Jalan-jalan penuh kecanggungan meskipun tidak begitu hening. Nadia merasa sedikit aneh saat berjalan malam hari bersama dengan gurunya itu, seolah mereka tak pernah terjarak antara guru dan murid. Namun, sepertinya hanya Nadia yang merasakan hal itu sedangkan Gery seolah ia sedang berjalan dengan seorang gadis dalam kencan yang sengaja dirancang.
Gery mengakui bahwa memang kencan itu dirancang orangtua Nadia, meskipun ia tak harus menyebutnya sebagai kencan, melainkan hanya jalan-jalan biasa sambil menikmati waktu luang. Awalnya ia pikir Nadia akan benar-benar menolak hal itu dan lebih memilih berada di dalam kamarnya sampai esok pagi saat pagi kembali datang. Namun, jelas tak terjadi.
"Masih mau jalan?" tanya Gery saat mereka berada di dalam mobil.
Nadia masih mengunyah cemilan yang dibelikan Gery untuknya agar Nadia tak cemberut terus menerus. Hal itu berhasil, Nadia tak banyak berbicara sesuatu hal yang penting sejak tadi, termasuk tak banyak menanggapi ucapan Gery. Menyebalkan dan kurang ajar memang.
"Kemana lagi?" Nadia balik bertanya.
"Kamu maunya kemana? Dari tadi kita udah keliling," kata Gery.
"Terserah Bapak aja, atau mau nongkrong di alun-alun taman kota," ujar Nadia.
"Oke, kita kesana." Setelah mengatakan itu Gery membawa mobil kearah alun-alun taman kota yang tak jauh dari tempat mereka saat ini.
Beberapa saat kemudian mereka pun sampai, tak lama karena jalan malam itu sedikit sepi. Semalam itu memang tak banyak yang berada di jalan, Orang-orang lebih memilih untuk tidur dengan nyamannya.
Setelah sampai, Gery memarkirkan mobilnya kemudian mereka pun keluar bersama sambil melihat-lihatmelihat-lihat. Alun-alun taman kota juga tak begitu ramai, apa mungkin karena sudah malam.
Mereka duduk disalah satu bangkit, sambil pandangan mereka tertuju pada keindahan alun-alun taman kota. Gery menikmati itu semua sedangkan Nadia sesekali sibuk dengan ponselnya, ia tak menghubungi siapapun hanya saja ia sedang berselancar di media sosial, melihat hal-hal yang terjadi di sana.
"Bapak sudah punya pacar?" tanya Nadia kemudian, yang entah mengapa pertanyaan itu tiba-tiba saja muncul.
"Tumben, ada apa kamu bertanya begitu?" Gery malah bertanya.
"Tanya saja. Tapi sepertinya Bapak gak punya, buktinya Bapak lebih memilih pergi dengan saya," kata Nadia.
"Kamu terlalu banyak menebak," ucap Gery. "Tapi bener juga apa yang kamu katakan. Saya memang gak punya pacar."
"Jelas sih, Pak. Lagi pula perempuan mana yang mau sama laki-laki kayak Bapak."
"Memang ada masalah dengan saya? Saya pikir saya nggak jelek banget."
"Gak semua perempuan mikir soal fisik, Pak. Ada juga yang tentang pola pikir dan sikap. Bapak terlalu kaku dan dingin, perempuan kan jadi takut dekat dengan Bapak," ujar Nadia.
"Saya terlalu kaku dan dingin, Ah masa sih? Maksudmu saya pendiam gitu?"
"Enggak, Pak. Bapak itu lebih ke menakutkan sih."
"Saya bukan hantu, dan ari pembicaraan ini semua saya memang belum memiliki pacar. Tapi, saya punya calon istri yang sudah di jodohkan orangtua saya untuk saya," kata Gery.
"Jodohin, emang masih jaman main jodoh-jodohin gitu, Pak? Udah 2022 lho ini Pak," ucap Nadia.
Gery mengulas senyumnya tipis, kemudian ia memandangi wajah Nadia yang duduk di sebelah kanannya duduk. Jika dipikir memang sedikit kolot dan kuno kalau membahas tentang perjodohan, apalagi ia tak mungkin tak bisa mendapatkan seorang perempuan untuk menjadi miliknya.
Gery pikir ia cukup menarik bagi seorang perempuan, ia memiliki banyak hal yang tak dimiliki lelaki kebanyakan. Ia tampan, berbadan ideal, pintar dan juga beruang.
Lalu mengapa ia menerima perjodohan itu? Kenapa ia tak menolak saja? Hidupnya hanya sesederhana itu, saat semua bermula dari kematian Papanya.
Lima belas tahun lalu, saat ia masih bersekolah, Papanya meninggal karena sebuah penyakit. Sejak saat itu Mamanya yang sibuk menghidupinya dan sang adik, hingga mereka lulus sekolah. Setelah lulus sekolah Gery memutuskan untuk pergi ke ibu kota dan kuliah di sana sambil bekerja, padahal sang mama meminta untuk tetap di sana meneruskan usaha keluarga, tapi Gery menolak.
Kemudian usaha itu berpindah tangan ke adiknya yang usianya terpaut hanya dua tahun darinya. Menjelang ia wisuda mamanya sakit keras hingga saat ini sering keluar masuk rumah sakit.
Pada suatu waktu sang mama memintanya menikah dengan seorang perempuan yang tak lain anak dari sahabat Mama dan Papanya, demi membalas budi kebaikan kedua orangtuanya selama ini Gery pun menerimanya dan di sanalah saat ini ia berada.
Gery tak menyangka jika perempuan yang dijodohkan dengannya tak lain hanyalah gadis SMA yang begitu nakal, urakan dan kurang ajar. Gadis yang selalu membuat banyak guru kelas jengkel, sering bolos dan sering membuat keributan di sekolah. Namun, karena itu semua yang malah membuat Gery suka. Ia seolah punya misi untuk merubah sifat gadis itu.
Orangtua Nadia pun memgatakan hal yang sama, mereka sudah angkat tangan dengan sifat anak mereka yang semakin hari semakin keterlaluan, apalagi dari cerita mereka, Nadia dan orangtuanya tak begitu akrab, hal itu jelas membuat Nadia menjadi gadis yang sedikit keras karena kurangnya kasih sayang orangtua selama ini.
"Kamu sendiri, punya pacar gak?" tanya Gery menyadarkan diri dari banyak hayalan.
"Pacar? Hmm pertanyaan yang menarik, Pak. Tapi saya gak punya pacar," jawab Nadia.
"Kenapa? Karena kamu jelek ya? Ya mau gimana lagi jelek dan cantik kan sudah takdir Tuhan," kata Gery mengejek Nadia.
"Loh kok Bapak malah mengejek saya, body shaming itu namanya Bapak."
"Saya bukan mengejek hanya bertanya, lagi punya apa alasannya kamu gak punya pacar, kalau gak jelek pasti gak laku, kan?"
"Saya gak tau keduanya, yang pasti saya gak pengen pacaran. Lagi pula itu terlalu membuang waktu, gak bebas dan tertekan. Apalagi saya bukan tipikal perempuan manja yang butuh laki-laki."
"Kelihatan kok."
"Kelihatan apanya?"
"Kelihatan kalau kamu sebenarnya gak laku, kan."
Wajah Nadia berubah merajuk dengan ucapan Gery itu.
"Udahlah jadi gak mood, kita punya aja. Lagian udah malam juga."
Gery tak merespon hanya diam sambil mengangguk pelan, kemudian bangkit. Nadia sedikit terkejut, ia pikir Gery akan mencegahnya dan memaksakan untuk tetap di sana tapi nyatanya tidak. Gery benar-benar laki-laki yang kaku dan tak seramah itu, Gery tak peduli dengan keadaan.
Mereka masuk kedalam mobil kembali. Gery membawa mobil itu berlalu pergi dari taman sana.
"Langsung pulang?" tanya Gery.
"Iya, Pak. Udah ngantuk saya."
Gery tak menjawab hanya membawa mobil itu sedikit lebih cepat dari tadi, mungkin ia sudah ingin sampai di rumah.
Sekitar tiga puluh menit kemudian mobil itu pun berhenti di depan rumah Nadia. Nadia turun dan berpamitan masuk kedalam tanpa meminta Gery untuk singgah.
Gery pun berlalu dari sana dan kembali ke apartemennya, untuk beristirahat juga karena besok akan kembali mengajar.