Sepulang kuliah, Reyna langsung menuju perpustakaan kota. Ia ingat ucapan David di awal pernikahan mereka, bahwa “tidak semua hal tentangmu tercatat dengan benar.”
Waktu itu ia mengira itu sekadar ancaman, tapi sekarang kata-kata itu terasa seperti peringatan.
Ia membuka arsip catatan sipil lama. Di layar komputer tua itu, ia mengetik namanya: Reyna Azalea
Hasil pencarian muncul—tapi hanya ada data dari usia lima tahun ke atas. Bagian sebelum itu kosong, seakan ia tidak pernah lahir.
Jantungnya berdegup kencang. “Kenapa bisa…?” gumamnya.
---
Sementara itu, di kantor David, Aditya berdiri dengan wajah tegang.
“Kamu tahu dia mulai mencari tahu,” kata Aditya
David menatapnya tajam. “Dan kamu membiarkannya?”
Aditya menghela napas. “Aku nggak bisa menghentikan dia tanpa membuatnya curiga. Lagipula… bukankah dia berhak tahu kebenarannya?”
David membanting pulpen ke meja. “Kalau dia tahu, semua yang kita rencanakan selama ini hancur.”
---
Malam itu, Reyna kembali ke rumah Aditya dan mencoba tidur. Tapi pikirannya terus memutar kejadian siang tadi.
Ia teringat foto wanita yang mirip dengannya di rumah Aditya. Lalu pengasuh misterius yang dibawa pergi. Dan sekarang, catatan kelahirannya yang hilang.
Perasaannya mengatakan satu hal:
Ada seseorang yang sangat berusaha agar ia tidak tahu siapa dirinya sebenarnya.
Reyna menatap langit-langit kamar, lalu berbisik pada diri sendiri,
“Kalau kalian mau menyembunyikan kebenaran… aku akan menemukannya.”
----
Keesokan paginya, Reyna menerima sebuah paket kecil tanpa nama pengirim.
Kotaknya berwarna cokelat tua, terlihat tua dan berdebu, seolah sudah lama disimpan.
Saat dibuka, di dalamnya ada sebuah kotak kayu kecil dengan ukiran bunga melati di tutupnya.
Di dalamnya—sebuah kalung emas dengan liontin berbentuk kunci.
Reyna memegangnya, jantungnya berdetak kencang. Liontin itu persis seperti yang pernah ia lihat di leher wanita di foto rumah Aditya.
Di dasar kotak kayu, ia menemukan secarik kertas lusuh bertuliskan:
"Kunci ini hanya akan terbuka di tempat segalanya dimulai."
Ia tidak mengerti maksudnya, tapi firasatnya berkata benda ini penting.
---
Di waktu yang sama, David menerima laporan dari asistennya.
“Pak, paket itu sudah sampai ke tangan Nona Reyna. Kita harus bertindak cepat, sebelum dia menghubungkan semuanya.”
David menatap peta di mejanya, menunjuk sebuah titik di tepi kota.
“Dia akan pergi ke sini. Siapkan orang untuk mengawasinya. Jangan sampai dia masuk sendirian.”
---
Malam harinya, reyna duduk di kamarnya, memandangi kunci itu sambil mencoba mengingat masa kecilnya.
Tiba-tiba, ia melihat bayangan bergerak di luar jendela.
Ia mendekat perlahan—dan tepat saat itu, listrik rumah padam.
Dalam kegelapan, ia mendengar suara langkah kaki mendekat dari arah pintu.