Hujan telah reda saat Reyna dan Aditya keluar dari kafe. Udara malam lembap, aroma tanah basah masih terasa. Aditya memayungi mereka sambil berjalan menuju mobilnya.
Di dalam mobil, Reyna duduk diam. Kata-kata di pesan tadi terus berputar di kepalanya:
--Jangan percaya siapa pun. Bahkan dia yang ada di depanmu.---
Aditya memecah keheningan. “Kamu nggak perlu khawatir soal gosip atau berita. Kalau kamu mau, aku bisa bawa kamu keluar dari Jakarta untuk sementara waktu. Pindah ke tempat yang nggak ada seorang pun mengenal kamu.”
Reyna menoleh, menatap wajahnya. Senyumnya tulus… atau setidaknya terlihat begitu. Tapi bagaimana kalau pesan itu benar?
Di rumah besar David, pria itu berjalan mondar-mandir di ruang tamu, ponselnya tak berhenti berdering. Nomor Reyna tak juga aktif. Ia memerintahkan asistennya memeriksa kamera CCTV di sekitar kampus, dan akhirnya menemukan rekaman: Reyna keluar kafe bersama Aditya
Tangannya mengepal. “Dia pikir Aditya aman?” gumamnya. “aditya justru—”
Kalimatnya terpotong ketika salah satu stafnya memberikan amplop hitam. Isinya adalah foto-foto reyna, diambil dari sudut-sudut yang tidak mungkin dilakukan wartawan biasa.
David menatap foto-foto itu lama. Ini bukan sekadar pengawasan. Seseorang sedang mengirim pesan padanya… lewat Reyna.
Malam itu, Reyna terbangun di kamar tamu rumah Aditya. Suara langkah kaki terdengar di lorong. Pelan. Teratur. Menuju kamarnya.
Ia berdiri, jantung berdegup kencang. Pegangan pintu bergetar perlahan, lalu terdengar suara Aditya dari luar.
“re… kamu belum tidur?”
Reyna menelan ludah. “Aku… belum. Ada apa?”
Hening beberapa detik, lalu suara itu terdengar lagi.
“Hanya ingin memastikan kamu aman.”
Langkah kaki menjauh. Tapi entah kenapa, rasa aman itu tidak benar-benar datang.
---
Reyna terbangun pagi-pagi sekali. Aditya masih tertidur di kamar sebelah. Ia memutuskan keluar rumah untuk mencari udara segar, tapi langkahnya terhenti di depan sebuah meja kecil di ruang tamu.
Di atas meja itu, ada sebuah bingkai foto. Aditya bersama seorang wanita muda yang tidak ia kenal—wajahnya mirip sekali dengan dirinya. Terlalu mirip.
Reyna meraih bingkai itu, menatapnya lebih lama. Di sudut bawah foto ada tulisan kecil:
--Untuk Aditya, dari R--
Tenggorokannya terasa kering. Siapa R itu? Reyna? Atau… orang lain yang kebetulan memiliki nama yang sama?
Di sisi lain kota, David duduk di ruang kerjanya, membuka sebuah kotak besi. Di dalamnya, ada kalung emas sederhana dengan liontin berbentuk kunci.
Ia memegangnya erat. “Kalau benar dia yang kita cari… berarti semua ini tidak kebetulan.”
Asistennya masuk, membawa berkas. “Pak, kami menemukan catatan kelahiran yang diminta. Ada yang aneh… nama orang tua kandung Reyna di dokumen ini berbeda dengan yang dia ketahui.”
David menatapnya tajam. “Cari tahu semuanya. Siapa mereka, di mana mereka sekarang… dan kenapa nama mereka dihapus dari catatan publik.”
---
Siang hari, Reyna kembali ke kampus untuk menghadiri kelas, mencoba bersikap normal. Tapi langkahnya terhenti ketika seorang wanita tua mendekat.
“Non Reyna…” suara wanita itu bergetar, matanya berkaca-kaca. “Akhirnya saya menemukan Non…”
Reyna bingung. “Maaf, kita saling kenal?”
Wanita itu menatapnya penuh haru. “Saya… pengasuhmu waktu kamu kecil. Kamu… kamu nggak ingat saya?”
Sebelum Reyna sempat bertanya lebih jauh, sebuah mobil hitam berhenti mendadak di pinggir jalan. Dua pria turun, menarik wanita itu menjauh. Salah satunya berbisik:
“Jangan bicara apa pun.”
Mobil itu melaju, meninggalkan Reyna tertegun di trotoar.