Gery sudah memutuskan setelah ia mendapatkan istirahat sebulan dari pekerjaannya, ia akan pergi ke rumah Mamanya. Kini dengan menggunakan mobil ia pergi ke sana seorang diri, meskipun hanya ditempuh waktu sekitar dua hingga tiga dari kota, tapi perjalanan itu cukup membuatnya bosan.
Sebelumnya sang mama mengatakan bahwa ia kembali ia harus membawa Nadia bersama dengannya karena sang mama ingin kenal bagaimana calon istrinya, tapi sepertinya Gery urungkan hal itu sebab bagaimana mungkin ia membawa Nadia secara mendadak bisa-bisa gadis nakal dan pecicilan itu kaget serta bingung.
Jelas saja, mana mungkin ia bisa dengan santainya dibawa pergi seorang laki-laki yang jauh lebih tua darinya, meskipun ia seorang guru. Nadia nanti malah berpikir bahwa ia laki-laki c***l yang akan melakukan hal-hal tak senonoh padanya. Hal itu bisa saja malah membuat Nadia semakin menjauhinya dan tak mau mengenalnya lagi, dan kemudian membuat perjodohal itu batal begitu saja. Tentu Gery tak akan mungkin mau hal itu terjadi.
Namun, mengingat Nadia, Gery jadi teringat apa yang sudah terjadi kemarin. Ia merasa kasihan sebenarnya karena sudah membawa Nadia dalam masalah yang pelik hingga membuat gadis itu di skors selama satu minggu, semua orang mungkin saat ini tengah menggunjingnya dan menggosip tentang foto antara dirinya dan Gery.
Gerye menyesal hal itu bisa terjadi, padahal ia hanya ingin bersama dengan Nadia dan mengenal gadis itu lebih dalam, tapi apa yang ia lakukan salah dan membuat semuanya nampak menjadi lebih kacau. Bahkan sejak keluar dari ruang kepala sekolah Nadia tak menegurnya, sepertinya Nadia benar-benar marah dan sakit karena itu.
Kini jarak antara dirinya dengan Nadia semakin menjauh, padahal kelulusan sebentar lagi. Jika saat lulus nanti ia belum bisa mengatakan apa yang terjadi, bisa-bisa hal yang tak pernah ia inginkan terjadi. Penolakan Nadia akan menjadi masalah baru antara keluarganya dan keluarga Nadia, karena sejak awal ia sudah menerima perjodohan itu, jika tidak harusnya ia menolak saja.
Saat dirinya masih mengemudi dengan melamun itu, tiba-tiba ponselnya berbunyi, Gery melihat sekilas panggilan yang masuk, dari adik lelakinya ternyata. Ia cepat-cepat mengangkatnya dan menggunkaan earpod untuk berbicara.
"Hallo," sapa Gery pada adiknya yang di ujung sambungan telepon sana.
"Abang jadi pulang hari ini?" tanya sang adik. Rio namanya.
"Jadi, ini lagi di jalan, kenapa Yo?" ujar Gery di akhiri dengan kalimat tanya.
"Enggak apa-apa, aku cuma mau memastikan apa, soalnya Mama dari tadi udah tanya Abang jadi pulang beneran apa enggak," kata Rio.
"Kan aku sudah kirim pesan, aku bilang jadi kok, mungkin Mama gak buka pesannya," ucap Gery.
"Emang dari pagi kondisi Mama kurang stabil, Bang. Ini aja aku baru selesai jaga, Dinda (istri Rio) masih di sana."
"Kalau udah sampai sana aku langsung ke rumah sakit kok, paling sejam lagi sampai."
Kemudian Rio hanya mengatakan bahwa Gery harus berhati-hati tak perlu menambah kecepatan terlalu tinggi, karena bagaimana pun kondisi Mama mereka semuanya akan baik-baik saja.
Gery mengerti hal itu karena ia yakin bahwa adik dan iparnya pasti sudah menjaganya Mamanya dengan sangat baik, terbukti selama sakit dan ia tak bisa menunggu terus-menerus karena bekerja, keduanya selalu ada bersama. Wajar saja karena orangtua Dinda sudah meninggal sejak lama jadi yang Dinda punya kini hanya Rio dan keluarga mertuanya.
Jika dipikir-pikir Rio sebenarnya beruntung dalam hidup, ia bekerja sebagai pemilik perusahaan cukup besar dan memiliki istri yang cantik serta pintar dalam banyak hal. Rio menikah muda memang setelah lulus kuliah, sekitar dua tahun lalu. Sedangkan usianya dan usia Rio hanya terpaut dua tahun.
Rio melangkahi Gery lebih dulu menikah. Gery tak mempermasalahkan hal itu karena jika jodoh sudah datang mau bagaimana lagi. Ia tak mungkin memaksa Rio untuk menunggunya menikah dulu, karena ia tahu bahwa Dinda tak mungkin menunggu lebih lama karena perempuan harus secepatnya mendapatkan kepastian dari seorang laki-laki.
Sekitar tiga jam perjalanan dari ibu kota, setelah bermacet ria, akhirnya Gery sampai di rumah sakit di mana Mamanya berada. Memang Mamanya sudah sering keluar masuk rumah sakit akibat penyakit komplikasi yang ia derita.
"Permisi, mbak," sapa Gery pada seorang perempuan yang berjaga sebagai resepsionis. "Ruang melati kelas 1 di mana ya?"
"Kalau boleh tahu mau menjenguk pasien atas nama siapa ya?" tanya suster itu.
"Atas nama Nyonya Lina, Mbak."
"Ruangan Nyonya Lina dari sini arah kekiri lorong sebelah kanan, Mas. Nanti ada petunjuknya Ruang Melati kelas 1 bagian pertama," ujar pegawai resepsionis itu menjelaskan.
"Terima kasih ya, Mbak." Setelah mengucapkan hal itu Gery berlalu pergi menuju arah yang dikatakan resepsionis tadi.
Benar saja tak sampai lima menit ia sudah di depan pintu ruanga sang Mama, saat ia masuk Mamanya tengah berbincang dengan Dinda.
"Ma," kata Gery mendekati sang Mama sambil mencium punggung tangannya. "Gimana kondisi, Mama?"
"Kata dokter, Mama kecapean aja kok," ujar sang Mama.
"Dua hari Mama berkebun terus, Bang. Padahal sudah kubilang nanti-nanti aja, aku pun bisa merawat tanamannya," ucap Dinda.
"Mama kan lagi pengen aja berkebun," kata sang Mama.
Gery mengambil satu bangku dan duduk di samping ranjang sang Mama. "Gak ada marah Mama berkebun, tapi coba dipikirkan lagi kondisi Mama. Kasihan semua orang sedih lihat Mama gini."
"Mama lebih kasihan kalau lihat kamu belum menikah. Mana calon menantu Mama, kenapa gak dibawa kesini, Mama kan pengen lihat." Perkataan sang Mama itu sudah Gery tebak dan Gery juga sudah menyiapkan jawaban yang cukup masuk akan serta pasti diterima.
"Anaknya lagi sibuk sekolah, Ma. Beberapa bulan lagi anaknya mau kelulusan jadi harus fokus belajar dengan rajin," kata Gery berbohong pada sang Mama, karena tak mungkin ia mengatakan yang sebenarnya bahwa Nadia sedang di skors karana mendapatkan masalah yang Gery perbuat.
"Padahal Mama pengen banget ketemu dia, tapi denger dia rajin begitu Mama jadi seneng aja, gak apa-apa," ucap sang Mama.
"Nanti kalau sudah waktunya pasti ketemu kok, Ma. Tunggu aja ya, sekarang Gery sama dia lagi proses pendekatan." Mamanya mengangguk mendengar ucapan Gery itu. "Din, kalau kamu capek, kamu bisa pulang istirahat saja, biar Abang yang jaga."
"Emang Abang gak capek? Kan jauh tadi perjalanan dari ibu kota kesini," kata Dinda setelah mendengar bahwa Gery memintanya untuk pulang istirahat.
"Enggak masalah, Abang cuma duduk aja kok dari tadi. Bisa aja nanti kalau capek jalan-jalan atau tiduran," ucap Gery. "Istirahat gih kamu."
Dinda mengangguk mendengar hal itu. "Kalau gitu Dinda pulang dulu ya, Ma." Nanti Dinda kesini lagi sama Rio."
Setelah berpamitan dengan Mama mertuanya dan Gery, Dinda pun berlalu pergi dari sana. Kini di dalam ruangan itu hanya ada Gery dan Mamanya. Gery memijat tangan kanan sang Mama sedangkan tangan kirinya sedang di infus.
Mamanya sudah setua dan serapuh ini ternyata, pantas saja banyak hal sudah terjadi selama ini yang membuatnya harus bisa bersabar. Saat ditinggal Papanya dulu sang Mama masih muda, tapi semuanya cepat berlalu saat sang Mama harus menghidupi anak-anaknya seorang diri dengan mengurus perusahaan yang kini sudah besar.
Setelah beberapa tahun akhirnya sang Mama tumbang dengan penyakit komplikasi yang bisa kapan pun kambuh apalagi jika dirinya sedang lelah.