Setelah sampai di rumah, Fengying agak terkejut karena mamanya stand by seperti sedang menunggu kepulangannya. Dia tahu, wanita itu pasti akan mengadu tentang kelakuan Kavya hari ini. Padahal, papanya bilang, menantunya tidak pernah berbuat macam-macam. Malah sebaliknya. Penurut, tidak pernah membantah setiap Helsi melayangkan kata-kata pedasnya dan bahkan berusaha untuk membantu pekerjaan rumah.
Yang namanya orang terlanjur benci sampai mendarah daging, mau dibaiki seperti apa pun akan tetap stuck dalam keadaan begitu. Helsi hanya belum terketuk pintu hatinya. Seandainya dia tahu bagaimana baiknya Kavya, berharap mertuanya bisa dekat dan bahkan menganggap Kavya seperti anak kandungnya sendiri. Bukankah mereka dulunya adalah masih satu kerabat?
"Istri minta dibawakan makanan? Apa makanan di sini masih kurang?"
Tatapan mamanya seperti mengintrogasi. Fengying sangat hafal sekali, hanya akal-akalan sang mama demi menjatuhkan nilai Kavya di matanya. Tapi, hal itu tidak akan pernah meruntuhkan rasa percaya Fengying. Kavya begitu baik, tidak pernah sekalipun menyerah atas pernikahan mereka.
"Aku berinisitasif membelikannya sendiri, Ma. Aku juga membelikan buat mama dan papa, masuk dulu. Fengying capek, capek juga melayani mama yang selalu menyalahkan Kavya."
Baru saja beberapa langkah, Helsi menarik lengan putranya. Menatap dengan perasaan jengkel. "Setidaknya, istrimu itu harus sadar diri. Dia sama sekali tidak pernah punya nilai membanggakan. Bisanya cuma sok jadi korban, padahal mama kan gak berbuat apa-apa."
"Udah ya, Ma. Fengying benar-benar capek."
Fengying berlalu begitu saja, tanpa menggubris aksi protes mamanya. Hanya masalah waktu, Fengying percaya itu. Baru yang mengeras pasti suatu saat nanti akan melunak juga akhirnya. Hal baik pasti terjadi.
Begitu masuk ke kamar, Kavya tengah selesai iseng membaca buku. Hanya menyibukkan diri sambil menunggu kepulangan suaminya. Fengying duduk di tepi ranjang, menyentuh bahu istrinya yang terlihat begitu rapuh. Betapa tidak mudah menjadi Kavya yang selalu berkorban banyak hal dari dulu.
"Kamu sudah makan?"
"Sudah. Tadi papa nyuruh aku makan duluan, katanya bakalan lama kalau nunggu kamu. Maaf ya?"
Fengying memaklumi itu, jangan sampai Kavya sakit hanya karena harus egois makan bersama. Tempat dan waktu pun berbeda, tentunya Fengying akan marah jika Kavya lebih mementingkan makan bersama dan tidak mengedepankan kesehatannya.
Menunjuk kantong kresek, menyebut makanan kesukaan Kavya. "Aku hanya membeli satu porsi saja, nanti kita makan berdua. Karena sepertinya, kamu sangat jarang makan malam-malam begini selain menemaniku. Apakah sedang program diet?"
Kavya menggeleng. "Enggaklah, Mas. Kan aku memang jarang juga makan sesuatu saat sudah jam segini. Tapi, mama juga kamu belikan kan? Aku gak mau dianggap jadi istri yang banyak maunya, Mas."
Memeluk tubuh yang begitu hangat di pelukan. Memberi semacam suntikan semangat agar bertahan sebentar lagi, lebih lama sedikit lagi. Fengying yakin, mamanya pasti akan luluh.
"Sudah, Sayang. Kamu tidak usah kKavyatirkan itu. Yuk makan, aku rindu kamu suapin aku."
"Ckckck, dasar manjanya gak ketulungan. Baiklah, suamiku tercinta. Buka dong mulutnya, aaaaa!"
Mereka sudah mengibarkan hal-hal semanis ini, rutinitas wajib sebelum memejamkan mata dan mengistirahatkan isi otak. Kavya selalu dibuat takjub dengan sikap Fengying yang sangat bergantung padanya. Membuat rasa cinta itu semakin bertumbuh setiap hari.
Mana bisa dia merelakan pria sebaik dan sesetia Fengying? Karena baginya, nama mereka sudah terpatri di garis takdir Tuhan.
"Mas, besok mau sarapan apa?"
"Memangnya besok kamu mau masak sayang?"
"Ah, mungkin juga. Bosan gak ngapa-ngapain, sebelum ke toko bunga aku mau juga bawa bekal dari rumah. Naina kan tipe orang yang jarang sarapan."
Fengying mengangguk, masih mengunyah martabak manis di mulutnya. Bahkan dia menawari istrinya untuk berangkat bersama, daripada harus menunggu taksi.
Kesibukan Kavya pasti ada baiknya juga untuk Helsi. Wanita itu tidak akan uring-uringan kalau tidak bertatap muka dengan sang menantu. Hal yang harus dipastikan adalah mereka memang harus jarang-jarang beradu. Karena bagaimana pun juga, Fengying sangat tahu mamanya keras kepala. Hanya keajaiban yang membuat wanita itu berubah drastis, entah kapan.
"Maaf ya, Mas, sudah banyak merepotkanmu."
"Tidak, Sayang. Apa pun yang berkaitan tentangmu, aku pasti selalu mau. Asalkan, kita selalu bersama sampai menutup usia. Kamu adalah belahan jiwaku."
Rasanya begitu damai mendengar kata-kata semanis itu. Dihujani cinta setiap hari oleh Fengying adalah amunisi terbaik dalam hidup Kavya. Ya, semoga selalu seperti itu.
***
Karena memang sudah memasang alarm, Kavya menyibukkan diri di dapur setelah subuh tadi. Tentu saja, Fengying masih beradu mimpi dalam balutan selimut.
Melihat sepertinya ada orang yang mengutak-ngatik dapur, Helsi penasaran. Biasanya pembantunya tidak pernah bekerja sepagi ini.
"Sedang apa kamu?"
"Ah, maaf, Ma, sudah membangunkanmu. Ini, mas Fengying tadi malam minta dibuatkan nasi goreng. Katanya mau jogging dan sarapan nasi goreng buatanku. Sekalian bekal nanti mau ke toko bunga."
Helsi terdiam. Jarang-jarang Fengying meminta bekal saat ke kantor, hanya bisa memandangi perempuan yang sibuk memotong daun kol dan bumbu dapur.
Terbesit di dalam pikiran Helsi, apakah menantunya sama sekali tidak pernah membenci perbuatannya?
"Fengying tidak suka terlalu pedas. Jangan kau meracuninya."
"Iya, Ma. Kavya sudah hafal kok makanan kesukaannya dan standar rasa untuk lidah mas Fengying."
"Baguslah."
Mertuanya berlalu begitu saja, tak tahu harus berbuat apa lagi. Terlalu sulit merobohkan tameng karena Fengying sangat mencintai Kavya begitu pun sebaliknya. Mereka sangat sulit untuk dipisahkan meskipun dengan alasan Helsi sakit parah.
"Setidaknya, izinkan Kavya untuk bisa dekat denganmu, Ma. Dia tidak punya salah apa-apa sama kamu."
"Dia penyebab kematian saudara kembarku, Pa. Sampai mati pun, fakta itu tidak akan berubah."
"Ma, ibunya Kavya pun pasti sudah berjuang untuk tetap hidup juga. Tapi, takdir Tuhan tidak bisa diubah kan? Sekeras apa kita berusaha. Jadi, jangan terlalu membencinya karena mama tidak akan tahu apa yang akan terjadi di masa depan nanti."
"Terserah papa!"
Chandra hanya bisa mengelus d**a, memaklumi sifat Helsi yang belum berubah. Ditatapnya Kavya dari kejauhan. Dari dulu, Fengying selalu bersifat normal dan pendiam. Tapi semenjak menikah, Chandra bisa menilai sisi lain dari putranya sendiri yaitu saat bersama Kavya.
Ingin berbincang dengan menantunya, Chandra mendekat. Melihat apa yang dilakukan Kavya. "Sepertinya enak, dari baunya sudah membuat perut papa keroncongan."
Kaget dengan suara seorang pria, Kavya tersenyum sebagai balasan. "Papa ngagetin aja. Tenang, Pa. Kavya udah stok buat orang rumah kok. Hehehe, maaf ya pa, kalau nanti rasanya kalah jauh sama bikinan mama."
Kavya sudah menuangkan nasi goreng, mendinginkannya sebentar dan menata dengan hiasan ala kadarnya. "Silakan, Pa. Jangan lupa bintang limanya ya."
Mulai menyendok, karena masih panas, Chandra meniup nasi yang beraroma sedap itu, memasukkan ke dalam mulut dan mulai merasakan bagaimana gurihnya.
"Enak, pedes, asin, manisnya pas. Pantas saja Fengying selalu request makanan setiap kamu sibuk di dapur."
"Hehehe, kebetulan dulu Kavya sering banget masak bareng kak Radit."
Melihat keakraban papa dan Kavya, Fengying yang masih bermuka bantal ikut terenyuh juga. Setidaknya, papanya tidak bertingkah seperti mama yang selalu mencari celah untuk menyalahkan Kavya.
Selesai jogging, Kavya dan Fengying berjongkok sebentar demi merileksasikan kaki mereka. Sudah lama sekali tidak berolahraga seperti ini. Apalagi Kavya sangat jarang keluar, hanya saat Fengying mengajaknya saja atau saat ke toko bunga untuk bekerja.
"Sepertinya tenagamu sekarang kalah jauh sama aku, Mas. Buktinya, aku masih kelihatan segar bugar, padahal aku udah bangun sejak jam 4 subuh."
"Baiklah, kamu memang sekarang tambah perkasa, Sayang. Tambah perkasa di ranjang juga gak apa-apa. Bikin aku tambah bangga sama kamu, Sayangku."
Lirikan tajam membuat Fengying meringis, memang suka sekali meracau dan menggoda Kavya. Mereka melanjutkan jogging dengan jalan santai, menikmati nasi goreng yang sudah dimasak khusus untuk Fengying.
Mendapatkan pujian lagi dari Fengying, Kavya sungguh puas. Mertuanya bilang, rasa masakannya memang gurih, bahkan seandainya Kavya mau buka usaha pasti bakalan laku keras.
Sayang sekali, Fengying tidak terlalu mengizinkan Kavya banyak kegiatan. Hanya ingin menjadi istri yang sholehah untuknya.
Sampai di rumah, Fengying langsung pamit mandi sedangkan Kavya menyiapkan baju kantor dan dress yang akan dia pakai hari ini. Untuk menyingkat waktu, Fengying iseng menarik tubuh istrinya untuk mandi bersama. Toh, sah-sah saja.
"Kamu selalu saja usil, Sayang."
"Aku hanya merindukan kamu. Setiap hari selalu terbayang kamu."
"Gombal."
Saling bertukar buih, bermain air seperti anak kecil yang senang dengan mainannya. Fengying merasa sangat nyaman dengan hanya melihat tubuh polos Kavya, terpicu adrenalin sebagai pria normal.
Mereka bisa saja melakukan yang lebih, kalau bukan karena tuntutan pekerjaan di kantor, Fengying pasti memilih untuk bersenang-senang dengan Kavya di atas ranjang sampai puas.
***
"Ada gerangan apa kamu bikinin aku bekal, Wa?"
Naina dibuat melongo karena melihat bekal makanan dengan toping daun selada dan tomat di atasnya. Tanpa babibu, langsung menyendok perlahan. Dia sudah tahu seperti apa karya tangan Kavya, selalu enak.
"Tadi ada pria yang mencarimu. Tapi bukan Fengying. Kamu punya mantan ya?"
"Mantan? Siapa? Pria? Dia seperti apa?"
Naina menjelaskan orang yang mencari keberadaan Kavya. Terlalu pagi untuk dikatakan sebagai pelanggan bunga, Naina bahkan sempat menanyakan nama pria itu.
"Kalau tidak salah, sepertinya namanya Leon. Dia dokter ya? Aku gak sengaja baca tag name di kemejanya."
Ah, ternyata Leon. Ada urusan apa? Kavya tahu, mereka adalah teman dekat. Bahkan, pria itu sempat menawarinya semisal Fengying tidak bisa memperjuangkan kisah asmara mereka.
Leon adalah pria yang baik, pria yang tidak pernah memandang sesuatu dari segala aspek. Dan Kavya hanya bisa menganggap pria itu sebagai sahabat baik di hidupnya.
"Hanya teman saja."
"Ah baiklah. Jangan sampai Fengying tahu soal ini."
"Aku tidak pernah berniat menyembunyikan apa pun darinya, Na. Aku pasti memberitahunya, jangan sampai dia mendengar kabar tentangku dari orang lain."
"Good women. Tapi sepertinya, pria yang mencarimu terlihat begitu akrab dan terkesan berminat denganmu. Apakah dia pria yang dulu pernah ingin menikahimu?"
Sungguh! Apakah Kavya pernah menceritakan kisah ini pada Naina? Meskipun mereka adalah teman dekat, Kavya jarang bisa terbuka sampai ke akar-akarnya.
Karena tidak ingin diambil pusing, Kavya memilih untuk mereka ulang kembali penataan bunga-bunga. Banyak juga benih dan tunas yang baru dia beli dari seorang pekebun langganan.
Berteman dengan tanaman memang membuat hatinya lebih tenang. Semua masalah seolah sedikit teratasi, jarak antara Kavya dengan mertuanya, kabar Leon, pernikahannya dengan Fengying. Ya, kadang kabar seperti itu membuat pikiran Kavya begitu menumpuk menjadi satu.
Merangkai bunga pesanan, Kavya jadi tambah bersemangat. Tidak menyadari kalau ada pelanggan yang datang.
"Mbak, bunga mawarnya ada yang masih segar?"
"Ah, kebetulan masih ada stok baru. Mau yang warna apa, Kak? Bisa dirangkai sekarang juga."
"Oh ya? Wah, baiklah. Kalau ada putih ya, Mbak. Seperti ini."
Pria yang usianya ditaksir lebih muda dari suaminya terlihat menunjukkan gambar buket sebagai contoh. Kavya langsung menyanggupinya dan menyuruh Naina mengambilkan beberapa bunga mawar putih.
"Mau ngasih hadiah pacar atau istrinya ya, Kak?"
Sambil merangkai, Kavya ingin tahu makna dari bunga yang dia bentuk sedemikian rupa.
"Tidak juga. Ini untuk sahabatku yang akan menikah. Kalau aku yang akan menikahinya, bukankah seharusnya yang kupesan adalah mawar merah? Kurasa, putih lebih cocok sebagai lambang ketulusan."
Kavya tidak bertanya lagi. Sepertinya pria yang sudah rapi dengan setelan tuksedonya baru saja ditinggal nikah oleh sahabatnya. Ah, miris sekali memang. Mengingatkan pada Leon yang dulu juga pernah mengikhlaskan Kavya menikah dengan Fengying.
Kepergian pria itu dengan membawa buket yang sudah dibayar menyentil perasaan Kavya. Itulah mengapa, rasanya aneh saat bertemu Leon. Tapi, bagaimana pun juga Kavya tidak menghindari setiap pertemuan asalkan Fengying tahu.
Baru saja sibuk kembali, Kavya kaget melihat mertuanya datang tiba-tiba. Ada apakah gerangan?
"Kupikir siapa tadi, sepertinya kamu selalu melayani pelanggan dengan sok akrab begitu."
"Pelanggan?"
"Iya. Pria yang membawa buket mawar putih tadi."
Ah, Naina yang mendengar rekannya dituduh secara asal-asalan hanya mencebik kesal. Kok ada ya, mertua yang kerjaannya mencari gara-gara? Sebegitu besarkah salah Kavya? Apakah menikahi putranya adalah kesalahan yang dibuat Kavya?
"Tadi hanya pelanggan biasa, Ma. Dan memang, slogan toko bunga kami selalu mengedepankan pelayanan dengan murah senyum dan ramah. Sepertinya, semua toko bunga selalu seperti itu."
"Fengying tahu kalau kamu tebar pesona seperti itu?"
Kavya semakin tak mengerti. Perbuatan mana yang bisa disebut tebar pesona? Ah, ini pasti akal-akalan mertuanya hanya demi menjatuhkan nama Kavya di mata Fengying. Sabar, Kavya, sabar.
Dengan tetap tersenyum, Kavya mempersilahkan mertuanya untuk duduk. Menyebut nama tanaman yang ingin dia benahi hari ini. Tanpa ditanya, hanya bercerita sesuka hati.
Melihat kesabaran Kavya, Naina tidak habis pikir kenapa bisa betah berhadapan dengan mertua julid.
"Tante mau minum apa, biar saya buatkan."
"Enggak. Tadi cuma mampir aja, kamu rekannya di sini? Kalian cuma berdua?"
Naina mengangguk, tapi tetap bersikeras membuatkan teh manis untuk bu Helsi. Meskipun dia sangat tahu seberapa menyebalkan wanita yang selalu berusaha tidak akur dengan menantunya sendiri.
Karena sudah selesai membongkar tanaman, Kavya ke belakang sebentar untuk mencuci tangan. Membawa tanaman hias, kaktus yang bisa ditempatkan di sisi kamar mertuanya.
"Aku tidak tahu mama suka tanaman apa. Mas Fengying jarang cerita, dan terlalu banyak tanaman di rumah. Jadi, Kavya ambilkan kaktus mini ini. Sangat bagus untuk diletakkan di dekat jendela kamar, Ma."
Helsi terdiam, menerima pemberian Kavya. Ini pertama kalinya dia tidak protes. Mungkin karena ada Naina di sini. Makanya tidak bisa berkutik apa-apa dan harus berusaha tidak mencari gara-gara.
"Tapi jangan salahkan kalau tanaman ini mati tiba-tiba. Kamu juga harus mengeceknya sesekali."
"Baik, Ma."
Melihat mertuanya pergi begitu saja, Kavya sedikit lega karena Helsi bisa menerima sedikit saja kebaikan hatinya.