Satu bulan sudah berlalu setelah skros yang dijalani Gery, saat ini ia sudah bersiap dengan pakaian kemeja bersihnya untuk pergi ke sekolah. Rasanya ia sudah tak sabar untuk bertemu guru-guru lain dan juga para siswanya. Sudah sebulan ia tak melakukan apapun, setiap hari hanya beraktifitas dengan hal yang membuatnya jenuh. Kadang ia menatap keluar jendela apartemennya cukup lama sampai matanya kering dan berair, meskipun tak sampai seperti itu sebenarnya, tapi itu cukup menggambarkan betapa membosankanya kehidupan selama satu bulan itu.
Gery mengambil tasnya, mengunci pintu apartemennya dan berjalan menyusuri lorong. Tak jauh dari sana ada lift yang menghubungkan tiap lantai. Ia menekan tombol lift begitu terbuka ia memasukinya di dalam sana ada seorang laki-laki berbaju santai, Gery hanya menatapnya sekilas.
Dari itu Gery mengingat bahwa laki-laki muda yang kini berdiri tak jauh darinya pernah bertemu dengannya, laki-laki itu yang pernah satu mobil dengan Nadia dan laki-laki itu juga mengancamnya karena ketahuan mengikutinya.
Laki-laki muda yang tak lain Revan itu hanya sibuk dengan ponselnya. Gery tak tahu bahwa Revan satu flat dengannya atau ia sedang mengunjungi seseorang, tapi kenapa begitu pagi? Itu harusnya bukan masalahnya memang, tapi apapun yang menyangkut tentang Nadia itu akan jadi bagian dari masalahnya.
Apa ia harus menginterogasi Revan dan menanyakan hubungannya dengan Nadia? Ah rasanya tak perlu, itu akan membuang waktu dan bisa menjadi masalah yang rumit antara dirinya dan Nadia.
Tak berapa lama pintu lift terbuka, Gery dan Revan keluar beriringan. Gery sengaja melambat begitu keluar dari sana, sedangkan Revan masih sibuk dengan ponselnya dan berjalan begitu saja tanpa pedulikan sekeliling termasuk Gery yang sesekali memperhatikannya.
Begitu sampai di luar Gery masih melihat Revan dengan mobil yang sama saat melabraknya, setelah itu Revan masuk ke dalam mobilnya begitu juga dirinya dan membawa mobil itu berlalu pergi menuju sekolah di mana ia bekerja yang sudah ia tinggalkan selama satu bulan.
Sekitar tiga puluh menit perjalanan, Gery pun sampai di sekolah. Ia berjalan dengan santai menuju ruang kantor, karena jadwal jam mengajarnya masih sekitar satu jam lagi. Begitu sampai di lorong menuju ruang kantor beberapa orang menatap Gery, mungkin mereka sedikit terkejut jika Gery datang kembali sebagian dari mereka berpikir Gery sudah benar-benar dipecat, nyatanya tidak.
"Pak Gery sudah masuk lagi," kata seorang perempuan yang juga guru di sana, yang sering menggoda Gery.
"Waktu skros saya sudah habis, Bu. Jadi saya masuk lagi dong, nanti Ibu kangen kalau saya lama-lama gak masuk," kata Gery. Tumben sekali ia menanggapi ucapan guru perempuan itu dengan sedikit gombalan.
"Ah Pak Gery bisa aja, saya kan jadi malu," ucap guru itu sambil menutupi wajahnya seolah ia benar-benar malu.
"Biasanya juga malu-maluin, Bu." Setelah mengucapkan hal itu Gery dan guru si guru perempuan pun sampai di ruang kantor, tapi baru saja ia menginjakkan kaki di ruang kantor kepala sekolah memanggilnya. "Baik, Bu. Saya ke sana."
Sepertinya akan ada wejangan dari kepala tentang apa yang pernah ia lakukan, meskipun ia sudah diberitahu bahwa apa yang ia lakukan hampir mencoreng nama baik sekolah. Bekerja pada instansi harus tahu bagaimana caranya menyenangkan tempat itu kadang tanpa peduli apa alasan kamu melakukan itu.
Berita kedatangan Gery tersebar ke para siswa termasuk geng Nadia, Robby dengan gaya centilnya sudah heboh berlari menuju Ernest, Nadia dan Nabila yang sibuk di bangku mereka yang sedang menunggu guru datang mengajar.
"Guys, gue ada berita penting nih," kata Robby begitu sampai pada mereka.
"Apaan? Lu dapat duit dari Om-om girang lu?" tanya Nabila.
"Kagak lah. Gue ada berita kalau Pak Gery hari ini sudah mulai masuk," ucap Robby.
"Serius lu? Gue kira lama gak masuk Pak Gery beneran di pecat," ujar Ernest.
"Kan gue sudah bilang kalau Pak Gery cuma di skors sebulan," kata Nadia.
"Tapi lama banget lho sebulan itu. Kan siapa tau alasan aja diskors ternyata dipecat," ucap Ernest.
"Emang kami ngelakuin apa, sampai Pak Gery dipecat gitu?" Nadia dengan ketua mengatakan hal itu.
"Kok lu jadi marah gitu sih, Nad. Kita gak bermaksud bilang kalau kalian ngelakuin yang enggak-enggak kok," ucap Nabila.
"Bodo amatlah, mending gue ke atas," ujar Nadia sambil bangkit dari tempat duduknya dan berjalan meninggalkan teman-temannya.
"Eh Nadnad, bentar lagi masuk!" teriak Robby. Bukannya mendapatkan jawaban Nadia malah melambaikan tangannya sampai tanpa sedikit pun menoleh.
Nadia terus berjalan menjauh dari kelas, ia menuju ke tempat biasa ia menenangkan diri, ia sudah bersiap dengan membawa rokok yang ia selipkan di tempat paling aman.
Tak lama ia sampai di sana, duduk dengan santai di sofa bekas yang sudah rusak akibat terkena hujan dan panas, busa-busanya sudah keluar yang menyisakan kayu keras dan kulitanya saja.
Nadia duduk di sana sambil menyalakan rokok dan mengisapnya dengan santai. Ia mengesbukan asap-asap ke udara. Lama sekali rasanya ia tak melakukan hal itu sejak pertama kali sekolah lagi setelah di skros satu minggu dulu, sekitar tiga minggu lalu.
Ketika Nadia cukup lama di sana, sebuah suara langkah kaki mendekatinya. Langkah yang cukup Nadia kenal meskipun selama satu bulan ini tak ia dengar karena masalah yang terjadi diantara mereka.
"Bapak ngapain ke sini?" tanya Nadia tanpa sedikit pun menoleh kepalanya melihat Gery yang berjalan mendekatinya. "Ngajar sana. Nanti ada masalah lagi kalau Bapak ketemu sama saya."
"Enggak akan lagi ada masalah kalau saya dekat sama kamu," kata Gery yang kini duduk di samping Nadia, mengambil sebatang rokok dan menyulutnya.
Nadia yang mendengarkan hal itu menatap Gery seolah ingin mengetahui apa maksud dari ucapannya itu. "Kenapa Bapak bisa seyakin itu?"
"Ya yakin saja, makanya saya bisa ngomong begitu," ujar Gery.
"Alasannya apa?" tanya Nadia lagi.
"Kok kamu kepo banget sih. Pokoknya saya bilang enggak ya pasti enggak," ujar Gery seolah tak ingin menjawab pertanyaan dari Nadia.
"Terserahlah." Nadia tak ingin membalas itu lebih jauh mungkin Gery ada alasan lain yang lebih jelas. "Kalau alasan kenapa Bapak datang ke rumah saya tempo hari kenapa? Saya pengen tahu."
"Kalau itu saya bisa kasih tahu," kata Gery. "Orangtua kamu menghubungi saya untuk ingin tahu apa yang terjadi sama kamu, sebagai wali kelas wajar dong saya memberitahu. Ada masalah?"
"Enggak ada sih, Pak."
"Orangtua kamu khawatir dengan keadaanmu, apalagi sampai kamu di skors, tapi saya sudah kasih tahu alasannya, karena dialasan itu juga ada saya."
Nadia tak mengatakan apapun hanya mendehem kecil.
"Kamu enggak akrab sama orangtuamu, ya?" sambung Gery.
"Saya lagi gak mau bahas itu, akrab atau tidak, itu tidak ada hubungannya sama Bapak."
Gery tak bisa mengatakan apapun, ia juga tak mungkin mendesak Nadia untuk bercerita tentang apa yang terjadi dia dan kedua orangtuanya, meskipun sebenarnya tahu semuanya, karena Hexa dan Hera sudah mengatakannya, itu juga alasan yang membuat mereka meminta Gery untuk merubah sifat keras kepala Nadia.
Meskipun sampai sudah beberapa bulan sifat Nadia belum berubah sama sekali. Kadang Gery sendiri bingung, dengan semua yang terjadi kenapa Nadia tak kapok juga.