“Apa kau tak menyukai ada di sini, Catra?”
Indra mengamatinya, pembawaannya yang terlalu santai terlihat seolah dia tak pernah menganggap pekerjaannya dengan serius.
“Apa perlu kau mempertanyakan hal yang pasti, Indra?” Catra membalik tubuhnya, menghadap Indra dengan tatapan menantang.
“Aku tak ingin berkelahi denganmu, Catra. Itu menakutkan.” Indra tersenyum canggung.
Semua orang yang ada di SSU akan menghindari Catra, dia bisa saja menghancurkan gedung karena emosinya yang tak stabil.
“Baiklah, kalau begitu.” Indra menjatuhkan dirinya di sebelah Catra. “Ini hari kedua kalian tak berbicara.”
“Ya, sikapnya seperti anak-anak,” pungkas Catra, dia memainkan pena di tangannya, memutar dengan cepat melewati jari-jarinya.
Indra memperhatikan mereka berdua, baginya, mereka berdua itu sama-sama seperti bocah.
“Aku sudah menegurnya, tapi dia bersikap sangat sibuk. Oza sialan itu padahal mukanya kusut sekali. Semoga dia tak mati karena insomnianya.”
Indra menggaruk pelipisnya. Ucapan Catra cukup kejam untuk orang yang paling dekat dengannya, mungkin jika Oza bukanlah Oza, dia telah mematahkan tulangnya.
“Setelah makan siang, kalian berdua harus menemui Pak Wiga. Kalau hubungan kalian sejelek ini, Pak Wiga bisa membuat kalian tinggal lebih lama di sini.”
Pena berhenti dia putarkan, Catra mematahkan pena itu dengan tenaganya.
“Tak masalah. Aku juga malas berkuliah.”
Indra memperhatikan wajah Catra, walaupun mungkin perubahan itu tidak terlihat jelas, tapi nyatanya Catra mengalami perkembangan.
Mungkin bagi Catra tak masalah dia tak menjalani hidup yang normal, seperti berkuliah, atau berteman. Tapi bagi Oza hal seperti itu harus dilakukan oleh Catra.
Indra bertaruh, bahwa sebentar lagi Oza akan menghampiri Catra dan bertingkah seperti biasanya.
Pintu terbuka. Langkah kakinya santai, apa yang Indra pikirkan terjadi hanya dalam waktu yang sebentar.
Dia melihat Catra tak merespons dengan suaranya, dia berpura-pura tak tahu dengan hal tersebut
Oza duduk di sebelah Indra, dia menatap Catra seperti biasa. Bau tembakau yang pekat tercium dari tubuhnya. Entah berapa banyak kotak rokok yang telah dia habiskan karena pikirannya yang kusut.
“Cat—“
“Kau bau, seharusnya kau mandi dulu sebelum ke sini,” potong Catra sebelum Oza menyelesaikan perkataannya.
Oza tersenyum masam, dia sendiri menyadari bau tubuhnya yang tercium masam. Sejak kemarin dia tak mandi, dia sibuk melakukan ini itu, ditambah dengan insomnianya yang parah, dia jadi bergerak terus menerus.
“Catra, kau tak boleh marah-marah seperti itu.” Oza melembutkan suaranya, dia memaniskan mulutnya agar Catra sedikit lembut padanya.
“Apa aku pernah baik? Tidak, 'kan?” Catra menyandarkan kepalanya ke sofa yang dia duduki, Oza yang melihat itu menganggap wajah Catra seperti anak anjing.
Dia tertawa dengan lepas. Dua hari dia sengaja menghindari Catra agar Catra sadar apa yang dia lakukan salah, tapi bukan berarti dia tak peduli dengan Catra. Oza sering kali memperhatikannya dari kejauhan, dan Catra menyadari itu.
Mereka berdua bermain permainan yang bodoh, yang hasilnya sudah diketahui oleh semua orang.
“Baiklah, aku akan mandi terlebih dahulu. Rasanya memang tidak menyegarkan.” Oza mengedipkan matanya, agar Catra tahu dia ingin memperbaiki hubungannya. Oza berdiri dari tempatnya duduk, berdiri di tempatnya.
“Setelah makan siang kita akan ke tempat Pak Wiga. Bersiaplah.”
Bunyi pintu tertutup setelah itu. Catra baru mau melihat ke arah pintu
Indra menggelengkan kepalanya, apa yang di liat ini seperti drama sabun.
**
Bunyi ketukan pintu yang berulang dan tak terburu-buru, itu menandakan bahwa mereka sedang bersikap sopan.
Wiga langsung menggerakkan kepalanya saat bunyi ketukan terdengar pertama kali, dia duduk dengan tegap karena tahu siapa yang mendatanginya.
“Masuklah,” pintanya.
Dua orang yang sedang dia tunggu masuk, satu memiliki wajah ramah dan satu tidak. Tapi hari ini, keduanya memiliki wajah yang ditekuk.
“Duduklah,” pintanya lagi.
Keduanya duduk dengan tenang di hadapannya. Padahal dia hanya ingin melakukan obrolan ringan, tapi wajah mereka yang ditekuk membuat suasana canggung.
Tapi dengan pengalamannya, menghadapi orang yang seperti ini lebih mudah dibandingkan menghadapi anak kecil yang tantrum.
“Catra, kondisimu sudah sehat total dan kita telah mencapai rekor baru penyembuhan tercepatMU.”
Oza melirik Wiga, pria itu pasti sengaja membuat Catra terluka. Dia ingin spesimen yang mencapai tujuannya. Dia melupakan julukan Wiga, seorang pria yang bahkan tak akan bergeming jika ditodongkan senjata api saat dia bertugas.
“Dan Oza, kau memiliki kemampuan yang sangat hebat. Bisa mengelola informasinya kasus dengan bagus, kemudian pengetahuanmu juga luas. Lalu, tahun ini tampaknya masih kau yang menduduki posisi tertinggi penyelesaian kasus.”
Oza menunduk, jika dia tak ada di posisi itu, itu akan membahayakannya. Dia mungkin ditekan jauh lebih hebat dari ini.
“Terima kasih atas segala pujiannya, Pak Wiga.” Oza tersenyum. Senyum palsu itu muncul di wajahnya dengan lancar.
“Catra, di umurmu yang masih mudah ini kau telah menjadi pahlawan yang menyelesaikan kasus dengan cepat. Orang-orang memujimu, tapi tak sedikit juga yang akan terus menghinamu.”
Catra hanya diam saja, dia mendengarkan dalam kesuraman wajahnya.
“Kau harus tahu bahwa perbedaan kekuatan kau dan manusia begitu hebat.”
“Tentu saja aku tahu, makanya aku hanya memakai kekuatanku sangat sedikit.”
Wiga tersenyum, menghadapi anak yang labil dan berani seperti Catra memang bukanlah hal yang mudah.
“Apa perbedaan dengan Oza?” tanya Wiga yang membuat kening Catra berkerut.
*
Padahal Catra sudah menjawab pertanyaan Wiga, tetapi kenapa dia malah tertawa?
Dia berpikir apa yang dijawab Catra sedikit lucu, dan dia tak memberikan jawaban pastinya hingga mereka berdua berjalan-jalan ke gedung SSU HIVE.
Alisnya bertautan dengan jelas.
Dia ingin marah, tapi tak tahu pada siapa.
Memang apa bedanya dia dengan Oza? Tentu saja dia lebih baik dari Oza, kan?
“Catra, apa kau mau berlatih tanding denganku?”
Catra langsung melihat Oza, apa Oza ini menginginkan kematian. Catra masih kesal karena Wiga, tapi dia mengajak latih tanding.
Napas halus keluar dari mulut Catra.
“Baiklah.”
Mereka berdua bersiap untuk latih tanding, walaupun Catra memiliki kekuatan yang hebat, dia bertarung dengan ilmu bela diri yang masih cetek. Karena itulah, Oza menjadi gurunya dalam hal ini.
Tidak lama kemudian, dengan baju yang berwarna putih keduanya muncul. Mereka telah bersiap berhadapan satu sama lain. Menghadapi Catra harus memiliki mental yang kuat, terkadang Catra kelepasan dan membuat tulang menjadi retak.
“Ingat, kontrol dirimulah yang terpenting, Catra.”
Catra tak merespons, tapi dia mendengar hal tersebut. Saat mereka saling berhadapan dan dimulai, Oza harus memutar otak agar bisa mengenai Catra atau menjatuhkannya.
Oza mulai bergerak lebih dulu, dia seperti akan melakukan tinjuan pada Catra, tapi saat Catra ingin menghindarinya, Oza mengganti menjadi sebuah tinjuan cepat yang bertumpu dari pijakan kakinya. Tinjuan itu melewati wajah Catram angin tercipta dari hal itu.
Tinjuan yang dia layangkan berhasil dihindari oleh Catra, tapi dia tak menyerah, dengan kekuatan kakinya yang bertumpu tadi, dia memutar tubuhnya, membuat tendangan berputar yang cepat.
Itu tepat mengenai pinggang Catra.
“Satu poin untukku,” ucap Oza sambil terus mau menyerang Catra. Mendengar hal tersebut, Catra menjadi sedikit kesal.
Kali ini dia tak menghindar, saat tinjuan Oza datang lagi dari arah kiri, Catra telah menunduk, tubuh sudah sangat dia rendahkan, di bawah ketiak Oza. Bagian tubuh yang tak terlindungi itu sangat mudah untuk di serah, dan Catra menggunakan telapak tangannya untuk mendorong tubuh Oza.
“Satu poin, Oza. Kalau aku serius kau pasti sudah mati tadi.” Catra menyeringai.
Oza memposisikan dirinya lagi dengan posisi yang membuatnya nyaman. Dia tersenyum, jika Catra serius, artinya Catra mau berkembang.
Oza menenangkan dirinya sendiri, dia memang lebih lemah dari Catra, tapi masalah pengalaman dan ketenangan, dia jauh di atas Catra. Saat dia membuat Catra akhirnya melayangkan tinjunya, Oza bergerak cepat dengan menghindari dan menendang tulang keringnya, bagi Catra itu terasa seperti sedikit kesemutan. Tapi serangan Oza tak berhenti hanya sampai sana, dia memanfaatkan perbedaan tubuh mereka.
Dia yang sudah ada di belakang Catra, menendang lutut Catra hingga pijakan kakinya lemah, dan dia tertunduk, saat itulah Oza meletakkan tangannya di kerah baju Catra, dia memutar tubuhnya dan melakukan Collar choke.
Oza menghitung selama tiga detik, dan dia telah menang. Setiap mereka berlatih tanding, mereka punya peraturan untuk mempersingkat waktu serangan sebenarnya, jika tidak, tentu saja Oza akan kalah telak.
“Dua poin.” Oza berdiri, dia membenarkan bajunya, dan memandang Catra yang mengibar bajunya dengan keras.
“Kau masih memiliki kelemahan yang sama, Catra.”
Mendengar hal itu, Catra menatap tajam Oza. “Kau lemah terhadap kuncian, itu berbahaya untukmu.”
Catra menyeringai. Memang di dunia ini siapa yang lebih kuat darinya?
Oza menepuk pundak Catra, menyadari apa yang dipikirkan Catra bisa sangat berbahaya. Dia bekerja di bidang pemerintahan yang tersembunyi, dengan segala hal yang terkadang tak masuk akal. Tak hanya sekali dua kali dia menemukan kasus ilmuwan gila, artinya orang kuat seperti Catra pun bisa saja ada lebih banyak daripada dugaan mereka.
“Kau harus tetap waspada, Catra. Dunia itu penuh tipu daya.”
Oza tersenyum, dia telah berkeringat cukup banyak, latihan ini sudah harus diakhiri sekarang.
Duar!
Suara ledakan tiba-tiba terdengar, gedung rasanya bergetar hebat. Oza menunggu Indra yang tadi langsung keluar untuk mencari tahu apa yang terjadi.
“Pak Oza, tempat penelitian meledak!”