. Ya ampun, aku nggak nyangka ternyata pak Vian juga masih peduli akan dirimu.” Ucap Ninin.
“Aku juga merasa demikian. Sungguh sangat disayangkan atas kepergiannya, seakan-akan aku belum bisa mengikhlaskan kepergiannya.” Imbuh Hanifa.
Hanifa segera membuka bingkisan itu yang bentuknya besar segitiga. Saat bingkisan telah dibuka, benar di dalamnya berisi gitar akustik merk Yamaha terbaru, dilengkapi dengan tuner serta kabel penghubung ke sound system.
“Wahh, gitar keren tuh Nif, pasti harganya mahal.” Ucap Ninin.
“Iya nih, masih baru lagi.” Imbuh Hanifa.
Hanifa segera menyetem gitar itu, setelah selesai dia mencoba untuk memainkannya sambil bernyanyi. Sungguh sangat syahdu sekali lagu yang dinyanyikan Hanifa, apalagi suara gitarnya juga sangat enak. Ya, karena gitar yang aku berikan itu adalah gitar dengan kualitas tinggi dan mewah, yang kubeli dengan harga empat juta.
Selama diriku meninggalkan mereka, aku merasakan kerinduan yang cukup mendalam, namun aku tak tahu apakah mereka juga merasakan demikian, termasuk grup Empat s*****n.
Putri adalah sosok periang yang selalu disenangi oleh semua orang, mungkin karena sudah menjadi tabiatnya jika Putri adalah sesosok manusia yang selalu peduli serta memahami keadaan orang-orang di sekitarnya.
Ada juga Ninin. Bisa dibilang, Ninin adalah seseorang yang selalu aktif. Olahraga adalah sebuah aktivitas yang wajib dilakukannya setiap hari, tak heran jika Ninin berangkat sekolahnya sangat pagi sekali karena dia masih menyempatkan diri untuk berlatih bulutangkis. Alhamdulillah, selama tiga tahun berturut-turut Ninin selalu membawa nama harum sekolah, yang selalu menjadi juara di saat ada perlombaan bulutangkis.
Sayangnya, satu tahun lagi mereka berempat akan berpisah masing-masing, kecuali hanya Putri dan Ninin yang masih satu sekolah, di mana mereka berdua akan memasuki sekolah SMP 2, yang jaraknya sekitar tiga kilometer dari rumah mereka.
(SATU TAHUN KEMUDIAN)
Pagi ini, akan menjadi hari yang sangat menyenangkan sekaligus menyedihkan yang akan Putri rasakan beserta teman-teman yang lain. Menyenangkan karena mereka akan menjalani wisuda kelulusan, menyedihkan karena mereka pada akhirnya juga harus berpisah meski tidak selamanya.
Sudah satu jam lebih Putri berdandan dan berhias diri, karena di hari ini juga Putri beserta teman-teman yang lain akan tampil beda, di mana para peserta yang akan mengikuti wisuda harus mengenakan baju kebayak, layaknya ajang peragaan busana tradisional.
Sambil dibantu oleh ibu, Putri segera bergegas menuju sekolah dengan diantar menaiki sepeda motor oleh ibu. Acara akan berlangsung tiga puluh menit lagi, tepatnya pada pukul delapan pagi. Saat tiba di sekolah Putri beserta teman-teman yang lain mulai mempersiapkan diri.
“Wahh keren sekali nih kebayanya.” Ucap Nayla pada Putri.
“Ahh biasa aja Nayl, kamu juga cantik, hehehe.” Celetuk Putri.
“Hmmm, oh ya kamu udah siapkah yang mau tampil nanti untuk membacakan puisi?” Tanya Nayla.
“Iya insya Allah sudah siap Nayl, sudah belajar sejak tiga hari kemarin.” Jawab Putri.
“Oh baguslah, ya sudah aku ke sana dulu ya.” Terang Nayla.
“Oke Nayl.”
Acara pun akhirnya mulai berlangsung, anak-anak begitu bersemangat dalam menjalani acara ini. Tentunya sebelum masuk ke acara inti, diisi dengan acara sambutan untuk mengawali pada pembukaan acara, anak-anak mulai mendengarkan dengan khidmat.
Jika seandainya saat ini diriku berada di kota Malang, dan memiliki waktu luang, tentu sudah pasti aku akan menyempatkan diri datang ke acara wisuda mereka. Kuingin melihat kebersamaan mereka di sekolah untuk yang terakhir kalinya.
Mungkin saja besok sudah tidak ada lagi keceriaan grup Empat s*****n di sekolah itu, karena sudah tidak mungkin lagi mereka berempat kembali memakai seragam untuk melanjutkan aktivitas di sekolah. Ya sudahlah, meski pada akhirnya mereka lulus, semoga saja mereka bisa meluangkan waktu untuk kembali bersama.
Acara prosesi wisuda pun sudah digelar, dengan penuh gembira mereka merayakan acara itu. Kesedihan memang masih terasa di benak mereka, namun percayalah semua pasti akan indah pada waktunya. Acara perpisahan ini bukanlah berarti untuk yang terakhir kalinya, memang mereka akan berpisah di sekolah namun bukan berarti juga harus berpisah dalam pertemanan, karena sebuah pertemanan itu harus selalu dijaga, apalagi sebuah persahabtan.
Ada kabar gembira dan baik bagi Putri, di mana dia telah mendapatkan juara satu dan diberikan titel murid teladan oleh sekolah, selain itu dia juga mendapatkan beasiswa sekolah serta uang saku senilai dua setengah juta. Sungguh luar biasa, mungkin ini sudah menjadi buah kesuksesan bagi Putri dari hasil belajarnya yang penuh akan semangat.
Kebahagiaan mulai terlihat kepada seluruh wisudawan wisudawati, di mana mereka telah berhasil meluluskan diri dari jenjang sekolah dasar, dan siap berjuang kembali di tingkat sekolah menengah. Empat s*****n, penghuni grup tersebut begitu sangat bahagia, namun juga ada rasa kesedihan yang mereka alami, karena mereka sudah menyadari akan apa yang akan terjadi dalam cerita selanjutnya. Enam tahun mereka selalu bersama dalam suka maupun duka, enam tahun sudah mereka mengukir cerita perjalanan sahabat, namun pada akhirnya harus berbuah luka.
Bilamana mereka berempat akan melanjutkan pendidikan di sekolah yang sama, sudah pasti takkan ada yang namanya beban, karena mereka bisa melanjutkan cerita sampai kembali lulus SMP.
“Alhamdulillah Put, ini hari terakhir kita mengikuti kegiatan di sekolah." Ucap Ninin.
“Iya Nin aku tahu, tapi sesungguhnya aku tidak bahagia di hari ini." Jawab Putri.
“Kenapa Put, apa kamu ada masalah dengan teman atau keluargamu?" Tanya Ninin.
“Bukan Nin, tapi ini tentang perjalanan persahabatan kita." Jelasnya.
“Emmm, iya Put aku ngerti perasaan kamu. Tapi mau bagaimana lagi, karena ini sudah menjadi kehendak mereka masing-masing." Terang Ninin.
“Aku benar-benar belum bisa mengikhlaskan semua ini Nin, kenapa waktu begitu cepat berlalu, padahal kemarin kita masih sempat bercanda dan berbahagia bersama." Keluh Putri lalu dengan perlahan mulai meneteskan air matanya.
“Kamu nggak boleh ngomong seperti itu Put, kelulusan dan perpisahan kita di hari bukan berarti persahabatan kita juga akan bubar begitu saja, kita masih bisa komunikasi kok walau harus jarak jauh." Tuturnya.
“Baik Nin aku bisa mengerti, terima kasih ya kamu udah nyemangatin aku di saatku bersedih seperti sekarang ini." Timpalnya.
“Sama-sama Put, ya sudah sekarang kamu jangan nangis lagi ya." Pungkasnya, lalu Ninin memeluknya.
Matahari akan terus memancarkan sinarnya, walaupun sempat berakhir di ujung senja, tapi masih bisa diharapka di keesokan pagi, dari situlah mereka bisa menyadari bahwa di balik pertemuan yang hangat pasti akan berakhir dengan perpisahan yang indah. Perpisahan bukanlah suatu alasan untuk menghentikan roda persahabatan mereka, karena walau harus terpisah jauh, asalakan Tuhan masih memberikan umur, sudah pasti pertemuan bisa diharapkan kembali.
Sore hari, inilah waktu yang ditunggu-tunggu oleh grup Empat s*****n, di mana mereka akan berkumpul di posko “Di sini Selamanya.” Ya, ini adalah momen di mana mereka kembali akan menjalankan satu aktivitas terakhir untuk menutup jalan cerita sebelum tiba saatnya untuk berpisah. Kereta api akan tiba pada jam lima sore, namun jam empat mereka sudah standby, ya meskipun masih satu jam lagi, mereka berempat masih menyempatkan waktu untuk bercanda, saling curhat dan tentunya juga saling berbagi cerita.
“Nayla kalau sudah tiba di Beijing, jangan lupa ya beliin kami Sushi." Ucap Putri.
“Iya beres Put." Jawab Nayla.
“Ehhh, bukannya Sushi tuh makanan khas Jepang ya Put?" Sahut Ninin.
“Iya, setahuku sih Sushi tuh dari Jepang." Timpal Hanifa.
“Hmmm, terserah deh pokoknya makanan khas sana." Jawab Putri kembali.
“Saking asyiknya ngobrol, tak terasa waktu sudah menunjukkan di angka lima.
“Kenapa keretanya belum nongol-nongol ya." Gumam Putri.
“Yah, mungkin keretanya lagi macet." celetuk Ninin.
“Iya nih, atau jangan-jangan ada penundaan jadwal nih." Gerutu Nayla.
“Sabarlah, mungkin sebentar lagi juga bakal datang keretanya." Tutur Hanifa.
Tut tut tut.
“Wah sepertinya keretanya udah datang tuh." Terang Putri.
“Iyakah? wah coba tengok!" Seru Ninin.
Ternyata kereta api tujuan Surabaya benar-benar telah datang dan mulai berhenti di stasiun.
“Asyikkk kereta datang, ayo' temen-temen kita bersiap-siap." Pinta Putri.