part 10

490 Words

Hujan turun deras malam itu. Mobil yang ditumpangi Reyna berhenti di depan sebuah rumah tua di pinggiran kota—tempat Aditya bilang aman. Reyna turun, langkahnya pelan, pikirannya masih bergulat dengan ucapan Aditya. Tiba-tiba, dari kegelapan, sebuah siluet tinggi muncul di bawah payung hitam. David. Matanya menatap lurus ke arah Reyna. Ada sesuatu di sana—campuran kemarahan, kekecewaan, dan… rasa ingin tahu yang dalam. “reyna.” Suaranya berat, nyaris seperti perintah. “Kita perlu bicara.” Reyna mundur setapak. “Untuk apa? Supaya kamu bisa membohongiku lagi?” David maju selangkah, air hujan membasahi jasnya. “Aku tidak pernah berbohong. Aku hanya… tidak tahu.” “Kamu tidak tahu bahwa aku—” Reyna terhenti. Kata-kata itu terlalu berat untuk diucapkan. “Bahwa kita… mungkin punya hubun

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD