Beberapa hari setelahnya, entah dari siapa kabar tentang Gery dan Nadia yang berjalan bersama di ibukota merebak di sekolah dengan cepat. Seisi sekolah tahu bahwa mereka sedang dekat atau bahkan memiliki hubungan.
"Nad, lu pacaran ya sama pak Gery?" Begitu tanya Robby saat dirinya melihat sebuah foto mesra di mana Gery dan Nadia makan bersama.
"Dih, apaan sih lu, Ncess.. Sejak kapan gue pacaran sama Pak Gery?" kata Nadia diakhiri dengan kalimat tanya. Ia tak terkejut ataupun bingung dengan hebohnya berita itu. Padahal seharusnya ia kaget karena semua orang tahu apa yang ia lakukan dengan Gery beberapa hari lalu.
"Tapi, Nad. Seisi sekolah lagi membicarakan kalian lho. Apalagi foto yang lagi makan berdua kesebar," ucap Robby lagi.
"Gue gak tau berita itu asalnya dari mana yang pasti gue gak ada dan gak akan pernah ada hubungan sama Pak Gery, titik." Nadia menolak pernyataan Robby itu.
"Terus foto ini hoax gitu? Kerjaan orang iseng yang sengaja pengen jatuhin kamu?"
"Enggak, foto itu benar. Gue emang duduk dan makan bareng sama Pak Gery..."
"Kan ... Bener berarti bestie, Pak Gery sama Nadia jalan bareng." Robby memotong pembicaraan Nadia dan mengatakan itu pada Nabil dan Ernest.
"Gak gitu bayi bajang." Nadia kesal dan menjitak kepala Robby. "Gue lagi cari makan gak sengaja ketemu Pak Gery, terus Pak Gery ngajak jalan-jalan bentar. Saat itu kondisinya saat itu gue lagi suntuk gak ada satupun dari kalian yang ngajak gue jalan. Kan kampret."
Nadia merungut sambil melihat ketiga temannya yang seolah sedang memasang wajah tanpa dosa.
"Pas itu kan gue lagi sibuk ngurusin tahlilan nenek gue," kata Nabil.
"Bener. Gue juga lagi nemenin om gue jalan-jalan," ujar Robby.
"Lu mau alesan apa lagi, Nest? Anjing tetangga lu ketabrak truk karna bikin konten, gitu?" kata Nadia.
"Jujur gue emang lagi pacaran sih." Seolah tanpa rasa bersalah Ernest mengatakan itu.
"Kan, kalian emang kampret. Lu Bil, kan bisa ajak gue tahlilan, makan enak," ucap Nadia.
"Anu, nenek gue tahlilannya di Bandung, jadi jauh gak enak kalau bawa lu," kata Nabil.
"Nenek lu yang mana lagi sih, seingat gue? Kedua nenek lu udah mati pas lu SD sama SMP," ujar Robby.
"Kakek gue dari bokap poligami tiga kali, masih ada satu lagi yang hidup," jawab Nabil.
"Pantesan keluarga lu banyak banget, kalah tuh keluarga kucing."
Setelah Robby mengatakan hal itu kawan-kawannya malah tertawa terbahak. Namun, tawa itu berhenti saat sebuah panggilan dari pengeras suara berbunyi.
"Panggilan kepada siswa bernama Nadia Rumaya kelas XII, untuk segera menghadap ke ruang kepala sekolah secepatnya!" Begitu kira-kira suara dari pengeras suara yang mereka dengar.
"Nad, lu di panggil tuh." Nabil bersuara.
"Lu bikin masalah lagi, ya?" tanya Robby.
"Rasanya kagak deh," kata Nadia. "Dah lah gue kesana dulu."
Setelah mengatakan itu Nadia turun dari atap sekolah diikut teman-temannya yang lain. Nadia sesekali berpikir apa yang terjadi, rasanya ia tak melakukan kesalahan akhir-akhir ini, tak membuat keributan ataupun masalah yang seharusnya ia dipanggil kepala sekolah. Apa saking banyaknya masalah dan ia harus keluar dari sekolah? Rasanya tak mungkin, jika benar kenapa tak melakukan hal itu sejak dulu.
Ketika sudah sampai di lantai dasar, selama menuju ruang kepala sekolah siswa-siswi seisi koridor terus menatapnya, ia biasa dengan tatapan seperti itu memang, tapi kadang ia jengkel, apalagi saat ini ia tahu apa maksud dari tatapan itu yang tak lain pasti karena tersebarnya kabar tentang foto antara dirinya dan Gery. Mereka berbisik seolah tak pernah mendengar hubungan antara seorang siswa dan gurunya. Bukankah hal seperti itu wajar-wajar saja bukan. Dari dulu hampir di setiap sekolah pasti ada.
Lalu kenapa hal itu justru heboh. Lagi pula foto yang tersebar pun bukan foto yang menampakkan bahwa ia dan Gery tengah melakukan hubungan intim, mereka hanya duduk bersama sambil berhadap-hadapan begitu saja.
Begitu sampai di ruang kepala sekolah, di sana sudah ternyata sudah ada Gery. Nadia kini tahu alasan kenapa ia di panggil, pasti karena berita itu. Ternyata masalah itu menjadi begitu besar hanya karena foto dan berita yang tidak jelas.
"Kalian tahu kan kenapa Bapak Gery dan Nak Nadia dipanggil?" tanya Ibu kepala sekolah pada Nadia dan Gery.
Gery mengangguk sedangkan Nadia diam, lalu kemudian Nadia berucap untuk menanggapi. "Saya tidak tahu, Bu. Saya rasa beberapa minggu ini saya tidak melakukan kesalahan apapun, saya juga tidak nakal lagi."
Gery terdiam mendengar ucapan Nadia itu, sementara kepala sekolah membuka ponselnya dan memperlihatkan foto antara Gery dan Nadia. Ternyata benar, Nadia dipanggil karena foto itu.
"Ada apa dengan foto itu, Bu?" tanya Nadia kemudian.
"Kalian tahu kan seisi sekolah bahkan wali murid sudah tahu tentang foto itu?" tanya balik Ibu kepala sekolah. "Foto kalian itu tak pantas untuk kebaikan sekolah ini."
"Apanya yang tak pantas, Bu. Kami hanya duduk berhadapan sambil makan. Foto itu bukannya kami sedang melakukan hal yang buruk," ucap Nadia menyanggah ucapan kepala sekolah.
Gery yang mendengar hal itu hanya bisa mencubit lengannya pelan.
"Dari foto itu orang bisa berasumsi berbeda, apalagi orang bisa berpikiran kalian memiliki hubungan lebih dari guru dan murid," ucap ibu kepala sekolah. "Tidak salah sebenarnya kalian memiliki hubungan jika tak ada orang yang tahu."
"Lalu salahnya di mana, Bu?" Nadia terus saja bertanya.
Semakin Nadia bersikeras dengan sanggahannya Ibu kepala sekolah juga semakin memojokkan dan terus menyalahkannya, Nadia merasa jengkel dengan itu semua, tapi ia tak mungkin melawan kepala sekolah terus menerus.
Dari semua perdebatan yang ada Gery hanya bisa diam dan tak mengatakan apapun, Nadia jengkel dengan diamnya Gery tapi ia tak bisa menyuruh Gery untuk berbicara.
Lalu pembicaraan itu berakhir dengan Nadia yang terkena skors selama satu minggu dan Gery di istirahatkan mengajar sekitar satu bulan. Selama itu Nadia tak akan bertemu lagi dengan Gery.
Nadia keluar lebih dulu dari ruangan Ibu kepala sekolah, di luar teman-temannya sudah menunggu dengan banyak sekali pernyataan.
"Jadi lu di skors selama seminggu?" tanya Robby mengulang pernyataan Nadia. Sedangkan Nadia hanya mengangguk saja. "Terus Pak Gery yang ganteng itu gimana?"
"Orangnya diistirahatkan selama sebulan, gak dipecat," jawab Nadia. "Udah lah mumpung masih istirahat mending kita makan ke kantin."
Nadia dan ketiga temannya berjalan menuju kantin. Sementara itu Gery baru saja keluar dari ruang Ibu kepala sekolah dengan wajah diam datar seolah tak terjadi masalah apapun. Hanya beristirahat selama sebulan tak menjadi masalah baginya, ia bisa beristirahat dengan santai tanpa peduli harus bekerja. Lagi pula tanpa harus mengajar uangnya juga masih banyak, dari mana lagi kalau bukan warisan Papanya, ia juga punya setengah saram di perusahaan yang adiknya pimpin saat ini.
Gery berjalan menuju ruangan guru, di sana beberapa guru menanyainya dan Gery pun menjawab seadanya. Setelah itu ia membereskan beberapa barang untuk ia bawa pulang ke apartemennya. Kemungkinan setelah ini ia bisa pergi pulang untuk mengunjungi mamanya, karena bagaimana pun mamanya saat ini juga sedang sakit.