Perpisahan Ini

1524 Words
          Saat aku terduduk, aku mulai memandangi gerbang sekolah, saat itu juga ada mobil sedan dengan warna hitam, yang tiba-tiba saja berhenti. Satu orang keluar dari mobil itu, dan sepertinya kukenal dengan orang tersebut. Setelah kuamati, ternyata dia adalah pak Eko, salah satu manager perusahaan di PT.KAI. Aku yakin, kedatangan dia pasti ingin menemuiku.            “Halo Vian, gimana kabar kamu sekarang?” ucap pak Eko.            “Saya baik-baik saja pak.” Jawabku.            Detik ini juga Putri izin keluar kelas ke bu Indri, karena dia sedang ingin pergi ke toilet. Di saat itu, Putri sempat melihatku yang sedang berbincang-bincang dengan pak Eko. Putri mulai penasaran dari apa yang kita perbincangkan, sehingga dia mulai berjalan untuk mendekatiku, lalu bersembunyi di balik pohon, dan saat ini juga Putri mulai menguping pembicaraanku dengan pak Eko.            “Bagus ya kamu, setelah menjalani beberapa tes perekrutan karyawan, tiba-tiba kamu menghilang begitu saja. Padahal, kurang beberapa tahap lagi kamu sudah bisa berhasil. Nggak tahunya kamu malah berpaling dan memutuskan diri untuk menjadi guru.” Ucap pak Eko.            “Karena aku belum berminat untuk menjadi masinis pak.” Jawabku.            “Lahh kenapa, bukannya nanti kamu bisa memperbaiki segala ekonomimu, termasuk hutang-hutangmu yang sudah mulai menumpuk.” Jawabnya.            “Aku akan coba untuk cari jalan keluar lain pak.” Jelasku.            “Sekali lagi dengerin ucapanku baik-baik ya. Kesempatan masih ada pada diri kamu, apakah kamu siap untuk beralih perkerjaan menjadi masinis, atau masih tetap menjadi guru honorer seperti ini. Pikirkan itu kembali baik-baik!” Seru pak Eko.            “Beri aku sedikit waktu untuk memikirkan semua itu pak, aku belum bisa memberikan keputusan sekarang.” Jawabku dengan lirih.            “Oke, aku akan tunggu dalam beberapa hari ini. Aku pergi dulu” Balasnya.           Dalam dua hari ini, aku harus kembali memikirkannya dengan cermat, untuk membuat suatu keputusan yang kan kuberikan pada pak Eko. Mungkin hanya dengan pergi, itu akan menjadi jalan terbaik, karena di sini diriku sudah merasa tidak lebih baik. Persahabatan Putri sudah mulai hancur gara-gara diriku, guru-guru di sekolah juga mulai tidak suka akan kehadiranku, di sisi lain aku masih memiliki banyak hutang yang harus diselesaikan. ***           Mungkin ini sudah menjadi takdirku, untuk bisa sedikit menjauh dari kehidupan mereka, semua bukan berarti diriku tak sayang, hanya saja ini sudah menjadi pilihan terbaikku, agar kudapat memperbaiki segala keadaan yang telah kujalani.           Tidak dalam waktu yang lama lagi, kurang lebih satu bulan, aku harus segera melangkah pergi meninggalkan mereka. Aku tahu, ini akan menjadi hal yang sangat berat dan sulit untuk mereka terima, khususnya Putri dan Nayla. Entah bagaimana aku mengatakannya nanti, yang jelas keputusan ini akan menjadi cerita yang pahit, bagiku dan juga bagi mereka.           Sebenarnya kumerasa sangat berat akan semua ini, bagaimana mungkin, seseorang yang begitu sangat kusayangi kini harus kutinggalkan di saat masih sayang-sayangnya, namun bagaimana lagi, karena apa yang akan aku lakukan saat ini adalah bagian dari suatu rencana yang telah kuperbuat sebelumnya.           Aku tak begitu yakin, apakah usai kepergianku Putri dan juga teman-teman yang lain bisa kembali tersenyum termasuk menjalani aktivitas rutin yang selalu mereka lakukan di sore hari menjelang senja, di mana pada saat itu mereka terus berlari kencang diiringi laju kereta api.           Sebentar lagi, aku akan direkrut oleh perusahaan PT. KAI, dan akan menjalani pendidikan untuk tiga bulan ke depan. Maka sudah pasti aku akan melepas sebuah profesi sebagai seorang guru. (Satu minggu kemudian)             Ninin mulai berlarian untuk mencari keberadaan Putri saat ini, karena saat ini adalah saat terakhir diriku berada di sekolah. Aku segera berpamitan kepada seluruh guru, dan juga kepada seluruh murid-muridku. Akan tetapi kenapa aku tidak menemukan Putri, sedangkan saat ini dia masuk sekolah.            “Put.” Panggil Ninin dari kejauhan.             Putri tidak menjawab panggilan Ninin, melainkan dia hanya meresponnya dengan sedikit menoleh.            “Kamu ngapain di sini Put, dari tadi aku berlarian mencarimu ke sana kemari.” Ucap Ninin.            “Lha terus untuk apa kamu harus mencariku Nin.” Tukas Putri.            “Sepertinya aku nggak perlu banyak untuk berkata-kata, secepatnya kamu harus kembali ke sekolah.” Pinta Ninin.            “Aku malas yang saat ini harus kembali ke sekolah Nin.” Bantah Putri.            “Put, sekarang adalah hari terakhir pak Vian berada di sekolah.” Imbuh Ninin.            Putri mulai terdiam, sepertinya dia mulai merasakan kehancuran.            “Biarlah Nin, lagipula sudah tidak ada guna lagi.” Keluhnya sambil menangis.            Lalu Ninin mencoba untuk menjelaskan dan menguatkan Putri, agar tidak lagi memendam rasa kecewa padaku. ***           Kukembali memandangi keadaan sekitar karena aku masih merindukan Putri. Mengapa detik-detik terakhir yang kujalani sekarang sama sekali tidak bersahabat. Di manakah keberadaan Putri sekarang, aku benar-benar ingin mengatakan sesuatu padanya, untuk yang terakhir saja.           Aku segera memasuki mobil, dan mobil yang kutumpangi mulai melaju dengan perlahan. Tak ada sebuah kesedihan yang kurasakan sangat, kecuali pada hari ini. Sungguh sangat berat harus kutanggung semua permasalahan ini. Saat mobil yang kutumpangi melaju dalam jarak seratus meter, saat itulah Putri dan Ninin mulai datang, mereka berdua tidak sempat berpamitan sehingga mereka mencoba mengejarku dengan langkah kakinya yang sangat kuat.            “Pak Viannnn …” teriak Putri dan Ninin yang membuat mereka jatuh tersungkur.            Putri dan Ninin terus mengejarku. Namun setelah mereka berupaya kuat untuk mengejarku, mereka berdua pun terjatuh bersama di meter kedua ratus. Ninin segera bangkit dan kembali untuk membantu Putri berdiri, namun saat Putri sudah berdiri, dia kembali berlutut sambil memandangi mobil yang sedang kutumpangi melaju dengan cukup jauh.           Tak lama akan hal itu, air mata Putri mulai pecah, tak mampu lagi dia membendungnya hingga pipinya basah kuyup. Tak ada lagi kata-kata yang bisa dia ucapkan kecuali hanya dengan kalimat “Pak Vian Jangan pergi” yang dia ucapkan dengan berulang-ulang pada saat ini juga.           Ninin kembali menuntun Putri ke arah belakang, hanya untuk kembali berjalan menuju ke sekolah. Saat mereka berdua sudah tiba di depan gerbang sekolah, tiba-tiba Hanifa datang untuk menghampiri.            “Put, Nin. Ada satu hal yang ingin aku bicarakan untuk kalian.” Ucap Hanifa.            “Sekarang?” tanya Ninin.            “Iya, aku tunggu di perpusatakaan sekarang juga.” Pinta Hanifa.            “Ya sudah sebentar lagi kita akan ke sana.” Jawab Ninin kembali.             Ninin dan Putri Kembali berjalan menuju mereka.            “Terima kasih untuk kalian semua yang udah datang. Aku pengen kalian tahu teman-teman.” Ucap Hanifa.           “Emang kamu mau ngomong apa Nif?” Tanya Ninin.            “Pak Vian sudah pergi meninggalkan kita, memberikan arti seperti matahari yang telah terbenam di ujung senja. Kepergiannya, janganlah dibuat sedih dengan mendalam, karena semua itu akan menjadi pelajaran bagi kita bahwa setiap pertemuan itu, pasti ada perpisahan.” Terang Hanifa.            “Teman-teman, khususnya Putri, Nayla. Asal kalian tahu, bahwa sesuangguhnya persahabatan yang telah kita bangun adalah sebuah wujud seperti warna pelangi, yang selamanya tak akan mampu untuk melepaskan diri dari warna yang lain.”            “Kehadiran pak Vian di sini memang seperti matahari dan pelangi, yang selalu memancarkan sinar cahaya persahabatan, menghiasi utuhnya kebersamaan, akan tetapi di sisi lain pak Vian juga menjadi benalu terhadap persahabatan kita, di mana terkadang kalian selalu merasa iri antar satu sama lain.”            “Persahabatan kita mulai retak di saat pak Vian hadir di tengah-tengah kita. Maka dari itu, mulai detik ini aku ingin kalian semua berubah, kita masih punya banyak waktu untuk memperbaiki seluruh noda-noda persahabatan kita.”            “Aku hanya ingin, kita bisa membangun kembali bahtera persahabatan kita. Putri, Nayla, maukah kalian membantu kita, untuk kembali membangun perahu persahabatan kita yang telah rusak.” Pinta Hanifa            “Iya Nif, aku siap.” Ucap Putri.            “Iya Nif, aku juga siap.” Ucap Nayla juga.            “Nayl, maaf atas semua kesalahanku ya, aku sadar, tak selayaknya bagi kita berdua bertengkar.” Ucap Putri.            “Iya Put, aku juga meminta maaf atas segala kekhilafanku. Persahabatan kita semua masih bisa kita bangun kan?” tanya Nayla.            “Iya Nayl, selama matahari masih memancarkan sinarnya, tentu segala kegelapan akan kembali terang.” Jawab Putri.            “Makasih yah Put.” Ucap Nayla sambil memeluk Putri.            “Sama-sama Nayl.” Jawab Putri kembali.            Putri dan Nayla pun mulai berpelukan, sebagai tanda bahwa mereka benar-benar telah damai. Hanifa dan Ninin merasa sangat terharu sehingga mereka berdua merangkul Putri dan Nayla, dan merekapun berpelukan bersama. ***           Aku masih melaju di atas empat roda ini, jarak yang memisahkan kita memang tidak seberapa untuk hari ini, tapi besok dan seterusnya kita akan berpisah lebih jauh lagi, karena aku akan menjalani pendidikan taruna di Jakarta.           Aku sepenuhnya telah menyadari bahwa kehadiranku dalam diri mereka hanyalah sebuah pelangi, yang hanya bisa menampakkan keindahan sejenak, setelah itu pergi menghilang begitu saja. Hujan bisa saja datang hari ini, bisa juga esok atau setiap hari, akan tetapi belum tentu ketika hujan reda pelangi akan muncul. Akan tetapi kita masih punya matahari, yang selalu setia datang dalam menyinari hari yang gelap.           Selamat tinggal Putri, dan selamat tinggal untuk semuanya. Terima kasih sudah menjadi matahari yang selalu menerangi jalanku di saat gelap tiba. Terima kasih juga telah menjadi pelangi yang selalu menghiasi hari-hariku di saat sepi.  (Beberapa minggu kemudian)           Tibalah hari yang telah berganti untuk saat ini. Mungkin ini akan menjadi hari bahagia tetapi bukan bahagia, di mana aku akan menjalani pendidikan Taruna di PT.KAI selama tiga bulan ke depan. Memang belum banyak dari teman-teman yang kukenal, tetapi setidaknya dalam beberapa bulan ke depan aku sudah bisa akrab dengan semuanya. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD