"Tidak mau, kak Loli. Aku malu memakainya," tegas Kavya menolak dengan keras pilihan Loli.
"Aduh.. Dasar bocil! Ya, sudahlah... katakan padaku kamu suka baju yang seperti apa nanti aku pilihkan?" kini Loli meminta saran Kavya. Dia tidak mau kesusahan membawa banyak baju yang jelas-jelas selera mereka berbeda.
"Namaku Kavya umur dua puluh tiga tahun bukan bocil lagi," tegasnya merajuk karena Loli selalu saja mengejeknya.
"Dua puluh tiga tahun? Apa Mama kamu engga salah hitung tanggal pas lahirin kamu?" Loli membulatkan mata tidak menyangka kalau wanita di depannya ini usianya sudah berkepala dua.
"Tentu saja tidak. Dia bahkan ingat jam berapa aku lahir."
"OMG... Ekee engga nyangka kamu bisa punya wajah baby face persis anak SMP. Dan sepuluh tahun kemudian wajahmu seperti anak SMA." fakta itu menjadi teka teki untuk Loli. Dia sungguh ingin memiliki wajah yang tidak berubah dan menolak tua.
"Kak Loli terlalu banyak memuji."
"Berikan aku tips agar bisa memiliki wajah awet muda," pinta Loli berharap ada ramuan rahasia keluarga Kavya.
"Tidak ada tips apapun Kak. Cukup Kakak kembali ke jalan benar, menerima kodrat Allah." Kavya terbahak-bahak melihat Loli manyun. Dia kesal di kerjai oleh Kavya yang memintanya menjadi pria normal.
"KAVYA!" bentak Loli mencubit pipinya.
"Ampun kak Loli." Kavya menahan tawanya lagi agar Loli tidak marah.
"Rasakan itu sudah menceramahi Ekee."
"Maaf," Kavya memegang telinganya sambil menatap Loli meminta maaf.
"Okay, aku maafkan. Sekarang katakan baju yang kamu suka. Jangan pilih long dress lagi!" Loli memperingatkan.
"Aku suka pakaian yang konsepnya simple dan elegant berwarna pastel. Kak Loli ngerti, Kan maksudku?" Kavya pintar mendesign baju berharap model yang Kavya inginkan bisa di berikan oleh Loli.
"Baiklah, untuk kulitmu yang putih cocok warna..." Loli mencari baju di setiap rak display.
"Baju ini pasti cocok denganmu," lanjut Loli kegirangan mengambil dress Sabrina warna pink berbahan Twiscone. Dan meletakkan di depan d**a Kavya, memprediksi apa baju pilihannya itu pas.
Mata Kavya berbinar, dia suka sekali dengan pilihan Loli kali ini. Dress pink selutut, tidak terlihat seksi.
"Aku suka baju ini kak Loli."
"Bagus, cepat ganti pakaian mu yang jelek ini di ruang ganti." Loli memberika baju itu dan menyuruhnya mengganti pakaiannya yang terlihat kuno.
Kavya langsung berganti pakaian dan menunjukkan pada Loli lagi.
"Bagaimana kak?" Kavya meminta pendapat Loli mengenai bajunya.
"Pas. Sekarang buka kunciran rambutmu ini. Aku harus memberi kesan cantik."
Rambut panjang Kavya akhirnya terurai sampai ke pinggang. Kavya sangat malu.
"Aku akan memotongnya sedikit dan sekarang ganti sendal jepit mu itu dengan high heels lima belas senti." Loli menggelengkan kepala lagi saat melihat sendal jepit Kavya yang nyaris putus. Dia menarik napas panjang, tidak menyangka Lala membawa wanita purba ke salonnya.
"Tapi aku takut jatuh kak. Soalnya itu terlalu tinggi dan aku tidak tahu berjalan dengan high heels." Kavya malu mengatakan hal itu pada Loli.
"Ya, Tuhan. Kamu sangat merepotkan. Ekee engga bisa ngajarin kamu berjalan memakai high heels dalam waktu beberapa menit. Jadi pilih flat shoes aja, warna pink itu." Loli menunjukkan rak sendal dan sepatu tidak jauh dari lemari.
Berkat arahan darinya, Kavya berhasil mendapatkan flat shoes yang Loli maksud. Kavya langsung memakainya dan mengikuti Loli yang membawanya ke ruang make up.
"Duduk!"
Kavya duduk di kursi menatap dirinya dalam cermin. Ia sungguh mengira dirinya adalah wanita kampungan. Di salon ini ia diperlakukan seperti wanita cantik pada umumnya.
Loli memulai aksinya merias wajah Kavya yang dasarnya sudah cantik. Hanya sedikit make up akan semakin membuatnya tambah memukau.
Setelah hampir sejam akhirnya Kavya sudah siap. Dia sampai tertidur karena terlalu lama menunggu hasil rias Loli.
"Kavya bangun!" Loli menepuk pundaknya agar bangun dari tidurnya.
Kavya merentangkan tangan ke atas menguap lebar-lebar dan melihat ke cermin.
"Si-siapa yang ada di dalam cermin itu?" tanya Kavya terkejut sambil menunjuk pantulan seorang wanita yang sangat cantik.
"Itu kamu. Siapa lagi?" kini Loli menaikkan sebelah alisnya heran melihat ekspresi Kavya.
Kavya langsung berdiri dan mendekatkan wajahnya di cermin. "Iya, kak Loli benar. Ini aku kavya. Kok bisa aku secantik ini bahkan aku tidak bisa mengenali diriku sendiri." Kavya tersenyum senang memandangi wajahnya.
Rambut Kavya yang panjang coklat dan lurus, kini di rubah menjadi sepunggung karena di curly. Ujungnya sedikit bergelombang seperti pemain film drama China. Dia terlalu cantik sekarang, tidak kumal seperti saat ia datang pertama kali ke salon ini.
"Aku sudah bilangkan, kalau aku bisa merubah wajah buruk rupa menjadi bidadari. Dan sekarang aku benar. Kavya aku akan mengajarimu merawat diri dan berpakaian dengan benar. Ambil buku ini, kamu harus membacanya, ketika kamu jadi pengantin pesanan. Jaga diri dan perhatikan penampilan mu. Jangan mau di injak-injak orang!" Loli seolah memberi pesan tersirat dari nasehatnya.
Kavya hanya mengangguk mengerti, mereka kembali keluar menemui Lala yang asik membaca majalah.
"Lala, aku sudah selesai merias Kavya."
Lala mengangkat wajahnya menatap Kavya yang berdiri memasang senyum manis.
"Wow, kerjamu sangat bagus Loli. Aku sangat menyukainya, dia terlihat seperti bidadari. Tuan Fengying pasti akan menyukaimu." Lala memuji menyentuh wajah Kavya.
Dia terlalu cantik untuk tinggal di desa, seharusnya Kavya menjadi pemain sinetron. Dia pasti akan di gandrungi banyak fens karena kecantikannya.
"Ekee tidak pernah mengecewakan mu selama ini Lala."
"Baiklah, kita pergi sekarang. Calon suamimu sudah menunggu di cafe," ajaknya. Kavya mengangguk setuju. Lala lebih dulu keluar dari salon meninggalkan Kavya dan Loli.
"Oh, iya, Kak Loli terimakasih sudah meriasku." Kavya mengucapkan selamat tinggal pada Loli yang merasa terharu.
"Sayang sekali, kamu menjadi pengantin pesanan. Padahal kamu cantik dan bisa mendapatkan pria yang lebih baik." ada rasa sedih pada diri Loli kali ini ia harus melihat berlian menjadi pengantin pesanan.
"Aku tidak punya pilihan kak. Tante Lala sudah baik mau membantuku," tukas Kavya tersenyum.
"Baiklah, sampai jumat nanti. Jaga dirimu baik-baik di negara orang."
"Yeah, kita akan bertemu nanti kak Loli." Kavya keluar dari salon masuk ke dalam mobil dan mereka menuju ke cafe tempat Kavya akan bertemu dengan Fengying.
Selama di perjalanan Kavya mulai memikirkan apa yang dipilihnya sudah benar? Dia sama sekali tidak tahu, sungguh hatinya hancur harus menikah dengan orang yang tidak dia kenal sama sekali. Pernikahan macam apa ini? Kavya hanya berharap, pilihannya tidak salah. Ini semua demi ibunya, Kavya harus berkorban.