Pagi-pagi buta Kavya bangun dengan tergesa-gesa. Ia tidak mau terlambat mandi dan merias diri. Padahal jam masih menunjukkan pukul enam pagi tapi Kavya sudah menganggap dia terlambat padahal Lala berkata akan menjemputnya pukul sepuluh pagi.
Kavya memakai pakaian terbaiknya menunggu Lala datang. Tampilan Kavya hari ini memakai celana kulot katun dan baju tunik sepaha serta sendal jepit. Kavya hanya punya pakaian terbaik itu, di lemari hanya berisi pakaian lusuh dan pudar.
Kavya berdiri di depan cermin dengan menguncir rambut menjadi satu dan memakai bedak bayi. Sungguh malang nasib Kavya bahkan untuk membeli lipstik saja ia tidak mampu, hanya ada lip gloss itupun sudah habis kemarin. Selama ini Kavya hanya berpenampilan seperti gadis kampungan yang melarat.
Ia tak pernah malu menunjukkan pada orang lain bagaimana kehidupan sulit yang ia jalani bersama ibu dan adiknya. Boro-boro memikirkan baju baru dan make up, yang Kavya inginkan hanya melihat Ria bahagia hidup bersamanya.
Jepit rambut warna warni tak lupa Kavya sematkan di rambutnya agar terlihat lebih menarik. Ia tersenyum memandangi dirinya yang terlihat cantik menurut versi Kavya sendiri. Setelah selesai berdandan Kavya mendekati ibunya yang duduk di depan tungku api menunggu nasinya masak.
"Ma, apa Vya sudah cantik?" tanya anaknya senang. Ria berdiri dan melihat ke arah anaknya yang tersenyum sambil berputar menunjukkan penampilannya, Ria tidak menyangka anak yang di lahirkan dua puluh tahun lalu sudah besar.
"Cantik sekali. Tante Lala pasti suka melihatmu berpenampilan begini, " puji Ria ikut tersenyum menatap anaknya yang berseri-seri.
"Ah, Mama. Bisa aja puji Vya kayak gitu." Kavya malu terhadap ibunya yang tidak pernah sekalipun mengatakan Kavya jelek.
"Untuk apa Mama bohong? Hmm, kamu anakku yang cantik dan sebentar lagi akan meninggalkan Mama sendirian di sini, " kata Ria menampakkan wajah sedih. Ia tidak sanggup melihat anaknya itu pergi dari negara ini.
Andai saja Ria tidak punya hutang, mungkin Kavya tidak perlu mengorbankan dirinya menjadi pengantin pesanan. Ria sangat menyesal telah menjadi ibu yang tidak baik untuk kedua anaknya.
Ria kembali menangis sambil memeluk tubuh anaknya, dia tidak sanggup berpisah dengan anaknya nanti.
"Jangan nangis, Ma. Kavya di sini sama Mama. Selama Allah bersamaku, aku tak akan menyesal sedikitpun." jiwa dan raga Kavya terluka setiap kali Ria menangis tidak mengijinkan anaknya pergi.
Seorang ibu selalu ingin memberikan yang terbaik untuk anaknya. Dan Kavya berjanji akan membahagiakan Ria selama ia masih hidup.
"Kamu baik-baik yah, Nak. Mama janji akan mencari uang banyak dan tidak mengorbankan kamu lagi," kata Ria dengan wajah suram.
"Selama Kavya masih hidup yakinlah, Mama enggak akan ku biarin menderita. Kavya di China nanti akan baik-baik saja dan mengirim uang banyak." Ini janji seorang anak kepada ibunya.
"Iya, Nak. Kalau kamu tidak bahagia hubungi saja Mama, biar aku bantu kamu pulang."
"Siap, Mama sayang." Kavya tersenyum lebar memandangi tubuh kurus ibunya yang menandakan wanita itu sudah tua dan tak terurus. Tapi semangatnya sangat besar menjaga semua anaknya agar bisa bahagia.
***
Tepat pukul sepuluh pagi sebuah ketukan pintu membuat Kavya yang sejak tadi menjahit pesanan baju langsung meninggalkan kegiatan sehari-harinya itu. Sekalipun Kavya sudah merias diri untuk bertemu Lala namun di sisa waktu luang, ia kembali membantu ibunya.
"Kavya buka pintunya, Nak. Mungkin itu Lala yang datang, " pinta Ria sibuk membuat pola baju. Ria menaruh seluruh kain di lantai dan memikirkan pola apa yang nanti akan ia buat agar pesanan bajunya terlihat menarik.
Mendengar perintah ibunya, Kavya langsung beranjak dari tempat duduknya dan membuka pintu. Tak lama kemudian ia melihat sosok wanita cantik sosialita menyapa Kavya.
"Hai, sayang. Kamu sudah siap, Kan pergi bersama tante bertemu calon suamimu?" tanya Lala langsung memandangi Kavya dari ujung kaki sampai ujung kepala. Ia mengerutkan dahi melihat Kavya.
"Iya, tante. Aku sudah siap. Kita bisa pergi sekarang." Kavya yang polos tak tahu gesture Lala yang merasa aneh dengan selera fashion nya.
"Dengan tampilan kampungan seperti ini? Ya Tuhan, tante rasa harus mendandani dirimu dulu, baru kalian ketemu. Akan memalukan jika kalian bertemu dan ia merasa risih melihat baju lusuh kamu ini," sindir Lala menepuk jidatnya.
Lala yang sudah terbiasa hidup mewah dan tren gaya kelas atas hanya bisa menarik napas panjang.
Bagaimana tidak, baju Kavya pudar seperti kain lap. Dan make up Kavya sama sekali tak menarik terlihat seperti vampir, walau Kavya cantik itu tidak cukup untuk menutupi kekurangan lainnya.
Bukannya marah, Kavya hanya tersenyum mendengar semua bentuk protes dari Lala. Selera mereka tidak akan sama, menurut Kavya dandanannya sekarang sudah sempurna tapi tidak dengan Lala.
"Tante ini baju baru yang aku beli di pasar tradisional tiga tahun lalu. Mana mungkin ini pakaian lusuh," ujar Kavya tidak setuju dengan perkataan Lala. Tak lupa pula ia mengajak Lala masuk ke dalam rumahnya.
"Tiga tahun lalu kamu bilang baru? Kavya sayang... tren gaya pakaian itu berubah setiap tahun. Dan tante rasa harus membelikanmu beberapa potong pakaian yang bisa mengubah penampilanmu."
"Tidak usah tante. Biar uang bajunya buat tabungan Mama saja." Kavya keras kepala penuh perhitungan.
"Tabungan Mama kamu nanti setelah menikah, untuk sekarang tante mau bawa kamu ke salon dulu." Lala menepuk jidatnya, ia tidak tahu jika anak dari sahabatnya ini seperti tarzan tidak mengerti gaya hidup kalangan atas.
"Apa itu Salon?" Kavya tidak tahu sama sekali tempat apa itu.
"Ya, Tuhan Kavya. Mama kamu bersalah karena sudah mengurungmu di hutang hingga tidak tahu salon. Tempat itu untuk perawatan tubuh dan merias diri." tenaga Lala akan habis jika selalu saja menjelaskan banyak hal pada Kavya. Dia terlalu kulot dan berpikiran sempit.
Andai saja Kavya hidup di kota mungkin tidak akan tertinggal zaman dengan perubahan modern.
"Kami tidak punya waktu memikirkan salon. Makan sehari-hari saja Kavya sudah bersyukur." jauh di dalam hati, ia tak pernah iri sedikitpun dengan hidup orang kaya yang serba ada.
"Tapi tante janji akan merubah hidup kamu setelah tinggal di China. Kamu tidak perlu susah payah mulai hari ini. Dia akan menjamin hidupmu."
"Semoga saja, Tan. Aku sudah tidak sabar membahagiakan Mama." Kavya sangat berharap semua perkataan Lala benar.
"Oh, iya. Ria aku bawa Kavya dulu, yah di kota?" Lala meminta ijin pada sahabatnya itu.
"Baiklah, aku mempercayakan anakku pergi bersamamu." mereka saling berpelukan sebagai ucapan selamat tinggal.
"Semua kesusahan kalian akan segera berakhir. Ayo, Kavya kita pergi ke salon!" ajak Lala keluar dari rumah itu.
"Yah," Kavya menyalami tangan ibunya dan pergi dari sana.