Takut kaktus pemberiannya akan dibuang, Kavya bernapas lega saat tahu bahwa tanaman mungil itu ternyata berada di sudut jendela kamar mertuanya. Setidaknya, apa yang baru saja dia beri dirawat dengan baik.
Baru pulang dari toko bunga, Kavya memasuki dapur dan hendak membuatkan makanannya sendiri. Jarang sekali ikut mencampuri makanan orang rumah karena dia sadar kalau posisinya memang tidak begitu diakui di sini.
Melihat menantunya sibuk di dapur, Helsi iseng menyuruh wanita yang terlihat masih capek. Pasti semua orang akan menunjukkan sifat aslinya saat dirundung penat bukan?
"Tolong buatkan es lemon, jangan terlalu kebanyakan gula ya. Panas begini, cuacanya kadang gak menentu. Bisa kan?"
"Bisa, Ma. Tunggu sebentar ya, aku peras dulu lemonnya."
Kavya menurut dan tidak curiga sama sekali kalau mertuanya memang sedang mengerjainya. Baru selesai membuatkan es lemon, Helsi meminta lagi untuk menggorengkan omelet lengkap dengan lalapannya.
Dengan penuh kesabaran, Kavya melayani mertuanya. Tanpa ada sedikit pun keluhan, bahkan sejak tadi tak luput melayangkan senyum paling tulus. Sebenarnya dia sendiri juga kelaparan, tapi mau bagaimana lagi? Toh, dia harus sadar kalau posisinya di sini hanya sebagai penumpang. Belum dianggap sebagai keluarga sesungguhnya.
Barulah setelah Helsi kembali ke kamarnya, Kavya bisa mengisi perutnya dengan kudapan. Setidaknya perutnya tidak kosong sama sekali.
"Non mau dibuatkan apa? Biar saya masakkan."
Menggeleng, ini lebih dari cukup. Kavya hanya butuh tidur dan istirahat, siapa tahu nanti sore bisa bangun dengan tubuh yang lebih fresh. Kavya kembali ke kamarnya, melihat seisi kamar yang dipenuhi dengan foto Fengying di masa kecil.
Sejak dulu, pria itu selalu menjadi kebanggaan keluarga. Dan sampai sekarang pun masih, Kavya bahkan sangat bangga akan suaminya yang selalu tekun dan patuh pada orang tua.
Layar ponselnya berkedip sejak tadi, Kavya memeriksa siapa tahu Fengying menelpon. Tapi dugaannya salah, ternyata Radit.
"Halo, Kak. Apa kabar?"
"Baik. Kamu betah di sana? Mertuamu baik kan?"
Kavya mengiyakan. Tidak mungkin mengaku seberapa kejam kata-kata yang dia dengar dari Helsi. Bagaimana pun juga, wanita itu adalah wanita yang sudah melahirkan Fengying.
Tanpa diduga, mereka malah kebablasan saling menceritakan kesibukan masing-masing. Bahkan Radit masih mengungkit perihal Leon, pria yang memang punya perasaan dengan Kavya. Sayang sekali, Kavya tidak bisa menerima perasaan Leon karena sudah jatuh hati pada Fengying.
"Pokoknya, apa pun yang terjadi sama kamu jangan dipendam sendiri. Kakak selalu ada untuk kamu, Kavya. Kakak tahu di sana pasti tidak mudah. Tapi percayalah, kalau semua akan baik-baik saja."
***
Sudah banyak cara yang dilakukan Helsi, tapi tetap saja tidak ada yang berguna sama sekali. Bagaimana caranya agar Kavya segera terseret keluar dari rumahnya sedangkan wanita itu selalu saja punya stok sabar yang melimpah?
"Kalau dilihat-lihat, sepertinya kamu ini kurang akrab dengan menantu kamu. Iya kan?"
Helsi mencebik, dia tidak bisa menyingkir dari pertanyaan Friska, salah satu sahabat yang sebenarnya kurang disukai Chandra. Bagi Chandra, Friska sering sekali mempengaruhi hal-hal yang buruk pada istrinya.
"Ya gimana ya, soalnya udah dari awal emang gak suka. Tapi Fengying gak mau tahu rasa kesal mamanya, setiap melihat wajah Kavya rasanya tekanan darahku naik, Fris. Bisa mati muda aku."
Friska geleng-geleng kepala. Dari penglihatannya selama ini, baginya Kavya adalah wanita tanpa cela. Meskipun tidak begitu modis dan memang sedikit kampungan, setidaknya menantu Helsi itu bisa berguna juga.
Sekelibat ide jahil muncul. Tidak ada pria yang menolak wanita cantik dan masih segar, Friska punya banyak kenalan. Di sisi lain, dia bisa menjadikan ini jalan agar Helsi selalu bergantung padanya.
Pelan-pelan, Friska pasti bisa memperdaya otak Helsi agar selalu menjadi ladang uangnya.
"Kalau dia menikah lagi, kamu setuju?"
"Fengying maksudnya?"
Friska mengeluarkan ponsel dan mengetik sebuah nama. Tentu saja tidak sembarang memilih wanita karena pengalamannya memang bukan abal-abal. Dia adalah komplotan wanita sosialita, tentu saja banyak kenalan dari segala kalangan.
"Meskipun ini sudah foto lama, tapi ini foto asli. Dia belum berubah sama sekali dan tidak masalah semisal menikah dengan pria yang duda misalnya. Itu pun kalau kamu berhasil membuat Kavya melepas status sebagai istri Fengying."
Helsi mengamati foto yang ditunjukkan Friska, sudah cantik, keliatan sekali berpendidikan dan juga kaya. Senyum licik muncul, Helsi sangat berminat pada wanita ini.
Tapi masalahnya adalah sangat sulit membuat Fengying oleng. Putranya seakan dibuat gila akan sosok Kavya sampai-sampai mama kandungnya sendiri saja sering diabaikan.
Sebenarnya Kavya tidak masalah semisal Helsi ingin bersama Fengying, maklum karena Fengying adalah putra kesayangannya. Tapi, yang benar-benar tidak disukai Helsi adalah adanya Kavya di antara mereka berdua.
"Tenang saja. Aku bisa mengatur segalanya dan tentu saja, ini semua tidak gratis Helsi. Sulit sekali untuk menemui orang ini, tapi aku yakin dia akan jatuh hati pada putramu. Pria seperti Fengying adalah pria yang akan membuatnya luluh."
Mata Helsi berbinar-binar. Bayangan Kavya yang akan pergi dari kehidupan Fengying dan keluarganya membuatnya semakin tak sabar, dari dulu itulah yang ingin dilakukannya. Karena sampai sekarang Kavya tidak pernah sekali pun menolak semua perintahnya. Entahlah, rasanya sangat sulit membuat wanita itu marah akan segala rasa kesalnya.
Karena ini baru rencana, Friska mengajak Helsi untuk tahu segala jadwal tentang Fengying. Siapa tahu nanti Friska bisa mencocokkan waktu dengan wanita yang dia rekomendasikan.
"Nanti aku kabari lagi. Dan ingat, ini adalah rahasia. Aku tidak akan membahas masalah ini melalui telepon ataupun pesan karena akan menimbulkan jejak digital. Tenang saja Helsi, kamu tinggal terima beres."
Friska pamit pulang. Akhirnya rencananya berjalan dengan mulus, ini baru permulaan karena drama yang sesungguhnya belum benar-benar muncul.
Berbeda dengan Helsi yang sibuk memikirkan cara agar Kavya pergi angkat kaki dari rumahnya, menantu yang selalu patuh itu baru saja menyelesaikan beberapa pekerjaan rumah.
Fengying melarangnya ke toko bunga sejak tahu Leon sering datang. Rasa cemburu muncul begitu saja, padahal Kavya berani bersumpah kalau hatinya hanya milik Fengying saja.
"Tumben tidak pergi? Bukankah kamu tidak betah di rumah ini?"
Baru pulang saja, Helsi sudah jengah melihat Kavya. Entahlah, apa pun yang dilakukan oleh menantunya selalu serba salah. Meskipun semua yang dilakukan Kavya sekalipun tidak pernah merugikan Helsi.
"Kebetulan memang stok bunga hari ini sudah diborong beberapa pendekor dan wedding agreement, Ma. Jadi aku sudah tidak ada pekerjaan lagi beberapa hari ini. Di rumah saja, mama mau dibuatkan apa? Siapa tahu capek setelah bepergian. "
Helsi menatap Kavya dengan tatapan menusuk, "maksudmu aku kelihatan gampang lelah begitu? Bilang saja aku sudah tua, jangan sok baik."
Ya Tuhan, karma apa lagi yang harus dijalani Kavya? Niat baiknya tidak pernah benar-benar dihargai di sini. Karena memang malas berdebat, Kavya pamit dari hadapan Helsi, biarlah wanita itu ngomel-ngomel sendiri. Kepala Kavya terlalu pusing memikirkan kelakuan mertuanya yang semakin menjadi-jadi.
***
Melihat berapa sibuknya karyawan yang mondar-mandir, sepertinya Fengying tidak bisa menepati janji untuk pulang lebih awal. Padahal Kavya sudah diberi tiket VIP untuk menonton film romantis, hanya tinggal berangkat dan memesan taksi saja.
Niat ingin memberi kejutan, Kavya sengaja menonaktifkan ponselnya dan gegas menuju bioskop. Penampilannya pun hari ini cukup mengesankan, sengaja mengambil tema natural agar Fengying semakin jatuh hati.
"Mas Fengying pasti sebentar lagi sampai." gumamnya sendiri.
Sedangkan Fengying malah kebingungan karena nomer Kavya sama sekali tidak bisa dihubungi, rapat harus berlangsung selama satu jam penuh dan Fengying yakin istrinya pasti sudah menunggu di sana.
"Seharusnya, proyek ini dikerjakan oleh tim audit yang profesional. Jangan terlalu berpacu hanya karena para ketua tim berasal dari Universitas, pekerjaan tetaplah pekerjaan, sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan lulusan dari mana. Jangan asal memandang orang-orang hanya dari identitas saja. Saya gak mau tahu, perbarui yang paling baru. Serahkan semuanya besok siang dan saya tunggu ide paling brilian dari kalian."
"Baik, Pak Fengying." kompak para pegawai.
Memang sih, perusahaan tempat Fengying bekerja kadang selalu memandang orang hanya dari stempel mereka lulusan dari mana. Padahal hal sesepele seperti itu sama sekali tidak berguna, hanya dibutuhkan seseorang yang mau bekerja keras dan ulet. Percuma saja lulusan hebat tapi hanya pecundang.
Melihat rapat diburu-buru waktu, sebagai sahabat sekaligus rekan kerja terdekat, Rio hanya bisa memberi semangat. "Apa ada masalah?"
"Tidak juga. Tapi aku sudah berjanji akan menemani istriku nonton, aku yang mengajaknya dan kurasa ini sudah terlambat."
"Ah, begitu. Salam untuk Kavya."
Fengying mengangguk dan bergegas ke ruangannya, mengambil barang-barang dan kunci mobil. Dia merutuki waktu yang mana tidak bisa diajak kerja sama. Di lain tempat, Kavya masih berdiri, meskipun sebenarnya film sudah dimulai setengah jam yang lalu.
Ini adalah janji yang batal, sudah ada dua janji yang memang tidak ditepati Fengying. Tapi Kavya tahu kalau pria itu memang punya kesibukan yang menumpuk di kantor.
Dari kejauhan, seseorang yang yakin sekali melihat wanita yang disukai berdiri sendirian. Leon tidak menyangka akan bertemu dengan Kavya di sini, padahal beberapa hari yang lalu wanita itu mengabari kalau belum bisa memberi waktu untuk sekedar mengobrol.
"Kavya, ngapain ke sini? Sama siapa?"
Menoleh ke sumber suara, matanya mengerjap tak percaya. Kenapa ada Leon di sini? "Ah, aku sedang menunggu Fengying untuk nonton film, tapi sepertinya dia telat."
"Maksudnya dia belum datang? Bukankah film yang kamu tonton sudah terputar setengah jam yang lalu?"
Rasanya seperti tercekik di suasana yang tak ingin Kavya hadapi. Bukan menghindar dari Leon, hanya saja dia tidak ingin membuat Fengying merasakan api cemburu yang lebih membara lagi. Bahkan kini Kavya terlihat sangat tidak ingin didekati.
Tahu betul kalau Kavya merasa risih, Leon pamit pulang setelah menjelaskan kalau tujuannya ke bioskop adalah karena ingin bertemu teman lama yang kebetulan memang bekerja di sini.
Sayang sekali, baru beberapa langkah Fengying sudah melihat pria yang sama sekali tidak diduganya. "Kavya."
"Mas, akhirnya kamu datang juga."
"Kenapa nomer kamu tidak bisa kuhubungi? Dan kenapa ada pria ini di sini?"
Tatapan Fengying lurus ke Leon, mengamati gesture wajah yang sama sekali tidak disukainya. Fengying sangat hafal kalau Leon juga mencintai Kavya.
Kavya merasa bersalah lantaran bisa lupa akan ponsel. Baru menyalakan dan meminta maaf karena tidak tahu kalau suaminya ternyata sudah mengiriminya banyak pesan.
"Baiklah. Sepertinya ini salah paham, aku tidak sengaja bertemu Kavya di sini dan tidak tahu kalau kamu akan sangat terlambat datang. Jadi, selesaikan masalah kalian. Kavya, aku pulang dulu."
"Ah iya, hati-hati."
Melihat kepergian Leon, barulah Fengying melanjutkan aksi protesnya. Dia hanya kKavyatir Kavya akan berpaling, apalagi hubungan Kavya dan mamanya tidak bisa dibilang dekat. Sedangkan Leon begitu baik dan menjanjikan banyak hal.
"Sepertinya kamu sangat mengkKavyatirkan pria itu."
"Bukan, Mas. Aku tidak memikirkan apa pun tentangnya. Ah iya, filmnya sepertinya hampir selesai, mau masuk sekalian atau pulang saja?"
Entahlah. Fengying tidak bisa berpikir jernih sekarang, otaknya melalang buana sampai ke mana-mana. Apa jadinya nanti kalau Kavya benar-benar berpaling.
Karena sudah kehilangan mood sejak adanya Leon, Fengying memilih pulang saja. Pun dalam perjalanan hanya dia saja dan membuat Kavya ketar-ketir. Dia sangat tahu seperti apa karakter Fengying saat marah.
"Mas masih marah?"
"Aku tidak marah."
"Tapi sejak tadi Mas sama sekali tidak mau melihat wajahku, padahal biasanya Mas Fengying selalu mengatakan kalau aku adalah wanita tercantik di hidup Mas Fengying."
Tentu saja, dan sampai sekarang masih akan selalu begitu. Tapi yang namanya orang cemburu bisa apa?
"Sebenarnya aku juga tidak menyangka akan melihat Leon di sana. Tapi aku malah tidak berpikir sampai sana, aku malah memikirkan kenapa Mas sering banget telat akan janji-janji kita. Ya, aku memikirkan keterlambatan Mas di sela-sela pertemuan yang sudah direncanakan."
"Jadi kamu nyalahin aku? Aku kan udah bilang, aku ada rapat yang gak bisa ditinggal. Lagian kan bisa di ganti hari lain. Kamunya pasti banyak waktu kan? Atau kamu keberatan untuk menghabiskan waktu sama suamimu sendiri?"
Ah, Kavya tidak habis pikir kenapa Fengying sampai menerawang sampai ke situ. Kavya hanya mempertanyakan kenapa janji mereka harus sering batal, bukan masalah ada tidaknya waktu. Setidaknya, Kavya akan memaafkan Fengying jika pria itu punya sedikit saja rasa bersalah akan keteledorannya.
Rasa sakit hati Kavya memang tidak seberapa, dia tahu kalau Fengying pastilah tidak sengaja membiarkannya menunggu selama itu. "Aku yang salah, Mas. Maaf tidak mengerti keadaanmu."
Terdiam. Sama-sama tidak bisa saling menyuarakan sesak masing-masing. Dan bahkan saat sampai rumah saja, Fengying menolak saat Kavya berusaha membawakan barang-barangnya seperti kebiasaannya saat menyambut suaminya pulang.
Melihat pasangan suami istri yang kelihatannya sedang perang dingin, Helsi malah bersyukur. Sepertinya rencana Friska akan dia sanggupi. Tunggu saja waktunya dan Kavya akan segera pergi dari hadapannya.
"Berantem sama suamimu?"
"Enggak, Ma. Mas Fengying cuma kecapekan."
"Bilang aja, aku malah senang kalau anakku akhirnya tahu seperti apa wujud asli dirimu, Kavya. Fengying pasti selama ini hanya tertutup akan kepolosanmu saja."
"Terserah mama. Kavya capek mau tidur."
Helsi terus berkomat-kamit, baru kali ini dia melihat Kavya malas untuk bersikap sabar. Tapi, seperti inilah yang diinginkan Helsi, melihat bagaimana Kavya nanti akan sanggup bertahan dengan drama-drama sensasional yang akan dia hadapi nanti. Lihat saja, batin Helsi tak sabar.