Mendengar semua pengakuan dari Fengying mengenai ketertarikan dirinya yang ingin menikah Kavya segera. Ia menarik napas kasar berpikir keras, apa ia harus menerima lamaran ini sekarang.
Jauh di dalam hati Kavya masih ragu dengan pilihannya saat ini. Tapi, jika ia menolak bagaimana nasib ibunya nanti. Malika pasti akan datang dan menagih seluruh hutang Ria yang sudah membengkak.
"Feng... Ada banyak pertanyaan yang harus kamu jawab sebelum aku setuju menikahi mu. Pilihanku hari ini akan menentukan masa depan ku kelak. Kita baru berkenalan sehari dan itu tidak cukup untuk mengetahui sifatku yang sebenarnya. Jadi, aku mohon beri aku waktu dulu sampai aku benar-benar siap dengan pernikahan ini." Sorot matanya tulus.
"Aku mengerti Kavya. Aku akan menunggu sampai kamu benar-benar siap." Fengying mengetuk-ngetuk meja dengan jemarinya pelan.
"Terimakasih, tapi sebelum itu aku ingin mengatakan kalau aku gadis desa yang miskin. Ya, aku menyetujui pernikahan ini karena rumahku akan di sita oleh rentenir. Kata tante Lala kamu akan memberikan mahar seratus juta dan itu sudah cukup untuk membayar hutang ibuku." Kavya terpaksa mengatakannya, dia tidak ingin lagi ada rahasia dan kebohongan ia sembunyikan.
"Itu benar. Aku akan memberikanmu mahar seratus juta namun. Sebenarnya aku juga bukan pria kaya, di China aku hanya punya toko di pasar tradisional yang menjual pakaian." Fengying berkata jujur sambil menatap matanya dalam.
"Aku tidak peduli pada kekayaan mu tapi satu pertanyaan yang membuat aku bingung. Kenapa kamu mencari seorang di negaraku sementara banyak wanita cantik di negaramu?" Kavya sangat penasaran dengan jawaban dari pria tersebut.
Tidak mudah sekarang menikah tanpa cinta terlebih Fengying memulai hidup baru dengan wanita yang berbeda dari negaranya.
"Sebenarnya aku..."
"Aku apa, Feng?" Kavya sangat penasaran apa isi kepala dari pria tersebut.
"Pernikahan di China biayanya sangat fantastis ratusan juta bahkan milyaran. Dan aku tidak sanggup menikah dengan biaya sebesar itu. Uang seratus juta itu sangat sedikit di negaraku." Dia menarik napas panjang. Menceritakan semua krisis yang di alami.
Kavya memandang iba pada pria tersebut, dia bukan wanita yang mudah takluk dengan uang. Semuanya tidak berarti apa-apa bagi Kavya. Yang penting ia bisa hidup bahagia dan nyaman itu sudah cukup.
"Aku bukan wanita matrealistis Fengying. Aku ingin hidup susah denganmu asalkan kamu bisa menghargai dan mencintai ku sepenuh hati. Hanya itu yang aku butuhkan." Kavya memegang tangan Fengying di meja.
Apapun konsekuensinya, Kavya akan menerima. Tidak masalah dia membantu suaminya nanti yang penting Kavya bisa merasa senang dengan pernikahannya.
"Jangan khawatir, Kavya! Aku akan menjamin hidupmu bahagia. Kamu hanya perlu tabah menghadapi semua sikapku. Dan kita akan mengirimkan uang pada ibumu setiap bulan." ini janjinya yang entah Fengying bisa penuhi atau tidak namun ia akan berusaha sebisa mungkin mengikuti semua permintaan Kavya.
"Terimakasih, aku seorang penjahit pakaian dan designer di desaku. Aku bisa membantu mu nanti." Kavya tidak ingin hanya berpangku tangan menunggu uang mengalir di rekeningnya. Dia berniat akan bekerja juga membantu pria tersebut.
"Wah, kamu sangat hebat Kavya. Aku senang kita bisa bekerjasama nantinya." Fengying merasa mendapat berlian runtuh memiliki Kavya. Wanita itu cantik dan cerdas membuat Fengying tak bisa berkutik berhadapan dengan wanita itu.
'Lala kamu benar sekali bisa menjodohkan ku dengan Kavya.' ungkap Fengying dalam hati.
"Ya, aku tidak terbiasa tiduran di rumah. Mimpiku terlalu banyak, apalagi sejak kecil aku berkata pada diriku sendiri ingin berlibur di negeri China. Aku sangat ingin melihat tembok raksasa di sana," Kata Kavya berharap mimpinya itu akan terwujud.
"Kita akan mewujudkannya. Aku akan membawamu kesana. Jadi, mari menikah dan aku akan membuat dirimu menjadi wanita paling bahagia di dunia."
"Aku mempercayaimu, kita akan menikah tiga hari lagi." Kavya sudah memutuskan memilih Fengying. Dia tak punya banyak waktu untuk berpikir. Kavya harus membayar hutangnya pada Malika atau dia akan di bunuh.
Kavya tak punya pilihan, walau Fengying bukan orang baik yang akan menemaninya seumur hidup. Dia akan bertahan demi ibunya, namun Kavya melihat ketulusan dari pria itu dan semuanya akan baik-baik saja.
"Apa kamu sudah berpikir matang menyetujui pernikahan ini? Barangkali kamu masih ingin mengenalku lebih jauh." Fengying menyuruh Kavya berpikir kembali dengan keputusannya.
"Tidak perlu. Aku tidak punya banyak waktu mengenalmu lebih jauh. Pertemuan kita hari ini membuktikan kamu pria yang baik karena berkata jujur dan aku tidak mungkin menolak lagi." dia tersenyum tulus lalu menghabiskan minumannya.
"Baiklah, jika itu keputusan mu. Aku senang sekali kamu akhirnya mau menikah denganku. Terimakasih."
"Sama-sama. Sebaiknya kita bertemu ibuku dulu dan membahas pernikahan kita nanti. Aku juga perlu mengurus dokumen untuk persyaratan kita menikah, paspor, dan visa. Itu pasti memakan waktu yang sangat lama."
"Tidak usah, Vya. Lala akan mengurus semuanya. Kamu hanya perlu menikah denganku. Itu saja," tukas Fengying cepat.
"Benarkah?"
"Ya,"
"Baiklah. Besok kamu datang ke rumah dan menemui Mamaku. Dia perlu mengenalmu juga sebelum hari pernikahan kita." Kavya butuh pendapat ibunya mengenai pernikahannya kali ini. Dia tidak mau menyesal karena telah salah memilih jalan.
"Aku pasti akan datang."
"Ayo, kita pulang antar aku ke tante Lala!"
"Okay."
Sebelum mereka pergi, Fengying tiba-tiba menarik Kavya dalam pelukannya. Ia terlalu bahagia hari ini.
Kavya yang tanpa persiapan langsung di peluk oleh Fengying. Dia langsung termangu di tempatnya. Kakinya bergetar, dadanya naik turun, dan suara napas Kavya memburu. Ini pertama kali seorang pria dewasa memeluknya. Rasanya menenangkan.
"Maaf," ujarnya merasa tidak enak pada Kavya.
"Ti... dak apa-apa." mereka melepaskan pelukan. Kavya menunggu Fengying di mobil. Pria itu lebih dulu membayar tagihan pesanan mereka di kasir. Setelah itu menyusul Kavya yang duduk tenang di mobil.
Selama di perjalanan, tak ada pembahasan di antara mereka. Kavya terlalu canggung memulai obrolan lagi setelah Fengying berhasil membuatnya salah tingkah. Dia memegang kedua pipinya yang menghangat. Kavya yakin wajahnya pasti memerah.
Sungguh Kavya merasa wanita paling bahagia di dunia jika menikah dengan Fengying. Wajah tampan dan kharismatik membuat warga di desanya pasti iri melihat calon suaminya nanti.
Setidaknya Kavya mengangkat derajat ibunya yang selama ini di pandang sebelah mata di kalangan masyarakat. Ria sudah terlalu menderita semenjak kematian ayahnya dan, Kavya harus membantu ibunya kali ini.
Hanya satu harapannya, pernikahan mereka akan bahagia dan tidak menjadi mimpi buruk seperti pengantin pesanan lainnya. Kavya yakin sekali Lala tidak mungkin menipunya karena dia adalah sahabat Ria.
Tak ada kecurigaan juga di tunjukkan oleh wanita tersebut. Dia terlalu baik selama ini.