Keesokan paginya, Reyna terbangun lebih awal. Hujan semalam meninggalkan udara dingin yang merayap di kamar. Ia mencoba memulai hari dengan tenang, tapi langkahnya terhenti ketika melihat halaman depan koran di meja makan.
"Istri Muda David Prayoga— Mahasiswi Hukum Berprestasi"
Foto dirinya terpampang jelas, lengkap dengan biodata singkat yang entah dari mana David mendapatkannya.
Reyna meraih koran itu dengan cepat. “Apa ini?”
David yang duduk santai sambil menyeruput kopi hanya melirik sekilas. “Bukan itu yang kamu mau? Sorotan? Sekarang semua orang tahu siapa kamu.”
“Aku nggak mau ini! Aku nggak mau dipublikasikan sepihak!”
David menatapnya, tatapannya tajam namun terukur. “Bedanya, Reyna… sekarang mereka tahu versi yang aku mau. Bukan versi yang bisa kamu kontrol.”
Reyna terdiam. Perutnya terasa mengikat. Ia menyadari bahwa David bukan hanya lebih berkuasa… tapi juga selalu selangkah di depannya.
Di kampus, suasana semakin kacau. Semua orang kini tahu identitasnya. Teman-teman yang dulu dekat mulai menjauh, sebagian hanya mendekat untuk mencari sensasi. Wartawan bahkan mencoba masuk ke lingkungan kampus, membuat reyna sulit bernapas.
Di tengah keramaian itu, Aditya mendekat. “Kamu beneran nikah sama dia, Reyna? Kenapa kamu nggak cerita ke aku?”
Reyna menatapnya, matanya lelah. “Karena nggak semua hal bisa aku ceritakan, Aditya.”
Aditya menatapnya lama, lalu berkata pelan, “Kalau kamu butuh bantuan… aku ada.”
Ucapan itu membuat Reyna tertegun. Tapi sebelum ia sempat membalas, sebuah mobil hitam berhenti di depan gerbang kampus. Jendela mobil turun, memperlihatkan David di balik kemudi, tatapannya menusuk langsung ke arah mereka.
Malam itu di rumah, David berjalan melewati Reyna tanpa bicara. Tapi sebelum masuk ke ruang kerja, ia menoleh.
“Kamu boleh main-main di luar… tapi ingat, aku tahu setiap orang yang mendekat ke kamu. Dan aku nggak suka kalau ada yang terlalu dekat.”
Reyna mengepalkan tangan. Ia sadar, David mulai bermain dengan rasa takutnya.
Dan semakin lama, permainan ini tidak hanya tentang rahasia… tapi juga tentang siapa yang akan hancur lebih dulu.
****
Hujan malam itu turun deras, membasahi kaca besar ruang tamu rumah David. Reyna duduk di sofa, masih mengenakan pakaian kuliahnya. Ia menunggu David pulang, dan kali ini bukan untuk diam—tapi untuk meledak.
Pintu terbuka. David masuk dengan jas yang sedikit basah, menaruh kunci mobil di meja, lalu berjalan melewatinya begitu saja.
“Kita harus bicara,” ujar Reyna, nadanya tegas.
“Aku capek,” jawab David datar, tanpa berhenti melangkah.
Reyna berdiri, menghalangi jalannya. “Kamu nggak bisa terus-terusan mengatur hidup aku, mempublikasikan apa yang kamu mau, dan mengawasi setiap langkahku!”
David menghentikan langkah, menatapnya dingin. “Kalau kamu masih ingat, Reyna… kamu ada di sini karena kamu menerima kesepakatan itu. Dan kesepakatan ini berjalan sesuai aturanku.”
“Aku nggak peduli sama aturan kamu!” seru Reyna. “Aku bukan boneka yang bisa kamu pasang di depan publik lalu dikendalikan di belakang layar!”
Suara hujan semakin deras, seolah ikut mengiringi ketegangan mereka. David melangkah mendekat, wajahnya hanya beberapa inci dari Reyna.
“Kamu pikir kamu bisa melawanku ? Semua yang kamu punya sekarang… bahkan rumah tempat kamu berdiri ini, ada karena aku. Tanpa aku, kamu—”
“Tanpa kamu, aku masih punya harga diri!” potong Reyna, matanya berkilat marah.
Sunyi sesaat. Nafas mereka berdua terengah, bukan karena lelah, tapi karena emosi yang menumpuk terlalu lama.
Reyna meraih tasnya di sofa. “Kalau kamu pikir aku nggak bisa hidup tanpa kamu… kita lihat saja.”
Tanpa menunggu jawaban, ia berjalan cepat menuju pintu, menembus derasnya hujan malam itu. David tidak mengejarnya, hanya berdiri mematung di ruang tamu, rahangnya mengeras.
Di luar, Reyna tidak tahu akan pergi ke mana. Yang ia tahu, malam ini ia harus menjauh dari David—walau itu berarti masuk ke medan yang lebih berbahaya.