Memanfaatkan kemarahan

2035 Words
Karena memanfaatkan kemarahan Fengying, Helsi sebisa mungkin mencari celah agar kesalahan Kavya makin terlihat. Padahal Kavya sebaik mungkin tetap bersabar meskipun suaminya berpikir yang tidak-tidak. Dia berani bersumpah tidak akan berani mengkhianati Fengying di belakangnya. Nama Leon hanya sekedar nama saja, pria yang hanya sebatas teman saja tidak lebih dan tidak kurang. "Belum apa-apa saja sudah bikin curiga suami sendiri. Harusnya kamu sadar, Kavya, Fengying kerja pagi sampai petang buat siapa? Dan kamu malah bertemu dengan pria lain. Cerdik sekali ya kamu?!" Ingin sekali saja Kavya dibela, harus berapa kali kalau Leon memang tidak sengaja bersama bertemu di bioskop kemarin. Dia bahkan tidak marah sama sekali atas keterlambatan suaminya. Harusnya Kavya bisa menyerang balik, Fengying selalu menang sendiri dan tidak memikirkan betapa capeknya Kavya menunggu sampai kakinya lelah berdiri. Dan sekarang, mertuanya malah ikut-ikutan masalah rumah tangga mereka. Dari dulu, Kavya hanya takut hal seperti ini akan terjadi dan ternyata benar-benar dialaminya. "Kavya tidak sekalipun berniat bertemu dengan pria lain. Mas Fengying memang mengajakku menonton film, Ma. Tolong, kalau belum tahu kebenarannya jangan asal menuduh. Aku juga punya perasaan." Waw, baru kali ini Helsi melihat tatapan Kavya nampak berani. Selama ini, bukankah menantunya selalu menurut akan semua perintahnya? Malas berdebat, Kavya langsung menyalami tangan Helsi dan pergi ke toko bunga. Rencananya, dia akan membawakan makan siang langsung ke kantor Fengying. Hitung-hitung sebagai permintaan maaf dan juga kesalahpahaman mereka berdua. Tampaknya merenggangnya hubungan mereka menjadi langkah awal memisahkan pasangan suami istri itu. Helsi segera menceritakan semuanya kepada Friska, tapi sesuai janji kalau mereka tidak boleh meninggalkan jejak seperti pesan ataupun panggilan telepon. Kalau sampai Chandra tahu, bisa-bisa rencana mereka berdua akan gagal total. Karena suaminya memang merestui hubungan anaknya sejak awal pendekatan. Toko bunga nampak sepi, Naina pun malas dengan rutinitas yang sama hampir setiap hari. Tapi dia adalah tipe perempuan yang tidak suka bekerja di kantor ataupun berkutat dengan puluhan tugas. Setidaknya, Naina masih bisa melampiaskan kebosanannya dengan berbicara dari hati ke hati pada tanaman ataupun bunga yang sedang dia rawat. "Kamu sepertinya sedang dalam mood buruk. Bertengkar sama Fengying?" "Kelihatan banget ya?" Padahal Kavya sudah menambahkan concealer sedikit untuk menyembunyikan kantung matanya, menahan tangis lantaran tidak ingin menganggu tidur Fengying ternyata tidak mudah. Bangun tidur saja, Fengying masih terdiam. Tidak ada ucapan selamat pagi seperti biasanya. Dan hari-hari Kavya terasa berbeda. "Kamu tidak ada rencana menikah tahun ini? Bukankah kamu bilang sedang dekat dengan seseorang, Na?" "Haw, kamu saja baru bertengkar dengan suamimu dan kelihatan banget gak semangat. Ini nih yang bikin aku takut dekat sama pria, takut salah pilih." "Namanya juga hubungan. Pasti ada pasang surutnya kan?" Naina hanya heran, dulu sekali saat masa-masa pdkt Fengying terlihat manis dan mau menyingkirkan egonya. Tapi setelah menikah malah berusaha dianggap harus diprioritaskan. Sangat tahu kalau Kavya berusaha juga beradaptasi dengan bu Helsi yang sedari awal tidak menyukai hubungan mereka. "Aku merasa takut saja. Aku harap aku bertemu pria yang mengalah dan gampang mengakui kesalahannya." Sudah lama menjomlo, Naina juga berharap bisa menanggalkan status singlenya. Tuntutan orang tua selalu menjadi pikiran setiap ada acara keluarga. *** Kantor Fengying terlihat tidak ramai dan sepi. Meskipun sudah banyak yang tahu siapa istri dari CEO perusahaan itu, tapi ini adalah kali pertama Kavya mendatangi ruangan suaminya sebagai seorang istri. "Bisa bertemu dengan pak Fengying?" "Ada keperluan apa ya? Dan apakah sudah membuat janji?" Kavya memperjelas posisinya lalu pegawai di bidang informasi langsung menunjukkan ruangan setelah meminta maaf karena tidak mengenali istri atasannya. Baru saja pergi, telinganya pasti tidak salah dengar. Apakah orang-orang itu tidak punya kesibukan lain selain menggunjingkan penampilan orang? "Jadi itu istrinya pak Fengying. Ah, ternyata memang benar, cantik, dan kurasa dia bukan dari keluarga yang kaya. Lihat saja pakaiannya." Memangnya harus memakai pakaian bermerek apa saat mengunjungi suaminya di kantor? Apakah ada tulisan yang mengharuskan untuk berpenampilan modus? "Mas Fengying. Boleh Kavya masuk?" "Kavya? Kenapa bisa sampai ke sini?" Fengying kaget, pandangannya teralihkan dengan kedatangan istrinya. Lalu menyuruh dua orang yang sedang berada di ruangannya keluar. Bisa dilanjutkan nanti. "Mas, kamu punya kenalan tidak. Rasanya aku ingin sekali melihat Naina punya pasangan. Mas kan orang penting di sini, pasti banyak orang-orang yang dikenal Mas kan?" "Memangnya ada apa dengan Naina? Dia kebelet nikah?" Senyum Fengying sudah terbit. Itu tandanya kemarahannya sedikit mereda. Dengan hati-hati, Kavya membuka makanan yang dia beli, kesukaan Fengying, rica-rica dan orak-arik telur. "Hanya mungkin dia sering pusing dituntut menikah tahun ini. Sebenarnya dia takut melangkah maju sih, Mas." Fengying mengangkat bahu. Paling anti sekali merekomendasikan dan jadi mak comblang untuk hubungan seseorang, bisa-bisa saat retak pasti akan canggung. "Aku tidak bisa janji sih. Oh ya, nanti ada rapat, kamu kutinggal sendiri gak apa-apa? Kalau mau jalan-jalan sekitar kantor aku bisa menyuruh sekretarisku menemanimu." "Tenang saja, Mas. Aku betah kok di sini, sejuk karena pakai AC. Lagian kakiku mudah lelah kalau harus naik turun lift. Kamu yang semangat kerjanya ya, maaf soal kemarin. Aku ke sini memang untuk mengulangi permintaan maafku." Fengying mendekat ke arah Kavya, diciumnya ubun-ubun kepala wanita yang sudah menjadi istrinya beberapa bulan ini. Memang sih, dalam rumah tangga tidak selalu mulus dan Fengying memang paling tidak suka istrinya didekati Leon. Takut direbut. "Tidak apa-apa. Salahku juga. Aku siap-siap dulu, di sana ada sofa dan kamu bisa tiduran di sana. Kalau butuh sesuatu bisa bilang sama sekretarisku, Sayang. Tekan saja angka 1, nanti kamu akan terhubung ke teleponnya." *** Sudah lama sekali Helsi menunggu kedatangan Friska. Temannya bilang hari ini akan membawa wanita yang katanya sangat cocok bersanding dengan Fengying. Tapi, sudah 15 menit Friska belum muncul juga. "Bu Helsi ya?" Mendengar namanya dipanggil, Helsi mendongak ke atas dan melihat secara seksama. Wanita cantik dengan rambut sebahu, berpakaian ala orang kantoran dan terlihat anggun sekali. "Ah iya. Amanda?" Wanita itu duduk dan berjabat tangan. Dia sudah tahu banyak tentang keluarga Helsi juga soal pria yang harus dia rebut dari istri sahnya. Amanda bukanlah penjahat, hanya wanita kesepian yang suka sekali dengan pria penurut seperti Fengying. Begitu melihat foto pria itu sekali saja, Amanda tertarik untuk bekerja sama. "Kamu cantik sekali. Apakah Friska yang memberitahumu untuk bertemu denganku di sini?" Mengangguk dan menyerahkan kartu namanya. Jabatan yang tinggi dan pendidikan yang tidak memalukan. Beda derajat dengan Kavya yang hanya sebagai istri penjual bunga. "Aku sudah mendengar banyak tentangmu Amanda. Karirmu, latar belakang, hobi, dan juga pendidikanmu. Kamu memang menantu yang tepat untuk dibanggakan. Apakah tante bisa mempercayai kamu?" Pesanan minumannya sudah datang, mengaduk pelan dengan mimik wajah yang tenang. Menghadapi wanita seperti Kavya adalah hal yang mudah. Tinggal pakai cara yang lumayan ekstrem agar wanita itu merasa tersakiti. "Tenang saja, Bu Helsi. Aku pandai menggunakan kesempatan sebaik mungkin. Aku sudah mencari tahu juga tentang Fengying dan istrinya, mereka akan terpisahkan dengan segera. Lagian, kalau boleh jujur Fengying sangat tipeku sekali." "Dia sangat tampan bukan?" Amanda jujur mengakuinya. Dan tinggal cara liciknya untuk mendekati pria itu nanti, tunggu saja tanggal mainnya. "Kalau boleh tahu, apakah Kavya punya kelemahan?" "Dia terlalu mudah percaya dengan orang." "Ah, begitu. Baiklah. Aku akan pakai caraku, Bu Helsi." Helsi percaya seratus persen. Dari dulu, Friska selalu berhasil saat merencanakan sesuatu. Dan Helsi pasti akan membayar bonus yang tinggi atas kerja sama ini. Mereka melanjutkan obrolan ringan dan dengan bodohnya malah menjatuhkan Kavya, Amanda sangat yakin kalau calon mertua barunya memang menyimpan dendam yang amat dalam pada menantunya sendiri. "Sepertinya kamu juga sibuk. Aku tidak akan menganggumu lagi. Kabari aku jika kamu membutuhkan informasi tertentu. Senang bertemu denganmu, Amanda. Semoga kita bisa segera menjadi keluarga." Amanda ikut berdiri, mereka pisah masing-masing ke arah yang berbeda. Karena memang tidak ada jadwal lagi di kantor, Amanda iseng mendatangi perusahaan di mana Fengying bekerja. Dengan bantuan orang lain, Amanda dengan mudah bisa mengetahui yang mana Fengying. Beruntung sekali pria itu sedang makan siang di sebuah restoran dekat kantor, Amanda pun ikut masuk ke dalam. Pandangannya malah teralihkan pada sosok wanita yang sudah bisa ditebaknya. Pasti Kavya. Ternyata wanita itu ada di sini juga. Fengying pergi ke toilet dan Amanda memang sengaja melewati pria itu, pura-pura menjatuhkan ponselnya. "Ah, maaf, aku tidak begitu melihat tadi." "Tidak apa-apa, Nona. Aku juga yang salah tadi. Ponselmu tidak apa-apa? Apakah perlu kuperbaiki?" Amanda mengangkat ponselnya, masih aman. Dia sengaja menunjukkan senyuman menggoda, tapi Fengying memang tidak pernah tertarik dengan wanita lain karena sudah memiliki Kavya. "Terima kasih, tapi ini tidak lecet sama sekali." Mereka saling menjauh, Fengying melangkah lagi ke toilet. Dan Kavya yang kepo apa yang terjadi sudah tidak peduli lagi dengan Amanda yang memesan meja. "Tadi kenapa, Mas?" "Ah, tadi aku tidak sengaja menabrak wanita dan ponselnya terjatuh. Untung saja tidak kenapa-kenapa. Semua ini gara-gara kamu sayang." "Kok aku?" Kavya heran, kesalahan apa lagi yang dia perbuat kali ini? "Karena kamu membuatku gagal fokus sampai aku tidak sadar kalau aku tinggal di bumi dan menapakkan kaki di sini. Bahkan, aku baru sadar kalau kamu sangat cantik hari ini." "Dasar gombal." Pesanan mereka sudah tersaji, dengan manjanya Fengying meminta Kavya untuk menyuapi. Padahal restoran lumayan ramai dan Kavya mengaku malu. Tapi mau bagaimana lagi suaminya memang selalu meminta hal-hal random seperti ini. Melihat kemesraan mereka berdua, Amanda hanya tersenyum getir. Sepertinya harus benar-benar memakai cara jahat agar Kavya bisa lenyap dari kehidupan suaminya. Lihat saja, tidak ada seorang pun yang bisa menolak kehadiran Amanda. *** Pagi-pagi sekali, Naina yang kadang lupa mengenali wajah seseorang berusaha mengingat pria yang mencari keberadaan Kavya. Siapa tadi? Radit? Wah, teman Kavya banyak rupanya. Pantas saja Fengying sangat cemburuan. "Aku kakaknya Kavya. Dia belum sampai ya?" Ah ya ampun! Kenapa Naina bisa lupa wajah kak Radit. Bukankah mereka bertemu saat Kavya meminta bantuan Naina dulu pasca akad nikah? "Maaf, aku lupa tadi. Biasanya Kavya berangkat jam 7 dan aku memang sengaja membuka florist supaya lebih fresh saja. Banyak orang yang memberi bunga kepada orang-orang tersayang pada jam-jam segini." Radit terpaku akan keuletan Naina. Baru kali ini ada perempuan yang begitu anggun padahal hanya menyiram dan merangkai bunga saja. Tapi bagi Radit sendiri, pesona Naina memang sulit ditolak begitu saja. "Kesibukan kamu akhir-akhir ini apa, Kak?" "Hanya bertahan hidup sih. Aku gak sesukses Fengying tapi aku bukan pria pengangguran. Kamu pasti sudah betah banget ya di sini? Bunga-bunga yang dulu hanya kuncup saja kini bermekaran indah. Kamu lebih pandai dari Kavya soal tanaman rupanya." Naina tidak setuju. Kavya jelas lebih banyak pengalaman dibandingkan dengannya. Dia hanya banyak belajar dari Kavya mengenai banyak hal mulai merawat tanaman dan juga bunga-bunga yang masih butuh pertolongan. "Wah, sepertinya kalian asik sekali. Aku sampai pangling siapa pria yang bicara sama Naina. Pagi, Na. Kak Radit gak usil kan?" Ah, Kavya ganggu saja. Radit juga ingin sekali punya seseorang yang membuat jantungnya berdetak. Dia sudah lama tidak merasakan perasaan sehangat itu. Naina merasa malu dan memilih ngacir ke belakang. Meskipun penampilan Radit tidak serapi Fengying, setidaknya pria itu punya data tarik sendiri. Ah, apa sih yang dipikirkannya? Apa gara-gara efek jomlo jadi gampang baper gini? "Udah kali ngelihatinnya. Tumben ke sini, kok gak ngabarin dulu sih. Kan kakak tahu aku sekarang tinggal di mana? Kenapa malah nyamperin ke toko bunga gak ke rumah langsung." "Ada macannya, Kavya. Jujur, kakak paling males ketemu mertua kamu. Julid banget, pasti nuduh yang enggak-enggak setiap kakak datang. Palingan dikira aku mau pinjam uang gitu." Karena masih pagi, Kavya mengajak kakaknya mencari sarapan paling dekat sekalian minta dibungkus untuk makan bersama Naina. Sudah lama sekali tidak menikmati sarapan bersama begini. Setiap hari Kavya merasa kalau sarapan bersama mertuanya kadang bikin seret. "Aku gak sengaja dengar katanya kamu bertemu Leon di bioskop? Kalian gak janjian tanpa sepengetahuan Fengying kan?" "Ya gak mungkin lah! Aku mana berani? Dan emang gak berniat melakukan itu sih. Semua salah paham, Leon cerita ya sama kak Radit?" Sambil mengaduk bubur ayamnya, Radit tahu kalau adik iparnya kurang menyukai Leon karena tahu pria itu juga tulus punya perasaan dengan Kavya. Bahkan dulu Radit sangat setuju kalau misalkan orang yang menjadi suami Kavya adalah Leon. "Gak banyak sih. Tapi Leon sangat mengkKavyatirkanmu, Kavya. Takut kalau kamu diapa-apakan sama Fengying." "Mas Fengying gak ngapa-ngapain aku kok, tenang aja, Kak. Semua masih baik-baik aja. Gak perlu kKavyatir begitu dong." "Intinya kalau kamu mau menyerah, kamu bilang sama Kakak. Kebahagiaanmu adalah tanggung jawabku sampai sekarang." Tidak sengaja Naina mendengarnya. Dan benar, kalau misalkan suatu hari nanti Kavya harus terluka lagi karena Fengying, pasti Radit akan menjadi orang nomer satu yang menyelamatkan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD