Semoga Aku Menikah Ep1
Bab 1 — Doa di Sepertiga Malam
Malam itu hujan turun perlahan membasahi kota kecil tempat Fahri tinggal. Suara rintik air terdengar lembut mengenai genting rumah sederhana milik keluarganya. Angin dingin masuk dari sela jendela kamar yang belum tertutup rapat.
Fahri duduk sendiri di atas sajadahnya. Jam dinding menunjukkan pukul dua dini hari. Semua orang di rumah telah tertidur sejak lama, tetapi matanya belum bisa terpejam.
Di hadapannya, Al-Qur’an masih terbuka pada surah Ar-Rahman. Ayat-ayat yang tadi ia baca terasa menenangkan hati, namun tetap saja ada ruang kosong yang tidak bisa ia jelaskan.
Sudah beberapa bulan terakhir Fahri sering memikirkan tentang pernikahan.
Bukan karena iri melihat teman-temannya yang mulai membawa anak kecil ke masjid. Bukan pula karena tuntutan usia. Namun ada perasaan dalam hatinya yang berkata bahwa ia ingin memiliki seseorang untuk berjalan bersama menuju ridha Allah.
Ia ingin pulang ke rumah dan disambut senyum seorang istri.
Ia ingin ada seseorang yang mengingatkannya salat tahajud.
Ia ingin memiliki keluarga kecil yang dipenuhi bacaan Al-Qur’an.
Fahri mengusap wajahnya pelan.
“Ya Allah…” lirihnya.
Suara itu hampir tenggelam oleh suara hujan.
Fahri menundukkan kepala. Matanya mulai terasa hangat.
Di usianya yang menginjak dua puluh delapan tahun, hidupnya memang sederhana. Ia bekerja di toko buku Islam dekat masjid raya dan menjadi guru mengaji untuk anak-anak setiap sore.
Penghasilannya tidak besar.
Rumahnya pun bukan rumah mewah.
Kadang Fahri merasa malu jika memikirkan pernikahan.
“Apa ada perempuan yang mau hidup sederhana bersamaku?” pikirnya.
Namun setiap kali rasa takut itu datang, ia teringat satu hal.
Allah adalah sebaik-baik pemberi rezeki.
Dan Allah pula yang membolak-balikkan hati manusia.
Fahri berdiri lalu melaksanakan salat tahajud dengan khusyuk. Dalam setiap sujudnya, ia memperpanjang doa.
“Ya Allah… jika memang pernikahan akan membuatku lebih dekat kepada-Mu, maka dekatkanlah jodohku.”
Air matanya menetes.
“Berikan aku wanita yang mencintai-Mu lebih dari mencintai dunia.”
Suasana kamar menjadi sangat tenang.
Fahri merasa seperti sedang berbicara langsung kepada Tuhannya.
Tidak ada yang lebih menenangkan selain mencurahkan isi hati kepada Allah.
Setelah selesai salat, ia tetap duduk di atas sajadah.
Ingatannya melayang pada percakapan beberapa hari lalu bersama ibunya.
“Fahri,” kata ibunya sambil tersenyum lembut, “Ibu ingin sekali melihat kamu menikah.”
Fahri hanya tertawa kecil waktu itu.
“Fahri belum siap, Bu.”
“Siap itu bukan soal kaya dulu,” jawab ibunya. “Kadang Allah justru menyempurnakan seseorang setelah menikah.”
Ucapan itu terus terngiang dalam pikirannya.
Ia sadar bahwa ketakutannya selama ini lebih besar daripada keyakinannya kepada Allah.
Padahal banyak orang memulai kehidupan rumah tangga dari keadaan yang sangat sederhana.
Fahri menarik napas panjang.
Ia lalu membuka ponselnya. Ada beberapa pesan dari teman-temannya di grup alumni pesantren. Sebagian besar berisi foto keluarga kecil mereka.
Fahri tersenyum melihatnya.
“Masya Allah…” gumamnya.
Ia ikut bahagia.
Namun di sudut hati kecilnya, ia juga berharap suatu hari nanti bisa mengirim foto yang sama.
Bukan untuk pamer.
Tetapi sebagai tanda syukur atas doa yang dikabulkan.
Tak lama kemudian, suara azan subuh mulai terdengar dari masjid.
Fahri segera bangkit mengambil wudhu lagi.
Udara terasa semakin dingin.
Saat berjalan menuju masjid, jalanan masih basah oleh hujan malam. Lampu-lampu rumah tampak redup. Kota kecil itu masih setengah tertidur.
Sesampainya di masjid, Fahri melihat hanya ada beberapa jamaah.
Ia duduk di saf depan sambil menunggu iqamah.
Seorang lelaki tua yang sering datang ke masjid duduk di sampingnya.
“Belum tidur dari tadi malam?” tanya lelaki itu sambil tersenyum.
Fahri tertawa kecil.
“Sulit tidur, Pak Haji.”
“Memikirkan masa depan?”
Fahri terdiam sejenak.
“Memikirkan jodoh,” jawabnya jujur.
Pak Haji tersenyum bijak.
“Kalau begitu, kamu sedang memikirkan salah satu bentuk ibadah terpanjang dalam hidup.”
Fahri menoleh.
“Pernikahan itu bukan sekadar mencari teman hidup,” lanjut Pak Haji. “Tapi mencari seseorang yang bisa membawamu lebih dekat kepada Allah.”
Ucapan itu membuat hati Fahri bergetar.
Benar.
Selama ini ia terlalu fokus pada rasa takut miskin.
Padahal yang paling penting adalah mencari keberkahan.
Setelah salat subuh selesai, Fahri tidak langsung pulang. Ia duduk di teras masjid sambil memandangi langit yang mulai terang.
Hujan telah berhenti.
Udara pagi terasa sangat segar.
Burung-burung mulai terdengar berkicau.
Dalam ketenangan pagi itu, Fahri kembali berdoa dalam hati.
“Ya Allah… aku tidak tahu siapa jodohku.”
“Tapi jika dia sedang berdoa di tempat lain, jagalah hatinya.”
“Jika dia sedang bersedih, bahagiakan dia.”
“Dan jika Engkau berkenan… pertemukan kami dengan cara yang paling indah.”
Fahri menutup matanya sesaat.
Ada rasa tenang yang sulit dijelaskan.
Seolah Allah sedang menenangkan hatinya.
Seolah ada harapan baru yang tumbuh perlahan.
Ia tidak tahu bahwa di sudut kota lain, seorang wanita muslimah juga sedang menengadahkan tangan setelah salat subuh.
Wanita itu bernama Aisyah.
Dengan mata berkaca-kaca, Aisyah berdoa:
“Ya Allah… jika Engkau menciptakan seseorang untukku, maka dekatkanlah dia dalam cara yang Engkau ridai.”
Tak ada yang tahu bagaimana Allah mempertemukan dua hati.
Tak ada yang tahu kapan doa-doa itu akan dijawab.
Namun satu hal yang pasti.
Allah selalu mendengar.
Dan bagi hamba yang terus berharap kepada-Nya, tidak ada doa yang benar-benar sia-sia.
Pagi itu Fahri pulang dari masjid dengan hati yang jauh lebih tenang.
Ia tersenyum kepada ayahnya yang sedang menyapu halaman.
“Subuh-subuh sudah senyum sendiri,” goda ayahnya.
Fahri tertawa kecil.
“Tidak apa-apa, Yah. Fahri cuma merasa… Allah pasti punya rencana yang indah.”
Ayahnya mengangguk pelan.
“Dan tugas kita hanya satu,” katanya.
“Apa itu?”
“Terus berdoa dan percaya.”
Fahri menatap langit pagi yang mulai cerah.
Hatinya mengucap lirih:
“Semoga aku menikah… dengan seseorang yang mampu membawaku ke surga-Mu, ya Allah.”