Atika

1201 Words
          Hari Minggu memang tak selalu ceria, namun di saatku sudah mengajar di sekolah ini, entah kenapa setiap hari minggu hari-hariku selalu terisi dengan segala aktivitas yang cukup menyenangkan.           Tepat di hari ini juga, hari Minggu begitu penuh akan sensasi. Waktu telah menunjukkan pukul setengah enam pagi, sebagaimana hari kemarin, aku ada janji dengan Atika bahwa di hari Minggu inilah kita berdua akan bersepeda bersama.            Aku mulai melaju dalam mengayuh sepeda ini, di mana kita berdua akan bertemu di jalan Ijen, yang tidak lain juga kita akan bermain di car free day. Tak lama perjalanan yang telah kutempuh, hanya dalam waktu tiga puluh menit, aku pun telah sampai di jalan Ijen. Aku mulai memandangi keadaan sekitar, tak berselang lama Atika pun juga telah tiba di depanku dengan membawa sepeda gunungnya.           “Sudah lama nih yang nunggu?” Sapanya.           “Nggak juga, mungkin baru aja lima menitan.” Jawabku.           “Oh, ya sudah kita coba jalan ke sana yuk!” Serunya           “Iya ayo’.”             Kita berdua mulai melaju dengan menaiki sepeda bersama ke arah utara. Saat dalam perjalanan inilah, kita mulai banyak berbincang-bincang. Entah apa saja topik yang kita bicarakan tiada lain lebih banyak membahas tentang sekolah. Lima menit telah kita lalui, tiba-tiba Atika memintaku untuk berhenti, begitu juga dengan dirinya.             Kita berdua berhenti di depan sebuah pertunjukkan musik kecil, di mana para pemain musiknya adalah orang-orang yang berkebutuhan khusus. Melihat akan hal itu, Atika dan juga diriku merasa sangat kagum, ternyata bukan hanya orang normal saja yang bisa dilatih, golongan anak-anak autis saja juga bisa.           “Dunia ini memang indah ya, ternyata semua kemampuan itu juga bisa dilakukan oleh anak meski diluar keterbatasan mental.” Ucap Atika.           “Iya. Mungkin itu sudah menjadi karunia Tuhan, bahwa hidup itu sangat perlu untuk disyukuri.” Jawabku.           “Ya sudah, kita jalan lagi yuk!” seru Atika.           “Oke.” Jawabku.           Sungguh di hari Minggu ini benar-benar terasa sangat menyenangkan, karena aku bisa meluangkan waktu bersepeda bersama Atika. Aku dan Atika mulai merasa lapar, sehingga kita berdua pun menyempatkan diri sarapan pagi di sebuah warung pinggir jalan.           Kita berdua mulai duduk bersama, aku segera memesan dua porsi nasi pecel lele, dan kita pun mulai menikmati makanan ini. Saat kita berdua duduk dengan saling berhadapan, entah kenapa mata ini mulai memandangi wajahnya di saat dia makan. Sehingga dalam hatiku mulai berkata,            “Atika, Atika. Kamu terlihat sangat cantik hari ini, entah kenapa diriku jadi merasa kagum sama kamu.” Batinku.           Tak terasa waktu telah menunjukkan di angka sepuluh pagi, sehingga kita berdua kembali melaju menuju arah pulang usai sarapan pagi. Saat kita berdua melaju pun, kita kembali berbincang- bincang mengenai topik yang unik untuk dibicarakan.          Sebuah persimpangan dekat pasar besar adalah tempat kita berdua akan berpisah. Aku melaju ke arah barat, dan Atika melaju ke arah selatan. Atas pertemuan itu, aku jadi merasa ada yang sedikit aneh, di mana kutelah jatuh hati padanya. Akan tetapi, apapun yang akan terjadi, jangan sampai rasa ini bisa terus tumbuh, karena Atika terlalu sempurna bagiku.           Setidaknya aku harus tetap bersabar dalam menyikapi rasa ini. Namun aku berharap, setidaknya dia bisa tahu tentang perasaanku. Aku memang belum sanggup untuk mengungkapkan rasa, hanya saja aku tak mau terus-terus memendam rasa hingga hati tak sanggup untuk menerima. Lebih baik ku fokus saja dengan masa depanku, termasuk memikirkan masa depan anak-anak di sekolah juga. ***           Malam sudah pasti akan datang, dan di hari ini juga aku akan keluar rumah, sekedar ingin menghibur diri sejenak. Kumulai mengamati keindahan kota yang penuh akan cahaya. Saat aku terduduk sendiri, saat itulah kumulai berpikir, tentang masa depan yang rencananya akan kubangun mulai dari sekarang.           Menikah, punya anak dan membangun rumah tangga adalah sebuah harapan yang ingin kusegerakan, karenaku menyadari, usiaku sudah tidak lagi remaja, sehingga kubertekad agar secepatnya bisa merubah keadaan, untuk lebih baik.           Aku kembali berjalan, kali ini kuingin menyempatkan diri pergi ke café, sekedar ingin menikmati kopi di malam hari yang sangat dingin. Akan tetapi, baru saja saat diriku melangkah masuk ke dalam café, tiba-tiba kulihat pemandangan yang tak seharusnya diriku berada di sini. Secara langsung aku melihat Atika sedang bersama lelaki lain, memang tak sepatutnya bagiku untuk marah padanya, karena aku hanyalah sekedar teman biasa dengan Atika.          Aku mulai mendekati mereka tanpa harus mereka tahu, sedikit kumendengarkan percakapan mereka ternyata mereka sudah menjalin pacaran cukup lama.            “Yank, kita udah pacaran lama nih hampir tiga tahun, terus kapan kamu mau melamarku?” tanya Atika pada lelaki itu.           “Iya sabar dulu sayang, secepatnya aku akan melamar kamu kok.” Jawab lelaki itu.           Aku tak ingin banyak mendengar percakapan mereka, sebaiknya kuharus segera pergi dari tempat ini. Di saatku kembali berjalan untuk pulang, saat itulah kumulai merasakan sayatan luka pada hati ini. Betapa tidak, aku yang baru saja mengagumi dirinya sejak awal bertemu kini pada akhirnya harus berjalan mundur ke belakang, karena ku tak ingin perasaanku ini akan mengundang sebuah pertikaian bagi mereka.           Pupus, mungkin itulah yang saat ini sedang kualami. Aku tak menyangka kenapa hal ini bisa terjadi padaku sekarang, padahal status kita hanyalah teman biasa, namun dengan adanya kebaikan yang selalu dia berikan, perlahan telah menumbuhkan benih-benih rasa dariku untuknya. Tak sepatutnya diriku mengeluh dan tak sepantasnya juga harus merasa bersalah, karena sudah selayaknya kumenyadari bahwa aku bukanlah siapa-siapa untuknya. Atas hal tersebut, seakan diriku ingin berupaya untuk tidak lagi mengenal seorang wanita siapapun itu.           Namun, yang namanya khilaf itu sudah pasti terjadi kapanpun saja, tak peduli di saatku senang ataupun sedih. Bila harus melihat kebelakang, akan semua kisah perjalanan cintaku, mungkin takkan pernah habis untuk dituliskan. Jatuh cinta sudah sering, patah hati lebih sering lagi, atau tak terwujudnya harapan untuk bisa memiliki sudah lebih dari sering. Itulah diriku, yang selalu saja mengalami sejuta kegagalan dalam b******a. Entahlah, tak perlu kutangisi dan tak perlu harus kusesali, karena semua sudah menjadi takdir-Nya yang takkan pernah bisa ditolak selamanya. ***           Sebuah permasalahan dalam persahabatan itu sudah pasti bisa terjadi, entah itu karena masalah pribadi ataupun masalah dalam persahabatan itu sendiri. Empat s*****n, teman-teman dalam grup tersebut telah bertekad untuk menjaga persatuan dan berupaya untuk membuang jauh-jauh yang namanya perselisihan. Berkat kekompakan, saling menghargai dan peduli antar sesama adalah pondasi yang harus dijaga dan dipertahankan, Insya Allah selama mereka bisa melestarikan pondasi persahabatan tersebut, perjalanan panjang akan tetap terukir meski tiba saatnya untuk berpisah.           Hanifa mulai bingung di saat menyikapi sikap Nayla yang akhir-akhir ini mulai sedikit berubah, karena tak biasanya Nayla selalu cuek dan banyak diam seperti ini. Hal inilah yang membuat Hanifa dan juga Ninin mulai penasaran, Hanifa menduga mungkin Nayla sedang ada masalah dengan keluarganya sehingga Nayla tak bisa ceria seperti biasa.            “Nin, menurutmu ada yang aneh nggak pada diri Nayla." Ucap Hanifa pada Ninin.            “Aneh gimana Maksudnya Nif?" Tanya Ninin.            “Lihat aja, akhir-akhir ini sikap Nayla tuh berubah tahu nggak." Terang Hanifa.            “Emmm, iya sih aku juga ngerasa demikian. Padahal Nayla itu kan endel, banyak omong dan juga ceria, tapi udah beberapa hari ini dia nggak lagi seperti itu." Timpal Ninin.            “Apa kira-kira Nayla lagi ada masalah ya sama keluarganya, sehingga kita jadi pelampiasannya." Gumam Hanifa.            “Sepertinya nggak juga Nif, biasanya kan kalau Nayla ada masalah mesti cerita sama kita-kita." Tandasnya.            “Ya sudahlah, mungkin besok-besok juga akan kembali seperti semula." Pungkas Hanifa.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD