Pertikaian

2026 Words
          Entah apa yang sudah merasuki hati dan perasaan Nayla, sejak dari kemarin-kemarin dia selalu menjaga jarak dengan Putri. Aku mulai sedikit menyadari bahwasanya sejak dari awal kumengajar di sekolah ini, Nayla merasa sedikit iri jika Putri dekat denganku, padahal kedekatanku dengan Putri hanyalah sebatas guru dan murid yang selalu menghadirkan rasa kepedulian.           Begitu juga sebaliknya, terkadang Putri juga merasa sangat iri sekali jika melihatku di saat dekat dekat dengan Nayla. Setelah kupikir-pikir, sepertinya kehadiranku di sekolah ini telah menciptakan kesenjangan pada diri mereka berdua.           “Halo pak Vian.” Sapa Putri saatku terduduk sendiri.            “Iya Putri.” Jawabku.            “Putri bisa minta tolong pak?” tanya Putri.            “Iya boleh, mau minta tolong apa Put?” tanyaku balik            “Saya ada tugas mapel Agama nih pak, suruh menulis kalimat pendek tapi dengan menggunakan huruf Hijaiyyah.” Terangnya            “Oh gitu, ya sudah sini pak Vian ajarin.”          Aku dan Putri segera duduk bersama. Saat itu juga, kumulai memegang tangan kanan Putri untuk bisa kutuntun dalam menulis huruf Arab. Begitu senangnya Putri bisa kuajarkan. Tepat di waktu ini juga Nayla sempat melihat apa yang sudah kulakukan terhadap Putri, sehingga telah membuat wajah Nayla memerah. Sepertinya Nayla merasa sangat geram dan benci akan hal ini, amarahnya mulai meninggi di saat melihat Putri sambil bercanda denganku.            “Sudah selesai pak Vian.” Ucap Putri.            “Ya sudah, kalau sudah selesai dirapikan alat tulisnya.” Pintaku.            “Oke sudah, aku ke perpus dulu ya pak.” Imbuh Putri.            “Iya Putri silakan.”           Putri berjalan menuju perpustakaan, dan entah kenapa ketika dia tiba di depan pintu perpustakaan, tiba-tiba dihadang oleh Nayla untuk mencegahnya masuk.            “Mau ngapain kau ke sini.” Bentak Nayla terhadap Putri dengan keras.            Putri merasa bingung dan heran, kenapa Nayla tiba-tiba marah tanpa sebab.            “Loh kenapa Nayl, memang aku nggak boleh masuk.” Gumam Putri.            “Nggak boleh, kamu itu munafik tahu nggak.” Balas Nayla.            “Maksud kamu apa Nayl, aku nggak ngerti dari apa yang kamu ucapkan?” tanya Putri.            “Halahhh, nggak usah belagu deh kamu.” Tegas Nayla.            “Nayl kamu itu kenapa sih? Aku salah apa sama kamu?” tanya Putri.            “Sini aku jelasin!” seru Nayla sambil menarik baju Putri ke dalam ruang baca.            “Denger ya Put, kenapa aku marah sama kamu? Karena aku tuh bener-bener nggak suka lihat kamu terlalu dekat dengan pak Vian.” Tegas Nayla.            “Lohhh, terus kenapa Nayl, bukannya pak Vian itu guru kita semua. Nggak ada salahnya kan jika aku dekat.” Bantah Putri.            “Iya aku tau, tapi kamu itu orangnya terlalu manja sama pak Vian, dan aku paling nggak suka.” Tegasnya kembali.            “Oh ya, kalau itu memang alasanmu, aku juga nggak bakalan suka lihat kamu dekat-dekat pak Vian.” Putri membantah.            “Oh, berani kamu sama aku ya, ngelawan kamu.” Bentak Nayla sambil menjambak rambut Putri.            “Ahhh rambutku.” Teriak Putri, lalu Putri menampar wajah Nayla.           Putri dan Nayla pun mulai berkelahi di dalam perpustakaan itu. Mereka berdua saling memukul dan saling mendorong hingga keadaan perpustakaan sangat berantakan. Nayla mendorong tubuh Putri dan mengenai rak buku hingga rak itu jatuh. Sontak membuat anak-anak yang sedang beristirahat kaget. Banyak dari mereka yang masuk ke perpustakaan, parahnya lagi, mereka bukannya melerai malah saling mengadu.           Anggun yang mengetahui akan hal itu, tiba-tiba langsung berlari melaporkan hal tersebut ke bu Indri bahwa Putri dan Nayla sedang bertengkar hebat di dalam perpustakaan. Akan tetapi bu Indri masih ke toilet, sehingga Anggun melaporkannya padaku. Hanifa dan Ninin yang juga mengetahui akan hal itu, segera berlari untuk mencoba melerai mereka berdua.           Putri merasa sangat panas dan semakin marah terhadap Nayla, sehingga di saat mereka sedang bertengkar hebat, Putri dengan kuat mendorong tubuh Nayla ke arah Hanifa. Dan akhirnya Nayla terjatuh mengenai Hanifa. Hanifa pun ikut terjatuh di saat dia sedang membawa gitarnya, atas kejadian tersebut akhirnya gitar Hanifa rusak dan patah cukup parah.            “Hei, stop stop stop. Apa apaan ini.” teriakku pada mereka.            Aku segera melerai mereka berdua.            “Kok bisa-bisanya yah kalian bertengkar dan bikin keributan di sini.” Tegasku.            “Nayla tuh pak, orang mau masuk perpus dihalang-halangi.” Sontak Putri.            “Terus kenapa? Suka-suka aku lah, emang nih perpus milik nenek moyang lu apa?” bentak Nayla ke arah Putri.            “Sudah sudah sudah, semuanya nggak usah berdebat. Sekarang saya minta, Putri Nayla menghadap bu Indri sekarang juga ke kantor.” Seruku dengan tegas.            Akan tetapi Putri dan Nayla masih menggerutu di tempat.            “Tunggu apa lagi, ayo cepat!” Tegasku.           Putri dan Nayla segera menuju kantor menghadap bu Indri, sementara diriku membantu Hanifa yang habis terjatuh karena terdorong oleh tubuh Nayla.            “Hanifa, nggak apa-apa kan?” tanyaku.            “Nggak pak, cuma lecet sedikit.” Jawab Hanifa.            “Gitar kamu sepertinya rusak Nif.” Gumamku.            “Hmmm, iya nih pak. Nggak apa-apa lah nanti bisa saya perbaiki lagi.” Jawab Hanifa.            “Tapi ini sepertinya cukup parah Nif, patah tuh.” Tukasku.            “Iya pak nggak apa-apa.” Jawab Hanifa dengan sedikit.           Dengan tegas, Bu Indri menasehati mereka. Awalnya mereka berdua tidak berani mengatakan masalah yang sebenarnya. Namun bu Indri terus menggertak dengan paksa. Akhirnya mereka berdua telah mengakui kesalahan masing-masing.           Di saat putri dan Nayla telah disidang oleh bu Indri dengan cukup lama, saat itu juga Ninin dan Hanifa sempat menguping pembicaraan mereka. Sehingga Hanifa kini sudah mulai tahu, bahwa alasan mengapa mereka berdua bertengkar, tidak lain hanyalah karena ada rasa iri hati di saat salah satu dari mereka terlalu dekat denganku.          Malam telah tiba. Inilah malam yang begitu sangat menyedihkan bagi Hanifa. Tiada kesedihan yang paling dalam bagi Hanifa kecuali di malam ini. Dengan sedikit tangis, Hanifa mulai memperbaiki gitarnya yang patah. Segala usaha dan upaya telah dia lakukan, dia mencoba mengelem gitarnya, barang kali itu bisa disatukan. Namun di saat lem sudah kering, saat itulah dia mencoba menyetemnya.          Kesedihan kembali datang, saat gitar sudah disetem tiba-tiba gitarnya patah kembali, karena lem tersebut tidaklah kuat untuk menahan tekanan senar. Hanifa pun akhirnya duduk di meja, dia kembali menangis hingga berderai air matanya dengan deras. Sebenarnya bukan atas dasar gitarnya yang rusak, yang membuat dia sangat sedih, akan tetapi dia begitu merasa sedih dan sakit karena persahabatan yang sudah dia bangun selama lima tahun pada akhirnya harus rusak dan kandas, disebabkan Putri dan Nayla.          Keesokan hari telah tiba. Dan hari ini adalah hari yang begitu sangat menyedihkan. Tidak ada lagi keceriaan, canda tawa maupun kebersamaan seperti biasanya, karena bagi Hanifa itu percuma. Persahabatan Empat s*****n tidak akan sebagus dulu lagi jika masih ada rasa saling iri hati di dalam hati Putri dan Nayla.           Di pagi ini juga, tepat pada jam istirahat, Hanifa dan Ninin hanya duduk berdua. Mereka berdua hanya diam, tak sepatah katapun mulutnya berbicara. Hanifa hanya bisa menundukkan kepala dengan penuh kesedihan, dan Ninin hanya termenung diam. Tiba-tiba di saat itu juga, dengan langkah pelan Putri mencoba mendatangi mereka berdua yang masih terduduk.            “Nif.” Ucap Putri.            “Ada apa, kenapa kamu masih ke sini hah?” jawab Hanifa dengan amarahnya.            “Kamu kenapa sih Nif?” tanya Putri dengan bingung.            “Kamu tanya aku kenapa, kamu tuh yang kenapa.” Bentak Hanifa.            “Jadi kamu marah sama aku, iya.” Tanya Putri.            “Ya betul, aku memang sangat marah sama kamu. Dan aku marah bukan karena gitarku yang telah rusak gara-gara kalian berdua Put, kalian mungkin udah tahu kalau aku sayang sama gitar itu, tapi aku jauh lebih menyayangkan persahabatan kita yang sudah kalian rusak.” Jawab Hanifa sambil merengek.            “Soal gitarku yang telah rusak, mungkin tidak jadi masalah besar bagi aku Put, aku masih bisa memperbaikinya bahkan aku sanggup bila harus membeli lagi. Tapi apakah mungkin kamu bisa memperbaiki persahabatan kita yang telah rusak gara-gara kalian.” Terang Hanifa sambil menangis.            “Sudah berjalan lima tahun ini kita seperti ini Put, namun dengan mudahnya kamu merusaknya. Pengecut sekali kamu ya.” Terang Hanifa kembali.            “Maaf Nif, kamu mungkin salah paham, apa yang sudah aku perbuat ini, ini semua karena …” jawab Putri.            “Karena pak Vian kan?” sahut Hanifa dengan keras.            “Dari awal aku sudah menyadari Put, semenjak pak Vian hadir di tengah-tengah kita, sifat kamu sama Nayla itu sudah berubah tahu nggak. Kalian hanya sibuk, mikirin bagaimana supaya kamu bisa selalu dapet perhatian lebih, biar kamu semangatlah, yang ini yang itu lah.” Tegur Hanifa.            “Iya Nif aku tahu, tapi memang Nayla yang …” desak Putri yang ingin membela diri.            “Cukup Put, Nayla itu sahabat kamu. Kamu itu tak lebih dari sekedar pecundang ya. Nggak pernah sama-sama merasa bersalah, malah terus nyalahin sahabat kamu sendiri.” Tegas Hanifa.            “Lantas aku harus bagaimana lagi Nif?” tanya Putri.            “Pikir aja sendiri.” Bentak Hanifa.           Hanifa dan Ninin pun pergi meninggalkan Putri sendirian. Aku sempat mendengar percakapan mereka dari balik pohon di mana saat ini aku bersembunyi. Apa yang dikatakan Hanifa itu benar, sumber permasalahan semua ada padaku, sehingga tanpa sadar telah mengundang sebuah pertikaian terhadap persahabatan mereka.           Putri masih berdiri dan terdiam di sini, air matanya mulai pecah membasahi pipinya dengan sangat deras. Aku tak kuat melihat kesedihannya sehingga kubertekad untuk menghampirinya, sekedar hanya ingin menguatkan hatinya.            “Putri.” Panggilku.            “Kamu jangan sedih ya, ini semua bukan salah kamu kok.” Ucapku kembali.            “Sudah pak sudah, pak Vian nggak usah terus-terusan berbuat baik sama saya.” Jawab Putri sambil terus menangis.            “Kenapa Put, ada yang salah dari diri pak Vian?” gumamku.            Putri tak menjawab pertanyaanku, lantas dia langsung pergi menjauh dariku.          Sampai keesokan hari, persahabatan oleh Empat s*****n masih tetap renggang. Nayla dan Putri masih belum saling menyapa, apalagi terhadap Hanifa. Saat di kantin, Hanifa hanya makan berdua bersama Ninin, dan saat itu juga mereka sempat bertemu Nayla meski tidak menyapa. Nayla mulai menghampiri Hanifa dengan wajah yang sedikit cuek, serta mengatakan sesuatu.            “Nif, maaf atas gitar kamu yang kemarin ya. Kamu tahu sendiri kan, kemarin kondisinya bagaimana. Sekali lagi maaf.” Ucap Nayla.           Nayla kemudian pergi meninggalkan kantin usai mengatakan hal itu, sementara Hanifa hanya bisa terdiam meski apa yang dikatakan Nayla telah membuat hatinya semakin sakit.           Aku mulai terduduk sendiri di dekat pohon di saat semua anak-anak sedang menjalani proses belajar mengajar. Tanpa kusadari, tiba-tiba bu Indri datang menghampiriku, sepertinya ada sesuatu yang sangat penting untuk dibicarakan.            “Pak Vian.” Panggil bu Indri.            “Iya bu ada apa?” tanyaku.            “Saya mau bicara sama anda.” Ucap bu Indri dengan nada yang sedikit kesal.            “Boleh, silakan duduk.” Pintaku.            Bu Indri pun mulai terduduk di sampingku dan mulai berkata-kata.            “Aku mau tanya, seberapa dekat pak Vian sama anak-anak kelas lima, termasuk golongannya Putri?” tanya bu Indri.            “Ya lumayan deket sih bu, memang ada yang salah dengan aku kalau emang dekat dengan mereka?” tanyaku balik.            “Nggak sih, cuma saya bingung.” Gumam bu Indri.            “Kok jadi bu Indri yang bingung sih.” Jawabku.            “Pak Vian dengar ya. Semenjak pak Vian itu dekat sama temen-temennya Putri, hubungan mereka itu tambah berantakan tahu nggak.” Tegas bu Indri.            “Sebentar-sebentar, aku nggak paham apa maksud bu Indri.” Gumamku.            “Pak Vian, seringkali Putri sama Nayla itu bertengkar dan hampir setiap hari tidak menyapa, mungkin masing-masing dari mereka merasa iri. Semua itu karena pak Vian yang selalu memanjakan mereka.” Tegas bu Indri kembali.            “Kok bisa begitu, tapi selama ini saya selalu bersikap adil loh, baik sama Putri ataupun Nayla.” Jawabku.            “Justru itu yang tanpa pak Vian sadari, telah membuat rasa kesenjangan antar diri mereka berdua.” Tegas bu Indri.            “Lah terus saya harus bagaimana bu?” tanyaku.            “Jauhi mereka, dan jangan pernah dekati mereka kembali.” Pinta bu Indri dengan tegas.           Aku hanya terdiam, dan bu Indri kembali meninggalkanku di sini. Ternyata benar dari apa yang dikatakan bu Indri. Semua itu karena aku yang telah memanjakan mereka, sehingga tanpa kusadari, Putri dan Nayla tidak lagi berteman.           Aku masih saja terdiam, seraya berpikir untuk mencari jalan keluar agar aku bisa mendamaikan mereka berdua. Sungguh saat ini pikiranku benar-benar kacau, apakah mungkin aku harus pergi saja dalam waktu dekat ini, tetapi kurasa itu bukan satu-satunya solusi.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD