BAB 3 | AWAL SEBUAH KUTUKAN (pt. 2)

2532 Words
Sang putri menyentuh makam yang sudah dipermanenkan dengan hiasan keramik dan kristal milik kerajaan. Bunga yang sudah dibawa ia letakkan di atas makam, lalu Putri Ryusin berdoa untuk ketenangan arwah mendiang ratu. "Ibu, aku sudah berusia tujuh belas tahun. Aku merindukanmu, sangat. Sebentar lagi Yang Mulia Raja akan mengadakan pesta pertunangan Pangeran Javes dengan diriku. Aku memohon doa dan restumu agar yakin bahwa kelak pernikahanku akan diberikan kebahagiaan dan ketentraman." Masih dalam hati yang ditenangkan, Putri Ryusin meletakkan batu kristal yang dia bawa ke sebuah celah di makam ratu. Cahaya biru keluar tak lama setelah batu tersebut diletakkan.  "Kristal ini membawa kekuatan perdamaian, Ibu. Kerajaan kita sudah semakin berkembang. Kristal utama di pusat menara penyihir akan memberikan kekuatan pada penyihir kita. Selama ini belum ada kerajaan lain yang sanggup menaklukan kerajaan milik kita, jika itu terjadi maka akan terjadi...," "Tuan Putri," panggil salah satu pelayan disela Putri Ryusin sedang memohon doa, "maaf menyela anda. Tetapi, ada kemungkinan cuaca hari ini tidak mendukung untuk kembali ke kerajaan. Sebaiknya kita menginap di penginapan terdekat. Ada penginapan untuk kaum bangsawan di sekitar sini kalau tidak salah. Apakah anda berkenan jika menginap dan pulang esok hari?" Putri Ryusin mengangguk. "Tentu saja. Lama tidak ke mari. Ku dengar ada taman bunga tulip yang berada di sekitaran sini. Sebelum ke penginapan, aku ingin ke sana sebelum matahari terbenam," katanya dengan sebuah senyum anggun merekah di kedua sudut bibirnya yang tipis. "Kalian jangan terlalu lelah, aku juga tidak ingin kalian lelah karena perjalanan. Ayah pasti akan mengerti kalau aku belum kembali." "Baik, Tuan Putri." Pandangan sang putri kembali ke makam mendiang ibunya. "Ibu, berilah aku keberkatan. Berilah aku berkat agar bisa mendapatkan kebahagiaan dan juga kemakmuran kerajaan ini. Aamiin." Ia membungkuk di depan makam dalam waktu beberapa detik kemudian berdiri kembali. Mendengar sebuah informasi kecil yang sangat sayang dilewatkan, Argon tidak bisa menyembunyikan senyum di bibirnya. "Jadi itu kelemahan mereka, dan letak kelemahan itu dikaitkan dengan kekuatan penyihir. Hmm, menarik. Raja Guan harus tahu hal ini." Terpikir untuk segera memberitahu Raja Guan, Argon menuliskan sebuah surat berisi pesan singkat dan posisinya sekarang, dan pesan tersebut dikirim menggunakan burung elang. Dengan cepat kabar yang ia sampaikan tersebut sampai ke tangan Raja Guan. Dia senang mendengar tangan kanannya membawa berita daripada pengirim pesan yang mungkin akan membawa kemurkaan lebih daripada yang terpikirkan. Memang selain ingin mengakuisisi wilayah kerajaan, sangat penting baginya mengetahui kelemahan seorang musuh— walau itu hanyalah seorang musuh kecil yang mungkin terlihat tak ternilai. Karena ia tahu, Shiewook bukankah sembarang kerajaan kecil yang mudah ditaklukan hanya dengan iming-iming murahan, mereka sangat teguh terhadap pendirian mereka atas kerjaaan tersebut. Lalu, segera ia memerintahkan untuk dituliskan surat balasan kepada Argon. Elang yang tadi membawa pesan untuknya, kini terbang kembali ke sang pemilik. Tawa kencang mendominasi aula kerajaan dengan merinding. Diam diam, Axeryeo memiliki firasat buruk yang dilakukan oleh ayahnya kepada kerajaan Shiewook. Ia harus mencari tahu, dan melakukan penyamaran agar bisa keluar dari istana tanpa diketahui oleh siapapun. Ia mengambil jubah yang dimilikinya dan ia kenakan menutupi sebagian wajahnya, keluar melewati gerbang belakang yang tidak akan diketahui oleh siapapun. Rasa curiga pula yang begitu besar membuat dirinya yakin ini berkaitan erat dengan kerajaan sebelah, Kerajaan Shiewook. . . *** Suara tawa kencang mendominasi ruangan tersebut dari Raja Guan setelah membaca surat yang dikirimkan oleh Argon kepadanya. Segera setelah mengetahui hal tersebut, Raja Guan memerintahkan beberapa mata-mata lain untuk bisa pergi ke Kerajaan Shiewook. Tujuannya satu; mengambil kristal utama untuk melumpuhkan kekuatan utama musuhnya tersebut. Di samping itu, ia mungkin akan mengambil Bunga Teratai Malam sebagai hadiah untuk sang putra yang sangat menginginkan bunga tersebut sejak kemarin. Sebelum itu, Raja Guan begitu marah mendengar bahwa Kerajaan Shiewook menolak ikut bergabung dengan kerajaannya. Penasihat Lio dan Pangeran Axeryeo tak bisa berbuat apapun untuk bisa meredamkan kemarahan raja mereka. Namun, informasi dari Argon ini membuat ia melupakan segala kemarahan yang ia luapkan sebelumnya. "Bagus, Argon. Tidak sia-sia aku mengirimu ke sana secara diam-diam karena tidak mungkin memerintahkan kurir kerajaan untuk sekaligus memata-matai mereka," gumam Raja Guan mengelus jenggotnya yang tipis itu, bangga dengan bawahannya. "Pengawal!" panggil Raja Guan pada salah satu pengawal yang berjaga di depan. Pengawal tersebut bergerak cepat datang. "Siapkan kuda untukku. Aku akan pergi ke suatu tempat. Bila Axeryeo bertanya ke mana aku pergi, katakan padanya aku akan pergi membawakan bunga dan semua obat-obatam yang dia minta. Dia pasti akan senang bila ayahnya membawa hadiah yang dia inginkan, mengingat beberapa bulan lagi dia akan berulang tahun dan bersiap melakukan pengangkatan sebagai putra mahkota tunggal.." "Baik, Yang Mulia Raja." Pengawal tersebut mengangguk dengan tegasnya dan sesegera mungkin untuk melaksanakan perintah orang tertinggi di daratan Leonword tersebut. Kakinya berlari menuju kandang kuda untuk mencari kuda terbaik yang bisa ditunggangi oleh Raja Guan. Setelah apa yang Raja Guan minta sudah siap, beliau segera berangkat ke tempat di mana Argon berkata bahwa Putri Ryusin sedang berada dan berdiri. Meskipun ia pun tak yakin sang putri sudah ada di sana dalam waktu dekat. Namun, berdasarkan informasi Argon mengenai kekuatan penyihir dalam kereta kuda Putri Ryusin, bahwa benar adanya kekuatan yang di dalam kristal utama dan kekuatan penyihir yang menjadi ancaman besar baginya untuk menguasai kerajaan Shiewook dalam waktu dekat.  Sementara itu, Pangeran Axeryeo di dalam kerajaan memiliki firasat tidak bagus dengan apa yang dilakukan oleh ayahnya. Ia yakin, Raja Guan tidak pergi untuk mengambil Bunga Teratai Malam dan juga tanaman herbal lainnya yang ia minta setelah tadi siang mendengar penolakan Raja Sian mengenai penggabungan membuat beliau meluapkan amarah tanpa bisa dikendalikan. Ia paham betul bahwa penolakan adalah hal yang paling tidak diinginkan, sesuatu yang tidak benar dilakukan demi mencapai tujuannya. Dan secara mengejutkan, sekarang Raja Guan tiba-tiba mau pergi untuk membawa bunga yang Pangeran Axeryeo minta kemarin? Sejak kapan sang ayah tiba-tiba berubah menjadi lembut dalam waktu sekejap? Paling tidak butuh beberapa hari dan pengalihan masalah yang bisa membuat sang ayah beerubah. Terdengar suara burung gagak dari arah luar. Dari jendela kamarnya, ia melihat langit yang cerah berubah menjadi mendung. Sudah Pangeran Axeryeo duga, memang sesuatu yang buruk akan terjadi dalam waktu dekat disebabkan oleh sang ayah. Meskipun tidak baik menuduh seorang raja, Pangeran Axeryeo tetap bisa curiga. "Ayah ...," gumam Pangeran Axeryeo dengan pandangan khawatir ke arah langit. "kuharap anda tidak membuat sesuatu yang buruk pada bangsa Shiewook. Terutama pada putri kesayangan rakyat, Putri Ryusin." Tangan pangeran menjadi berkeringat. *** "Apa anda senang, Tuan Putri?" Pertanyaan yang dilontarkan oleh pelayannya membuat Putri Ryusin mengangguk kecil. Sebuah senyum bermekar selayaknya bunga tulip yang sedang bermekaran di sana.  Taman bunga tulip yang ditujunya begitu indah nan warna warni bunganya. Daunnya berwarna hijau segar, terlihat bahwa meskipun tidak ada yang merawat taman tersebut namun tanamannya tumbuh dengan baik tanpa dirusak oleh hama serangga atau hewan lainnya. Putri Ryusin mengambil beberapa tangkai bung tulip untuk dia bawa sebelum lanjut perjalanan ke penginapan bangsawan untuk dia berikan sebagian ke pemilik penginapan dan dia letakan di dalam kamarnya nanti. Kecantikan Putri Ryusin begitu alami dan menyatu dengan alam. Para pelayan dan pengawalnya saja terkagum dengan kecantikannya, sangat beruntung Pangeran Javes memiliki calon istri secantik dia dan tentunya sifat baik serta rendah hati Putri Ryusin sangat disukai oleh rakyat Shiewook. Hampir tidak ada seorang pun di kerajaan bisa membencinya. Dia terlalu baik, bahkan orang yang iri dengki pun pasti tidak bisa lama-lama untuk tidak menyukainya. Dia begitu polos, sifatnya yang sangat hangat mampu meluluhkan orang lain yang awalnya begitu dingin dan membencinya. Justru, banyak wanita yang menjadikannya sebagai panutan. Maka dari itu, Putri Ryusin mendapat julukan sebagai "Dewi Keagungan" di Shiewook. Seusai puas melihat-lihat dan membawa beberapa tangkai bunga tulip, rombongan Putri Ryusin lanjut menuju ke tempat mereka akan bermalam. Langit sudah berwarna lembahyung, sebentar lagi malam pun akan tiba. Sebelum itu terjadi, ia harus segera tiba di penginapan karena daerah yang sedang dilewatinya merupakan hutan lebat. Hanya menempuh beberapa kilo meter lagi menggunakan kereta kuda, maka ia akan segera sampai menuju ke penginapan. Dari jauh Argon masih membuntutinya dengan penyamaran sebagai pengembala. Mengenakan tudung yang sedikit lusuh guna menutupi penyamarannya, Argon senang karena ia tidak ketahuan. Ia juga membawa domba hasil mencuri dan membunuh pengembala aslinya di dekat hutan tadi. Dengan begini akan mudah lagi memberi tahu Raja Guan yang ia yakini sedang dalam perjalanan menuju ke mari. "Bersiaplah, Tuan Putri. Anda akan hancur," kata Argon dengan smirk di bibirnya di balik tudung yang dia kenakan. Ia masih berjalan dengan lamban di gerobak sembari ditarik oleh beberapa lembu dan di belakangnya ada domba yang dia angkut Setelah dengan menggunakan trik yang bisa ia gunakan, para pengawal dan pelayan sana tiba-tiba berhamburan entah kemana. Mereka tidak jelas merasakan kenapa tubuh mereka dibuat terhempas dan mengenai bebatuan sampai ada yang tersangkut di dahan pohon tertinggi dan tidak bisa turun dari pohon tersebut. Tubuh yang digerakan tanpa mereka minta menghantam dengan keras hingga sakit yang teramat sangat.  Sementara Putri Ryusin terkejut dengan kejadian itu melihat ke sekitaran, ia memegangi dadanya yang sesak karenanya. Pengawal dan pelayannya meminta tolong, namun ia tidak tahu bagaimana harus menolong mereka. Salah satu pelayan meminta putri untuk lari karena mereka menduga bahwa ini ulah seseorang dengan ilmu hitamnya. Sempat menolak, namun karena desakan dari pelayam setianya yang sudah sekarat membuat Putri Ryusin menuruti kata pelayannya dan berlari sambil mengangkat bagian bawah roknya.  Ternyata di belakangnya ia dikejar oleh sekawanan burung hitam yang datang dalam jumlah yang cukup banyak hingga dirinya terhadang dan tak bisa kemana-mana karena posisinya terkunci dan terjebak di tengah-tengah mereka yang membentuk seperti sebuah pusaran angin topan. Kemudian, ia justru digiring entah kemana, yang jelas ke tempat yang tidak mungkin dijangkau oleh penginapannya. Ia tidak bisa jalan itu, karena burung-burung ini tak memberikan kesempatan untuk melihat celah sedikitpun di malam yang gelap itu.  Setibanya di tempat akhir, burung-burung tadi terbang bebas. Tersisalah hanya ia dan Argon di sana. Sang putri ketakutan dengan hebat. Teriakan seolah tidak berguna disuarakan, pada akhirnya Argon lah yang mengeksekusinya. Tidak ada yang tahu bahwa ia pergi awalnya untuk mengunjungi makam ibundanya berakhir tragis seperti ini, di tangan mata-mata musuh kerajaan. Air mata yang lolos juga tidak berguna di mata Argon, ia hanya tertawa saat berhasil menghancurkan harta berharga dari Kerajaan Shiewook. Raja pasti bangga dengannya karena tugas yang ia laksanakan lebih dari yang diharapkan sebelumnya. Langit pun ikut marah, mengeluarkan gemuruh dasyatnya. Mendung dan suhu tiba-tiba menurun secara drastis saat itu juga. Argon pikir cuaca memang sedang tidak bagus kala itu, namun ternyata... ia salah. Dewa ikut marah, ikut melampiaskan kekesalannya terhadap kebengisan Argon dengan mendatangkan hujan deras. Di sisi lain, Axeryeo tahu bahwa memang hal buruk telah terjadi hari itu. Kabur dari kerajaan memang hal yang tepat tanpa memberitahu sang ayah, ia mempercepat gerakannya untuk tiba lebih awal, mengikuti jejak yang ia tafsirkan benar ke arah yang ia yakini menjadi tempat terburuk kejadian itu berlangsung. Keningnya mengernyit. Hanya tertuju pada wilayah kosong dan gelap saja burung milik Argon terbang menuju ke pemiliknya. Burung pembawa pesan yang belum ia ketahui. Sang ayah— Raja Guan— untungnya belum berada di sana sehingga Axeryeo lah yang masuk duluan ke dalam sebuah gua. Gua gelap yang memiliki tetesan air yang dingin. Di pertengahan musim semi ini mengapa air di sana terasa dingin? Tidak hanya itu, ia tak menyangka suhu di dalam sana mendadak sedingin es, sama sekali tidak ada es di sana padahal. Lalu, hanya suara tangisan setelah ia melangkah beberapa langkah ke dalam gua tersebut dari seseorang— suara wanita yang mungkin sangatlah asing di telinganya, namun itu adalah tangisan kekecewaan. Axeryeo segera berlari menuju ke dalam dengan kaki-kakinya dan menyalakan penerangan karena dalam gua sangatlah gelap gulita saat ini. Rahang Axeryeo mengeras, ia membeku seketika tatkala melihat pemandangan di depannya sungguh membuatnya ingin ikut menangis. Apalagi saat pandangannya beradu pada Argon yang mulai sadar karena terlalu fokus membuat strategi selanjutnya oleh kedatangan dari pangeran kerajaannya sendiri. Bersama dengan Putri Ryusin yang tengah menutupi sebagian tubuhnya dengan baju sisa yang usai dirobek-robek oleh Argon. "Apa ini alasan mengapa ayah tertawa kencang tadi saat menerima sebuah surat, begitu?" Untuk menelan salivanya saja, Axeryeo tidak mampu karena ini terlalu membuatnya shock. "Bagaimana bisa kalian selicik ini? Bahkan, jika dibandingkan menghancurkan kerajaan yang kalian incar, lebih baik terjadi perang daripada berbuat licik." Tidak habis pikir bagi Axeryeo, di kerajaannya ia mati-matian ingin menjadi seorang pangeran hebat setidaknya sebelum ajal dalam kutukan yang ada pada dirinya turun. Namun, sialannya malah Raja Guan ternyata sekotor ini hanya karena sebuah wilayah tak mau bergabung dengan Leonword. Padahal, wilayah Leonword sudah seluas itu, jika memang ada yang tidak mau bergabung ya tidak apa-apa, kan? Lagipula, Leonword sudah maju, orang-orang pun berpikir bahwa perluasan wìlayah biasanya untuk kepentingan birokrasi dan pertukaran hasil panen terbaik mereka di sana. "Putri Ryusin....," Kali ini pandangannya teralihkan pada sosok tersebut. Ia mendekat namun justru sang putri menjauhinya, takut berlebih pada laki-laki setelah dinodai. "Maaf, maafkan atas semua ini. Kamu bisa membunuhku jika memang semua ini terlalu membuatmu takut dan hancur. Noda yang anda dapatkan pasti akan sulit hilang nantinya. Bunuh aku! Jika itu pantas menjadi sebuah penebus dosa atas apa yang dilakùkan olehnya dan oleh ayahku juga. " "Pangeran! Anda akan menjadi pewaris tahta satu-satunya di kerajaan. Bagaimana bisa anda menyerahkan nyawa hanya untuk seorang wanita yang pasti tidak akan laku lagi," sanggah Argon tidak percaya bahwa pangeran kerajaannya mau repot menyerahkan nyawa pada putri dari kerajaan kecil yang sudah tidak ada harga dirinya lagi di mata Argon. "Kau bahkan tidak tahu rahasiaku, Argon. Daripada aku hidup, bukankah jauh lebih baik mati kan? Impas, bahkan memang seharusnya waktu kematianku sudah dekat," kata Axeryeo memalingkan wajahnya ke samping. Ia belum bisa melanjutkan setelah suara kuda datang. Itu pasti Raja Guan. "Apa aku juga perlu menjelaskan alasan aku tahu kematianku? Mendiang ibuku satu-satunya yang tahu selain mengapa aku akan mati dengan cepat sebelum waktunya naik tahta. Karena memang dari awal, aku tidak ditakdirkan menjadi raja di Kerajaan Leonword kelak." Axeryeo berbalik, ia mematikan penerangannya dan berjalan keluar untuk mengejutkan sang ayah, Raja Guan. Ia datang dengan raut tak bisa terdefinisikan, hanya kekecewaan yang menyelimuti dirinya saat ini. Rasa bersalah pada Putri Ryusin, padahal Axeryeo yakin bahwa dua kerajaan bisa menjadi sahabat jika melalui jalan damai ketimbang harus akuisisi wilayahnya yang justru penolakan bisa menimbulkan datangnya perang besar. Kalau sudah seperti ini, bukan hanya perang saja yang akan timbul, namun hal lain juga. Dan perlahan-lahan wajah Axeryeo yang nampak muncul setelah cahaya dari luar meneranginya. Sebuah wajah yang sama sekali tak tertuga oleh Raja Guan di sana. Wajah yang sudah berisi dengan air hujan yang sedari tadi menetes dan menyerangnya. "Axer? Apa yang kau lakukan di sini?" Axeryeo tersenyum, tipis. "Salam, Ayah-- ah, tidak. Maksudku, salam Raja Guan. Selamat datang untuk melihat apa yang sudah kau hancurkan. Aku, Axeryeo di sini datang bukan sebagai pangeran atau anakmu, aku datang sebagai manusia yang terlambat menyelamatkan seseorang dari kehancuran yang kau lakukan padanya. Salam, aku hanya ingin mengatakan bahwa sebuah kepercumaan karena sesungguhnya aku pun tidak akan bisa naik tahta sebelum waktunya tiba." "Pangeran Axer, apa yang kau bicarakan? Pasti kau hanyalah bergurau saja, kau pasti akan naik tahta. Satu-satunya perwarisku hanyalah dirimu!" "Maafkan saya, Raja Guan. Tapi memang Dewa lah yang berkata bahwa aku tidak akan bisa menaiki tahta sebelum waktunya. Kelak, kau akan memiliki keturunan lagi dengan wanita lain, namun bukan dari keturunan sesama kerajaan." "Kenapa?" "Aku dikutuk, tidak bisa hidup lebih lama lagi."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD