…
Revan menguap lebar sambil memegang sutil. Ia rela menahan kantuk demi Nadia.
Nadia menyeretnya paksa, saat ia sedang enak-enaknya tidur.
Nadia memaksanya untuk membuatkan sarapan untuknya.
"Cuma lo doang yang berani gini sama gue, Bad…"
"Ih, ya karena cuma lo aja yang peduli sama gue, Kak…" ucap Nadia sambil bermain ponsel. Ia duduk sambil menaikkan kakinya ke atas meja.
Revan menggelengkan kepalanya, menatap Nadia dengan heran.
"Lo itu cewek, Nadia…"
Nadia menatap Revan sekilas dan kembali bermain ponsel.
"Yang bilang gue cowok siapa, Kak?"
"Astaga, lo kok bener-bener ngeselin sih?"
"Nggak kok, emang kenapa sih? Lo nggak ikhlas buatin gue makan?" tanya Nadia menatap serius pada Revan.
"Eh, ikhlas kok… ini, buktinya gue udah lagi buatin lo makanan,"
"Bagus, lanjutkan…"
"Sialan!"
"Kak, Lo nggak kuliah?"
"Nggak ada jadwal. Kok lo nggak sekolah?"
"Gue hapus jadwal,"
"Anak kurang ajar Lo,"
Nadia pun terkekeh.
"Lagian, gue nggak semangat buat sekolah…"
"Terus, mau lo apa?"
"Gue nggak tau, Kak… Lo kan tau sendiri, gimana orang tua gue,"
Revan pun mengangguk pelan dan mulai menata nasi goreng untuk Nadia dan dirinya.
"Kak,"
"Apa?" jawab Revan sambil memberikan sepiring nasi goreng pada Nadia.
"Thanks…"
"Hm," Revan pun ikut duduk dan mulai sarapan bersama dengan Nadia.
"Kenapa?" tanya Revan menyuapkan nasi ke dalam mulutnya.
"Kwenwalwin gue kwe twemwen lwo ywang gwantwemg dwong," ucap Nadia sambil mengunyah nasi.
"Telen dulu, baru ngomong… dasar bocah!"
Nadia menelan nasi yang sudah ia kunyah, kemudian memamerkan sederet giginya pada Revan.
"Kenalin gue ke temen lo yang ganteng dong,"
"Apaan?"
"Lo budeg, kak?"
"Gue takut gue salah denger, lagian buat apa sih?"
"Ya gue kan pengen punya pacar, Kak."
"Alah, nggak usah pacar-pacaran deh… temen gue setan semua,"
"Hah?" Nadia melongo mendengar jawaban Revan.
Revan terlihat santai sambil terus makan.
"Lo beneran temenan sama setan, kak?"
Uhuk uhukkk
Revan tersedak, ia ingin sekali menendang b****g Nadia.
Bisa-bisanya, ia berpikir jika Revan berteman dengan setan beneran.
"Ya kagak lah, Nadia! Maksud gue,.kelakuan mereka kayak setan semua," jawab Revan dengan geram.
"Oh,"
Speechless, hanya kata 'oh' yang keluar dari mulut Nadia.
"Gue juga nggak baik kali, nggak apa-apa… kenalin dong,"
"Ck, yakin?"
"Iya, ya buat temenan aja juga kan nggak apa-apa?"
"Oke, siang ini lo ikut gue deh,"
"Hm, kemana dulu?"
"Gue mau ngumpul di Ceres Cafe,"
"Traktir gue kan?"
"Kok lo gitu, Nad? Udah maksa eh nambah ngerepotin lagi," ucap Revan mendengus kesal.
Nadia hanya terkekeh tak peduli dengan ucapan Revan.
Baginya, Revan itu adalah orang penting dan sangat penting. Revan peduli padanya dan Revan juga selalu ada waktu untuknya.
"Lo cuci piring tuh, kalau udah selesai…"
"Iya deh, gue ngalah…" jawab Nadia dengan wajah yang dibuat sedih.
"Ngalah apaan, ha? Gue yang ngalah terus buat lo,"
Nadia terkekeh lagi melihat Revan kesal.
"Kak,"
"Apa lagi?" jawab Revan kesal.
"Lo ganteng banget sih,"
"Lo baru nyadar?" tanya Revan menatap Nadia dengan mata memicing.
"Dari dulu sih, tapi… ya gue makin sadar, pas lo masak. Lo ganteng banget,"
"Mau apa lo, sampai muji-muji gue?" tanya Revan dengan curiga.
Nadia pun terkekeh.
"Kita buat anak yang lucu-lucu yuk?"
TAkkkk
Revan menyentil kening Nadia.
"Omongan lo di jaga, Nadia…" Revan tak habis pikir, mengapa Nadia bisa sefrontal ini padanya.
Nadia pun cengengesan.
"Ya, kan biar kita punya anak yang ganteng-ganteng terus cantik, Kak…"
"Ngawur lo, jangan begini ke orang lain, Nadia…"
"Kenapa kalau ke orang lain?"
"Lo nggak paham?" tanya Revan yang kembali dibuat speechless oleh Nadia.
Nadia hanya menggelengkan kepalanya polos.
"Bego!" umpat Revan pada Nadia.
"Kok lo ngatain gue bego, kak?"
"Kalau lo ngajak gitu ke cowok lain, yang ada lo beneran di buat hamil sama dia, ngerti nggak lo?"
Nadia mengangkat kedua bahunya acuh, ia tak peduli dengan ucapan Revan.
Membuat Revan semakin geram dan menjewer gemas telingat Nadia.
"Aahh, ah, ah…"
"Apaan sih lo, malah desah segala!"
"Gue kesakitan bego, bukan lagi desah…" jawab Nadia sambil mengusap telinganya yang panas karena jeweran Revan.
"Huh," Revan mendengus kesal.
"Mandi lo,"
"Lo mau ikut?"
"Ayo," tantang Nadia berdiri.
"Nggak!" Teriak Revan yang ngacir ke kamar mandi, sedangkan Nadia hanya terbahak melihatnya.
Jika kalian pikir Nadia nakal, tapi polos… tentu saja tidak. Dia tau segalanya, bahkan dia tau dunia malam karena ia sering pergi ke club malam.
Namun, Nadia hanya sebatas menyentuh minuman, itu pun dengan kadar alkohol yang rendah dan juga merokok.
…
"Pa, Nadia bolos sekolah…" keluh Hera pada Hexa. Hexa terlihat menghela napas dalam, ia menghampiri Hera dan mengusap pucuk kepalanya dengan sayang.
"Nggak apa-apa, Ma. Selagi dia masih bisa membatasi diri, nggak sampai ke pergaulan bebas nggak apa-apa,"
"Tapi, Pa… Nadia itu sering ke club malam, itu udah masuk ke dalam pergaulan bebas."
"Papa bakal ngomong ke dia, Ma. Mama tenang ya, sekarang mama harus istirahat. Jangan banyak pikiran, semua itu biar Papa yang urus…" ujar Hexa dengan lembut.
"Makasih ya, La… papa sabar banget jadi suami dan sosok ayah untuk Nadia,"
"Kamu jauh lebih hebat, sayang."
"Semoga kita sabar menjalani ini semua ya, Pa…"
"Iya, Sayang…"
"Kalau Papa udah nggak sanggup sama mama, Papa bol --- " ucapan Hera terhenti saat Hexa menaruh jari telunjuknya disana.
"Jangan ngomong sembarangan, meskipun kamu cerewet, papa tetep sayang sama kamu, Ma…" jawab Hexa sambil terkekeh.
Hera hanya cemberut, merasa kesal dengan ejekan suaminya.
…
"Ces, Nadia sama Ernest mana?" tanya Nabila pada Inces.
"Huh, iyey di hubungi sulit banget kayak tinggal di hutan bareng Tarzan,"
"Ya, sory… kan lo tau sendiri, gue sibuk.." jawab Nabila dengan wajah sedih.
Inces hanya melebarkan kipas tangan dan mulai mengibaskan ya di depan wajah dengan gaya kemayu.
"Eyke heran sama iyey, emang iyey sibuk ngurusin apa?"
"Duh, sibuk ngurusin masalah jodoh, Ces…"
"Haish, jodoh lo masih lama, Nabila!" suara Inces berubah menjadi Laki.
Nabila pun berjengit kaget saat mendengar suara laki Inces.
"Suara lo sexy banget, Ces."
"Alasan kau, Mardiah!"
"Dih, gue serius… kenapa sih, lo nggak normal aja?"
"Ah, eyke bisa jadi laki-laki and bisa juga jadi lunglai, Nabila…"
"Ces, gue serius mau tanya sama lo," ucap Nabila dengan wajah serius menatap Inces.
"Yey, muka lo serius banget, Nabila…"
"Ces, lo kalau hari Jum'at, ikut sholat Jum'at nggak?"
Inces atau Roby terlihat menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dan lagi-lagi menyelipkan tangannya ke daun telinga seakan ia sedang menyelipkan rambut.
…
Bersambung...