Butuh satu jam perjalanan untuk sampai di kota, Lala yang mengemudi mobil melirik Kavya asik memandangi pemandangan sepanjang jalan melalui jendela. Terlihat sekali wanita itu terpana dengan keadaan di luar dari desanya.
Lala menggelengkan kepala tidak menyangka Kavya sangat kampungan dengan pakaian yang sama sekali bukan level Lala.
"Tante, keren sekali air mancur di taman itu," ucap Kavya kegirangan sambil menunjuk keluar.
"Memangnya kamu tidak pernah melihat kota di sini?" Lala tidak menyangka Kavya akan seheboh ini hanya melihat air mancur.
"Aku tidak pernah keluar dari desa tante, bahkan ini pertama kalinya aku naik mobil pribadi. Enak yah Tante jadi orang kaya?" Kavya penuh harap pada Lala agar pertanyaannya bisa di jawab.
"Tentu saja menjadi orang kaya sangat menyenangkan. Semua yang kamu inginkan akan bisa di beli dengan uang. Tak ada yang merendahkan mu jika menjadi orang kaya." Lala menerawang ke masa lalu saat dirinya menjadi orang miskin yang terus saja di hina orang lain.
Untung saja menjadi pengantin pesanan merubah hidup Lala seratus delapan puluh derajat. Lala yang di anggap wanita tak berguna dan hina akhirnya bisa menikmati hasil jerih paya memiliki banyak uang seperti sekarang ini.
"Benarkah, Tan? Aku akan bekerja keras nanti agar bisa menjadi orang kaya." itu cita-cita terbesar Kavya sekarang. Saat Kavya menjadi orang kaya, tak ada yang akan berani merendahkan ibunya lagi.
Kavya ingin merubah nasibnya tidak menjadi orang miskin yang di hina banyak orang. Perjalanan hidup Kavya sudah sangat keras, dan ia tidak berharap nasibnya terus saja menjadi orang miskin.
"Itu harapan yang bagus. Dan jangan pernah menyesal menjadi orang kaya," ujar Lala tersenyum kecut seolah memperingati wanita itu.
"Untuk apa menyesal? Aku akan membeli mulut orang-orang yang menghina kami dengan uang. Sungguh, aku tidak suka melihat Mama di jadikan babu." matanya berkaca-kaca mengungkapkan segala kepedihan Kavya yang ditahannya sendiri.
Ada rasa iba di hati Lala mendengar curhatannya. Dia tidak menyangka nasib sahabatnya begitu tragis selama ini. Menjadi janda beranak dua adalah mimpi buruk untuknya.
"Asalkan kamu berusaha, maka semuanya akan mudah. Yakinlah, kamu nanti akan bahagia dan menjadi orang kaya." ia memberi semangat lalu Lala kembali fokus menyetir.
Mereka akhirnya sampai di salon tempat Kavya akan di rias nanti. Kavya memicingkan mata, bertanya-tanya dalam hati. Apa ini adalah tempat yang Lala katakan agar ia bisa terlihat lebih cantik?
Mereka keluar dari mobil, Lala lebih dulu berjalan dan mendorong pintu salon. "Kavya, Come on!"
"Yeah, Tan." Kavya setengah berlari mengikuti langkah Lala yang sudah masuk ke dalam.
Ketika menginjakkan kaki di dalam, Kavya terkejut. Ia belum pernah masuk ke salon. Ada dua orang Customer sedang di bleaching rambutnya. Tampak para pegawai sibuk mewarnai rambut mereka.
"Aduh, ekee udah lama nunggu loh Lala. Memangnya siapa yang di dandani?" ia melihat Lala kemudian Kavya muncul di belakangnya.
"Ooppss... apa anak bocil ini akan menjadi yang selanjutnya?" sindir manusia berdua jenis kelamin menyambut Kavya.
"Diam kamu, Loli!" bentak Lala pada Roni yang namanya di rubah menjadi Loli. Dia pria perkasa yang cantik menggunakan make up layaknya wanita.
Kavya menutup mulut menahan tawa dengan sikap Loli yang kemayu.
"Ihhh, Lala kau serem amat kalau marah." Loli menoel dagu Lala membuat wanita paruh baya itu risih.
"Kau yang memancing ku duluan. Sudahlah, aku malas berdebat denganmu. Sekarang, kerjakan tugasmu! Dandani Kavya, aku tidak mau pertemuan pertama dengan calon suaminya malah hancur dengan gaya Kavya yang urakan." Lala tidak mau Kavya akan memberi kesan yang buruk pada Fengying.
"Bocil ini akan menjadi bidadari sebentar lagi. Kau jangan meragukan kemampuanku Lala," puji Loli pada dirinya sendiri.
Selama ini dia selalu berhasil menyulap wanita buruk rupa menjadi bidadari hanya dengan satu sentuhannya. Salon Loli sangat terkenal di kota Kalimantan, dia sudah di akui dan sudah bersertifikat.
"Aku bukan bocil, Om," sindir Kavya tidak setuju dengan ucapan Loli.
"Omg, Lala... Dia menghinaku. Sejak kapan aku menikah dengan saudara perempuan ibumu? Haah!" Loli marah berhasil mengeluarkan suara aslinya yang mirip suara tokek yang keselek. Pikir Kavya.
"Maaf," singkat Kavya menahan tawanya.
"Sudahlah, Loli kerjakan saja tugasmu! Dia hanya bercanda." Lala jengah dengan pertengkaran mereka yang tak bisa akur.
"Baiklah, bocil ini kumaafkan." Loli hanya menarik napas panjang tidak ingin berdebat lagi.
Loli lalu menuntun Kavya menuju ruangan yang di penuhi ratusan pakaian. Di sana, ada berbagai macam pakaian mulai dari atasan, dress, long dress, dan baju mini kekurangan bahan.
Kavya sangat takjub, baginya ia melihat surga pakaian di sini. Kavya bisa memilih baju yang di sukainya. Terlalu banyak pakaian membuat kepalanya pusing sendiri.
"Pilih yang mana kamu suka Kavya!" perintah Loli. Dia berpikir Kavya pintar dalam memilih fashion.
"Aku suka ini kak Loli," kata Kavya cepat memuji pria itu dengan menekankan namanya.
"Omg, ekee tidak menyangka kau seorang wanita perayu. Ah, ya. Kau adalah wanita yang sulit di tebak. Cepat bawa kemari baju yang kau pilih!" Loli sangat senang mendengar panggilan Kavya yang menggemaskan.
Kavya menyodorkan baju long dress berlengan balon. Loli melotot melihat pilihan Kavya yang sangat buruk.
"Seleramu benar-benar buruk. Baju di zaman purba tidak cocok untukmu. Jika kau memakai baju ini, maka calon suamimu akan mengusirmu." Loli memprotes menepuk jidatnya.
Baru pertama kali Loli menemukan wanita yang sangat aneh. Biasanya, para wanita akan memilih baju yang terbuka dan menarik perhatian tapi Kavya malah memilih baju yang sama sekali tak menarik.
"Benarkah?" Kavya bingung sendiri dengan Loli yang tidak menyukai selera fashionnya.
"Yeah, aku berkata jujur. Biar aku saja yang memilihkan baju untukmu." Loli memutari beberapa rak baju yang di gantung di lemari. Dan pada akhirnya sebuah baju berwarna silver menarik perhatian Loli. Dia langsung mengambilnya dan meminta Kavya memakai baju itu.
"Aku tidak mau baju biduan dangdut seperti ini." Kavya mengangkat baju itu ke udara. Sebuah mini dress di atas lutut dan tanpa lengan, menunjukkan belahan dadanya.
'Dasar bodoh! Mana mungkin aku mau memakai baju tidak sopan di mata semua orang. Tidak... tidak... Aku tidak sudi memakainya.' Kavya berbicara di dalam hati. Tidak Terima pilihan Loli yang begitu menjijikkan.
"Ya, Tuhan Kavya. Ini tren baju terbaru. Baju ini cocok untukmu apalagi kamu memiliki bentuk tubuh yang berisi. Calon suami mu akan terpukau saat melihat mu memakai baju ini." Loli membayangkan bagaimana respon Fengying menatap Kavya nanti.