Bab 30

1021 Words
Teman-temannya berpikir seperti apa yang ia pikirkan, seharusnya ia juga sadar akan hal itu. Lagi pula selama ini Revan tak pernah menganggap serius bahwa dirinya menyukai Revan. Revan selalu saja berpikir bahwa Nadia hanyalah anak kecil yang ia anggap sahabat dan adik, tak lebih akan hal itu. Nadia pun mengerti, makanya ia mencoba untuk merelakan semuanya meskipun ia tahu ia akan terus merasakan rasa sakit yang cukup dalam akibat perasaanya yang tak terbalaskan, tapi ia bisa apa, memaksa Revan? Nadia sudah berpikir bahwa ia juga ikhlas jika Revan mengenalkan seorang perempuan yang menjadi kekasih Revan, ia aka mencoba melapangkan d**a dengan semua itu dan memberi semua senyuman untuk merelakan Revan pergi bersama dengan kekasihnya, ia tak ingin egois hanya karena ia memiliki perasaan suka pada Revan, biarkan Revan memiliki kebahagiaannya sendiri tanpa harus ia ikut campur. Namun, meskipun begitu sampai saat ini Revan belum berbicara apapun, bahkan terkesan terus saja menutupi agar ia tak tahu. "Nih." Robby memberikan es krim pada Nadia yang langsung diterimanya tanpa menoleh sedikit pun. "Makasih." Revan menjawab dengan ekspresi datar. "Lu ngapa sih Nadnad? Lagi menstruasi lu?" tanya Robby kemudian menyadari perubahan sikap Nadia. Padahal saat diajak ke taman tadi biasa saja. "Atau lu kesurupan? Kayaknya gak mungkin deh, setan aja takut sama lu." "Gue kepikiran sama kak Revan, Ncess." "Kepikiran naon?" "Kayak yang lu bilang kalau kemungkinan kak Revan sudah punya kekasih, ya gue sih ikhlas aja, tapi kok selama ini kak Revan gak ada ngomong apapun sama gue ya." "Belum saatnya kali." "Udah satu bulan lebih ya sepulangnya kita dari villa itu, kita sering ketemu kok beberapa kali, kadang jalan, ke clubbing juga, tapi kayaknya orangnya emang gak mau cerita ke gue. Gue dianggap gak sih?" "Gak boleh ngomong gitu, mungkin emang belum waktunya aja lu dikasih tau sama kak Revan, lagi pula kalian kan sahabatan udah lama banget. Atau memang kak Revan belum sah pacaran, itu malah bagus kan buat lu kedepannya." Nadia terdiam berusaha mengulas senyum dengan ucapan Robby itu, tapi tak bisa pikiran overthinkingnya masih saja bergelayut. "Tapi, Nces..." Nadia tak melanjutkan ucapannya ia malah menjilati es krim yang dibelikan Robby tadi. Sore itu ia dan Robby sedang berada di taman kota untuk menikmati pemandangan yang indah, Robby yang mengajaknya karena ia bosan berada di rumah terus setelah pulang sekolah tadi. Niatnya mereka mengajak Nabila juga tapi ia sibuk dengan acara keluarganya yang banyak itu sedangkan Ernest entah pergi kemana dengan klub basketnya. Katanya sih adu tanding. "Eh Ernest chat nih katanya dia tanding jam empat ini," kata Robby kemudian. "Di mana? Lawannya siapa?" tanya Nadia. "SMA Merah Putih di lapangan basket milik GOR Merdeka. Ke sana yuk." "Hayuk, gue juga udah bosen di sini lihatin orangtua sama anak-anaknya gak jelas banget." "Kita meluncur ke sana untuk melihat cowok-cowok ganteng nan menggoda yang berbadan seksi dan mengkilat." Setelah mengatakan itu Robby dan Nadia menuju motor merah maroon indah di mata milik Robby setelah itu membawanya menuju tempat di mana Ernest berada. Robby begitu senang hingga membawa dengan kecepatan tinggi, membuat Nadia berpegang erat pada perut bawahnya. Setengah jam kemudian mereka pun sampai di tempat di mana Ernest sedang bertanding dengan sekolah lain. Waktunya pas saat mereka datang, Robby dan Nadia mencari tempat untuk duduk dan menyaksikan pertandingan. Suara riuh mulai terdengar dari suara penonton. Begitu juga Robby yang suaranya melengking cempreng mengalahkan suara pemandu sorak yang ada. Nadia tak malu atau menyuruh Robby untuk berhenti karena ia sudah biasa melihat Robby si Incess melakukan hal itu. Pertandingan regu Ernest dan SMA lain berlangsung begitu seru, fans masing-masing regu saling meneriakan idola mereka, pemandu sorak pun tak kalah heboh. Dua babak pun berlalu begitu saja dan akhirnya pertandingan itu pun selesai di menangkan Grup Ernest dengan skor yang sebenarnya beda tipis. "Menang lu, Nest," kata Nadia saat ia mendekati Ernest bersama dengan Robby. Ernest menyadari kedatangan kedua temannya. "Eh lu datang Nad, gue kira cuma Robby tadi yang ke sini, soalnya dia mau cuci mata katanya." "Cuci mata? Gue ada sabun sama air banyak di rumah." Begitu kata Nadia. "Bukan cuci mata yang itu yak. Lihat yang bening-bening maksud gue," kata Robby. "Oh," ujar singkat Nadia. "Eh duduk sono yuk, gue mau cerita sesuatu," ajak Ernest pada kedua temannya. Mereka pun berjalan ke bangku terdekat untuk membicarakan sesuatu yang mungkin sedikit penting. "Tadi gue lihat kak Revan datang nonton, tapi gak lama udah ngilang." "Kak Revan? Beneran lu?" tanya Nadia. "Beneran gue, orang gue pas belum main kok. Cuma gue gak tau dia datang nemuin siapa dan sama siapa. Bentar doang kak," kata Ernest. "Emang kenapa lu sampai gak percaya gitu?" "Soalnya tadi gue ajak jalan, kata kak Revan orangnya sibuk nugas jadi gak gue nganggu. Atau salah orang kali lu," ucap Nadia. "Enggak salah lihat gue, beneran itu emang kak Revan. Mata gue normal enggak buta," ujar Ernest. "Kan gue bilang apa, kak Revan emang beneran punya cewek, buktinya dia sampai bohong ke lu, kan," kata Robby. "Dah lah gue males bahas begituan, dari kemarin yang lu pada bahas mulu. Yuk pulang aja, Ncess." Nadia merungut kemudian menarik tangan Robby untuk berlalu dari sana. "Lho Nad! Kok gue di tinggal sih!" Ernest berteriak memanggil Nadia tapi tak dihiraukan karena sudah berlalu dari hadapannya. Sementara Nadia dan Robby sudah berada di motornya. Robby duduk di depan berniat membawa, tapi Nadia menepis dan malah lebih dulu duduk di depan. "Gue yang bawa motornya," kata Nadia. "Eh kok lu. Gue aja yang bawa, lu kalau bawa kayak setan," ujar Robby. "Diam gak lu. Gue aja yang bawa." "Tapi pelan-pelan." Baru saja Robby mengatakan hal itu Nadia sudah membawa motornya dengan kecepatan yang menakutkan. Nadia ngebut nyelap-nyelip dengan mudahnya yang membuat Robby ketakutan dan berteriak dengan suaranya yang begitu kencang. "Pelan-pelan, Nad!" teriak Robby dengan kencangnya. "Berisik lu! Gue lagi lampiasin amarah gue ke motor lu! Kita mati bareng kalau emang kecelakaan!" "Heh! Gila lu ya! Kenapa harus motor dan ngajak gue!" Nadia tak mempedulikan omongan Robby, ia masih terus membawa motor Robby dengan kecepatan yang tinggi. Sedangkan Robby sudah ikhlas, ia tak peduli jika memang harus mati saat ini bersama dengan motor merah maroon menggodanya. Nadia benar-benar ingin membawanya mati bersama dengan dia sekarang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD