sibuk dengan toko

2121 Words
Daripada berlarut-larut dalam menahan kesabaran berhadapan dengan mertuanya, Kavya berusaha sebaik mungkin untuk terlihat berguna. Menyibukkan diri ke toko bunga, lagipula tidak ingin merepotkan Naina terlalu lama dengan membuat perempuan itu bekerja di sana sendirian. Atas izin sang suami, Kavya bisa punya aktivitas lagi. Aneh rasanya harus dihina habis-habisan padahal ia merasa tidak punya salah apa-apa. Apakah sebegitu sebalnya mertua kepadanya, sampai-sampai semua kebaikan yang hendak dia lakukan diabaikan begitu saja? "Kapan-kapan papa bakalan mampir ke toko bungamu. Penasaran." "Sungguh, Pa? Ah, aku bakalan merasa tersanjung papa mau mampir, terima kasih, Pa sudah mau meluangkan waktu." Chandra tersenyum tulus, beda sekali dengan Helsi yang menatap Kavya saja selalu jengah. Chandra merasa menantunya tidak punya salah apa-apa terhadap keluarganya. Dari dulu sampai sekarang, wanita yang berstatus istri putranya itu memang tidak pernah punya kesalahan. Apa yang sudah terjadi murni memang kodrat Tuhan. Melihat menantunya sudah rapi jam segini, Helsi hanya membatin dalam hati saja. Ingin mengomel pun percuma karena tentu saja, dia harus menekan rasa egonya demi kesehatan dan tekanan darahnya yang bisa naik secara dadakan. Kepergian Kavya membuatnya merasa sedikit lega, setidaknya seharian ini tidak akan melihat wajah wanita yang sudah melenyapkan nyawa saudaranya. Sampai kapan pun, peristiwa itu tidak akan terlupakan. Memesan taksi, Kavya mengirimkan SMS kepada suaminya kalau sudah keluar rumah. Bahkan mengirimkan foto dirinya sebagai bukti. Pujian cantik pun dia terima. Dasar, pagi-pagi sudah gombal saja. "Aku takut nanti banyak pelanggan yang tidak hanya tertarik untuk membeli bunga, tapi juga tertarik pada pemiliknya. Sayang, tidakkah kamu tahu kalau hari ini kamu terlihat sangat cantik dan begitu manis?" "Oh, ya? Sungguh? Padahal aku yakin sekali, hanya berdandan tipis tanpa embel-embel make up." Tapi dari dulu, Kavya memang selalu mempesona dengan penampilan sederhananya. Wanita berkulit asia yang selalu dipuja-puja Fengying sedari dulu. "Iya. Aku bersumpah, fokusku melayang entah ke mana karena kecantikanmu. Ingat, kamu jangan lupa makan ya? Jaga kesehatan dan jangan terlalu capek." Kavya hanya mengedipkan mata sebagai jawaban, lalu memilih menyudahi berkirim pesan sebelum dianggap gila oleh supir taksi karena cengengesan tak jelas sejak tadi. Sesampainya di toko bunga, Kavya tersenyum lega. Naina memang selalu bisa diandalkan lantaran bunga dan beberapa tanaman hias masih baik-baik saja. Naina memang sepandai dirinya dalam mengelola bunga, juga tumbuhan lainnya. "Pagi, Naina. Ah, rindunya sama kamu. Maaf ya, belakangan ini aku agak sibuk. Padahal aku sangat bosan hanya berdiam diri di rumah." Naina tersenyum menyambut Kavya, saat kemarin mendatangi resepsi ada kekalutan tersendiri. Dia bisa tahu tatapan tak suka dari bu Helsi terhadap Kavya. Tapi, bagaimana pun juga wanita itu sangat mencintai Fengying. "Pagi, Kavya. Aku baik-baik saja, bunga di sini masih terawat. Aku gak mau ngasih kamu beban dengan memberi kabar buruk dong, makanya aku rutin memberi makan mereka. Kamu udah enakan? Aku tahu dari pak Fengying, katanya kamu lagi demam? Kok bisa keluar?" Ah, jadi Fengying sudah bilang pada Naina soal keadaannya beberapa hari yang lalu. Pantas saja Naina tidak protes saat Kavya tidak berkunjung ke florist beberapa hari ini. Pria itu memang selalu perhatian. "Aku udah baik-baik saja. Hanya terlalu kecapekan habis resepsi. Dan mas Fengying jadwalnya sibuk banget." Naina paham, meskipun mereka sudah menikah lama tapi publik baru tahu soal pernikahan mereka baru-baru ini. Karena sulit sekali meminta restu Helsi untuk bisa menyetujui peran Kavya sebagai istri sekaligus menantunya. Sambil berkeliling, Kavya menceritakan pengalaman saat berhadapan dengan banyak orang resepsi kemarin. Perasaan yang begitu menggebu-gebu antara cemas, bahagia, tak bisa berkata-kata dan tentu saja penuh haru. "Kamu pasti sangat mencintai pak Fengying." ujar Naina. Terlepas bagaimana keraguan Naina, takut sahabatnya akan terkena imbas kebencian bu Helsi, Naina tetap akan mendukung apa pun pilihan hidup Kavya. Kasihan wanita itu, apalagi sudah kehilangan ibunya saat dilahirkan. Dan sekarang, harus tangguh menghadapi berapa keras kepalanya bu Helsi. Pasti terbesit rasa sesak yang luar biasa karena Kavya juga ingin merasakan rasanya disayang dan dianggap mertuanya layaknya anak sendiri. "Lebih dari yang siapa pun tahu. Fengying adalah pria yang selalu ada setelah kakakku. Kami selalu saling support satu sama lain, bersamanya aku tahu rasanya dicintai dan diperjuangkan." "Baiklah-baiklah. Jangan sebarkan hal-hal seromantis ini sama aku. Aku mau pilih-pilih dulu, ada pesanan beberapa buket bunga. Kamu kalau masih belum enakan, gak usah terlalu dipaksakan. Aku senang dengan keberadaanmu, setidaknya aku punya teman mengobrol, Kavya." Mengangguk setuju, dia hanya meneliti satu persatu bunga ataupun tanaman hias semisal ada daun yang sudah menguning ataupun tanah yang mengering. Mata jelinya tak pernah salah mengenali adanya hama ataupun bunga yang bermasalah. Salah satu keunggulan Kavya. *** Rasanya, Fengying jauh lebih baik setelah pulang bekerja. Hari ini dia memang sengaja pulang lebih awal karena ingin menjemput istri tercinta, Kavya. "Kamu tumben pulang langsung mampir ke sini?" "Gak boleh aku pulang kerja langsung kangen sama istri sendiri? Tadinya sih Kale nyuruh aku ikut nongkrong, tapi malas. Aku lebih milih menghabiskan waktu sama istri cantikku ini." Fengying sengaja menjawil dagu Kavya, Naina hanya bisa berdeham lantaran pasangan suami istri itu tidak sadar kalau ada orang lain di antara mereka. Barulah Fengying meminta maaf atas sikap bapernya, namanya aja kangen istri. "Maaf, Na, gak tahu kalah kamu di sini. Kalian udah makan siang kan?" Naina mengangguk, maklum. "Sudah, Pak. Tapi kalau anda mengajak ronde kedua, tidak masalah. Sayang sekali, aku juga paham kalau anda ingin lunch dengan Kavya, silakan. Hari ini dia banyak membantu, aku merasa tertolong sekali melayani customer." Mendapat jawaban angin segar, Fengying langsung menyalakan mobil. Sedangkan Kavya masih tersipu malu karena diejek terus-terusan oleh Naina. Dasar, perempuan itu selalu saja mengguruinya soal percintaan. Di dalam mobil, tak henti-hentinya Fengying memandangi wajah Kavya. Membuat istrinya tersipu malu dibuatnya. "Kamu, apa-apaan sih, Mas? Kenapa dari tadi ngelihatin aku?" "Ya gak apa-apa dong. Kan sama istri sendiri, bilang aja kamu Ge-er kan, Sayang? Kamu mau makan apa? Aku sengaja gak makan di kantor tadi, ingin makan siang sama kamu. Sudah lama bukan kita gak keluar begini? Kamu pasti bosan di rumah." Tahu saja, batin Kavya. Tapi, Kavya tidak boleh menunjukkan berapa tidak betahnya dia di rumah mertuanya. Ini mungkin yang namanya ujian rumah tangga, ada-ada saja soalnya tanpa jalan keluar dan jawaban. "Aku ingin ayam panggang, Mas. Udah lama sekali kan kita gak ke sana? Rindu juga sama masa-masa dulu sebelum menikah." Fengying setuju, banyak tempat romantis yang menjadi saksi kisah cinta mereka berdua. Pun Fengying ingin mengabdikan momen kemesraan dengan Kavya. Hal-hal manis seperti inilah yang mungkin secara tidak sengaja disadari Kavya sebagai perekat hubungan mereka. Penguat segala masalah, dan Kavya akan selalu menganggap Fengying pria paling baik yang dia kenal. *** Menjalani peran sebagai seorang istri sekaligus menantu di rumah yang sama ternyata membuat Kavya belajar makna kesabaran. Kadang-kadang, kebaikannya sering ditolak mentah-mentah. Apa pun yang dia usahakan sepertinya tak ingin terbaca oleh Helsi. Tak adil memang, karena mertuanya selalu baik-baik saja pada menantu sahabatnya setiap ada acara di rumah. Tapi kenapa saat dengannya, ekspresi dan gesture tubuh selalu berlawanan. "Biar saya aja, Bi. Hitung-hitung nyari kesibukan. Florist tutup soalnya, Naina lagi gak enak badan dan dia nyuruh aku di rumah aja." "Gak, Non. Biar bibi saja, ini sudah menjadi pekerjaan saya, Non di kamar saja." sergah pembantu rumah. Tapi, Kavya tetap bersikeras membantu sebisanya. Memotong sayuran yang sudah dikupas, lalu mencucinya lagi untuk membilas bersih. Kemampuan memasaknya tidak buruk-buruk amat. Apalagi dia harus mandiri dari kecil. Hanya ingin dipandang sebagai istri dan menantu yang becus, Kavya harus bisa mengambil hati dengan caranya sendiri. Melihat semua yang diolahnya mulai menimbulkan aroma sedap, Kavya yakin rasanya juga bisa diacungi dua jempol. "Coba bibi cicipi, takutnya keasinan atau malah hambar." "Baiklah, Non." Baru akan mengambil. Separuh centong sayur, Helsi menahannya dan mengajukan diri untuk mencicipi sendiri. Tatapan tak enak langsung didapatkan. Dari awal kedatangan Kavya, wanita itu selalu saja membuatnya merasa tak nyaman. Dengan hati berdebar menunggu penilaian, Kavya hanya bersiap-siap untuk mendengarkan. "Hmm, lumayan. Tapi mendingan kamu belajar lagi cuci sayurnya. Aku lihat kamu tadi sembarangan. Gak mau kan serumah pada sakit perut karena perbuatan kamu?" Ada kelegaan beserta rasa monohok. Padahal Kavya yakin sekali dia sudah membilas sayur itu tiga kali, bibi bahkan menyuruhnya sudah saat mencucinya tadi. Sepertinya Helsi, wanita itu memang selalu saja mencari celah segala kesalahan Kavya. Tak apa, setidaknya masakan Kavya tidak dibuang percuma. Disajikan di meja makan. Helsi memanggil suaminya, mengajak makan. Syukurlah, ada angin segar seperti itu Kavya merasa sedikit lega. "Ayo, kamu juga ikut makan, Kavya. Kalau nunggu suami kamu pulang, bisa-bisa kamu nanti kena maag, sakit perut kamu kambuh lagi nanti. Bilang saja, kamu udah makan duluan. Fengying pasti paham kan?" Chandra memang selalu perhatian pada menantunya, beda 360° dengan istrinya yang acuh tak acuh. Jangankan nyuruh makan, bicara sopan saja jarang-jarang. Kavya menurut, menarik kursi dan menunggu antrian mengambil nasi. "Terimakasih, Pa. Selamat makan." "Bukankah tadi kamu sendiri yang akan membantu, Bibi. Sepertinya pekerjaan rumahnya belum selesai?" "Aku tadi hanya menawarkan diri untuk membantu pekerjaan di dapur saja, Ma." "Oh, padahal gak baik mengerjakan sesuatu setengah-setengah. Gitu aja gak tahu." Chandra memelototi Helsi yang sewot setengah mati. Rasanya kupingnya terlalu gatal mendengarkan sang istri hanya marah, marah dan marah saja akan segala kebaikan juga urusan Kavya. Akhirnya, Kavya bisa makan dengan tenang. Rasa hambar sempat menjalar di lidahnya. Bukan karena rasa masakan, tapi lantaran ucapan sang mertua yang makin menjadi-jadi. Kesabaran, baginya akan berbuah manis. Kavya yakin, batu yang keras itu akan terkikis sedikit demi sedikit. Tidak ada hubungan mertua dan menantu yang langsung goals sampai puncak. Hanya bisa berharap kalau suatu saat nanti mama Fengying akan membuka hati selebar-lebarnya menyambut Kavya dengan panggilan sayang sebagai anak sendiri. *** Sudah sibuk dengan beberapa berkas di atas meja, membaca satu persatu semua laporan, data keuangan, data yang masuk dan apa saja yang dia terima hari ini. Fengying menggerakkan bagian lehernya, ada kalanya dia merindukan momen di mana Kavya akan berperan penting saat tubuhnya sedikit penat. "Ah, enak kali ya ada Kavya. Bisa minta pijit, jadi kangen. Mana masih satu jam lagi jadwal pulang. Rasa-rasanya, jarak kantor ke rumah sangat jauh, seperti LDR saja," gumamnya sendirian. Membayangkan senyuman manis Kavya, Fengying ikut tersenyum pula. Lamunannya melayang ketika bersama sang istri yang dia puja-puja begitu tinggi. Namun, seketika buyar lantaran seseorang mengetuk pintu ruangannya. "Masuk," ucapnya lantang. Fengying saat di kantor, sangat berbeda saat Fengying di rumah. Kedua karakter yang akan membuat Kavya melongo karena melihat perubahan yang begitu besar pada suaminya. Tapi, itu lebih baik daripada harus say hello sok akrab pada pegawai kantor, terkhusus wanita. "Ini, Pak. Ada berkas yang harus saya kirimkan hari ini ke HRD, dan harus ditanda tangani siang ini juga." Menyodorkan map berwarna hijau, membungkuk dan menatap bosnya yang hanya manggut-manggut. Masih terbawa suasana karena memikirkan sang istri, sisa senyum sedikit berbekas di sudut bibir Fengying, dan jujur saja Alina merasa pria itu terlihat manis sekali. Ah, pikirannya segera dirobohkan. Sangat tahu kalau bosnya sudah menjadi suami orang, dan aneh rasanya karena menyukai bosnya sendiri. Terlalu kurang ajar bukan? "Sudah? Ada lagi?" Alina menggeleng mantap, menerima map yang sudah resmi. Sebagai sekretaris, dia memang dituntut untuk berinteraksi langsung dengan Fengying. Dan bosnya memang profesional, tidak pernah tebar modus seperti pegawai lain. Jarang sekali seorang CEO yang memiliki tata krama sebaik Fengying. "Kalau begitu, saya permisi dulu, Pak Fengying. Terima kasih atas waktunya." Begitu Alina pergi, Fengying langsung berdiri dan berjalan ke arah jendela. Menatap banyaknya kendaraan yang keluar masuk dari perusahaannya. Mungkin sebagian adalah pegawai yang sudah menyelesaikan pekerjaan mereka. Tidak ada aturan berlebihan, seperti harus menunggu atasan pulang baru bisa keluar dari kantor. Cara berpakaian pun tidak monoton hanya sebatas blouse, dan juga pakaian kerja. Asalkan sopan dan rapi, Fengying tidak keberatan dengan cara berpakaian seluruh pegawainya. Tapi, karena kadang-kadang dia harus bertemu klien, ataupun orang-orang penting di luar kantor, Fengying mengharuskan memakai setelan rapi dan necis. Beruntung Kavya selalu pandai memadukan setelan beserta dasi dan juga jam tangan. Tak terasa, Fengying sudah menghabiskan separuh harinya di kantor. Dia bisa melanjutkan pekerjaannya di rumah nanti sambil menikmati kopi yang sangat berbeda dari kopi-kopi buatan siapa pun. Memang sih, di kantor sering mendapatkan kopi dan cemilan dari OB. Tapi tetap saja, apa yang disuguhkan Kavya selalu terasa enak, mungkin membuatnya penuh dengan cinta. "Sayang, kamu mau aku bawakan apa? Aku sedang dalam perjalanan pulang." "Ah, apa ya, Mas? Aku cuma mau Mas Fengying cepat sampai aja sih." "Kamu udah kangen banget sama aku ya?" "Itu tahu. Tapi, jangan kepedean ah. Dasar kamu, Mas!" Suara tawa membuat Fengying semakin gemas tak terkira. Kalaupun istrinya tidak meminta apa-apa, dia akan tetap membawakan istrinya makanan ringan di jalan. Sudah lama sekali mereka tidak suap-suapan. Padahal, sering sekali makan sepiring berdua. Mungkin masih belum terbiasa memamerkan kemesraan di hadapan orang tuanya. Apalagi hubungan sang mama dan istrinya tidak bisa dibilang dekat. Tidak terlalu ngebut, akhirnya Fengying melirik kiri kanan, mengabsen makanan ringan yang ingin dia beli. Kavya memang bukan pemilih, tapi jelas, Fengying sangat tahu makanan apa yang wanita itu sukai.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD