Tok...
Tok...
Tok...
"Itu pasti Fengying Ma," seru Kavya yang sedang membantu ibunya memasak di dapur.
Ria subuh tadi sudah bangun menyiapkan makanan. Kemarin Kavya sudah mengatakan padanya kalau Fengying akan datang berkunjung ke rumah ini.
"Kamu buka pintu sana! Jangan buat Fengying lama menunggu!" perintah Ria memaksa anaknya menyambut calon suaminya itu.
Kavya setengah berlari bergegas membuka pintu. Dia berharap Fengying benar-benar datang dan menepati janjinya pada Kavya.
Saat membuka pintu Kavya terkejut dengan sosok pria tampan tengah berdiri di depannya. Ia mengenakan kacamata hitam, baju kemeja, dan celana kain. Kavya sampai tertegun melihat ketampanan Fengying yang pernah ia temui.
"Ayo, masuk!" ajak Kavya tersenyum manis meminta Fengying duduk melantai di atas karpet.
Fengying langsung masuk tanpa berpikir dua kali. Melihat tamu yang di tunggunya sudah datang, Ria langsung menyalami Fengying dan memeluknya.
"Aduh, Kavya calon suami kamu tampan sekali. Mama malu dia datang kemari melihat keadaan kita yang serba kekurangan." Mereka melepaskan pelukannya.
Fengying yang tidak tahu bahasa Indonesia hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Dia memberi kode melalui matanya pada Kavya. Apa yang ibunya bicarakan.
Kavya pun menjelaskan apa perkataan ibunya. Setelah itu Fengying tersenyum dan membalas pelukan Ria.
"Apa kabar, Bu? Maaf kedatangan Fengying merepotkan." mereka semua duduk tenang.
Giliran Ria yang sekarang tidak mengerti bahasa Fengying. Dia mencoba meencerna apa yang pria itu katakan namun tidak ada jawaban. Dia meminta Kavya menerjemahkan apa yang Fengying katakan.
Kavya nyaris tertawa menghadapi dua manusia yang tidak saling mengerti bahasa masing-masing. Dengan telaten Kavya menjelaskan apa maksud Fengying.
"Ohh, itu... kabar ibu baik. Dan kamu tidak merepotkan siapa-siap di sini. Kavya cepat terjemahkan apa yang aku katakan padanya," desak Ria tidak sabar merasa tidak enak harus bercakap dengan penuh keribetan.
"Syukurlah, kedatangan saya kesini ingin meminta restu untuk menikahi Kavya. Apa ibu setuju saya menikah dengan Kavya?" tanya Fengying lagi meminta Kavya menerjemahkan perkataannya itu.
Kavya kembali menjelaskan pada ibunya apa maksud kedatangan Fengying ke rumah ini. Mendengar hal tersebut, Ria langsung menangis. Ria merasa benar-benar akan kehilangan anaknya. Ia menyeka air mata menguatkan diri, menjawab lamaran dari Fengying.
"Aku merestui kalian. Jika Kavya setuju, untuk apa aku menolak lagi. Asalkan kamu mau berjanji akan membuat anak saya bahagia. Dia anak perempuan ku yang susah payah aku lahirkan. Berjanjilah padaku untuk selalu membuatnya bahagia, cintai dan sayangi Kavya sama seperti cintaku padanya." permintaan Ria sungguh banyak pada Fengying.
Dia terlalu takut sekarang, andai saja anaknya tidan bahagia. Dengan senang hati Ria akan mengambil anaknya kembali. Dia tidak mau Kavya menangis setelah memilih jalan yang salah.
"Tenang saja, Bu. Kavya pasti akan bahagia hidup dengan saya. Di negaraku Kavya akan menjadi ratu yang selalu tersenyum selama kami bersama. Ini janjiku pada ibu." Fengying menyentuh tangan Ria.
"Terimakasih, saya senang mendengar janjimu itu. Mulai dari sekarang aku tidak akan khawatir lagi." percakapan mereka membuat Kavya kewalahan menerjemahkannya. Namun mau bagaimana lagi, jika Kavya tidak ada di sini mungkin mereka akan mengobrol bagai manusia dan hewan yang tidak di mengerti apa perkataannya.
"Kavya, Mama kamu sudah menyetujui pernikahan kita. Lalu sekarang apa rencanamu?" Fengying kini meminta wanita itu memberi pendapatnya mengenai pernikahan mereka dua hari lagi.
"Kalau Mama sudah setuju. Aku pasti setuju. Sekarang, kita tinggal menyiapkan semua keperluan kita nanti saat menikah di sini."
"Ya, kamu jangan mengkhawatirkan semua itu. Aku sudah memprediksi apa yang aku lakukan nanti saat kamu menerima lamaranku. Kamu cukup persiapkan saja dirimu."
"Semuanya sudah bulat, Feng. Aku tidak akan berpikir dua kali untuk menerima pernikahan kita. Semoga saja kamu senang dengan jamuan yang kami hidangkan di rumah ini."
"Ini sudah lebih dari cukup. Aku cukup senang dengan mamamu yang antusias menyambut kedatangan ku. Oh, iya. Setelah acara pernikahan nanti aku akan membayar maharmu. Setelah itu, kamu selesaikan urusanmu dengan rentenir itu. Aku tidak mau di sampai berbuat ulah lagi di sini." mata Fengying berubah tajam saat Kavya menceritakan bagaimana lintah darat itu terus saja menyiksa Ria.
"Baiklah, terimakasih kamu sudah mau membantuku kali ini. Aku tidak mungkin bisa membalas semua jasamu."
"Aku tidak butuh balasan darimu. Cukup menjadi istri yang penurut selama kamu tinggal di rumah ku. Dan jangan pernah menjadi istri pembangkang, karena yang aku butuhkan sekarang adalah istri yang penurut dan mau di atur." Fengying kini memaksa Kavya untuk menjadi apa yang ia mau.
Wanita itu tidak masalah, ia menyetujui keinginan Fengying. Lagipula tidak ada salahnya ia menjadi istri penurut. Pria itu pasti tidak akan meminta hal aneh padanya. Fengying terlalu sempurna untuk menjadi orang jahat.
"Aku siap dengan permintaan mu itu. Ayo, cicipi masakan rumahan kami!" ajak Kavya meminta Fengying sarapan.
Ada berbagai macam lauk hari ini, Ria membuka tabungannya dan membeli semua ini. Dia tidak mau malu dengan makanan sehari-hari mereka yang sangat memprihatinkan.
Untung saja Ria punya tabungan sehingga dapat membeli ikan, ayam, sayur dan sebagainya. Fengying memakan makanan itu dengan lahap. Mereka sejenak berhenti mengobrol, hanya ada keheningan di antara mereka.
Setelah selesai makan, Kavya langsung mengajak Fengying jalan-jalan di sawah tepat belakang rumahnya. Mereka mengobrol bercanda bersama menghabiskan banyak waktu seperti sekarang ini.
Saat melihat pemandangan yang indah membentang luas dari ujung ke ujung. Fengying terpukau dengan keindahan kota Kalimantan. Ada banyak burung berkicau, gunung-gunung hijau, dan air terjun di seberang sawah. Fengying merasa tempat ini seperti surga. Ada banyak ketenangan yang tidak di dapatkan di negaranya.
"Ini indah sekali, Vya. Desa kamu punya surga di sini. Aku tidak pernah melihat hal menakjubkan melebihi pemandangan yang aku lihat sekarang," tukas Fengying ingin memekik saking senangnya melihat keindahan alam.
"Desak ku memang surga. Tanah yang subur dan kekayaan alam sangat banyak. Di sinilah aku di besarkan dan sebentar lagi aku akan meninggalkan desaku." Kavya memasang wajah murung memikirkan bagaimana nasibnya nanti.
Lebih dari dua puluh tahun di besarkan, tak pernah ia meninggalkan desa ini. Rasanya sangat sedih ketika mengingat semua yang terjadi.
"Kamu akan datang ke surga yang baru Kavya. Jadi jangan khawatir. Aku pasti akan selalu membuatmu nyaman dan bahagia. Setelah kita sampai di China, kita akan mengirimkan banyak uang.
"Kuharap sikapmu tidak akan berubah nanti."
"Tidak akan pernah terjadi."
Fengying dan Kavya terus menyusuri keindahan yang ada di depan matanya. Fengying tidak mungkin membuang waktu untuk hal seperti ini.