Gery mengatakan pada Hera dan Hexa bahwa Nadia kini sudah mau bersekolah seperti biasanya, keduanya senang bahwa Nadia sudah berubah seperti yang mereka inginkan selama ini, meskipun sifatnya belum sepenuhnya seperti anak pada umumnya. Namun, mereka yakin bahwa cepat atau lambat pasti Nadia bisa memilih sifat yang baik.
"Jadi apa kata Gery, Pa?" tanya Hera pada Sang suami.
"Gery cuma bilang gitu aja, Ma," ujar Hexa menjawab ucapan Hera.
"Kata mamang kemarin Nadia kedatang teman-temannya, bikin keramean di kamarnya."
"Oh ya? Bagus itu." Begitu kata Hexa.
Bukan tanpa sebab Hexa mengatakan hal itu karena memang selama ini Nadia cukup pendiam jika berada di rumah. Rumah nampak sepi dan tak ada suara apapun, maka dari itu mereka bahagia jika memang ada suara ribut meskipun hanya beberapa saat saja, itu cukup membuat mereka senang, mereka yakin cepat atau lambat sifat Nadia pasti akan berubah menjadi lebih baik lagi dan menjadi anak yang seperti dulu lagi, lugu dan juga penurut pada orangtuanya.
"Nadia, makan dulu, Bibi sudah masak makanan buat sarapan," kata Hera memanggil Nadia saat Nadia melewati ruang makan.
Nadia tak menjawab ucapan Sang Mama itu, tapi ia berjalan menuju meja makan, duduk di sana dan mengambil makanan. Sesuatu hal yang selama ini hampir tak pernah terlihat sama sekali, bahkan selama bertahun-tahun. Hera dan Hexa rasanya senang sekali melihatnya, mereka berdua benar-benar bahagia.
"Makan yang banyak, biar kamu makin sehat," sambung Hera pada Nadia meskipun Nadia sama sekali tak menjawab ucapan Hera itu karena lebih sibuk mengunyah makannya. Jika makanan itu yang memasak Hera pasti Nadia tak mau, untung saja yang memasak si bibi lagi pula ia lapar, jadi apa salahnya ia makan terlebih dahulu.
Setelah selesai makan Nadia pun langsung meninggalkan meja makan tanpa mengucap sepatah kata pun, meskipun begitu sikapnya saat itu membuat Hera dan Hexa sedikit lebih senang, mereka tersenyum dengan perubahan yang ia lakukan bahkan sampai mau duduk disatu meja makan.
"Anterin sekolah, Pak," ujar Nadia pada si supir.
"Baik, Non." Si supir bangkit dari duduknya dan bergegas menuju mobil untuk mengantarkan Nadia pergi ke sekolah.
Nadia masuk ke dalam mobil itu dan tak berapa lama kemudian mobil itu pun berlalu meninggalkan area rumah mewahnya, tapi meskipun mewah rumah itu kosong seolah tanpa penghuni.
Saat berada di jalanan pikiran Nadia melambung memikirkan banyak hal, bahkan termasuk apa yang ia lakukan tadi di meja makan bersama dengan orangtuanya. Sudah lama sekali, entah berapa tahun pastinya ia tak tahu saat terakhir kali ia makan bersama dengan orangtuanya.
Nadia makan di sana bukan karena ia berubah dan lebih sayang pada orangtuanya tapi ia hanya lapar dan ingin makan saja, tak lebih dari itu, ia masih menyimpan banyak hal termasuk luka dan sakit hati yang sulit untuk di jelaskan oleh orang lain yang tak merasakan apa yang ia rasakan selama ini. Bagaimana ia sedih dan juga merasakan bertapa ia sendiriannya, tak ada yang peduli akan hal itu.
Sekitar tiga puluh menit lamanya, akhirnya Nadia pun sampai di sekolah. Ia turun dari mobilnya dan berjalan menuju ruangan kelas. Saat menuju kelas ia bertemu Ernest dan juga Nabila.
"Pagi banget lu berangkat, tumben," kata Nabila saat melihat Nadia yang berangkat cukup pagi tak seperti biasanya.
"Lagi pengen aja, lagian ini pelajaran bahasa Inggris, kan," ujar Nadia.
"Lagi pengen? Kayaknya bener kata lu Bil, Nadia kerasukan setan, makanya dia rajin begini," ucap Ernest.
Nabila berbisik. "Kan bener kata gue, Nadia kerasukan setan."
"Apaan sih lu pada, gue kagak kerasukan yak, mana ada setan yang mau masuk tubuh gue," kata Nadia.
"Iya lah, dia kan setannya setan," seloroh Robby yang datang entah dari mana.
"Lu tu setan. Eh lagian lu emang udah sembuh kok bisa berangkat sekolah, bawa penyakit lu ke sekolah," ujar Nadia.
"Sudah dong, habis gue joget-joget kemarin badan gue langsung fit banget seperti baru lahir," kata Robby. "Makin seksi lagi gue kan."
"Joget-joget di mana? Kok gue gak diajak," ucap Ernest.
"Sorry ini khusus tamu VVIP yang boleh datang ke mini konser ekslusif the Diva," ujar Nabila. "The Princess of primitif."
"Yaitu gue, beri tepuk tangan." Robby mengatakan hal itu sambil melambaikan tangan seolah ia Miss Universe.
"Heleh, berarti gue bersyukur kemarin lebih memilih sparing."
Setelah Ernest mengatakan hal itu mereka pun sampai di dalam kelas dan beberapa saat kemudian mereka pun mulai belajar seperti biasanya Nadia pun mengikuti pembelajaran itu, ia sudah terbiasa dan tak mengantuk lagi.
Kemudian saat jam pelajaran kedua Nadia tak ingin mengikutinya jadi ia pun berniat mengajak Nabila untuk merokok di atas atap tapi Nabila tak mau, jadi ia seorang diri yang pergi ke sana, lagi pula sudah beberapa waktu ia tak merokok di atas atap, entah kenapa ia merindukan hal itu.
Sesampainya di atas atap sekolah, Nadia menyalakan rokoknya dan mengembus asapnya ke udara. Rasanya nikmat sekali, sudah lama sekali rasanya ia tak melakukan hal itu karena terlalu sibuk dengan sekolahnya.
"Kenapa, capek belajar?" tanya Gery yang muncul tiba-tiba saja dan menghampiri Nadia.
"Lumayan, lelah juga belajar," kata Nadia menjawab ucapan Gery.
"Semua hal bikin lelah, termasuk rebahan." Gery kini duduk di samping Nadia. Nadia menyodorkan rokok padanya. "Enggak, saya lagi sakit tenggorokan, nanti saja."
"Sakit tenggorokan, tapi gak sakit paru-paru, kan? Jadi gak masalah saya merokok."
"Enggak ada masalah, yang jadi masalah sebenarnya karena kamu seorang pelajar."
"Di mana letak masalahnya jika saya pelajar?"
"Masalahnya di baju yang kamu pakai, jika tak memperlihatkan atribut sekolah tak ada yang tahu kamu anak sekolah ini. Coba kmu lihat, jika atap sekolah ini tak tertutup pepohonan pasti semua orang bisa lihat kamu yang merokok dengan santainya tanpa peduli siapa kamu," papa Gery memberitahu Nadia bahwa ketika ia merokok di sana berarti ada nama baik yang harus ia jaga, itu bukan hanya tentang dirinya tapi juga tentang banyak orang di sekelilingnya, ia boleh egois dengan dirinya sendiri tapi tidak dengan orang lain.
Mendengar ucapan Gery itu Nadia masih saja cuek tapi air mukanya berubah.
"Seperti saat foto kita tersebar kemarin, siapa yang malu? Mungkin kamu dan saya merasa tidak bersalah karena tak melakukan apapun, tapi orang lain apa memikirkan hal itu? Belum tentu, mereka tak akan peduli alasanmu, yang mereka tahu kamu dan saya berduaan, itu saja," sambung Gery pada Nadia.
"Kenapa kita harus peduli pada persepsi orang? Apa karena kita makhluk sosial?" tanya Nadia kemudian. Ia mematikan rokoknya yang masih ada setengah barang itu.
"Itu tadi, persepsi orang penting agar kita tak terlalu egois dan menyadari bahwa kita tidak hidup sendiri. Bukan menyenangkan mereka, tapi yang lebih penting tidak membuat mereka mengusik kita dengan segala ucapan mereka."
Setelah mengucapkan hal itu Gery berlalu pergi dari sana. Seperti Jailangkung, datang sendiri pulang sendiri. Namun, begitulah keunikan dari Gery yang tak dimiliki guru mana pun ia sanggup menempatkan diri. Awalnya Nadia tak menyukai hal itu tapi kemudian ia bisa menerinya sebagai guru.