Siang itu, matahari terik menyinari halaman kampus. Reyna baru saja keluar dari kelas Hukum Perdata ketika beberapa mahasiswa berkerumun di gerbang, berbisik-bisik sambil menunjuk ke arah yang sama.
“reyna !!!” Silva berlari kecil menghampirinya, wajahnya panik. “Kamu harus lihat ini…”
Reyna mengernyit. Saat ia menoleh, langkahnya langsung membeku.
Sebuah mobil sport hitam mengilap berhenti tepat di depan gerbang kampus. Dari dalam, keluar seorang pria dengan setelan jas rapi dan kacamata hitam. Semua orang seketika berbisik kagum.
David Prayoga.
Langkahnya tenang, tapi aura yang dibawanya seperti magnet yang memaksa semua mata menatap. Tanpa basa-basi, ia berjalan lurus ke arah Reyna.
Bisik-bisik di sekitar semakin ramai.
“Itu David Prayoga, kan?”
“Kok dia ke sini?”
“Eh… jangan-jangan…”
Reyna berusaha menahan ekspresinya, tapi dalam hati ia panik. “Ngapain kamu ke sini?” bisiknya ketika David sudah berdiri di depannya.
David menunduk sedikit, suaranya cukup keras untuk terdengar oleh beberapa orang di sekitar. “Menjemput istriku.”
Suasana langsung pecah. Beberapa mahasiswa memekik pelan, yang lain langsung mengeluarkan ponsel untuk merekam.
Reyna bisa merasakan darahnya naik ke wajah. “Jangan di sini…” desisnya.
Tapi David hanya tersenyum tipis, lalu meraih tangannya dengan mantap. “Kenapa? Kita kan sudah menikah. Atau… kamu malu mengakuinya?”
Reyna tak punya pilihan. Ia terpaksa berjalan di sampingnya, diiringi tatapan puluhan pasang mata yang penuh rasa ingin tahu. Dan di antara kerumunan itu, ia melihat Aditya berdiri diam, tatapannya tajam dan sulit dibaca.
Di dalam mobil, David menyetir tanpa bicara. Sampai akhirnya ia berkata pelan,
“Kamu terlalu pandai berbohong, Reyna. Tapi aku tidak suka main kucing-kucingan terlalu lama.”
Reyna menatap keluar jendela, pura-pura tak mendengar. Tapi hatinya berdegup kencang.
Ia tahu… rahasia ini akan semakin sulit disembunyikan.
****
Dua hari setelah kejadian di gerbang kampus, suasana menjadi berbeda. Reyna bisa merasakannya begitu ia melangkah masuk ke kelas. Beberapa mahasiswa yang biasanya ramah kini hanya berbisik-bisik sambil menatapnya.
Di meja paling depan, seorang teman menaruh ponselnya terbuka — layar menampilkan berita dari portal gosip:
"CEO Muda David Prayoga Resmi Menikah dengan Wanita Misterius"
Foto pernikahan mereka terpampang jelas. Meski riasan membuat wajahnya sedikit berbeda, semua orang yang mengenalnya akan tahu… itu Reyna.
Ia mencoba duduk tenang, tapi suara bisik-bisik itu menusuk telinganya.
“Itu dia kan? Iya, mirip banget.”
“Katanya wanita itu bukan dari keluarga kaya. Gimana bisa nikah sama David?”
“Mungkin hamil duluan?”
Reyna mengepalkan tangan di bawah meja.
Setelah kelas usai, Silva menghampirinya dengan wajah cemas. “Reyna, kamu nggak bisa terus kayak gini. Kalau kamu diem aja, gosipnya makin gila. Bahkan Aditya tadi nanya ke aku…”
Reyna menggeleng. “Aku nggak mau bahas ini di sini.”
Sore itu, di rumah megah David, suasana pun tak kalah menegangkan. David duduk di ruang kerja, matanya menatap layar tablet yang memuat berita yang sama.
“Kamu lihat ini?” tanyanya tanpa mengangkat kepala.
Reyna berdiri di ambang pintu, diam.
David meletakkan tabletnya di meja, lalu bersandar di kursi. “Kamu pikir kamu bisa sembunyi dari semua orang? Dunia ini terlalu kecil untuk menutupi kebohongan sebesar itu.”
Reyna akhirnya bersuara, suaranya lirih tapi tegas. “Aku nggak pernah minta untuk diekspos. Kamu yang datang ke kampus dan—”
“Aku hanya memegang janji pernikahan kita di depan publik,” potong David cepat.
“Kalau kamu mau tetap di sini, Reyna… mulai biasakan diri hidup di bawah sorotan. Karena percaya sama aku, badai ini baru saja dimulai.”
Tatapan mata David saat itu bukan hanya dingin… tapi juga seperti sebuah peringatan.