"Iya, Ma. Gery tahu kok, Gery bisa jaga diri, Mama itu yang harusnya jaga diri Mama, jangan minta yang macam-macam sama Dinda, dia gak bisa bilang enggak sama Mama. Kalau gitu Gery pamit mau ngajar dulu, Ma." Gery pun menutup sambungan teleponnya setelah ia menghubungi sang mama untuk menanyakan bagaimana kabar sang mama di sana.
Gery khawatir dengan keadaan sang mama di sana, meskipun di sana ada Rio dan juga Dinda istrinya, tapi tetap saja, sebagai anak ia merasa tak tega jika harus meninggalkan orangtua satu-satunya saat sedang sakit, tapi mau bagaimana lagi itu tentang pekerjaan dan hubungannya nanti dengan calon istrinya.
Pagi ini Gery selesai bersiap ia pun langsung memutuskan untuk berangkat ke sekolah. Ia keluar dari kamar apartemennya, tapi begitu keluar ia tak sengaja menabrak seseorang. Ia dan orang itu sama-sama terkejut dan sama-sama terhuyung hampir jatuh.
"Maaf, saya tak sengaja," kata Gery meminta maaf sambil melihat orang yang ia tabrak, ternyata dia Revan.
"Saya yang minta maaf tadi gak lihat-lihat pas jalan," ujar Revan pada Gery. "Saya permisi."
Setelah mengatakan hal itu Revan pun berlalu pergi meninggalkan Gery. Gery berpikir sepertinya Revan lupa pada dirinya, padahal ia pernah mengancam Gery saat membuntutinya.
Namun, Gery bersyukur, jika Revan mengingatnya itu akan menambah masalah apalagi saat tahu bahwa Gery tinggal di flat yang sering ia lewati itu.
Gery sedikit terpikir untuk mengambil gambar Revan meskipun dari belakang, ia akan mengirim pada Nadia agar Nadia percaya bahwa apa yang ia katakan tentang Revan benar, meskipun Nadia tak pernah mengatakan pada dirinya bahwa ia berbohong.
Setelah mengambil gambar Gery pun berlalu pergi dari sana, untuk berangkat sekolah. Gery memang tak tahu hubungan apa yang terjalin antara Nadia dan Revan, tapi Gery begitu yakin bahwa salah satu diantara mereka atau bahkan keduanya memiliki satu perasaan yang berbeda, rasa ingin bersama satu sama lain, jika benar begitu harusnya ia menghancurkan itu agar rencana yang selama ini ia bangun tak rusak begitu saja. Ia sudah berjalan sejauh ini, tak mungkin kembali dengan mudah.
Gery sampai di lantai dasar dan menuju mobilnya, tapi ia tak menemukan Revan di mana pun, bahkan tadi saat di lift pun ia tak melihatnya. Mungkin Revan masuk ke salah satu kamar atau sedang pergi kesatu tempat yang ia sendiri tak menyadarinya.
Gery tak peduli dengan semua itu, ia kini sudah membawa mobilnya berlalu dari sana dan menuju sekolah. Dilewatinya geliat kendaraan bermotor yang begitu banyak hampir menyebabkan macet karena itu jam berangkat beraktivitas pada umumnya.
Sementara itu Revan yang sempat bertemu Gery tadi, kini ia sudah masuk ke dalam salah satu kamar, milik seorang perempuan.
"Pagi sayang," ujar Revan memanggil sayang pada perempuan yang hanya mengenakan baju tidur.
"Kok kamu baru datang sih," ucap perempuan itu.
"Kan aku baru bangun tidur, kamu juga baru bangun, kan?"
"Iya sih, ini juga masih ngantuk kok."
"Hayuk kita tidur bareng."
"Enggak ya, Van. Nanti kamu minta yang macem-macem lagi."
"Semacam aja kok, Sayang."
Setelah mengatakan hal itu Revan memeluk perempuan itu dari belakang dan mencium bagian tengkuknya. Revan menikmati aroma pagi dari perempuan itu sampai Revan seolah mabuk. Aroma yang berbeda.
"Lepas, Van. Aku mau mandi dulu, kita siap-siap sarapan terus berangkat kuliah, ya."
"Siap, Sayang. Aku tunggu di sini, mandinya cepat biar gak telat."
Kemudian perempuan itu pun berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Sementara Revan menunggu di sana sambil bermain ponsel. Tak berapa lama Revan menghentikan ponselnya saat mendengar suara gemericik air yang turun dari shower.
Revan membayangkan tubuh perempuan yang ia panggil sayang tadi tanpa busana di bawah sana, menggosok setiap inci tubuhnya yang putih, bersih dan juga terawat. Sudah beberapa bulan ia menjalin hubungan dengan perempuan itu, tapi Revan tak pernah mendapatkan lebih dari sekedar pelukan dan cium pipi. Ia tak bisa memaksa perempuan itu untuk mau, karena akan merusak hubungannya nanti.
Sekitar lima belas menit berlalu, perempuan itu selesai mandi dan keluar dengan mengenakan handuk yang menutupi setengah tubuhnya dari mulai atas lutut hingga d**a, seolah ia memperbolehkan Revan melihatnya. Ia tahu apa yang akan dipikirkan Revan jika melihat dirinya tanpa pakaian.
"Jangan bengong," kata perempuan itu saat melihat Revan menatapnya secara terus menerus, sepertinya Revan tengah bernafsu. "Keluar kamar gih bentar."
Revan mengangguk tanpa menjawab kemudian keluar dari sana dan duduk di sofa ruang tamu. Revan membayangkan lagi perempuan itu yang kini melepaskan handuknya, memperlihatkan tubuhnya yang tanpa sehelai benang pun kemudian perlahan menggantinya dengan pakaian. Revan berusaha mengontrol otaknya agar tak memikirkan hal yang lebih jauh, ia tak ingin sesuatu terjadi pada hari itu.
Meskipun ia dan perempuan itu sering bersama bahkan sering tidur di satu ranjang yang sama bersamaan, tapi mereka tak pernah melakukan apapun. Perempuan itu bilang mereka harus saling mejaga satu sama lain agar tak terjerumus ke dalam hal yang tak diinginkan, apalagi sebentar lagi mereka akan lulus kuliah.
Namun, kadang Revan masih berpikir yang macam-macam. Rasanya hal itu wajar mengingat dirinya lelaki normal yang tinggal dengan seorang perempuan semenggoda itu, tahan sampai sejauh ini bukanlah hal yang gampang, tapi tetap harus ia lakukan.
"Selesai." Perempuan itu mendekati Revan lagi dengan pakaian bersih dan rapinya, karena mereka saat itu akan pergi kuliah.
"Siap, kan? Mari kita berangkat." Revan menggandeng perempuan itu untuk pergi berangkat ke kampus.
Perempuan itu mengunci pintu apartemennya dan mereka pun berjalan beriringan melewati lorong apartemen. Tak berapa lama mereka pun sampai di parkiran dan masuk ke dalam mobil milik Revan itu.
"Mau sarapan dulu, Yang?" tawar Revan.
"Mau sarapan apa?" tanya perempuan itu.
"Terserah."
"Lho kok jadi kamu yang ngomong terserah, harusnya kan aku." Perempuan itu tersenyum perlahan. "Sarapan di tempat biasa aja ya."
"Oke, siap meluncur."
Revan membawa mobilnya berlalu dari sana. Kemudian mereka pun menuju salah satu tempat makan untuk sarapan.
Tak lama mereka makan di sana, lalu setelah selesai mereka pun bergegas untuk pergi kuliah. Perkuliahan pagi itu dimulai pukul tujuh dengan tiga SKS yang berarti akan selesai nanti jam sembilan lebih.
Saat Revan dan perempuan itu menuju kampusnya. Nadia saat ini sudah berada di kosnya, ia masuk ke dalam kelas yang masih sibuk padahal seharusnya jam masuk pertama sudah dimulai.
"Hey bestie, kok belum masuk belajar sih?" tanya Nadia.
"Guru-guru mau rapat katanya, jadi kita gak belajar. Nanti jam sembilan kita pulang," jawab Nabila.
"Wah enak tuh bisa santai," kata Nadia.
"Kita ngemall yuk, lama nih gak jalan-jalan, mumpung pulang cepet," ujar Robby.
"Gak apa-apa pakai seragam nih?" tanya Ernest.
"Gak apa-apa," kata Nabila.
Ucapan itu disetujui oleh mereka termasuk Nadia. Karena tak sering mereka bisa berjalan-jalan ke mall pagi hari, biasnya juga sore atau malam.