part 6

576 Words
Hujan belum reda saat Reyna berjalan cepat menyusuri trotoar, tas di bahu terasa berat. Lampu-lampu jalan memantulkan genangan air, dan setiap langkahnya disertai cipratan dingin. Ponselnya bergetar. Nama David muncul di layar, tapi ia menolaknya. Setelah panggilan kelima, ia mematikan ponsel sepenuhnya. Setelah hampir setengah jam berjalan, Reyna tiba di sebuah kafe kecil yang masih buka. Dari dalam, aroma kopi dan kayu manis sedikit menghangatkan suasana. Ia memilih duduk di sudut, jauh dari jendela. “Re ?!” Sebuah suara membuatnya menoleh. Aditya berdiri di depannya, basah kuyup. “Kamu… sendirian? Kenapa di luar jam segini?” Reyna menunduk sebentar, lalu menghela napas. “Aku cuma… butuh tempat buat tenang.” Aditya duduk di hadapannya tanpa diminta. “Kalau kamu mau, aku bisa carikan kamu tempat menginap. Rumahku ada kamar kosong.” Reyna hendak menjawab, tapi matanya menangkap sesuatu di luar jendela — sebuah mobil hitam yang berhenti di seberang jalan. Lampunya mati, tapi ia yakin melihat siluet seseorang di kursi pengemudi. Hatinya langsung berdegup. David? Sementara itu, di sisi lain kota, David berdiri di ruang kerjanya, menatap layar ponsel yang menampilkan titik lokasi Reyna dari aplikasi pelacak. Ia tidak sendiri. Seorang pria paruh baya berdiri di belakangnya, mengenakan jas mahal dan senyum samar. “Sepertinya istrimu punya nyali,” ucap pria itu. “Tapi nyali tanpa perlindungan hanya akan membawanya ke masalah.” David tidak menjawab. Ia hanya mengambil kunci mobil. “Kalau ada yang mencoba menyentuhnya, mereka akan menyesal.” Pria itu tertawa kecil. “Kamu yakin, David? Bukankah kamu sendiri yang membuatnya keluar dari rumah?” David berhenti sejenak, rahangnya mengeras. “Aku tidak membiarkan milikku jatuh ke tangan orang lain.” Di kafe, reyna mencoba menenangkan diri. Tapi ketika ponselnya tiba-tiba menyala lagi dan muncul pesan singkat tanpa nama pengirim, bulu kuduknya meremang. --Kamu tidak tahu siapa yang sedang mengawasi.-- Pesan itu masih terpampang di layar ponsel Reyna. Jemarinya bergetar, bukan hanya karena dingin, tapi juga karena rasa takut yang merayap perlahan. Ia menoleh keluar jendela—mobil hitam itu sudah tidak ada. Aditya menatapnya heran. “reyna, kamu oke? Kamu kelihatan pucat.” Reyna menelan ludah. “adit… kalau ada orang yang mengawasi aku… apa yang harus aku lakukan?” Aditya mengerutkan kening. “Kamu mau bilang David?” Reyna menggeleng cepat. “Bukan. Aku rasa… ada orang lain.” Di sisi lain kota, David memarkir mobilnya di depan gedung perkantoran tua. Lampu lantai tiga masih menyala. Di dalamnya, pria paruh baya yang tadi bersamanya sedang berbicara lewat telepon. “Dia sudah mulai menjauh dari David. Itu langkah pertama,” ucap pria itu. “Ya… kita pastikan dia butuh perlindungan, dan perlindungan itu cuma bisa datang dari kita.” David masuk tanpa permisi, langkahnya mantap. “Kalau kamu menyentuhnya, aku akan pastikan ini jadi kesalahan terakhirmu.” Pria itu tersenyum tipis, tak terganggu sedikit pun. “Kamu terlalu percaya diri, David. Reyna bukan hanya ‘punya’ kamu. Dia kunci untuk sesuatu yang lebih besar dari permainan rumah tangga ini.” Mata David menyipit. “Jangan libatkan dia dalam urusanmu.” “Sayangnya… dia sudah terlibat sejak hari kamu menikahinya,” jawab pria itu sambil menyesap minumannya. Di kafe, Reyna akhirnya memutuskan menerima tawaran Aditya untuk menumpang di rumahnya malam itu. Tapi sebelum keluar, ia mendapat pesan kedua di ponselnya. --Jangan percaya siapa pun. Bahkan dia yang ada di depanmu.-- Reyna menatap Aditya yang sedang berbicara dengan barista. Senyumnya hangat, seperti biasa. Tapi entah kenapa… kata-kata dalam pesan itu membuatnya ragu melangkah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD