"Abang kenapa gak bilang terus terang sama Mama soal abang di skors dari kerjaan selama sebulan karena masalah sama Nadia?" tanya Rio saat mereka tengah menikmati makan siang.
Hari itu menurut dokter kondisi Mama mereka sudah membaik dan kemungkinan besok bisa dibawa pulang ke rumah. Mereka cukup senang dengan hal itu dan Gery juga bisa kembali ke ibu kota jika kondisi mamanya sudah stabil.
"Aku takut Yo, aku merasa kasihan kalau Mama tahu itu kondisinya bakalan memburuk lagi, apalagi kan kamu tahu kata dokter tadi Mama besok sudah boleh pulang," ujar Gery saat ini dengan wajah sendunya.
"Iya, betul juga kata Abang tapi Mama juga harusnya tahu bahwa calon menantunya itu perempuan nakal, jangan tiba-tiba nanti saat abang sudah menikahi Nadia Mama baru tahu."
"Mama gak bakalan tahu dan gak akan tahu. Tugas Abang buat gimana caranya Nadia berubah, itu juga yang orangtuanya inginkan, jadi pas nikah nanti Nadia harus sudah berubah menjadi lebih baik," ujar Gery. "Emang kelihatannya susah apalagi mengingat kalau Nadia begitu nakal, tapi kalau belum mencoba kan kita gak tahu hasilnya."
"Terserah abang aja gimana baiknya, yang pasti aku tetap mendukung dan cepetan nikahin dia, aku mau ngurus kantor cabang biar kantor pusat Abang yang ngurusin," kata Rio pada Gery. "Kantor ini harus punya cabang biar lebih berkembang, apalagi aku juga ada urusan di kota tempat Dinda."
"Ngurus apa?" tanya Gery.
"Masalah harta warisan keluarga Dinda, Om sama Tantenya berusaha ngambil itu, padahal jelas-jelas itu milik Dinda yang sudah diberikan orangtuanya."
Kemduian Rio bercerita tentang Dinda dan apa yang terjadi pada harta warisannya, sebenernya Dinda mengatakan bahwa ia ikhlas dengan semua itu, tapi Rio bersikeras bahwa itu miliknya. Bukan ia gila harta tapi itu hak milik Nadia yang tak boleh orang mana pun mengambilnya, karena di dalam surat waris sudsh tercantum namanya.
"Jadi aku mau ngurus itu," kata Rio mengakhiri ceritanya tentang harta warisan milik Dinda. Dinda menyerah semua hal itu pada Rio, biar Rio yang mengurusnya.
"Berarti kamu yang ngurus semua itu?"
"Iya, aku ngurus semua itu. Setelah urusannya selesai niatnya harta warisan itu buat membesarin kantor cabang nanti."
Pembicaraan mereka terus berlanjut sampai satu jam lebih, setelah itu mereka pun memutuskan untuk kembali ke rumah sakit.
Tak berapa lama mereka pun sampai di rumah sakit, di sana ada Mama mereka dan Dinda istri dari Rio.
"Ma, gimana badannya?" tanya Gery pada sang Mama.
"Badan Mama udah enakan, kapan kata dokter Mama sudah boleh pulang?"
"Paling cepat besok, Ma. Jangan buru-buru lah, di sini Mama kan juga diobati dengan baik," kata Rio.
"Mama sudah bosen di rumah sakit terus, Mama pengen pulang istirahat di rumah aja cukup."
"Tapi, Mama di rumah kan pasti ada aja yang dikerjakan nanti tenaga Mama terkutas dan Mama bisa sakit lagi," ujar Rio.
"Enggak apa-apa dari pada Mama di rumah sakit malah semakin sakit dan gak sembuh nanti. Mama kan rutin chekup dan minum sesuai anjuran dari keterangan yang diberikan dokter."
"Iya-iya, Ma. Ngerti kok, besok ya Mama pulangnya, sekarang di sini dulu. Boleh Mama berkebun ataupun jalan-jalan asal jangan capek," kata Gery.
Setelah itu Rio dan Dinda memutuskan untuk pulang ke rumah sedangkan Gery masih berada di sana, ia sedikit mengemas barang milik sang Mama agar besok tak terburu-buru jika harus pulang.
"Mama beneran udah sehat, kan?" Begitu tanya sang Mama pada Gery. Entah kenapa sang Mama malah ragu sendiri.
"Mama ngerasanya gimana?" tanya balik Gery.
"Badan Mama sudah agak enteng sih, gak kayak kemarin-kemarin."
"Berarti badan Mama sudah sehat, dokter juga bilang gitu kok tadi sama Gery, besok Mama beneran bisa pulang ke rumah."
"Mama takutnya Mama belum sehat sepenuhnya, karena Mama takut kalau sakit nanti Rio sama Dinda yang bakalan kerepotan, apalagi kamu jauh."
"Mama gak usah mikir begitu, Rio dan Dinda gak bakalan kerepotan ngurus Mama, kan itu kewajiban mereka sebagai seorang anak, Dinda juga katanya gak keberatan kok, Ma. Jadi Mama tenang aja, ya." Sang Mama mengangguk. "Yaudah Mama istirahat dulu gih, tidur. Biar besok makin sehat."
Mendengar ucapan Gery itu sang Mama pun memutuskan untuk tidur. Setelah sang Mama tidur Gery pun keluar dari sana untuk mencari kopi dan memenangkan dirinya meksipun saat ini pikirannya tidak sedang kacau, tapi ia harus mengistirahatkan otaknya sendiri dari banyak hal yang terjadi, baik masalah kesehatan mamanya maupun tentang Nadia.
Tak berapa lama ia pun sampai di kantin rumah sakit dan memesan kopi. Sambil menikmati kopi ia pun bermain ponsel, saat itu ia melihat bahwa Nadia mengunggah beberapa foto di akun sosial medianya, sepertinya Nadia baru saja pulang dari liburan selama ia di skors.
Sepertinya ia begitu menikmatinya sampai tak ingat bahwa skors itu adalah teguran dari sikap nakalnya, tapi jika diingat apa yang terjadi pada Nadia adalah kesalahan Gery sendiri. Jika malam itu ia tak mengajak Nadia untuk berjalan-jalan pasti Nadia tak akan masuk ke dalam masalah yang lebih rumit ini, sampai-sampai ia harus diskors satu minggu. Apalagi Gery tak bisa membantunya.
Kemarin orangtuanya Nadia sempat menghubunginya dan menanyakan keberadaan Nadia, ia sendiri yang tak tahu bahwa Nadia tak ada di rumah menjadi bingung dengan pertanyaan itu, kemudian menjawab bahwa dirinya sedang berada di luar kota.
Orangtuanya Nadia tahu bahwa Nadia diskors satu minggu sedangkan dirinya satu bulan akibat mereka yang berjalan bersama. Bukan marah, tapi orangtuanya Nadia malah senang karena hubungan Gery dan Nadia perlahan sudah mulai terjalin dengan baiknya.
Itu adalah satu hal baik, perlahan tapi pasti agar suatu saat Nadia tak terkejut dengan jika mengetahui bahwa mereka dijodohkan karena satu dan lain hal yang sulit dijelaskan.
Gery sempat menghubungi Nadia tapi chatnya tak ada balasan dan panggilannya tak tersambung, tapi setelah tersambung Nadia hanya membacanya, mungkin tak ada alasan untuk membuatnya menjawab hal sepribadi itu. Lagi pula bagi Nadia ia bukan siapa-siapa, untuk apa harus tahu, mesipun ia seorang guru di sekolah tempat ia belajar, bukan berarti harus ikut campur dengan kehidupannya.
Gery juga tak bisa memasakkan apa yang terjadi, biarkan nanti Nadia tahu dengan berjalannya waktu, jika dipaksakan ia malah akan merasa tak nyaman dengan semua perlakukan dari Gery. Gery sendiri ingin Nadia mencintainya sesuatu apa yang ia mau bukan paksaan.
Lagi pula sebenarnya Gery sendiri belum yakin bahwa ia juga menyukai Nadia, karena selama ini ia tak merasakan hal itu. Ia hanya tahu bahwa ia dijodohkan, itu saja tak lebih.
Setelah memikir hal itu cukup lama akhirnya Gery memutuskan untuk kembali ke kamar sang mama untuk menjaganya.
Keesokan paginya sang mama sudah diperbolehkan dokter untuk pulang, dengan pesan bahwa harus rutin memeriksa diri ke rumah sakit.