Bab 27

1027 Words
Setelah sang mama dibolehkan pulang oleh dokter di rumah sakit, Gery pun memutuskan untuk kembali ke ibu kota agar sang mama tak curiga karena ia tak mengajar begitu lama, jika sampai sang mama curiga ia tak tahu harus mengatakan apa untuk berbohong apalagi ia orang yang tak tegaan untuk membohongi sang mama. "Gery pamit dulu, Ma," ucap Gery sambil berjalan menuju mobilnya. Kemudian ia melambaikan tangan pada sang mama, Rio dan juga Dinda, setelah mendapat sambutan laimbaian tangan Gery pun meninggalkan area rumah sang mama menuju ibu kota. Ia sedang tak terburu-buru, maka dari itu ia membawa mobil dengan santai, tak ada lagi yang sedang ia kejar. Dalam perjalanan pulang ia sempat khawatir dengan kondisi sang mama tapi bagaimana pun ia harus kembali ke ibu kota untuk bekerja dan juga menjaga calon istrinya nanti, jika ia tak melakukan itu maka tak ada alasan untuknya nanti menjadi hubungn lebih serius pada Nadia. Perjalanan panjangnya ditempuh beberapa jam lebih lama dari saat ia berangkat, ia tak mempermasalahkan kan hal itu. Lagi pula nanti di ibu kota ia mungkin hanya akan terus berbaring dan bermain ponsel karena jadwal masuknya mengajar kembali juga masih lama. Saat dalam perjalanan itu tiba-tiba saja ponselnya berbunyi, satu pesan masuk dari seseorang. Ia sempat membukanya dan membawa mobilnya sedikit menepi. Ternyata pesan dari orangtua Nadia yang ingin bertemu nanti malam. Hexa dan Hera sepertinya ingin membicarakan hal penting terkait dengan Nadia ataupun perjodohan itu. Gery membalasnya dengan mengatakan bahwa ia bisa datang nanti, karena ia saat ini juga dalam perjalanan kembali ke sana. Setelah membalas pesan itu Gery pun kembali membawa mobilnya melaju dengan kecepatan lumayan agar cepat sampai, ia tak ingin santai lagi seperti tadi, meskipun malam masih begitu lama tapi entah mengapa ia ingin saja cepat sampai. Beberapa jam kemudian ia pun sampai di ibu kota dan kemudian ia pun menuju apartemen tempat di mana ia tinggal. Begitu sampai ia pun mengistirahatkan dirinya. Malam menjelang perlahan, sesuai dengan janji Gery pun bersiap diri untuk pergi ke rumah Hexa. Setelah selesai siap ia pun meninggal area apartemennya dan melewati geliat jalanan yang begitu ramai, sore itu sekitar pukul tujuh, saat orang-orang mulai pulang kerja dan banyak juga yang keluar rumah untuk menenangkan pikiran meskipun hanya sekedar menikmati secangkir kopi di sebuah kafe atau angkirangan. Hal itu membuat jalanan sedikit macet dan harus berkutat dengan mobil yang berjalan perlahan di lampu lalu lintas. Setengah jam kemudian Gery sampai di rumah Hexa, ia mengetuk pintunya dan mengucapkan salam. Suara seorang perempuan menyahut dari dalam dan tak berapa lama pintu terbuka. Hera membuka pintu itu sambil tersenyum. "Ayo masuk nak, Gery," kata Hera menyambut Gery. "Makasih, Tante," balas Gery ramah kemudian ia mengikuti Hera yang berjalan masuk ke dalam. Begitu sampai di ruang tamu sudah ada Hexa yang menunggunya di sana. "Tepat waktu datangnya, ya," kata Hexa. "Sesuai janji, kan, om," ujar Gery. "Memang hebat kamu, ayo duduk dulu." Setelah mendengar itu Gery pun duduk. "Gimana keadaan Mamamu?" tanya Hexa. "Keadaan Mama sudah mulai membaik, Om. Tadi baru keluar dari rumah sakit," ucap Gery. "Om mendoakan semoga keadaan Mamamu membaik, ya. Dulu Papamu juga sering sakit para seperti Mamamu, kan," ujar Hexa. Gery mengangguk. Kemudian pembicaraan mereka pun berlangsung cukup lama, hingga Nadia keluar dari kamarnya dengan pakaian rapi. Ia tak mengindahkan keberadaan Gery bahkan ketika sang papa mengatakan bahwa Gery datang. Nadia berlalu pergi keluar rumah entah kemana, karena tak mengatakan apapun. Hexa hanya bisa menggeleng dengan perlakuan Nadia seperti itu sedangkan Gery tak heran lagi karena ia juga sudah tahu bahwa anak muridnya yang tak lain calon istrinya itu memiliki sifat yang sedikit keras kepala, meskipun ada beberapa alasan yang tak Gery tahu mengapa sampai Nadia melakukan hal itu yang ia tahu Nadia kurang kasih sayang dari kedua orangtuanya. "Kelakuan Nadia begitu terus, padahal sebentar lagi dia harusnya lulus sekolah SMAnya, kan," ucap Hexa. "Namanya anak mudah om, nanti juga lama-lama dia tahu sendiri apa yang ia lakukan salah," kata Gery. "Tapi sampai kapan?" "Nanti ada waktunya om, aku akan berusaha membantunya untuk menjadi lebih baik." Mendengar ucapan Gery itu Hexa hanya bisa mengangguk. Memang Hexa dan Hera menyerah semua hal itu pada Gery agar Gery yang mengurus sifat nakal Nadia, selain jadi calon suami Gery juga bertanggungjawa menjadi gurunya. "Lagi ngomongin apa sih, yuk makan dulu," kata Hera. "Anakmu tadi keluar, kayaknya keluyuran lagi," ucap Hexa. "Nadia kan memang biasanya begitu, Pa. Gery saja pasti sudah tahu," ujar Hera. Hexa mengangguk kemudian mengajak Gery untuk menuju ruang makan, menikmati malam itu, sekaligus mereka melanjutkan obrolan yang sempat terpotong tadi karen tingkah laku Nadia tadi. Sementara itu Nadia kini sudah dijemput gangnya untuk menikmati malam itu, sebelum besok ia kembali bersekolah padahal kalau bisa ia tak masuk satu bulan pun tak apa. "Incess mana, Nest?" tanya Nadia saat di dalam mobil hanya ada Nabila dan Ernest, tanpa Robby yang biasanya meramaikan suasana. "Katanya sih nanti dia datang terlambat, karena ada urusan sama omnya," kata Ernest. "Sama omnya terus, itu om kandungnya apa om ketemu gede sih," kata Nadia. "Mana gue tahu, tapi kayaknya om-oman sih. Lagi butuh duit banget mungkin dia," ujar Nabila. "Duit buat apaan?" tanya Nadia lagi. "Buat party kita malam ini lah." ujar Nabila dan Ernest bersamaan. Mereka bertiga nampak bahagia karena akan melakukan party di salah satu diskotik ibu kota. Alasan mereka sudah bisa masuk ke diskotik karena memang mereka sudah memiliki kartu Identitas diri, meskipun mereka masih bersekolah, maka dari itu mereka bebas melakukan itu sampai malam bahkan subuh nanti saat diskotik ditutup. "Eh lu pada tahu gak, tadi ada Pak Gery di rumah gue," kata Nadia. "Pak Gery? Ngapain malam-malam gini di rumah lu?" tanya Nabila. "Enggak tahu, tadi ngobrol sama Papa, pas gue keluar kamar sempat dipanggil cuma gue males jadi gak gue tanggepin," ucap Nadia. "Lu cuekin gitu aja Pak Gery? Wah gila lu ya," kata Ernest. "Gue kagak gila, gue cuma masih ingat apa yang dia lakuin, biarin lah," ujar Nadia. "Tapi karena Bapak Gery juga lu bisa meliburkan diri dengan tenang dan tanpa omelan guru-guru." Kini Nabila yang berucap. "Ada benernya juga, tapi gak harus gitu juga prosesnya," kata Nadia. "Udahlah mending kita party." Kemudian Ernest membawa mobil dengan kecepatan kencang menuju salah satu diskotik.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD