Baska terus memacu jantung Daren dengan pacemaker, hingga beberapa detik kemudian, detak jantung Daren kembali. Baska menghela napas lega. Ia bahkan sampai mengusap air matanya. "Gue tahu, lo gak akan nyerah. Lo bangun untuk anak lo." Baska terkekeh pelan. Ia menaruh pacemaker nya lalu membenarkan posisi tidur Daren. "Selamat. Lo jadi Ayah." Tangan Daren bergerak perlahan, matanya sedikit terbuka. Melihat itu, Baska menyilangkan kedua tangannya, lalu memdengkus. "Ayo bangun!" Mata Daren membuka sempurna. Kepalanya terasa sakit dan tubuhnya juga kaku. Baska menunggu kalimat pertama yang akan dikatakan Daren. Saat pria itu menoleh ke arah Baska, bibirnya mulai bergerak ingin mengatakan sesuatu. "La-par," katanya dengan suara bergetar. Baska memutar bola matanya. "9 Bulan. ren. Kata perta

