Bab 31

1112 Words
"Hai guys," sapa Nadia begitu ia menemui Ernest dan Nabila yang berada di kantin untuk sarapan, sebelum jam belajar dimulai. "Makan lu?" tanya Nabila. "Makan dong, masa di kantin gue bikin pager. Gue lapar banget, tadi di rumah males makan," jawab Nadia. "Pesen makanan gih," ujar Ernest. "Udah tadi gue pesen bakso, tinggal nunggu diantar. Ngomong-ngomong mana Incess, kagak masuk? Tumben," ucap Nadia. "Kata emaknya sih dia demam gitu, jadi gak bisa masuk," kata Nabila. "Eh iya kah? Kasihannya. Kemaren rasanya pas sama gue gak kenapa-kenapa. Apa trauma gara-gara gue ajak ngebut kemarin, yak," ujar Nadia. "Lu ajak ngebut? Ngapain?" tanya Nabila. "Lagi pengen aja sih, kebetulan ada motornya Incess jadi ya sekalian," kata Nadia. "Halah, dia lagi melampiaskan amarahnya karena kak Revan datang ke pertandingan basket gue kemarin, tapi bilangnya sama Nadia lagi nugas," papar Ernest. "Diem lu, gue siram es teh nih," ucap Nadia. Melihat es tehnya di pegang Nadia, Nabila langsung menariknya. "Heh, es teh gue nih. Enak aja main buang aja." "Gue siram balik," kata Ernest. Nadia melotot, mengepalkan tangannya menunjukkan kearah Ernest yang sejak tadi ingin mengajaknya bertengkar. "Eh btw beneran lu dibohongi sama kak Revan? Udah sering apa baru kali ini?" tanya Nabila. Nadia mengangkat kedua pundaknya. "Entah gue juga gak tau berapa kali apa sering, tapi yang gue ingat baru kali ini." "Yang lu tau mungkin, gak mungkin baru kali ini kak Revan bohongin lu. Buktinya soal banyak hal aja dia gak bilang sama lu, seolah dia berpikir 'Ih siapa lu', gitu 'kan," ucap Ernest sambil menikmati makananya. Sedangkan Nadia terdiam mendengarkan hal itu. Masalah Revan sepertinya belum akan kunjung selesai, apalagi sampai saat ini Revan selalu mengatakan bahwa ia tak bisa bertemu dulu dengan Nadia dengan alasan bahwa sedang sibuk. Saat Nadia mengatakan ingin ke apartemennya Revan menolak dan mencegah, ia bilang sedang jarang di apartemen, ia lebih sering ke kampus dan mengerjakan tugas di tempat temannya yang lain. Nadia tak bisa memaksa jika Revan sudah mengatakan hal itu, ia tak mungkin merengek dan mengatakan ingin bertemu sebentar saja, lalu tiba-tiba ia meminta penjelasan kenapa Revan membohongi mengatakan bahwa ia sibuk dengan tugasnya padahal sedang keluyuran menonton pertandingan basket Ernest. "Jangan bengong woi!" seru Nabila pada Nadia. "Apaan sih lu, gue gak bengong," ujar Nadia. "Kalau gak bengong ngapain di panggil kagak denger, bakso lu tuh udah datang." Nadia terkesiap dengan ucapan Nabila itu, kemudian ia menyadari sudah ada bakso dan es teh di depannya. "Eh iya makanan gue udah datang. Saatnya makan, mari makan, tapi gak gue bagi-bagi." "Enggak ada yang minta bakso lu, gue juga habis makan bakso," ujar Ernest. Nadia tak mempedulikan omongan Ernest dan Nabila, ia mulai menikmati makannya dengan santai dan tenang. Beberapa menit kemudian bersamaan dengan makanannya yang habis jam pelajaran pertama pun berbunyi, Nabila dan Ernest sudah bangkit dari kursinya untuk menuju ke kelas, saat itu juga Nadia ikut bangkit. "Tunggu gue napa," kata Nadia. "Kita mau ke kelas bestie, gak ngerokok di wc," kata Nabila. "Makanya tunggu, bareng, ngapain gue ditinggal," ucap Nadia. "Lu kesurupan ya, tumben banget mau masuk kelas jam pertama apalagi ini matematika," kata Ernest. "Gue sehat walafiat, gue lagi pengen masuk kelas, bosen di atas atau ke wc. Kayaknya sofa di atas basah gara-gara hujan tadi malam deh," ujar Nadia. Kedua temannnya mengangguk mendengar omongan Nadia sepertinya Nadia memang benar kesurupan atau kerasukan jin rajin. Nadia kini berada di kelasnya, duduk di bangku paling belakang samping jendela, sedangkan tak lama guru matematika datang untuk mengajar. Ketika sang guru mengabsen, ia terkejut karena Nadia ada di kelasnya. "Nadia Rumaya!" Absen si guru, sudah memanggil namanya untuk ketiga kalinya karena tak percaya. "Saya, Bu. Ada apa sih, saya sudah jawab tiga kali, lho?" kata Nadia sambil bertanya karena gurunya tampak aneh. "Tumben sekali kamu masuk kelas Ibu, Ibu kira udah gak mau masuk lagi," ujar si guru. "Lagi pengen, Bu." Nadia mengatakan itu dengan santainya dan tanpa ekspresi. "Ya sudahlah, terserah kamu aja. Duduk, diam, tenang, di belakang jangan ribut." Nadia tak menjawab ucapan si guru, ia hanya mengacungkan jempolnya. Pelajaran matematika pun dimulai, Nadia berusaha mendengarkan pelajaran itu dengan tengan, meskipun ia tak mengerti sama sekali apa yang si guru katakan. Nadia merasa ngantuk mendengar si guru menjelaskan seolah ia sedang didongengi, dan tak berapa lama kemudian ia pun tertidur dengan pulasnya. "Bangun woi!" seru Nabila membangunkan Nadia sambil menepuk tangannya. Nadia mengangkat wajahnya dan melapnya, ia mengucek pelan kedua matanya yang terasa perih. "Pules banget tidur lu sampai gak bangun-bangun," sambung Nabila. "Gue ngantuk banget, serasa didongengi gue. Kampret banget," ucap Nadia. "Tapi enak kan, dari pada lu ngerokok di atap sambil bengong?" "Enak banget sih, kayaknya gue ketagihan deh tidur di kelas pas belajar. Besok lagi." Nadia senyum memperlihatkan giginya. "Habis ini pelajaran apa lagi?" "Gak ada gurunya, ngerjain tugas aja, lu mau ngerjain tugas juga?" "Tugas apaan? Kalau sulit gue kagak mau." "Bahasa Inggris, lu seneng kan pelajaran bahasa Inggris." "Oke, kalau susah gue gak mau ngerjain." "Sip." Nabila mengeluarkan buku paket bahasa Inggris dan buku catatan, begitu juga Nadia. Setelah itu Nabila menjelaskan bagian mana yang harus mereka kerjakan. Tak lama Ernest datang dengan membawa seplastik makanan. "Ye cemilan, untuk menemani kita mengerjakan tugas," kata Ernest sambil menaruh seplastik makanan di atas meja. "Dih lu beli gorengan sama es cekek di mana? Keluar lu?" tanya Nadia. "Gue tadi lihat orang jualan di luar, jadi gue ijin fotokopi deh. Pura-pura aja sih. Dah diem aja, makan cepetan," ujar Ernest. Sementara itu si guru matematika saat ini sudah berada di kantor, ia melihat Gery yang berada di mejanya, tujuannya memang Gery karena ingin mengatakan tentang keajaiban dunia. "Pak Gery yang ganteng," kata si guru. "Eh Bu, ada apa?" tanya Gery. "Saya ada berita yang seru, yang menghebohkan dunia perpendidikan." "Wah, kayaknya seru banget tuh. Apa, Bu?" "Tadi pas saya mengajar di kelas Bapak, Nadia masuk kelas saya ya meskipun tidur. Saya pikir itu satu kemajuan yang baik." "Beneran itu, Bu?" "Ih Bapak banyak tanya dan gak percayaan. Beneran lah, bentar." Si guru memperlihat absen Nadia di jurnalnya. "Nih kan beneran, saya gak bohong." Gery melihat absen itu ternyata benar nama Nadia ada di sana, tidak absen seperti biasanya. Ternyata Nadia benar masuk, apa Nadia sudah tergerak untuk masuk dan belajar di kelas, meskipun katanya tidur di kelas, tapi itu sudah kemajuan yang baik. Padahal kemarin ia tak memaksa Nadia untuk masuk kelas dengan cepat, ia hanya memberitahu Nadia bahwa jika ia ingin lulus ia harus belajar dengan baik, karena guru melihat keaktifannya, lagi pula sebentar lagi ia sudah akan ujian. Itu menentukan ia lulus atau tidaknya nantinya. "Makasih ya, Bu. Semoga aja Nadia lebih rajin belajarnya," kata Gery. Si guru tersenyum kemdian berlalu pergi dari hadapan Gery dan menuju mejanya sendiri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD