"Kita sudah sampai di rumah Lala," ucap Fengying turun dari mobilnya. Kavya ikut juga keluar dari sana.
Mereka memasuki rumah dan mengetuk pintu. Tak lama kemudian, Lala membukanya dan melihat sosok sepasang pria dan wanita berdiri di depan pintunya.
"Ayo, masuk!" ajak Lala menuntun mereka di ruang tamu untuk duduk di sofa.
"Aku sudah membawa Kavya ke sini sesuai janjiku." Fengying membuka obrolan.
"Terimakasih, aku bikin minuman dulu." baru saja Lala akan beranjak meninggalkan mereka tapi Fengying langsung mencegahnya.
"Tidak usah membuatkanku minuman. Aku akan pulang sekarang juga."
"Padahal kamu baru datang kok langsung pulang." Lala tidak setuju dengan pria itu yang tiba-tiba ingin pergi.
"Aku ada urusan mendesak. Kalau begitu aku pamit dulu Lala. Kavya sampai ketemu besok di rumahmu." pria itu tersenyum lebar lalu melangkah pergi meninggalkan kediaman Lala.
"Wow, ternyata kalian sudah janjian, Yah," goda Lala menaik turunkan alisnya. Dia senang sekali melihat perkembangan mereka.
"Aku sudah memutuskan untuk menikah dengan Fengying dalam tiga hari. Itu sebabnya aku memintanya datang ke rumah besok untuk meminta restu Mama. Bagaimana menurut tante?" Kavya ingin meminta pendapat pada wanita paruh baya tersebut.
"Tante tidak menyangka akhirnya kamu menyetujui pernikahan ini. Mamamu pasti senang mendengar kabar baik inj."
"Iya, Tan. Aku rasa Fengying pria yang baik. Itu sebabnya aku memilih dia menjadi suami ku. Semoga saja pilihan ku tidak salah." raut wajah Kavya terlihat takut. Sesekali dia memijit pelipisnya yang sakit memikirkan bagaimana nasibnya kelak.
"Fengying memang pria yang baik. Aku sangat mengenalnya. Kamu jangan patah semangat begitu. Aku yakin, kamu pasti akan bahagia menikahinya." Lala menghibur Kavya dengan memeluk erat.
Kavya tidak tahu perasaannya masih gamang telah memutuskan untuk menikahi Fengying. Ada rasa penolakan di dalam hati wanita itu namun pikirannya mengatakan ia harus mencoba dan menyelamatkan ibunya dari malapetaka.
Sulit sekali menerima jalan takdir Kavya yang terasa berat. Semua pilihannya hari ini menyangkut hidupnya. Jika salah jalan, maka nyawa akan menjadi taruhannya. Maju salah mundur juga salah. Kavya hanya bisa berdoa agar tak ada hal yang buruk menimpa wanita itu.
"Semoga perkataan tante benar." Kavya melepaskan pelukannya. Kemudian Lala menyuruh Kavya beristirahat di kamar tamu. Malam hari Lala akan membawanya pulang.
Kavya menuruti perkataan Lala, ikut dengan saran yang ia berikan. Mata Kavya mengamati seluruh isi ruangan rumah Lala yang terkesan mewah. Bentuknya yang besar dan luas serta pajangan kristal ada dimana-mana.
Dia belum pernah melihat rumah semewah ini selama hidupnya.
'Apa aku bisa menjadi sekaya ini jika menjadi pengantin pesanan?' tanya Kavya dalam hati. Dia berharap banyak hidupnya akan berubah setelah ini.
Sungguh dia tidak sanggup hidup melarat lagi bersama keluarganya. Pertanyaan itu akan terjawab nanti di masa depan. Kavya harus kuat menghadapi semuanya.
"Kamu tidur di sini. Nanti tante bangunin kamu kalau udah malam. Okay!" Lala menutup pintu kamar tamu meninggalkan Kavya sendirian.
Ia merebahkan diri di atas ranjang sambil berpikir keras. Kavya menatap langit-langit kamar terus saja merenung meratapi nasibnya. Andai saja ia terlahir di keluarga kaya mungkin Kavya tidak akan menjadi pengantin pesanan hari ini.
Dadanya terasa sesak, air mata menggenang di pelupuk mata. Sungguh, rasa sakit mengingat ia akan pergi meninggalkan ibunya di sini semakin menambah luka di hati Kavya. Air mata akhirnya tumpah ruah, segala rasa sakit itu tidak mudah ia hilangkan.
Setelah sejam menangis, ia langsung tertidur dengan sendirinya. Mungkin ia lelah memikirkan kenyataan yang menyakitkan ini.
***
Di lain kamar, Lala berjingkat-jingkat di depan suaminya.
"Lian... Hari ini aku senang sekali..." dia memeluk suaminya yang duduk di tepi ranjang menatap bingung dengan sikap istrinya yang aneh.
"Ada apa denganmu?" Lian mengerutkan dahinya heran.
"Kavya... Kavya... " suara Lala terputus saking senangnya. Dia tidak tahu harus memulai dari mana ia berbicara pada Lian.
"Kamu tenangin diri dulu. Aku pusing kalau kamu bicara tidak jelas begini. Sekarang tarik napas dalam-dalam lalu keluarkan," tegas Lian menyuruh istrinya itu menuruti perintahnya.
Lala akhirnya mengikuti saran dari suaminya itu. Setelah beberapa kali melakukannya dia menatap sorot mata Lian yang teduh menunggu jawaban darinya.
"Sayang, Kavya akhirnya setuju menikah dengan Fengying." Dia berteriak kencang seperti orang gila. Untung saja kamar mereka kedap suara hingga tidak ada yang bisa mendengar obrolan mereka dari luar.
"Benarkah?"
"Iya, aku tidak bohong. Kavya sendiri yang mengatakannya tadi. Lian... Lian... Kita akan kaya. Oh, yeah... Kaya... Kaya... Kita akan tambah kaya." Lala tak kuasa menahan kegembiraannya melompat-lompat di atas ranjang sambil bernyanyi.
"Kerja yang bagus Lala. Kamu memang istri yang pintar. Aku beruntung sekali menikah dengan wanita cerdas seperti mu." Lian terus saja memuji Lala yang menjalankan semua aksinya secara sempurna.
"Tentu saja, aku cerdas. Kita tidak mungkin bisa sekaya ini seandainya tidak menipu orang lain untuk menjadi pengantin pesanan. Ah, aku terlalu bahagia mendengar semua ini. Fengying pasti akan memberi kita banyak uang setelah mereka menikah." lelah melompat-lompat.
Lala langsung membuang badannya di atas ranjang sambil tidur telentang. Sesaat ia menutup mata sambil menghirup oksigen lalu membuka matanya lagi.
"Lalu apa rencana mu selanjutnya Lala?" Lian ikut berbaring di samping Lala melirik istrinya yang tersenyum simpul.
"Aku akan mengurus semua dokumen Kavya agar mereka bisa cepat menikah. Lebih cepat lebih baik. Aku sudah tidak sabar uang mengalir di rekening ku. Ternyata tidak perlu terlalu bekerja dengan otot untuk mendapat uang banyak. Hanya perlu memakai otak kita." Lala kembali tersenyum dan memeluk suaminya.
"Tapi dia anak sahabat mu Lala. Apa kamu tidak peduli pada perasaan ibunya jika Kavya menderita dan mendapat masalah?" tanya Lian kembali.
"Aku tidak peduli pada pertemanan. Yang aku pedulikan hanya uang. Kamu jangan protes, selama ini kita bisa hidup enak dari uang pengantin pesanan, Kan? Jangan mau kaya jika kamu masih memikirkan perasaan orang lain," sindir Lala mengingatkan Lian kalau dirinya yang paling berjasa selama ini.
Lian bisa hidup mewah karena usaha Lala yang mencari mangsa baru untuk mau menjadi pengantin pesanan. Ada tanda tangan kontrak di dalam yang harus calon mempelai penuhi.
"Iya... Iya... Kamu benar. Untuk apa memikirkan perasaan orang lain. Aku harap bisnis kita ini bisa menjadi semakin lancar dan punya banyak uang." Lian mencium kening istrinya terus memuji wanita tersebut.
"Tentu saja, semua itu akan terjadi. Uang adalah hidupku. Terimakasih, Kavya sudah mau membantuku. Aku senang sekali." Lala juga ikut terlelap lalu memasuki alam mimpi.