BAB 1 | AWAL SEBUAH KUTUKAN (pt.1)

1650 Words
"Jayalah sebuah bangsa akan kemakmuran. Berlimpah ruah harta yang ada di dalamnya, mereka tak akan pernah merasa kekurangan. Kecuali satu hal, kurang memiliki rasa puas."   Tahun 651 Masehi   Sudah terkenal sejak ratusan tahun lamanya, Negeri Leonword begitu indah dengan hamparan padang rumput ditumbuhi pula oleh bunga-bunga yang mekar di desa yang makmur di sana. Tidak ada, tidak terlihat pula orang mengeluhkan pekerjaan mereka meski itu hanyalah menjadi buruh atau mengurus rumah saja. Seolah, sudah paham dengan jalannya takdir dan semangat kerja yang begitu tinggi. Penduduk Leonword---atau semua garis keturunannya, memiliki ciri satu yang unik; mata biru bercampur abu yang melebur dalam satu mata. Keindahan tercipta, sebagaimana Dewa memberkati negeri tersebut karena menjunjung kebajikan dan juga kerja keras dalam memperluas wilayahnya. Hampir seluruh daratan Asia dan Eropa berhasil ditaklukan sejak negeri dan kerajaan dipegang oleh Raja Sweeriet hingga Raja Guanvario yang terkenal karena berhasil menaikan pendapatan kerajaan melalui pemasok beras, teh, dan juga sutera terbaik yang hanya bisa di dapatkan oleh wilayah kekuasaannya saja. "Untuk kembali meningkatkan pendapatan, pajak yang ditarik kepada rakyat di naikan sebanyak tiga persen, Raja." Guan mengangguk senang. Ia yakin akan bisa membuat seluruh dunia bertekuk lutut di bawah kekuasaannya yang begitu besar. Sebagai hadiah untuk Perdana Menteri Ji, ia memberikan dua ekor sapi perah yang menghasilkan s**u dengan kualitas terbaik di kerajaan. "Aku senang jika kerajaanku semakin besar, begitu besar dari lainnya," ucap Raja Guan dengan tawa khas mengisi aula kerajaan di depan para pejabat istana. "Maharaja Guan, wilayah kekuasaan kita sudah menguasai delapan puluh persen wilayah Eropa dan Asia. Ada beberapa daerah masih masuk dalam wilayah kekuasaan Amerika dan dalam zona berbahaya," Penasihat lain ikut memberi informasi dari setiap setelah perang perebutan kekuasaan. "Masih ada wilayah kecil yang belum bergabung dengan kerajaan besar kita." "Wilayah mana saja?" Raja Guan bertanya. Penasihat Lio membuka buku daftar lalu membacakannya, "Kerajaan Frackna, Kerajaan Shiewook, Kerajaan Bomanoi, dan Kerajaan Symkyze serta beberapa wilayah sekitar mereka. Tiga dari empat kerajaan menerima tawaran penggabungan dengan syarat, namun hanya Kerajaan Shiewook saja yang menolak penggabungan karena merasa mampu menjadi kerajaan independen." Tangan Raja Guan memukul pinggiran singgahsananya cukup keras. Ia tampak marah mendengar jika ada Kerajaan selain dari wilayah kekuasaan Amerika menolak bergabung dengan kerajaannya. Apa mereka sedang mencari masalah atau merasa hebat hingga tak mau bergabung dengan kerajaan besar dan termakmur di daratan Eropa dan Asia seperti Kerajaan Leonword ini? Pejabat istana merasa ngeri melihat air muka raja mereka begitu menyeramkan. Kemarahan yang sulit dipendam dan diredakan dalam waktu yang lama. Di tengah diamnya aula, pintu aula dibuka dan tampak seorang pangeran muda berjalan mendekat pada raja yang juga ayahnya tersebut. Ia menunduk hormat dan menyapa sosok yang diseganinya itu dengan penuh hormat. "Salam Yang Mulia Raja Guan, saya Pangeran Axeryeo, putra anda meminta suatu permohonan kecil di mana hanya anda saja yang bisa mengabulkannya," ujar Pangeran Axeryeo. "Permintaan? Katakanlah, aku akan mengabulkan keinginan putra sekaligus pewaris kerajaan ini," balas Raja Guan mengizinkan. "Yang Mulia, saya dengar ada negeri penghasil tanaman obat-obatan langka di mana di sana juga terdapat Bunga Teratai Kristal Malam yang sangat langka di dunia. Kerajaan Shiewook, ku dengar di situlah tempatnya. Yang Mulia, jika berkenan saya meminta untuk membeli atau meminta ke Kerajaan Shiewook semua tanaman langka di sana dan menanamnya di kebun istana. Saya ingin melakukan perawatan dan penelitian dengan tanaman tersebut. Ku dengar juga jika beberapa tanaman ajaib bisa menyembuhkan luka parah dalam waktu sebentar." Pangeran Axeryeo begitu tenang dan berambisi dalam meminta permintaan kecilnya tersebut. Bunga Teratai Kristal Malam, orang berkata bahwa bunga tersebut sangat cantik dan menghasilkan lima kristal berbeda warna yang bisa sangat mahal harganya. Mendengar permintaan kecil putranya membuat Raja Guan tampak berpikir. Negeri Shiewook, entah mengapa mendengarkan tanaman langka yang dijelaskan Pangeran Axeryeo membuat dirinya semakin berambisi ingin menaklukkan kerajaan kecil tersebut hingga bisa masuk ke wilayah kekuasaannya yang besar. "Lio, buat kembali surat tawaran penggabungan kepada Kerajaan Shiewook segera. Aku ingin seluruh daratan Asia dan Eropa ada di dalam kendali Kerajaan Leonword," titah raja besar itu lebih tenang daripada sebelumnya. "Anakku, permintaanmu akan segera kukabulkan. Tunggu waktunya sebentar lagi." "Baik, Yang Mulia." Rapat besar usai, Raja Guan berdiri dari singgasananya dan meninggalkan aula kerajaan masih dengan mood yang tidak bagus. Pangeran Axeryeo sedikit kebingungan dengan sikap ayahnya yang sedikit tidak bagus. Untuk itulah, ia mendekat pada Penasihat Lio yang tahu segalanya selama rapat. "Apa yang terjadi?" tanyanya begitu tepat di hadapan lelaki tersebut. "Ayahanda Pangeran sedang marah karena ada kerajaan yang menolak tawaran penggabungan dengan kerajaan kita. Wilayah itu adalah Kerajaan Shiewook, tempat Pangeran meminta semua tanaman langka tadi. Sepertinya, jika kerajaan tersebut masih menolak, maka perang tidak bisa terhindarkan," jelas Penasihat Lio, merunduk dan masih gemetar dengan aura Raja Guan. Pangeran Axeryeo mengangguk paham, ia pun menjelaskan sesuatu. "Meskipun ada peperangan, kerajaan kecil itu tidak mudah dikalahkan. Mereka memiliki penyihir yang tersimpan di dalam menara istana. Hanya terlihat empat penyihir utama," kata pangeran muda itu membuat Penasihat Lio mengernyitkan kening, bingung. "Apakah Pangeran yakin?" Tatapan ingin memastikan, Penasihat Lio mencatat poin dasar tadi. "Lalu, bagaimana cara mengalahkan mereka dalam peperangan? Tidak mungkin seorang musuh tidak memiliki kelemahan. Mereka bukan Dewa Yang Agung atau malaikat." "Benar, tapi aku belum mengetahui apa kelemahannya. Ada yang pernah berkata bahwa kekuatan mereka adalah salah satu bakal kristal utama, yang selalu dibawa saat peperangan." "Kristal utama?" Penasihat Lio bingung. "Akan ku kabari lagi. Aku harus menyelesaikan tugas dan latihan pedangku," kata Pangeran Axeryeo lalu pergi dari aula dan meninggalkan sejumlah kebingungan kepada Penasihat Lio. Sepeninggalan pangeran, satu per satu orang ikut pergi dan kembali ke tempat mereka bekerja. Tersisa Penasihat Lio di dalam aula dengan beberapa buku dan catatan lain yang selalu dibawanya kemana-mana, entah di kerajaan maupun di rumahnya. Bekerja sebagai penasihat sudah menjadi suatu tanggung jawab penting baginya. Lio Amorz, dulunya ia hanya lah seorang penyair yang selalu menyampaikan pesan kebaikan dan kebenaran dalam setiap syairnya. Karena terpesona akan hal itu, Raja Guan mengangkatnya menjadi penasihat setelah penasihat lama meninggal karena sakit. Genap 10 tahun ia menjadi penasihat, baru tiga tahun belakangan sejak menaklukan kerajaan besar dari benua sebelah membuat Lio paham bahwa Raja Guan berubah menjadi manusia yang tamak dan sombong. Begitupun dengan rakyat Leonword, bangsawan kaya akan menjual barang berkualitas dengan harga selangit dan menyombongkannya pada bangsawan di tanah Amerika. Dikagumi sebagai negeri sempurna untuk tinggal dan mencari jati diri, tak ayal jika bibit-bibit kesombongan di negeri ini pun datang seiring berjalannya waktu. Termasuk pada raja mereka. Sejak menjadi sebuah kerajaan yang besar dan tampak disegani oleh hampir seluruh dunia, ambisi demi ambisi terus membesar dan menjadi bibit sombong yang menjadi kehancuran bangsa itu suatu hari nanti. "Aku akan menyiapkan surat untuk sekali lagi tawaran penggabungan kerajaan, pastikan surat tersebut dibaca oleh Yang Mulia Sian dari Kerajaan Shiewook," pesan Penasihat Lio pada kurir pengantar surat kerajaan mereka. "Baik, Penasihat Lio. Segera, saya akan sampaikan kepada Raja Sian mengenai hal tersebut," tunduk, kurir kerajaan mengangguk paham dan menunggu Penasihat Lio untuk menuliskan surat penawaran sekali lagi. Tidak butuh waktu lama bagi Penasihat Lio menuliskannya dengan rapi, ditambah dengan stempel singa khas milik kerajaannya yang tercap tepat di kertas tersebut. Kertas dilipat rapi, dimasukan ke dalam sebuah amplop dengan dekorasi formal. Setelahnya, kurir kerajaan sial mengantarkan surat tersebut. Harapan Penasihat Lio tak begitu besar, namun ia hanya bisa meminta kepada Dewa supaya kemarahan Raja Guan tidak semakin membesar. Firasatnya buruk. ⚔⚔⚔ Axeryeo berada di ruangan pribadinya---ada dibalik rak buku di dalam kamar. Tidak ada seorang pun diizinkan masuk ke sana sekali pun sang Ayah. Karena dia tahu, saat ini Raja Guan masih bisa menahan amarah ketika tahu bahwa putra mahkota lebih gemar meneliti tanaman langka dibandingkan bertarung di medan tempur atau sekadar adu pedang. Sejak kecil, tubuh Axeryeo memang lemah. Tangannya pun tidak mampu jika untuk mengangkat pedang kecil, lantas bagaimana bisa dia latihan bertarung jikalau demikian? Memang dia menjadi satu-satunya pewaris kerajaan ini setelah Permaisuri---ibu kandungnya---telah tiada sejak Axeryeo berusia 5 tahun. Para selir raja belum satu pun memiliki keturunan, karenanya Axer dianggap istimewa bagi sang raja. Sayang, hanya satu permasalahan kecil yang tengah hangat diperbincangkan menjelang pengangkatannya sebagai putra mahkota kala itu. Menurut kabar, Axeryeo sudah dikutuk karena kecerobohan sang ibu. Kutukan itu berbunyi, 'Jika anak dalam kandungan berjenis kelamin laki-laki, maka usianya tidak akan bisa genap 17 tahun', dan usia Axeryeo sudah 16 tahun 7 bulan lamanya. Dikatakan bahwa mendiang ratu telah membunuh seorang anak dari kalangan kuil, di mana anak tersebut akan menjadi seorang pejabat tinggi di kuil sana. Karena awalnya ia tak tahu jika sang anak alergi terhadap peach, ratu justru meminta sang anak meminumnya sampai habis hingga akhirnya tewas dan dikutuk oleh pendeta. Kutukan itu tidak dipercayai Raja Guan karena menurutnya hanyalah sebuah rumor belaka, bukan berasal dari apa yang didengarnya secara langsung. Buku besar milik Axeryeo dibuka, membaca kalimat pertama yang menjadi sebuah peringatan padanya. "Etz Kosh Vandre," artinya jika diterjemahkan dengan bahasa penduduk asli Leonword, itu berarti kematian seperti ludah yang dijilat. "Huh, lima bulan lagi...," gumam Axeryeo menutup buku besar tersebut lalu meletakkannya di tempat semula ia mengambil. "Aku tidak tahu apakah kutukan yang pendeta berikan padaku menjadi kenyataan. Maka, sebelum itu terjadi, mungkin aku bisa melakukan hal yang selama ini ingin Ayah lihat sebagai mana peranku menjadi putra mahkota dan pangeran di kerajaan ini." Di dekat tirai merah tua, Axeryeo berdiri dan menunduk tatkala ada cermin kecil yang tergeletak di atas lantai. Sebelumnya, ia yakin jika cermin itu ada di mejanya, lalu kenapa sekarang bisa ada di sana? "Cermin dengan pandang kabur." Benda berpantul itu ia kembali periksa secara baik-baik, memastikan bahwa mungkin saja itu tak sengaja terjatuh di sana dan ia lupa. Tetapi, ia masih merasa aneh karena jarak meja dengan tempat cermin itu terjatuh cukup jauh. "Oh, sial! Aku harus berlatih pedang dulu daripada memeriksa pekerjaanku di sini. Tubuhku sudah semakin kuat, dan aku yakin bahwa dengan sebelum ajalku tiba tak ada seorang pun yang akan menyakitiku selama aku belajar pedang." Axeryeo berjalan ke arah kamarnya, meninggalkan ruangan tersembunyi tersebut untuk bersiap berlatih pedang dengan pelatih andal kerajaan.   ⚔⚔⚔  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD