Setiap tetesan air yang menetes dari batu yang basah di atasnya memberikan bunyi nyaring di wadah besi menyerupai mangkuk yang dia gunakan untuk menampung air. Udara lembab membuat tubuh kurusnya menggigil, tapi tak ada yang bisa dia lakukan selain duduk di sudut dengan meringkuk. Di dekatnya ada ranjang yang hanya beralaskan kasur tipis, yang bahkan tak layak disebut kasur karena sangat tipis hingga tubuhnya bisa terasa sangat sakit. Keras, itulah yang dia rasakan. Bunyi tikus terdengar, dan itu telah menjadi sesuatu yang akrab di telinganya. Bahkan tikus dan dirinya tak ada bedanya, karena perlakuan mereka padanya sama seperti perlakuan binatang. Dia menggerakkan tangannya, merayap dari bahu ke leher, bekar luka terasa di tangannya. Perih tapi dia terus menyentuhnya, seakan dia

