Malam itu, Reyna berdiri di balkon kamarnya. Angin malam berhembus pelan, tapi pikirannya justru berputar cepat. Selama ini ia menuruti semua aturan David, menelan setiap kata dinginnya tanpa membalas.
Tapi melihat wajah-wajah yang menghakiminya di kampus hari ini… ia merasa cukup.
Keesokan paginya, di ruang makan, David seperti biasa duduk rapi dengan secangkir kopi. Reyna menarik kursi dan duduk di hadapannya.
“Aku mau bicara,” ucapnya datar.
David mengangkat alis. “Tentang apa?”
“Mulai hari ini, aku nggak mau cuma diam terima semua aturan kamu,” katanya tegas. “Kalau kamu pikir aku akan terus menunduk, kamu salah.”
David tersenyum tipis. “Dan apa yang akan kamu lakukan?”
“Aku akan klarifikasi di kampus. Aku akan bilang yang sebenarnya—”
“Yang sebenarnya?” potong David, suaranya lebih dalam. “Maksudmu… kamu akan bilang kalau kamu pengantin pengganti?”
Reyna terdiam sesaat, tapi tatapannya tak goyah. “Kalau itu yang harus kulakukan supaya orang berhenti membuat cerita seenaknya, kenapa tidak?”
David meletakkan cangkir kopinya dengan pelan, tapi matanya menyala. “Kamu pikir kamu bisa main api tanpa terbakar, Reyna?”
Reyna berdiri, menatapnya balik. “Kalau aku harus terbakar untuk keluar dari permainan ini… setidaknya aku yang memilih apinya.”
Mereka saling menatap tanpa kata. Tegang. Sunyi. Dan untuk pertama kalinya, Reyna melihat sekilas sesuatu di mata David—bukan kemarahan, bukan kebencian… tapi rasa tertantang.
Siang itu, tanpa memberi tahu David, Reyna menghubungi seorang wartawan yang ia kenal dari magang hukum dulu.
“Kalau aku punya cerita tentang pernikahan seorang CEO besar… kamu tertarik?”
Suara di seberang terdengar bersemangat. “Tentu saja. Kirimkan detailnya.”
Reyna menutup telepon dengan napas berat. Ia tahu langkah ini berisiko besar. Tapi kali ini, ia tidak akan mundur.
****
Sore itu, langit Jakarta berwarna kelabu, tanda hujan akan turun. Reyna sedang duduk di kafe kecil dekat kampus, menunggu wartawan yang ia hubungi pagi tadi. Tangannya sibuk merapikan map berisi bukti foto dan dokumen pernikahan mereka.
Pintu kafe terbuka. Bukan wartawan yang masuk, melainkan David.
Aura dinginnya langsung membuat beberapa pengunjung menoleh. Ia berjalan langsung ke meja Reyna, jas hitamnya sedikit basah terkena rintik hujan.
“Aku sudah bilang jangan main api,” ucapnya pelan tapi tajam.
Reyna menatapnya, berusaha tenang. “Aku cuma mau bicara.”
“Dengan wartawan?” David mencondongkan tubuhnya. “Kamu pikir aku nggak tahu setiap gerak kamu?”
Reyna menggenggam map itu erat. “Aku capek, David. Capek hidup di bawah aturan kamu. Aku mau orang tahu kebenarannya.”
David meraih map itu, tapi Reyna menahannya. Tatapan mereka terkunci, seperti dua pemain catur yang sama-sama menunggu langkah lawan.
“Kalau kamu lakukan ini, kamu bukan cuma akan menghancurkan aku… tapi juga dirimu sendiri,” kata David.
“Aku nggak peduli.”
David tersenyum tipis — senyum yang justru membuat reyna merinding. Ia menaruh map itu kembali di meja, lalu duduk dengan santai.
“Baik. Kalau kamu mau perang, kita akan perang. Tapi ingat, Reyna… aku selalu menang.”
Hujan mulai turun deras ketika wartawan yang ditunggu Reyna akhirnya datang. Pria itu membawa tas kamera dan wajah penasaran. Tapi begitu melihat David duduk di hadapan Reyna, langkahnya melambat.
“Eh… maaf, saya—”
David menoleh, tatapannya membuat pria itu langsung gugup. “Pertemuannya dibatalkan. Dia nggak punya cerita untuk kamu.”
Wartawan itu menatap Reyna sejenak, lalu mundur.
Reyna mengepalkan tangan di pangkuannya.
Permainan ini memang belum selesai. Tapi sekarang ia sadar, David tidak akan membiarkannya menang dengan cara yang mudah.