Bab 5

1088 Words
… Pagi ini Nadia sudah siap dengan seragam sekolahnya. Ia berjalan keluar kamar dan turun tangga. "Nadia," langkah Nadia terhenti saat mendengar wanita yang melahirkannya memanggil. "Oh, aku pikir nggak ada orang disini," jawab Nadia dengan sinis. "Maaf ya, Sayang. Mama dan Papa sibuk," "Ngapain minta maaf? Kan udah biasa," Nadia sibuk berdiri sambil bersandar di ujung tangga. Terlihat sang mama menghela nafas dalam. "Sarapan dulu, Sayang. Kamu mau sekolah kan?" "Nggak deh, mama sama papa aja sarapan. Aku udah biasa hidup mandiri tuh," Nadia lalu melangkah lagi, meninggalkan sang mama yang terduduk sambil meneteskan air matanya. Tak lama kemudian, sang suami mendekatinya. "Sayang, jangan sedih… Nadia sayang kita kok," "Tapi dia udah benci banhet sama kita, Pa…" "Mama kejauhan mikirnya, ayo sarapan… ma," … Nadia pun mencoba menghubungi Ernest, tetapi tak ada jawaban darinya. "Ck, kampret emang itu anak… udah mau di coret dari KK persahabatan kayaknya," dumel Nadia karena tak kunjung mendapat jawaban dari Ernest. Ia pun mencoba beralih menghubungi Nabila dan Nabila pun menjawab panggilan darinya. "Huh, akhirnya lo angkat juga…" "Loh, kan lo baru telepon gue, ya gue angkat dong…" ucap Nabila di seberang sana. "Dih, Si Ernest tuh ngeselin, nggak mau jawab telepon gue," "Lah, lo kayak nggak tau dia aja… dia kan sok sibuk," "Oh ya benar juga, kan dia sibuk jadi kutu buku," "Lagian ada apaan sih, kok telepon jam segini?" "Hehe, ijinin gue dong… gue mau bolos nih," ucap Nadia pada Nabila. "Dih, gue aja nggak berangkat sekolah, Nad," "Lah, emang lo mau kemana?" "Gue sibuk dong, ke Bandung. Ada acara keluarga," "Duh, kok lo nggak bilang-bilang?" "Itu dadakan, Sayang…" "Coba aja lo bilang, mungkin gue bakalan ikut lo ke Bandung." "Ah, udah lah… gue mau berangkat nih, lo hubungi inces aja. Gue tadi minta tolong ke dia kok," "Duh, ya udah deh. Lo ati-ati disana, kabarin gue kalau lo punya kenalan ganteng," ucap Nadia terkekeh lalu mematikan sambungannya. Nadia pun mencoba untuk menghubungi Inces dan benar saja, Inces langsung menjawab panggilan darinya. "Halo, dengan Inces disini, apa ada yang bisa Inces banting?" ucap Inces dengan nada kemayu dan gemulai. Nadia pun terkekeh mendengar ucapan Inces. "Eh, Rob…" "Heh, jangan panggil gue Roby!" jawab Inces versi laki-laki pada Nadia, Nadia tergelak mendengar kemarahan Inces(Roby). "Iya deh, Inces… minta tolong dong," "Eh, iyey mau minta tolong apa sama eyke?" "Ces, ijinin gue dong… gue mau bolos," "What? Ih nggak asik deh, iyey sama Nabila nggak berangkat. Terus eyke dibiarkan berdua dengan Ernest?" "Ya kayak biasanya, gue mau kabur. Mau nenangin diri," "Ah, iyey nggak ada tenangnya. Ya sudah, nanti eyke sampaikan ke Bu Janda," "Yuhu, makasih Inces. Love you," "Ih, najis… pacar eyke So Lee hin ya," Inces terbahak dan mematikan sambungannya dengan Inces. Hari ini, ia tak membawa motor ataupun mobil. Ia akan pergi ke tempat seseorang yang selama ini selalu ada untuknya. Seseorang yang selalu menemani Nadia sejak kecil, ya bisa dibilang dia seperti sosok kakak untuk Nadia. Nadia menaiki taksi online yang ia pesan. "Sesuai aplikasi ya, Neng?" tanya sulit taksi pada Nadia. "Iya, Pak…" "Neng, bolos sekolah ya?" "Nggak bolos kok, Pak. Ijin," "Lah, kok ijin?" "Iya, Pak…" "Kok begitu, Neng?" "Ya karena begitu, Pak…" jawab Nadia yang membuat sopir taksi merasa bingung. Padahal, Nadia terlihat santai sambil melihat pinggiran jalan. "Neng, mau pacaran ya?" "Pak, mau pacaran atau nggak nya, Bapak itu sopir taksi. Jangan banyak mengorek privasi orang," jawab Nadia yang agak kesal dengan sopir taksi. "Eh, iya… maaf, Neng. Saya cuma kasihan aja sama orang tua, Neng. Yang sudah repot bayarin sekolah, kerja buat Neng biar Neng bisa sekolah," "Pak, orang tua saya itu nggak begitu. Udahlah, di ceritain juga kayaknya nggak patut, Pak…" ucap Nadia pada sopir lagi. "Ya udah, Neng. Yang penting selalu sabar ya, kalau hadapi masalah. Jangan putus asa," "Iya, Pak. Makasih nasihatnya," "Neng, udah sampai…" ucap sopir pada Nadia, taksi itu berhenti di depan gedung apartemen mewah. "Oke, Pak. Hati-hati dijalan," ucap Nadia sambil memberikan dua lembar merah pada sopir taksi," "Neng, uangnya kebanyakan…" "Nggak apa-apa, itu buat Bapak beli sarapan," "Tapi, Neng --- " "Pak, mau di tolak atau saya nggak bayar sama sekali?" ucap Nadia dengan nada ancaman. "Eh, iya, iya, Neng… makasih banyak, Neng." "Oke, Pak…" Nadia pun berjalan masuk ke dalam gedung apartemen, ia bertemu dengan satpam muda yang memang sudah ia kenali. "Pagi, Mas Dana…" "Pagi, Nadia… mau ketemu Mas Revan ya?" Nadia pun mengangguk sambil tersenyum ramah. "Dia ada kan, Mas?" "Sepertinya ada, saya belum ada lihat dia keluar dari tadi," "Oke, saya ke atas ya, Mas. Permisi," ucap Nadia pada Mas Dana atau satpam Muda di gedung apartemen elit tempat teman kecil Nadia berada. "Iya, Nadia…" jawab Dana, ia menatap punggung Nadia yang mulai tak terlihat. Ia dan Nadia sering ngobrol bersama, jika Revan tak ada di apartemennya. Nadia pun termasuk golongan anak gadis yang mudah bergaul, wajahnya cantik dan imut. Hanya saja, dia gadis yang ketus dan judes jika ada yang mengganggu. Nadia masuk ke dalam apartemen tanpa permisi, karena ia sudah tahu pin pintu masuk. Ia melempar sepatu dan tas ke sembarang arah. Ia masuk ke dalam kamar dimana Revan masih tertidur. Nadia pun berjalan mendekati ranjang dan menelusupkan tubuhnya dalam pelukan Revan. "Arghhh…" Revan menggeram marah, karena tidurnya terganggu. "Nadia!" ucapnya dengan suara khas bangun tidur. "Udah diem, gue mau tidur juga," "Ganggu banget sih," "Kak," "Hm," jawab Revan dengan mata yang masih terpejam. "Buatin gue sarapan ya, nanti?" "Iya, tapi gue masih ngantuk, mau tidur dulu…" "Tiga puluh menit," "Satu jam," "Ih keburu gue mati kelaparan, Kak…" "Nggak bakal gue biarin lo mati, udah diem… gue masih ngantuk, Nadia!" "Iya, iya…" Revan memeluk erat pinggang Nadia. "Nyaman banget sih disini," "Lo nggak malu apa, gue laki-laki normal, Nadia…" "Ya gue tau, lo normal…" "Lo nggak takut, gue lakuin sesuatu ke lo?" tanya Revan dengan mata masih terpejam. "Nggak! Gue yakin, lo nggak sejahat itu," "Hm, tidur…" ucap Revan singkat. Ia mempererat pelukannya di tubuh Nadia. "Makasih ya, kak…" "Hm," jawab Revan dengan gumaman, sepertinya ia sudah berlanjut sampai ke alam mimpinya. Nadia merasa tenang dan nyaman saat bersama dengan Revan. Ia merasa dipedulikan dan juga disayangi. Ia sering mencari ketenangan di apartemen ini, karena Revan pun memperlakukannya dengan baik. … Bersambung...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD